Ziarah dalam Deru Mesin Diesel

  • Kompas: Kamis, 8 Juli 2004, halaman 9
MASJID TUA – Masjid Sultan Riau adalah salah satu bangunan bersejarah di Pulau Penyengat. Masjid ini dibangun pada tahun 1832 (1249 Hijriyah) atas prakarsa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman. (Kompas/lam)

MEMANDANG sebuah pulau di depan Kota Tanjung Pinang (Provinsi Kepulauan Riau), dalam jarak sekitar 1,5 kilometer, mata akan terfokus pada sebuah bangunan berwarna putih. Semakin dekat pompong (perahu bermotor) ke dermaga, semakin jelas wujud bangunan berkubah dengan menara pada empat penjuru.

Bangunan tua yang menjadi landmark Pulau Penyengat itu adalah sebuah masjid, yang dibangun pada tahun 1832 (1249 Hijriyah), atas prakarsa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman. Lanskap Pulau Penyengat agaknya akan tampak lebih alami andaikata tidak dibayang-bayangi sebuah menara telekomunikasi yang menjulang di belakang masjid.

Masjid Sultan Riau itu menyimpan ratusan koleksi naskah kuno beraksara Arab dan beberapa kitab suci Alquran tulisan tangan. Sayangnya, sebagian besar naskah tersebut dalam kondisi hancur karena udara lembab.

Dari masjid inilah pelancong memulai perjalanan wisata ziarah di pulau yang pernah menjadi pusat kebudayaan Melayu abad ke-19 itu.

***

PULAU Penyengat menarik wisatawan, terutama karena di sana pada masa lalu pernah tinggal 30-an pengarang Melayu. Salah seorang yang melegenda adalah pujangga Raja Ali Haji, yang mengarang Gurindam Dua Belas. Raja Ali Haji (1808-1873) dikenal sebagai tokoh yang pertama kali memelopori penyusunan tata bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia dan bahasa nasional di Malaysia dan Singapura.

Pengarang lainnya yang dilahirkan di pulau itu di antaranya adalah Raja Ahmad, Abu Muhammad Adnan, dan Khalid Hitam, serta sejumlah pengarang perempuan, seperti Aisyah Sulaiman Riau dan Khatijah Terong. Mereka menulis syair, tata bahasa, sejarah, hukum, politik, dan ekonomi.

Selain makam raja-raja, tiga istana, puluhan gedung dan percetakan, tersebar sejumlah parit dan benteng pertahanan di pulau seluas 3,50 kilometer persegi itu. Akan tetapi, tidak banyak di antara peninggalan sejarah itu yang dapat “dinikmati” pengunjung. Sebagian besar tidak terawat dengan baik, dan terkesan terabaikan. Pengunjung lebih banyak disuguhi reruntuhan bangunan yang tidak menampakkan tanda-tanda perbaikan.

Di antara bangunan yang kondisinya cukup memprihatinkan adalah gerbang dan Istana Marhum Kantor, Gedung Engku Bilik, dan Gedung Tabib.

Kerusakan bangunan-bangunan bersejarah di Pulau Penyengat sebetulnya terjadi setelah Sultan Abdul Rahman yang memerintah pada masa 1812-1832. Ketika itu, Abdul Rahman yang menolak politik kontrak dengan Belanda, lalu menyerukan masyarakat agar menghancurkan bangunan kerajaan dan meninggalkan pulau itu. Sultan sendiri mengungsi ke Singapura.

Sayangnya, sejak kehancurannya tidak pernah ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk sekadar menata kembali warisan budaya yang menyimpan kenangan sejarah itu. Suasananya pun semakin semrawut karena permukiman penduduk yang bersulam dengan situs-situs yang bertebaran.

Suasana paling tidak nyaman akan terasa saat berziarah ke makam Raja Ali Haji, yang berada di Kompleks Makam Engku Putri. Tepat di depan kompleks makam itu terdapat mesin pembangkit listrik tenaga diesel untuk menyuplai energi listrik di pulau ini. Sejak tahun 1997 pembangkit itu beroperasi 24 jam.

Kekhusyukan peziarah saat mengirimkan untaian doa ke alam barzakh, terusik deru mesin diesel yang tanpa jeda. Padahal, di situ sedang “beristirahat” Raja Hamidah (Engku Putri, Permaisuri Sultan Mahmud Shah III), Raja Ahmad (penasihat kerajaan), Raja Ali Haji (pujangga kerajaan), Raja Haji Abdullah (Yang Dipertuan Muda Riau- Lingga IX), serta sejumlah kerabat Engku Putri yang lainnya.

Penggalan Pasal Kelima Gurindam Dua Belas yang dipampang di depan makam Raja Ali Haji, seolah kehilangan makna di tengah deru mesin diesel. //Jika hendak mengenal orang berbangsa. Lihatlah kepada budi dan bahasa.// (Nasru Alam Aziz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s