Yusril: Saya Ini Ronggowarsito

  • Kompas: Jumat, 3 Juli 1998, halaman 12

ILMU hukum tata negara tidak komersial. Anda tidak bisa membuka kantor konsultan hukum tata negara. Tidak ada kliennya. Hukum tata negara paling-paling dibutuhkan pada pemerintahan tingkat pusat, sementara bagi orang-orang di daerah tidak terasa perlunya.

Begitu kira-kira jawaban mengapa jurusan hukum tata negara kurang diminati, bahkan dua tahun terakhir tidak ada lagi yang mendaftar pada jurusan itu di Universitas Indonesia. Guru besar di bidang ini pun di Indonesia bisa dihitung dengan jari tangan.

Prof Dr Yusril Ihza Mahendra (Kompas/jpe)

“Orang belajar itu kan pasti pikir-pikir. Sudah besar ongkosnya, sudah susah orang tua di kampung jual sawah ladang, tetapi setelah tamat jadi sarjana hukum tata negara ndak bisa dapat kerja,” ujar pakar hukum tata negara Prof Dr Yusril Ihza Mahendra memperjelas alasan kurangnya peminat ilmu hukum tata negara.

Kalau Yusril sendiri dihadapkan pada pertanyaan yang sama, ia menjawab, “Dulu saya sekolah, tidak pernah memikirkan kalau tamat mau jadi apa. Saya sekolah, ya demi sekolah, dan saya kemudian mendalami ilmu sebagai ilmu. Makanya, sekolah saya aneh-aneh.”

Karena itu pula, Yusril tidak pernah membayangkan suatu waktu bekerja di Jakarta, apalagi bekerja sebagai penulis pidato (speech writer) presiden. Pekerjaannya di Sekretariat Negara sejak empat tahun terakhir itu pula yang membuat ia terlibat dalam detik-detik bersejarah berhentinya Soeharto sebagai Presiden RI kedua.

Sebagai speech writer dan orang yang dekat dengan presiden, banyak kisah-kisah menarik yang dialaminya. Tidak jarang ia ditertawai teman-temannya setelah Soeharto membacakan pidato pada suatu acara. “Suatu kali saya menulis pidato presiden untuk pelepasan alumni STPDN. Di situ ada nasihat kepada alumni agar jika menjadi aparat pemerintahan jangan sekali-kali menyakiti hati rakyat. Pak Harto baca saja… ha… ha… ha…. Teman-teman berkomentar, kamu gila nyuruh Pak Harto bilang begitu, padahal tiap hari dia menyakiti hati rakyat.”

Bagi Yusril, menulis pidato yang akan diucapkan presiden bukan hanya untuk menasihati rakyat, tetapi juga otokritik terhadap diri sendiri. “Jadi saya di situ hanya jadi Ronggowarsito. Dalam budaya Jawa dikenal seorang pujangga kraton yang menuliskan sastra dengan sangat bagus. Ia menceritakan masalah politik raja, tetapi sebetulnya ia mengeritik sang raja. Nah, saya juga mau seperti itu, menulis pidato Soeharto kemudian dia baca pidato itu, dan yang kena diri dia sendiri. Itulah high politics,” tutur guru besar madya hukum tata negara.

Yusril hebat dalam menulis pidato politik, hukum, agama, dan sebagainya, namun ia menyadari memiliki kekurangan dalam ilmu ekonomi. Sehingga seringkali harus meminta bantuan pakar-pakar ekonomi jika sedang menyiapkan pidato yang menyangkut masalah ekonomi. Karena tidak mengerti masalah ekonomi, setneg mencoba beberapa orang yang bergelar doktor, tetapi ternyata tidak ada yang memenuhi syarat.

Dipanggillah Dr Yusron Ihza, adik kandung Yusril yang menetap di Jepang, untuk membantu penulisan pidato ekonomi. Beberapa kali dicoba, Yusron ternyata bisa dan sangat menguasai masalah ekonomi. Namun Yusril sendiri yang menolak, karena menghindari penilaian orang lain.

***

LAHIR tanggal 5 Februari 1956 di Belitung, sebuah pulau kecil di Sumatera Selatan, Yusril mengaku berasal dari keluarga bersahaja. Di masa kecil ia hidup dalam kemiskinan, sehingga untuk mendapatkan sedikit uang, ia terpaksa sering ke laut menangkap ikan atau ke hutan mengumpulkan kayu bakar untuk dijual. Tidak jarang pula Yusril kecil mesti memanjat pohon kelapa yang menjulang tinggi untuk memperoleh upah memetik kelapa.

“Terlalu sering keluarga saya mengalami kekurangan sembako, sehingga terpaksalah kami makan jagung, bulgur, dan singkong yang dicampur beras dengan lauk pauk seadanya,” kenangnya.

Ketika masih di sekolah dasar, Yusril harus rela berangkat ke sekolah berjalan kaki tanpa alas kaki, karena orang tuanya tidak sanggup membelikan sepasang sepatu. Tak terelakkan, ia sering dihinggapi perasaan rendah diri bergaul dengan teman sebayanya yang berasal dari keluarga yang lebih mampu.

Ia terkenang lagi saat menjadi mahasiswa, terpaksa harus menumpang tidur di Mesjid Agung Al-Azhar di Kebayoran Baru dan Mesjid Al-Falah di Bendungan Hilir, sebelum menumpang di Asrama Daksinapati, Rawamangun. Ia tidak sanggup membayar uang kontrakan untuk tinggal lebih layak dan sering terlambat membayar uang kuliah.

Meski hidup dalam kemiskinan harta-benda, Yusril tidak ingin miskin dalam ilmu-pengetahuan. Itu ia buktikan dengan mengikuti kuliah pada dua fakultas berbeda di UI dalam waktu bersamaan, setelah menamatkan SMA di Perguruan Islam Belitung. Sementara menjalani kuliah di Fakultas Hukum Jurusan Hukum Tata Negara (1976-1983), ia juga mengikuti kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Filsafat (1979-1982).

Berhasil menyelesaikan kuliah S1, tahun 1984 Yusril melanjutkan kuliah di Fakultas Pasca Sarjana UI untuk bidang Hukum dan Ilmu Pengetahuan Islam. Tahun berikutnya ia mengikuti Graduate School of Humanities and Social Science di University of The Punjab, India. Dan keinginannya untuk terus mendalami ilmu-pengetahuan mengantarnya memasuki Institute of Post Graduate Studies di Universiti Sains Malaysia (1990-1993).

Mengenai bidang-bidang ilmu yang ditekuninya, ia bertutur, “Kalau dipikir-pikir, sarjana ilmu filsafat itu mau kerja apa, dan setelah selesai ilmu hukum tata negara mau kerja di mana? Tetapi, saya memilih belajar filsafat untuk memperluas dan mempertajam analisis. Belajar sosiologi untuk memahami pergolakan sosial dalam masyarakat. Kemudian saya ambil doktor dalam bidang politik agar tahu pertarungan kekuasaan. Dan akhirnya saya jadi guru besar hukum tata negara, dan saya bisa jadi wasit untuk menentukan apakah ini sah atau tidak, ha… ha… ha….”

Karirnya dalam kehidupan akademik dimulai pada tahun 1983 ketika diterima sebagai staf pengajar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Akademi Ilmu Pemasyarakatan, Departemen Kehakiman. Kemudian menjadi staf pengajar Program Pasca Sarjana UI dan UMJ. Saat yang sama ia juga mengajar pada Fakultas Hukum UI.

***

SEMENJAK kecil Yusril memang sudah gemar dengan hal-hal yang berbau politik. Ayahnya, Idris bin Haji Zainal, seorang pegawai kantor agama dan aktif di Partai Masyumi, yang banyak memperkenalkan dunia politik dari berbagai literatur yang dimilikinya. Melihat kegandrungan anaknya itu terhadap politik, ketika tamat SMA Yusril disarankan melanjutkan kuliah di fakultas hukum. Alasannya, seseorang yang belajar ilmu hukum akan mengerti politik, tetapi sebaliknya belajar politik belum tentu mengerti hukum.

Ilmu politik tidak bisa memberi keputusan sah atau tidaknya sesuatu dalam pemerintahan, yang bisa menilai justru ilmu hukum. “Jadi kalau doktor dalam ilmu politik ditanya, Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai presiden apakah sah atau tidak, mereka tidak berkompeten untuk menjawabnya. Yang berkompeten untuk menjawab itu adalah orang dari ilmu hukum tata negara,” kata anggota MPR-RI utusan Golongan Cendekiawan ini.

Ketidakmampuan untuk memutuskan sah atau tidak sah merupakan kelemahan ilmu politik. Sedang di sisi lain, ilmu hukum terlalu normatif sehingga tidak mau melihat kenyataan, kecuali melihat ini halal dan ini haram. Karena itu, Yusril mengubah arah studi hukum tata negara dengan tidak semata-mata mengandalkan pendekatan normatif, tetapi juga harus mempelajari empirisnya. Ia menggabungkan ilmu politik dengan ilmu hukum tata negara.

Hukum tata negara, dalam pandangan Yusril, adalah hukum yang paling rentan terhadap politik. Ia paling banyak bersentuhan dengan bidang politik, bahkan boleh dikata hukum tata negara adalah hukum politik. Dalam artian, penataan kehidupan politik kenegaraan itu ditata melalui perangkat peraturan perundang-undangan di bidang politik. (Nasru Alam Aziz)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s