Habibie, Jalan Menuju Puncak

  • Kompas: Rabu, 11 Maret 1998, halaman 1

USAI menjelaskan jalan keluar seputar pemogokan karyawan IPTN, pertengahan Oktober tahun lalu, Menristek BJ Habibie mengajak wartawan melihat-lihat ruang kerjanya. Dua buah foto berukuran besar, tergantung berdampingan di salah satu dinding.

“Ini saya dibonceng Pak Harto,” katanya menunjuk salah satu gambar. Presiden Soeharto, dengan mengenakan helm, nampak mengendarai motor besar dengan sidecar (kereta samping) di mana Habibie duduk di dalamnya.

“Kalau yang ini, saya memboncengkan Pak Harto,” jelas Habibie menunjuk foto di sampingnya. Nampak Presiden Soeharto dan BJ Habibie, naik motor berboncengan mengenakan helm.

Para wartawan yang sudah biasa bertugas di BPPT mengomentari, “Kalau begitu, memang sudah cocok jadi Wapres.”

Habibie tertawa. “Ah, kalian ada-ada saja.” Saat itu, isu Habibie sebagai calon Wapres, memang mulai santer.

CALON WAPRES – Pimpinan Fraksi Karya Pembangunan MPR Selasa (10/3) siang secara resmi meminta kesediaan BJ Habibie untuk dicalonkan sebagai wakil presiden di kediamannya di Kompleks Patra, Ny Siti Hardiyanti Rukmana menyalami calon wapres tersebut didampingi R Hartono. Keduanya adalah unsur pimpinan F-KP. Selain F-KP, juga turut meminta kesediaan Habibie adalah Fraksi ABRI, Fraksi Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia dan Fraksi Utusan daerah. (Sekretariat Negara)

Lima bulan kemudian, ternyata Menristek BJ Habibie benar-benar terpilih menjadi Wakil Presiden periode 1998-2003. Hari-hari mendatang, Presiden Soeharto dan BJ Habibie akan makin sering berdampingan. Tidak hanya dalam acara mancing, diskusi teknologi, atau pemeriksaan kesehatan, tetapi juga dalam menghadapi berbagai tantangan, terutama mengatasi krisis ekonomi yang sampai sekarang masih berkepanjangan.

***

BACHARUDDIN Jusuf Habibie, lahir 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan. Kelahirannya di rumah orangtuanya, Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo, dibantu sanro – sebutan Bugis untuk bidan.

Rumah itu, oleh pemiliknya yang sekarang, pada beberapa bagian sengaja dipertahankan seperti bentuk aslinya. Dua kamar di bagian belakang masih tetap utuh, berisi lemari kayu dan ranjang besi. Ayah Habibie menjabat sebagai landbouw consulent di Parepare, kemudian menjadi Residentie Landbouw Consulent di Makassar.

Saat pendudukan Jepang, keluarga Habibie sempat mengungsi ke Kampung Lanrae, Desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi. Tetapi sebagaimana anak kecil lainnya, Habibie yang akrab dipanggil Rudy, tetap gembira bermain dengan anak-anak desa.

“Rudy waktu kecil periang, senang tertawa dan paling suka menunggang kuda,” kenang Abdul Wahab Rauf (67), kawan main Habibie di Lanrae. Wahab kini masih tinggal di Lanrae, menjaga masjid yang dibangun dua tahun lalu dengan biaya dari Habibie.

Habibie kecil, menurut Wahab, bisa menghabiskan waktu berjam-jam berenang di sungai. Biasanya, ia sekalian memandikan kudanya. “Yang saya ingat betul, Rudy senang main layangan, main kelereng atau mallogo (permainan tradisional Bugis dengan tempurung kelapa berbentuk segitiga),” tutur Wahab.

Tahun 1995, Wahab mendapat undangan menghadiri suatu acara di Ujungpandang. Menurut orang yang menyampaikan undangan itu, yang mengundang adalah menteri bernama Habibie. Saat itu, Menristek BJ Habibie membawakan kuliah umum di Kampus Unhas Tamalanrea.

“Di sana baru saya tahu, Habibie adalah Rudy. Saya sering melihatnya di televisi, tetapi saya tidak tahu dia itu Rudy,” kenang Wahab tentang pertemuannya dengan Habibie setelah puluhan tahun terpisah.

***

HABIBIE memang tidak lama di Parepare, tugas sang ayah membuat seluruh keluarga pindah ke Makassar. Namun tahun 1950, ayah Habibie meninggal di Makassar. Itu yang kemudian membuat sang ibu memutuskan, BJ Habibie harus terus menuntut ilmu.

Dikirimlah ia ke Bandung. Tamat SMP 5 di Jalan Jawa, ia menyelesaikan SMA-nya di SMAK di Dago, yang dulu dikenal dengan nama Lycium. Namun sekolahnya di ITB tak diteruskannya, karena sang ibu berhasil mendapatkan beasiswa untuk Habibie bersekolah ke luar negeri.

Tahun 1955, mulailah babak baru di Technische Hochchule, Aachen, Jerman. Ia lulus cum laude untuk jurusan konstruksi pesawat terbang tahun 1960, sebagai Dipl Ing. Tahun 1965 ia meraih Doctor Ing dengan nilai summa cum laude. Di antara itu pula (1962) ia menikah dengan dr Hasri Ainun Besari, teman remajanya di Bandung.

Berhasil membangun karier di Jerman sampai menjadi Wakil Presiden dan Direktur Teknologi Messerschmitt Boelkow Blohm, suatu industri pesawat di Hamburg, Habibie memilih pulang tahun 1974 ketika Presiden Soeharto memanggilnya.

“Habibie, saya tahu mengenai kamu. Sekarang kamu harus membantu saya mensukseskan pembangunan. Yang penting bagi saya adalah teknologi. Coba kamu cari jalan,” begitu pesan Presiden seperti yang ditulis Makmur Makka dalam buku Bacharuddin Jusuf Habibie, Kisah Hidup dan Kariernya.

Maka diangkatlah Habibie menjadi penasihat Presiden RI, memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina yang menjadi cikal bakal BPPT dan merintis industri pesawat terbang di Bandung. Ini pula yang menjadi awal puluhan jabatan tidak hanya di lembaga pemerintahan, tetapi juga perusahaan, organisasi sosial, profesi, sekaligus organisasi massa politik dan agama, ketika kariernya makin meningkat.

***

HABIBIE yang menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak 1978, juga merangkap sebagai Ketua BPPT, Badan Pengelola Industri Strategis, Dewan Riset Nasional, Dewan Standarisasi Nasional, Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia, juga Koordinator Perencana dan Pelaksana Proyek Gas Natuna.

Dari teknologi, kiprahnya melebar menjadi Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia, Ketua Dewan Pembina Persatuan Insinyur Indonesia, Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdi Bangsa dan bahkan juga Ketua Badan Pengelola Harian Rumah Sakit Harapan Kita. Ini belum termasuk kedudukannya di industri strategis sebagai direktur utama di PT Pindad, PT PAL, dan PT IPTN, yang beberapa hari lalu dilepaskannya.

Semua itu, membuat mobilitasnya amat tinggi. Dalam sehari ia bisa ke Bandung untuk urusan IPTN dan Pindad, ke Surabaya untuk PAL. Hari berikutnya mungkin ia ke Batam, dan kali lain ke luar negeri untuk urusan pemasaran produk industri strategis atau pemeriksaan kesehatan.

Sebuah pesawat Jet-4 milik BPIS yang dapat menempuh perjalanan dari Jakarta ke Surabaya selama sejam – 15 menit lebih cepat dari pesawat jet komersial – menjadi andalannya. Di dalam jet ada ruang untuk menerima tamu, rapat, dan ruang kerja lengkap dengan perangkat komputer.

Sempitnya waktu, membuat Habibie sering rapat di pesawat di sela-sela kunjungan kerjanya, bahkan juga menerima tamu-tamu pentingnya. Di tangannya, selalu tersedia komputer notebook, yang dapat langsung tersambung tanpa kabel ke komputer para stafnya di manapun.

Kesibukannya pula yang sering membuat Habibie terlambat, menunda, bahkan membatalkan berbagai acara seminar atau rapat yang sudah terjadwal sebelumnya.

Tanggung jawab setumpuk itu, juga bisa digambarkan dengan minimal enam tas kantor yang dibawanya setiap hari kerja. Begitu pintu jip hijau dibuka, biasanya ajudan, staf rumah tangga, dan staf humas BPPT membawakan tas-tas itu ke ruangannya di lantai 24 Gedung BPTT, melalui lift khusus. Di bagasi belakang masih ada empat tumpuk map yang tingginya rata-rata 30 sentimeter, yang juga harus diangkut ke kantornya.

***

JABATANNYA sebagai wapres nantinya, tentu makin menambah tugas dan tanggung jawabnya. Yang pasti, jenjang ini makin membuka jalan untuk mengimplementasikan visinya: mengembangkan iptek berbasis ekonomi dengan dukungan sumberdaya manusia yang kompetitif, untuk membawa Indonesia eksis di antara bangsa-bangsa lain.

Memang bukan suatu tantangan yang mudah, mengingat begitu banyak rintangan yang harus dihadapinya selama ini. Paling tidak, membangkitkan kembali Indonesia dari keterpurukan ekonomi, bakal menjadi tantangan pertama duet Wapres BJ Habibie dengan Presiden Soeharto. (nes/yun/lam/rus)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s