Bertahan di Arus Deras Peradaban

  • Kompas: Kamis, 14 Juli 2005, halaman 14
Para bissu dengan segala atribut yang melekat pada mereka masih tetap bertahan dan mendapat tempat di tengah arus deras peradaban. Hanya saja, posisi dan peran para bissu itu kini tidaklah sepenting pada masa puncak kejayaan komunitas ini saat kerajaan-kerajaan Bugis pra-Islam berkuasa. Kini, para bissu seperti (searah jarum jam) Khahar Eka (kiri atas), Puang Upe, Daeng Tawero, Mak Temi, dan Angel harus berjuang agar bisa mempertahankan hidup sehari-hari. (Kompas/lam)

Masa kerajaan pra-Islam di tanah Bugis adalah masa kejayaan para bissu. Kaum transvestite Bugis ini memegang peranan yang begitu penting dalam kerajaan (addatuang), sehingga nyaris tidak ada kegiatan upacara ritual tanpa kehadiran bissu sebagai pelaksana sekaligus pemimpin prosesi upacara.

Kala itu, setiap ranreng atau semacam wilayah adat memiliki komunitas bissu. Maka di Kerajaan Segeri dan Kerajaan Bone dikenal komunitas bissu dengan sebutan Bissu PatappuloE (40 orang bissu). Pada setiap upacara ritual, ke-40 bissu itu harus hadir.

Dalam buku La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, Dr Gilbert Albert Hamonic, ahli naskah Bugis kuno dari Perancis, menyimpulkan bahwa bissu adalah segolongan kecil dalam masyarakat tapi posisinya cukup penting untuk jadi patokan dalam suatu wilayah yang cukup luas. Ia menyebut tradisi bissu sebagai tradisi agama dalam masyarakat Bugis kuno.

“Agama bissu rupanya mula-mula lahir dari upacara dan kepercayaan rakyat yang sangat kuno. Dalam perjalanan masa, kepercayaan orang biasa itu diubah oleh beberapa pengaruh tradisi lainnya- termasuk tradisi Hindu, Buddha, dan Islam- lalu diterima oleh kalangan bangsawan. Perkembangannya kemudian, agama itu dikembalikan lagi kepada masyarakat tempat ia lahir, tetapi telah mengalami perubahan dan seolah-olah merupakan agama eksklusif para bangsawan masa itu,” paparnya.

Sebagai “orang suci” atau pendeta agama Bugis kuno, bissu mendapat perlakuan yang sangat istimewa oleh istana kerajaan. Puang Matoa (pimpinan tertua bissu) diberi berhektar-hektar sawah yang pengerjaannya dilakukan secara bergotong-royong, dan hasilnya digunakan untuk membiayai upacara-upacara ritual dan kebutuhan hidup komunitas bissu selama setahun ke depan. Sawah yang disebut galung arajang itu sekaligus menjadi tempat upacara mappalili (pesta atau upacara ritual menandai dimulainya penanaman padi) atau acara ritual lainnya. Di samping itu, kaum saudagar, petani, atau bangsawan, secara pribadi senantiasa memberi sedekah kepada para bissu.

Setelah agama Islam masuk ke kerajaan-kerajaan Bugis, peranan bissu sebagai pendeta nyaris hilang karena upacara-upacara ritual tidak dibenarkan lagi. Peranan bissu semakin pupus ketika pemerintahan kerajaan beralih ke pemerintahan republik, seiring memudarnya peran lembaga-lembaga adat.

Dr Halilintar Lathief, antropolog yang mendalami kehidupan bissu, komunitas bissu sempat mengalami prahara yang memorak-porandakan seluruh pranata kebissuannya. Pada masa perjuangan DI/TII, gerombolan pimpinan Kahar Muzakkar melancarkan operasi penumpasan bissu. Ribuan perlengkapan upacara ritual bissu dibakar atau ditenggelamkan ke laut. Tidak sedikit bissu maupun sanro (dukun) dibunuh. Yang dibiarkan hidup digunduli lalu dipaksa menjadi laki-laki tulen.

“Sisa-sisa mereka yang selamat itulah bissu-bissu tua yang masih ada sekarang. Boleh dikatakan bissu mereka adalah generasi terakhir yang mewarisi kejayaan tradisi Bugis klasik,” kata Halilintar.

Menurut Halilintar, bissu bisa bertahan hingga saat ini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis kuno hingga sekarang ini masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasratnya.

Akan tetapi, tidak ada lagi perhatian dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup mereka. Tidak ada lagi galung arajang yang menjadi sumber kehidupan sepanjang tahun. Di Segeri, misalnya, sawah pusaka itu sudah beralih kepemilikan dan dijadikan tambak oleh mereka yang mengklaimnya sebagai tanah warisan.

Kini para bissu terpaksa membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan. Mereka menggantungkan hidup pada panggilan orang-orang yang menggelar upacara adat. Sebagian besar di antara mereka menjadi perias pengantin dan penyedia perlengkapan pesta-pesta perkawinan.

Bissu Khahar Eka (29) di Segeri memiliki usaha penyewaan perlengkapan pesta dan sekaligus berprofesi sebagai perias pengantin. Di sela kesibukannya melayani perkawinan yang terkadang menerima lebih dari lima panggilan dalam sehari, Eka menjahit dan membuat pernak-pernik kelengkapan pesta untuk dijual atau disewakan.

Pekerjaan yang sama ditekuni Angel (39), yang kini berkedudukan sebagai puang lolo atau wakil dari puang matoa (pemimpin bissu). Bissu bernama asli Syamsul Bahri ini termasuk salah satu perias pengantin yang laris di Bone.

Puang Matoa Bone, Daeng Tawero (H Maruddin Daeng Tawero) yang kini berusia lebih dari 60 tahun, kondisinya tidak lebih baik. Saat ditemui di rumahnya di Desa Galung, Kecamatan Ulaweng, sekitar 15 kilometer dari Watampone (ibu kota Kabupaten Bone), ia sedang terbaring lemah akibat sakit.

Perhiasan pengantin dan tumpukan pakaian tradisional Bugis di dalam empat lemari milik Tawero sudah terbalut debu karena sekian lama tidak pernah tersentuh. “Sudah banyak sekali perias pengantin. Mereka bukan bissu, tapi menguasai rias kecantikan modern,” kata Tawero dengan suara lirih.

Sementara itu, Puang Upe (54) yang kini sebagai Puang Lolo Segeri, dan bissu perempuan Puang Temmi (60-an) di Desa Kanaungan, Pangkep, hanya mengharapkan penghasilan dari orang-orang datang meminta berkah. Sesuai ketentuan adat, para tamu yang datang membawa beberapa lembar daun sirih yang disisipi lembaran uang kertas. Lipatan daun sirih itu menjadi pengantar untuk menghadapkan sang tamu ke arajang (pusaka yang disakralkan).

“Seperti terjadi di mana-mana, lambat laun upacara ritual bissu diarahkan untuk kepentingan atraksi pariwisata. Bahkan, bisa diadakan untuk kepentingan penggalangan massa oleh partai tertentu saat kampanye pemilu. Ritual yang dipertahankan keasliannya oleh orang-orang Bugis selama beberapa dekade itu pun mulai disisipi unsur-unsur baru,” kata Halilintar.

Tidak sedikit anak muda dan calabai (waria yang belum/tidak sampai pada tingkatan bissu) menggunakan kesempatan upacara mappalili sebagai ajang main-main. Lebih memprihatinkan lagi, beberapa kabupaten telah mengebiri fungsi dan peran komunitas bissu menjadi sekadar sebuah sanggar seni tari saja.

Pada akhirnya waktu yang akan menentukan hingga kapan komunitas bissu bisa bertahan di tengah arus deras peradaban yang berubah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s