Mereka Bukan Sembarang Waria

  • Kompas: Rabu, 13 Juli 2005, halaman 14
Puang Upe melakukan tari spiritual yang disebut maggiri’ , diiringi tabuhan gendang. Ia menusukkan keris ke leher, pelipis, atau telapak tangan tanpa luka gores sedikit pun. Biasanya, inilah atraksi yang ditunggu-tunggu dalam setiap upacara bissu. (Kompas/lam)

Wa’ Matang (60-an), menghentak-hentakkan kakinya di lantai papan rumah panggung itu sambil menusuk-nusukkan keris ke telapak tangannya. Tabuhan gendang terus menderu ritmis, mempercepat detak jantung setiap yang menyaksikan aksi Matang.

Sejurus kemudian ia berputar dengan gemulai, lalu menusukkan kembali kerisnya. Kali ini lehernya yang kurus itu menjadi sasaran. Tak ada luka gores sedikit pun, apalagi tetesan darah dari tubuhnya.

Itulah maggiri’ (menusuk), tari spiritual kaum bissu yang sudah berusia ratusan tahun. Maggiri’ merupakan rangkaian dari prosesi upacara dalam tradisi Bugis kuno yang dilaksanakan para bissu, dan sampai hari ini masih bertahan meski jumlah bissu tinggal sehitungan jari di setiap kabupaten di tanah Bugis, Sulawesi Selatan.

Pada masa pra-Islam, di Kerajaan Segeri (Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Pangkep) saja jumlah bissunya 40 orang, sehingga disebut sebagai Bissu PatappuloE (Bissu Empat Puluh). Jumlah yang sama pada masa itu juga dikenal di Kerajaan Bone (sekarang Kabupaten Bone). Di antara Bissu PatappuloE terdapat bissu perempuan.

Kesaktian para waria Bugis itu bukan hanya terlihat saat maggiri’, melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap waria yang telah menjadi bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa ke depan. Dengan bahasa tersendiri atau basa to rilangi, bissu mampu berkomunikasi dengan para leluhurnya dari zaman baheula.

Dalam bahasa Bugis, waria disebut calabai. Kata ini berasal dari sala baine, yang artinya “bukan perempuan”. Mereka adalah lelaki dengan kondisi jasmaniah yang abnormal. Senang berpenampilan feminin dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini juga merupakan kebiasaan para wandu, yakni laki-laki dengan keadaan jasmaniah serupa tetapi belum menjadi bissu,” jelas Halilintar Lathief, antropolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM).

Para waria, termasuk bissu, mengaku lebih tertarik kepada laki-laki serta menganggap dan memosisikan dirinya sebagai perempuan. Namun demikian, dalam dokumen-dokumen resmi, seperti ijazah maupun KTP, mereka menuliskan jenis kelaminnya sebagai laki-laki.

Puang Upe punya pengalaman menarik ketika mengurus KTP dan menempelkan pas fotonya dalam pose berpakaian kebaya, dan tentu saja bersanggul.

“Pak Camat menolak menandatangani KTP saya karena fotonya perempuan, tapi jenis kelaminnya laki-laki,” katanya sambil tersipu- sipu.

Beberapa bissu memiliki arajang (pusaka yang dikeramatkan), yang menjadi media untuk berhubungan dengan leluhur. Puang Upe, bissu yang sangat terkenal di Segeri saat ini, menyimpan arajang di rakkeang (loteng rumah panggung). Setiap tamu yang datang ia hadapkan (mappangolo) ke arajang-nya.

Bissu perempuan yang terkenal di Desa Kanaungan -masih di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep)- Puang Temmi (60-an) atau Mak Temmi memiliki arajang yang “dirawat” secara turun-temurun. Arajang ditempatkan di sebuah kamar antara ruang tamu dan dapur.

“Saya keturunan ketujuh yang menerima wangsit untuk meneruskan arajang ini,” ungkapnya.

Puang Temmi sedang berkomunikasi dengan arwah leluhur di arajang yang ditempatkan dalam sebuah kamar. (Kompas/lam)

Arajang diletakkan di dalam palakka yang ditutupi kelambu. Pusaka itu berwujud sebilah keris dan batu-batuan. “Batu-batu ini bukan dibuat-buat tapi muncul dengan sendirinya. Ada yang muncul di sini, ada juga yang di tempat lain lalu saya mendapat wangsit melalui mimpi sehingga tahu lokasinya,” kata Mak Temmi sembari menunjukkan sebutir batu berbentuk telur.

Selama satu jam lebih Kompas di rumah Mak Temmi, perempaun yang dikenal sebagai sanro (dukun) itu kedatangan tiga tamu lainnya. Dua minta disiapkan upacara mappano (persembahan) sesajian karena tambaknya mendapatkan hasil yang baik. Satu lagi sekadar menyampaikan terima kasih, setelah saudaranya sembuh dari sakit yang diobati oleh Mak Temmi.

“Saya sudah tahu kalau akan kedatangan tamu dari jauh. Karena itulah tadi saya buru-buru pulang dari pasar,” katanya menyongsong kedatangan Kompas di kolong rumahnya. “Ada beberapa orang yang akan datang menemui saya hari ini, dan saya tahu ada satu yang datang dari jauh,” tambahnya.

Batu-batu pusaka Puang Upe (54) -yang juga di tunjukkan kepada Kompas– lebih unik lagi. Tidak kurang dari 10 butir batu seluruhnya berbentuk sesuatu benda, seperti kemiri, kerang, atau bentuk lainnya. Batu-batuan itu tersimpan dalam kopor besi bersama beberapa buku berisi naskah Bugis kuno. “Kalau tamu yang datang rezekinya kurang baik, kopor ini tidak akan mau terbuka,” kata Puang Upe.

Ia juga menunjukkan selembar kertas bergambar dua ular saling berpilin disertai penjelasan dalam aksara Bugis. “Ini namanya jimat naga sikoi. Kalau mau disenangi orang, terutama lawan jenis, pakai ini. Tapi tentu ada syaratnya,” tutur Puang Upe.

Setiap bissu punya kekuatan magis untuk memikat orang lain atau dalam khazanah Bugis dikenal sebagai cenning rara. Inilah yang digunakan para bissu ketika merias pengantin sehingga mempelai tampak anggun dan memesona.

Menjadi bissu

Bissu memperoleh kesaktian dengan berbagai jalan. Puang Upe misalnya, mendapatkan tuntunan untuk menjadi bissu sejak berusia 13 tahun.

“Sejak berusia belasan tahun saya sudah menyadari kelainan yang saya alami, dan saya mencoba untuk masuk seutuhnya ke wilayah itu. Maka saya datang berguru kepada bissu-bissu senior ketika itu, salah satunya Puang Matoa Sanro Seke’. Saya dinyatakan lulus sebagai bissu pada usia 21 tahun,” kata Puang Upe. Kini di Segeri ia duduk sebagai Puang Lolo (wakil dari Puang Matoa, pemimpin tertinggi bissu di suatu wilayah kerajaan).

Keberadaan bissu memang sangat erat kaitannya dengan keberadaan kerajaan pada masa lampau. Kedudukan seorang datu (raja) tidaklah sempurna tanpa kehadiran bissu. Bissu diibaratkan sebagai uang receh, yang jadi pembanding bagi uang yang lebih besar pecahannya.

Para bissu berperan sebagai penasihat raja. Pada masa pra-Islam mereka bisa dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno. Sebagai pelaksana dalam ritual kerajaan, bissulah yang menentukan hari baik untuk memulai sesuatu, seperti turun ke sawah atau membangun rumah. Sebelum pasukan berangkat perang misalnya, raja senantiasa berkonsultasi dengan para bissu.

Lain lagi cerita Khahar Eka, waria yang ditahbiskan menjadi bissu tahun 2003, setelah menjalani masa magang selama empat tahun pada bissu senior di Bola Arajang, rumah tempat penyimpanan pusaka yang dikeramatkan. Perjalanan spiritual Eka berawal dari beberapa mimpi saat masih duduk di bangku SMP.

“Tiga kali saya bermimpi bertemu lelaki tua berbusana serba putih yang menyuruh saya datang ke arajang. Saya tak berani ke sana. Melihat bissu-bissu itu saja sudah takut, karena cara berpakaiannya seperti perempuan tetapi wajahnya kekar-kekar. Setelah mimpi ketiga baru saya memberanikan diri,” kenang Eka, yang ditemui di rumahnya, di depan Pasar Segeri.

Pengalaman spiritual yang hampir sama juga dialami Syamsul Bahri, yang sehari-hari dikenal sebagai Angel. Ia mulai mendalami kehidupan bissu setelah tamat SMA hingga akhirnya ditahbiskan sebagai bissu pada tahun 2003. Puang Lolo Bone itu menceritakan, “Pada mulanya saya mencari bissu-bissu tua. Lalu saya mempelajari berbagai hal tentang bissu dan ritual-ritual bissu.”

Seorang waria baru dikategorikan layak menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian Puang Matoa atau Puang Lolo. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai bissu, ia harus menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan pada Arajang.

Waria yang akan dilantik menjadi bissu diwajibkan berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Setelah itu, bernazar (mattinja’) untuk menjalani irebba selama beberapa hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air.

Selama disemayamkan sesuai nazarnya, calon bissu dianggap dan diperlakukan sebagai orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang irebba. Setelah melewati upacara sakral itu, seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan.

“Kami beda dengan waria kebanyakan. Kami harus menjaga sikap, perilaku, dan tutur kata,” ucap Eka.

Ya, bissu memang bukan sembarang waria….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s