Berhadapan dengan Perdagangan Ilegal

  • Kompas: Kamis, 22 September 2005, halaman 14
Seorang pekerja tengah memperbaiki penyejuk udara (AC) di sebuah bengkel yang berada di Jalan Ciputat Raya, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (19/9). Penggunaan CFC 12 (Chloro Floro Carbon 12) yang tidak ramah lingkungan nantinya akan digantikan oleh R134A (Hidro Floro Carbon 134A) yang lebih ramah lingkungan. (Kompas/lam)

Indonesia telah menetapkan komitmen untuk ikut serta secara aktif dalam upaya perlindungan lapisan ozon dengan meratifikasi Konvensi Wina pada tahun 1992 dan Protokol Montreal pada tahun 1998. Dari sisi kebijakan, komitmen itu tidak perlu diragukan, akan tetapi pelaksanaannya masih memerlukan upaya konkret.

Lapisan ozon ditemukan tahun 1840, dan kemudian diketahui berperan melindungi Bumi terhadap radiasi ultraviolet (UV) yang berbahaya bagi kehidupan. Namun baru pada tahun 1970-an ilmuwan menunjukkan bahwa sejumlah bahan kimia yang digunakan secara luas telah menyebabkan kerusakan “payung Bumi” itu.

Mula-mula dikenali bahwa chlorofluorocarbons (CFCs) sebagai biang perusak lapisan ozon ketika atom klornya lepas ke atmosfer. Daftar bahan perusak ozon menjadi makin panjang, hingga saat ini mencapai 96 bahan kimia yang dikontrol oleh Protokol Montreal. Di antaranya adalah halon, carbon tetrachloride, methyl chloroform, hydrobromofluorocarbons (HBFCs), hydrochlorofluorocarbons (HCFCs), methyl bromide (CH3Br), dan bromochloromethane (BCM).

Bahan-bahan perusak ozon (BPO) biasanya digunakan untuk pendingin pada penyejuk udara dan kulkas, busa pengembang, pemadam kebakaran, pelarut, pestisida, dan bahan pendorong dalam tabung semprot pengharum ruangan, penyemprot rambut, atau parfum.

Konvensi Wina (1985) merupakan kesepakatan masyarakat internasional untuk melindungi lapisan ozon, dan Protokol Montreal (1987) berisi komitmen penghapusan BPO.

Menurut penilaian mantan Menteri Lingkungan Hidup (1978-1993) Emil Salim, berbagai kebijakan terkait dengan perlindungan lapisan ozon yang telah dikeluarkan belum menjamin penerapannya berjalan efektif. “Penghapusan CFCs dan halon belum menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan Indonesia,” katanya.

Indonesia telah menyepakati penghentian impor CFCs pada akhir 2007. Belajar dari pengalaman beberapa kali impor limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), agaknya Indonesia akan menghadapi masalah serupa dalam urusan BPO ini.

“Penegakan hukum di negara kita masih lemah. Itu akan memudahkan perdagangan ilegal,” tutur Emil.

Jauh-jauh hari Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) mengungkapkan telah meningkatnya perdagangan ilegal CFCs di dunia. CFCs hasil daur ulang memang masih bisa digunakan untuk peralatan (lemari es dan penyejuk udara) yang masih ada, akan tetapi sulit membedakan antara CFCs baru dan hasil daur ulang. Di samping itu, negara- negara industri masih memproduksi CFCs untuk kebutuhan sendiri dan untuk diekspor ke negara-negara berkembang.

Meski impor CFCs akan dihentikan pada 2007, Soetikno Ks Putra, salah seorang penyedia jasa perbaikan peralatan pendingin di Duren Sawit, Jakarta Timur, mengaku belum kesulitan mendapatkan CFC-12 maupun CFC-22.

Di Amerika Serikat (AS), CFCs dikenai pajak dan harga pasar yang tinggi. Itu cukup efektif membatasi penggunaan CFCs di dalam negeri, akan tetapi akibatnya pedagang ilegal menjual hampir 20.000 metrik ton setiaptahun, terutama ke negara berkembang.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengakui, kendala terbesar yang dihadapi Indonesia dalam implementasi program penghapusan BPO adalah masalah impor ilegal. Hingga saat ini hal itu masih sulit dikendalikan karena belum ada peraturan yang secara hukum dapat menjerat pelakunya.

Lubang ozon

Lapisan ozon terbentuk dari molekul-molekul ozon (O3) yang terkonsentrasi di stratosfer (antara 10 hingga 50 kilometer di atas permukaan Bumi). Secara alami, pembentukan ozon terjadi lebih banyak di daerah tropis dan semakin berkurang ke arah kutub. Di kutub bahkan hampir tidak terjadi pembentukan ozon, apalagi di kutub selatan yang sama sekali tidak memiliki vegetasi. Hidrokarbon yang dihasilkan pepohonan dan vegetasi lainnya lebih mampu membentuk ozon dibanding hasil kegiatan manusia, seperti pabrik atau pembakaran lainnya.

Molekul ozon terbentuk dan terurai melalui keseimbangan dinamis. Keberadaan bahan-bahan kimia tertentu di stratosfer mengakibatkan keseimbangan reaksi tersebut terganggu.

Kerusakan lapisan ozon di stratosfer berawal dari adanya emisi molekul gas yang mengandung klor dan brom yang dihasilkan dari berbagai aktivitasmanusia dan proses alamiah. Karena tidak bereaksi dan tidak larut dalam air, molekul gas tersebut terakumulasi di bagian bawah atmosfer. Pergerakan udara membawa molekul gas ke bagian atmosfer yang lebih tinggi hingga mencapai stratosfer.

Pada lapisan stratosfer, radiasi Matahari memecah molekul gas tersebut sehingga dihasilkan radikal klor dan brom. Melalui reaksi berantai, radikal klor dan brom memecah ikatan molekul gas-gas lain di atmosfer, termasuk molekul ozon.

Reaksi yang terjadi mengakibatkan molekul ozon terpecah menjadi oksigen dan radikal oksigen. Karena reaksi tersebut berlangsung secara berantai maka konsentrasi ozon di stratosfer akan terus berkurang, sehingga pada kondisi yang paling kritis akan membentuk lubang ozon.

Penipisan lapisan ozon menjadi ancaman bagi kesehatan manusia dan kehidupan Bumi. Berkurangnya molekul ozon di stratosfer mengakibatkan lapisan ozon semakin tipis, sehinggamenurunkan fungsi penyerapan radiasi UV-B. Dengan demikian, intensitas radiasi UV-B yang mencapai permukaan Bumi akan semakin meningkat. Setiap 10 persen penipisan ozon akan menaikkan radiasi UV-B sebesar 20 persen.

Paparan radiasi UV-B yang berlebih terhadap manusia, hewan, tanaman, dan bahan-bahan bangunan dapat menimbulkan dampak negatif. Manusia membutuhkan sinar ultraviolet dalam jumlah kecil untuk membantu pembentukan vitamin D oleh tubuh, akan tetapi radiasi yang berlebih dapat mengakibatkan kanker kulit, katarak, serta mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.

Peningkatan radiasi gelombang pendek UV-B juga memicu reaksi kimiawi di atmosfer bagian bawah, mengakibatkan penambahan jumlah reaksi fotokimia yang menghasilkan asap beracun, hujan asam, serta peningkatan gangguan saluran pernapasan.

Terhadap tumbuhan, radiasi UV-B menghambat pertumbuhan dan bahkan mengerdilkan berbagai jenis tanaman. Hal itu berakibat pada kerusakan hutan dan penurunan hasil panen sejumlah tanaman budidaya.

Di perairan laut, intensitas radiasi UV-B yang tinggi dapat memusnahkan organisme kecil yang hidup di permukaan air. Fitoplanton yang jadi sumber utama rantai makanan organisme laut dapat musnah sehingga timbul pengaruh berantai terhadap kehidupan organisme laut.

Radiasi UV-B juga menurunkan kemampuan sejumlah organisme menyerap karbon dioksida, yang merupakan salah satu gas rumah kaca, sehingga konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akan meningkat dan menyebabkan pemanasan global.

Di sektor pendingin (refrigerator), Dana Multilateral (MLF) untuk Pelaksanaan Protokol Montreal memberi bantuan hibah senilai 6,4 juta dollar AS untuk menghapus 1.141 metrik ton CFCs pada subsektor manufaktur dan sekitar 4,9 jutadollar AS untuk menghapus 1.072 metrik ton CFCs pada subsektor perbaikan.

Sutariyadi, Manajer Servis pada PT Sanyo Sales Indonesia, optimistis target penghapusan CFCs dapat tercapai pada tahun 2007. Sebab, kata Sutariyadi, seluruh produk baru telah menggunakan bahan pendingin yang ramah lingkungan. “Produk ramah lingkungan sudah tersedia di pasaran,” ujarnya.

Konsumsi CFCs memang telah ditekan dari 1,1 juta metrik ton (1986) menjadi 110.000 metrik ton (2001). Namun kenyataannya Indonesia masih menjadi pengguna CFCs terbesar (28 persen), setara dengan Iran, Meksiko, Nigeria, Thailand, dan Venezuela.

Bahkan di Asia -yang disebut sebagai lokomotif pertumbuhan- penggunaan CFCs masih tinggi. Emil menyimpulkan, pertumbuhan Asia belum ramah lingkungan. (Nasru Alam Aziz)

Penipisan Lapisan Ozon, Tidak Terasa tetapi Mengancam Kesehatan

  • Kompas: Jumat, 9 September 2005, halaman 12

JAKARTA, KOMPAS – Dampak penipisan lapisan ozon baru akan terlihat dalam jangka waktu relatif panjang. Akibatnya masalah itu sering kali terpinggirkan oleh isu pencemaran lingkungan lain yang dampaknya segera dirasakan pada tataran lokal.

“Sering tidak disadari bahwa penipisan lapisan ozon adalah masalah lingkungan global yang sekaligus berdampak buruk terhadap kesehatan. Dampaknya meluas pada kehidupan di Bumi dan tidak mengenal batas negara,” kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar di Jakarta, Kamis (8/9).

Jebolnya lapisan ozon di stratosfer akan meningkatkan intensitas radiasi Matahari ke Bumi, yang dapat menyebabkan kanker kulit, katarak, dan pelemahan sistem daya tahan tubuh. Terpapar ultraviolet berlebihan juga dapat menyebabkan penyakit melanoma, suatu kanker kulit.

Rachmat mengemukakan, Indonesia telah menetapkan komitmen untuk ikut serta secara aktif dalam upaya perlindungan lapisan ozon. Tahun 1992, Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Wina yang merupakan kesepakatan masyarakat internasional untuk melindungi lapisan ozon, dan Protokol Montreal mengenai Penghapusan Bahan Perusak Ozon (BPO).

Protokol Montreal yang ditandatangani tahun 1987 mengimbau negara- negara peserta untuk mengurangi secara bertahap penggunaan BPO, di antaranya chlorofluorocarbons (CFCs), hydrochlorofluorocarbons (HCFCs), halons, methyl bromide, carbon tetrachloride, dan methyl chloroform. BPO tersebut biasanya digunakan untuk bahan pendingin, busa pengembang, pemadam kebakaran, pelarut, pestisida, serta kaleng semprot untuk pengharum ruangan, penyemprot rambut, atau parfum.

Bantuan hibah

Rachmat mengatakan secara nasional telah disepakati penghentian impor CFCs pada akhir 2007. “Seluruh pihak yang sampai saat ini masih menggunakan CFCs diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi kelangkaan bahan tersebut, termasuk para pengusaha jasa servis alat pendingin yang masih menyediakan CFC-12,” tutur Rachmat.

Country Director UNDP untuk Indonesia, Gwi-yeop Son, menyatakan dukungan program PBB itu terhadap Pemerintah Indonesia untuk penghapusan BPO dalam industri manufaktur dan perbaikan peralatan pendingin.

Melalui Dana Multilateral (MLF) untuk Pelaksanaan Protokol Montreal, Indonesia mendapat sekitar 6,4 juta dollar AS untuk menghapus 1.141 metrik ton CFC pada subsektor manufaktur dan sekitar 4,9 juta dollar AS untuk menghapus 1.072 metrik ton CFC pada subsektor perbaikan hingga akhir 2007.

Kamis kemarin Rachmat menyerahkan bantuan hibah dari Dana Multilateral kepada perusahaan yang masih menggunakan BPO.

Alih teknologi

Dana tersebut untuk membantu alih teknologi pada industri manufaktur serta upaya daur ulang CFC-12 pada industri jasapelayanan servis peralatan pendingin, seperti lemari es, dispenser, dan penyejuk udara (AC).

Rachmat menambahkan, perusahaan menerima bantuan hibah berupa peralatan daur ulang (recycling) dan pemulihan (recovery) CFC-12, dan lebih lanjut akan memperoleh pelatihan mengenai tata cara servis peralatan pendingin yang baik, dengan memerhatikan aspek lingkungan.

Bantuan diberikan kepada 885 bengkel di seluruh Indonesia dan diharapkan pada 2007 dapat tercapai target penghapusan sebesar 1.072 metrik ton. Sejalan dengan itu, bantuan juga diberikan kepada bengkel servis AC mobil dengan target penghapusan 915 metrik ton pada 2007.

Sejak 1995 hingga akhir 2004, menurut Rachmat, Indonesia telah berhasil mengurangi penggunaan BPO 6.562 metrik ton.

“Penggunaan BPO yang masih tersisa terus dikurangi sejalan dengan pengurangan pemasukan BPO ke Indonesia.

Perketat pengawasan

Rachmat mengatakan bahwa kendala terbesar yang dihadapi Pemerintah Indonesia dalam implementasi program perlindungan lapisan ozon dan penghapusan BPO adalah masalah impor ilegal. Hingga saat ini hal itu masih sulit dikendalikan karena belum ada peraturan yang secara hukum dapat menjerat pelakunya.

“Pengawasan terhadap impor, perdagangan, dan penggunaan BPO diperketat agar penghapusan BPO dapat tercapai sesuai target, tahun 2007,” katanya.

Namun demikian, kata Rachmat, perlindungan lapisan ozon bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. (LAM)

Bantaran Sungai di Jakarta Perlu Restorasi

  • Kompas: Sabtu, 3 September 2005, halaman 13
Tarsoen Waryono (Kompas/gsa)

JAKARTA, KOMPAS – Makin ke hilir kondisi biofisik lahan bantaran sungai-sungai di Jakarta semakin buruk akibat kejadian alam dan campur tangan manusia. Kenyataan itu membutuhkan upaya restorasi ekologis untuk memulihkan kondisi lingkungan bantaran sungai.

“Perubahan fisik bantaran sungai di daerah perkotaan dapat menurunkan fungsi jasa biohidrologis vegetasi bantaran sungai. Padahal, bantaran berfungsi sebagai penyaring materi tanah dan air, penahan kecepatan angin, penyerap polutan, dan pengendali iklim mikro,” papar Tarsoen Waryono dalam disertasinya Pendekatan Pemulihan Bio-fisik Bantaran Sungai di Jakarta, di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Kamis (1/9).

Ia meraih gelar doktor pada Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UI.

Tarsoen yang menerima Kalpataru 2005 untuk kategori Pembina Lingkungan selama tujuh tahun meneliti kondisi fisik dan biologis ekosistem bantaran sungai-sungai di Jakarta.

Wilayah Provinsi DKI Jakarta dilintasi 13 aliran sungai dan 10 aliran di antaranya bermuara di Teluk Jakarta. Merujuk data Dinas Kehutanan DKI Jakarta (1997), alur-alur sungai tersebutpanjangnya 461 kilometer dengan luas bantaran 1.985,65 hektare.

Koordinator Binaan Hutan Kota UI itu menjelaskan, walaupun daerah bantaran atau riparian relatif sempit, perannya sangat penting dalam siklus hidup berbagai jenis kehidupan liar dan secara ekologis menjadi penyeimbang laju pertumbuhan wilayah. Karena itu, lahan bantaran sungai perlu dikonservasikan sebagai sempadan sungai untuk memulihkan komunitas bantaran secara alami melalui rehabilitasi habitat dan pengayaan jenis, serta sosialisasi untuk menumbuhkan kearifan masyarakat sekitarnya.

Berdasar penelusuran terhadap komunitas khas bantaran sungai di Jakarta, dalam kurun 93 tahun (1907-2000), tercatat lebih dari separuh jenis khas bantaran sungai telah hilang dan digantikan oleh jenis-jenis invasif. “Semula ada sekitar 100 jenis tumbuhan asli bantaran sungai, dan sekarang ditemukan hanya 56 jenis,” ungkap Tarsoen.

Dr Jatna Supriatna, salah seorang promotor Tarsoen menilai hasil penelitian tersebut sangat penting untuk segera diwujudkan. “Jika restorasi ekologis bantaran sungai itu terwujud, maka akan terbangun koridor hijau sepanjang alur sungai dari hulu, melintasi Jakarta, hingga ke hilir,” kata Jatna. (sf/lam)

Merancang Arah Asia dalam Keragaman

  • Kompas: Senin, 15 Agustus 2005, halaman 42
Peserta HYLI ke-7 bermain bersama pelajar penyandang tunarungu dari Persekutuan Orang Pekak Malaysia di Majlis Kebajikan dan Pembangunan Masyarakat Kebangsaan Malaysia, Kamis(14/7). (Kompas/lam)

Selama lima hari pada bulan Juli 2004, 24 mahasiswa dari enam negara Asia -Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand- berkumpul di Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka mendiskusikan sebuah tema “Balancing People, Planet, and Profit in Asia’s Future” (Menyeimbangkan Masyarakat, Bumi, dan Profit demi Masa Depan Asia).

Pertemuan para pemimpin muda Asia itu merupakan kegiatan pengabdian masyarakat dari perusahaan Jepang, Hitachi. Hitachi Young Leaders Initiative (HYLI) tahun ini adalah yang ketujuh sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 1996 di Singapura.

HYLI terbilang kegiatan bergengsi karena hanya diikuti mahasiswa berprestasi dari keenam negara Asia tadi. Setiap negara mengirimkan empat mahasiswa, yang telah diseleksi secara ketat oleh sebuah panel seleksi.

Empat mahasiswa yang mewakili Indonesia ialah Angelin Cornelia Sumendap dan Marsella Widiarta (Universitas Katolik Parahyangan), Muhammad Donny Eryastha (Universitas Indonesia), dan Maesy Angelina (Universitas Katolik Atma Jaya).

Sebelum memasuki sesi lokakarya yang melelahkan, peserta mendapat ceramah dari sejumlah narasumber dan diberi kesempatan tanya-jawab. Dua pembicara kunci adalah Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia Dato’ Dr Shafie Mohd Salleh dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia Dr Sri Mulyani Indrawati (diwakili oleh Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Dra Leila Retna Komala).

Lokakarya dibagi dalam tiga subtema, yakni Asian Economic Integration: Challenges and Opportunities (Integrasi Ekonomi Asia: Tantangan dan Peluang), The Changing Role of Education in a Dynamic Asia (Perubahan Peran Pendidikan dalam Asia yang Dinamis), dan Translating Environmental Awareness into Action (Mewujudkan Kesadaran Lingkungan ke dalam Aksi).

Selama ceramah dan lokakarya, mereka didampingi dua moderator, Dr Minni K Ang (Associate of Trinity College London) dan Dr Goh Chee Leong (Direktur Pusat Psikologi, HELP University College).

Dalam HYLI Ke-7 ini, peserta mendapat pengayaan untuk tiga subtema yang dibahas dari tokoh pemerintahan, pemimpin bisnis, organisasi nonpemerintah (LSM), serta akademisi. Dari Indonesia, Direktur Eksekutif Yayasan Kehati Ismid Hadad memberi masukan mengenai lingkungan hidup.

“Berinteraksi dan berdiskusi dengan mahasiswa dari negara lain adalah sesuatu yang sangat berharga dari HYLI ini. Kami bisa belajar dan berbagi pengalaman,” ungkap Marsella, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan.

Hal sama dikemukakan Fumiaki Ishizuka, mahasiswa College of Liberals Arts pada International Christian University, Tokyo. “Dari peserta lain saya mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang budaya dan masyarakat Asia yang beragam,” katanya.

Fumiaki yang mendalami Ekonomi Lingkungan dan Kebijakan Lingkungan yakin bahwa generasi muda yang akan memimpin Asia kelak akan membutuhkan dua kualitas. Pertama, penerimaan terhadap keragaman budaya, agama, dan sejarah Asia. Kedua, kesadaran terhadap bukan hanya potensi ekonomi regional, tetapi juga masalah-masalah sosial dan lingkungan hidup.

PEACE, Mosaic, Green Bank

Setelah melalui diskusi panjang, yang terkadang hingga pukul dua dini hari, para wakil negara itu menghasilkan draf rekomendasi untuk tiga subtema, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan hidup. Kelak pada akhir tahun ini draf tersebut akan diterbitkan sebagai sebuah buku putih (white paper), untuk disampaikan kepada pemerintah, akademisi, serta LSM terkait.

Kelompok yang membahas subtema ekonomi merekomendasikan sebuah proses untuk menciptakan ekonomi bersama Asia Timur, Process for an East Asia Common Economy (PEACE). Program ini direncanakan untuk mempercepat integrasi ekonomi di Asia, dengan memasukkannya dalam Komunitas Asia Timur, East Asian Community (EAC), sebagai sistem penyeimbang daerah perdagangan bebas yang bertujuan menggalang dana sukarela dari negara-negara anggota.

“Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan jaring pengaman sosial, mendanai pengembangan ekonomi negara-negara yang membutuhkan bantuan. Di samping itu, memperbaiki proses perdagangan bebas melalui usaha fasilitasi perdagangan, membangun infrastruktur terpadu, dan menyelaraskan standar dan praktik pelayanan publik,” papar Carl Nicholas Cheng Ng dari Filipina.

Dari sektor pendidikan ditawarkan model bagi empati sosial dan identitas Asia melalui pengembangan kompetensi, Model for Social Empathy and Asian Identity through Competency Enhancement (Mosaic). Model ini, seperti dijelaskan Maesy Angelina dari Indonesia, membagi jenjang pendidikan menjadi dua tahap, yakni dasar dan pelibatan.

Tahap 1 (Dasar) meliputi pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Standar di seluruh Asia, pembelajaran salah satu bahasa Asia, serta pengabdian masyarakat. Tahap 2 (Pelibatan) mencakup program pengenalan yang terintegrasi secara sistematis dengan beragam bidang karier. Tahapan ini bertujuan memperkenalkan para pelajar pada pilihan karier yang ada sebelum memutuskan jurusan yang akan diambil di perguruan tinggi.

Sementara subtema lingkungan merekomendasikan The Green Bank dan Sustainable Practices for Holistic Environmental Resource Engagement (SPHERE). Kedua program didasari kesulitan mengatasi dampak penurunan fungsi lingkungan di Asia akibat masalah ekonomi, pengawasan yang buruk, serta kurangnya rasa kepemilikan.

Kebersamaan

“Bank Hijau dirancang sebagai lembaga keuangan yang sepenuhnya ditujukan untuk pembangunan berkelanjutan, dengan menyediakan dukungan keuangan bagi proyek-proyek lingkungan berkelanjutan dengan baik,” kata Ali Andrea bin Hashim dari Malaysia.

Sementara SPHERE adalah program pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat, untukmelindungi lingkungan dengan memberdayakan komunitas sambil meningkatkan pendapatan mereka.

Di sela kesibukan menggodok draf rekomendasi, peserta diberi waktu senggang untuk mengunjungi beberapa obyek wisata budaya di kota Kuala Lumpur. Dalam acara Truly Malaysia Treasure Hunt ini, mereka berinteraksi dengan masyarakat di sekitar kuil Hindu Sri Maha Mariamman, Masjid Jamek, Pasar Seni, dan kawasan pecinan.

Kepemimpinan yang terkait dengan pelayanan terhadap masyarakat senantiasa menjadi bagian integral pada HYLI. Para pemimpin muda diberi kesempatan menunjukkan kemampuan kepemimpinannya dalam pengabdian kerja sosial dan diharapkan mempertajam kepeduliannya terhadap orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya, terutama bagi mereka yang kurang beruntung.

Melalui kerja sosial itu, para pemimpin muda akan memahami perannya dalam masyarakat sebagai pelayan masyarakat. Dengan demikian, mereka tahu bagaimana melayani masyarakat, lebih dari sekadar apa yang dapat mereka lakukan untuk diri sendiri.

Peserta HYLI Ke-7 diajak berbaur dengan penyandang tunarungu dari Persekutuan Orang Pekak Malaysia (Federasi Asosiasi Tuna Rungu Malaysia). Selama dua hari, sebanyak 24 mahasiswa dari enam negara berkomunikasi dan bermain bersama para pelajar tunarungu berusia 15-18 tahun dari Terengganu, Pulau Pinang, Negri Sembilan, Melaka, Selangor, dan Kuala Lumpur.

Suasana akrab yang tercipta membuat hari terasa sangat singkat. Meski berat, mereka saling mengucapkan selamat berpisah, tentu saja dengan isyarat tangan. (Nasru Alam Aziz)

Sebuah Oase di Kampus Paramadina

  • Kompas: Sabtu, 13 Agustus 2005, halaman 1
Emha Ainun Nadjib bersama Kyai Kanjeng saat tampil dalam Pergelaran Puisi Musik berjudul “Kanjeng Leo Tidak Percaya” di lapangan parkir Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (11/8). Tampil pula dalam pergelaran tersebut penyanyi Leo Kristi dan sastrawan Taufiq Ismail. (Kompas/rad)

“Kanjeng Leo Tidak Percaya”. Sebaris kalimat pesimistis melatari panggung pertunjukan di halaman Kampus Universitas Paramadina, Kamis (11/8) malam. Di atas panggung, penyanyi balada Leo Kristi dengan suara mengentak-entak bernyanyi diiringi ensambel Kyai Kanjeng.

Pentas kolaborasi Kyai Kanjeng dengan Leo Kristi diawali dengan lagu anak-anak berirama riang, Gundul Pacul. Lagu itu, menurut pemimpin komunitas Kyai Kanjeng, Emha Ainun Nadjib, tidak sekadar untuk meriangkan anak-anak, tetapi mengandung pesan politik.

“Jangan punya karakter gembelengan, bermain-main, tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan substansinya,” kata Emha. “Kalau jadi anggota DPR, ya jadilah anggota DPR yang mewakili rakyat. Jangan tamasya melulu.”

Emha lalu menjelaskan bait berikutnya. “Kalau Anda sudah menjadi pejabat, dibayar oleh rakyat, berarti posisimu berada di bawah bakul rakyat. Anda harus menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat di atas martabatmu sendiri,” tuturnya.

“Kalau Anda bermain-main, maka bakulnya akan glimpang. Dan, kalau nasinya sudah bertebaran ke mana-mana, tidak terorganisasi, akhirnya busung lapar terjadi di lumbung pangan NTB sana,” paparnya.

Demikianlah, setiap lagu yang dinyanyikan di panggung kemudian diuraikan secara lugas oleh Emha. Begitu pula tiga lagu yang dibawakan Leo Kristi, Salam dari Desa, Nyanyian Fajar, dan Sayur Asem Kacang Panjang.

Coba simak syair Salam dari Desa. “Kalau ke kota esok pagi. Sampaikan salam rinduku. Katakan padanya padi-padi telah kembang. Ani-ani seluas padang, roda lori berputar-putar siang malam. Tapi bukan kami punya.

Lagu tersebut menggambarkan betapa banyak hal yang seharusnya menjadi milik rakyat, tetapi tidak seperti kenyataannya. Sebagai salah satu contoh, penguasaan sumber daya air yang kini banyak dikuasai pemilik modal asing melalui privatisasi. Itu dimungkinkan dalam Undang-Undang Sumber Daya Air.

Contoh lain dikemukakan Emha mengenai perubahan status sejumlah perguruan tinggi negeri menjadi badan hukum milik negara alias BHMN. “Tiba-tiba saja Gedung UGM yang begitu banyak di Yogyakarta bukan lagi milik rakyat. Semuanya tiba-tiba menjadi milik perusahaan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Emha menguraikan lagu Sayur Asem Kacang Panjang yang menuturkan bahwa betapa kaya negeri Indonesia ini dengan berbagai bahan pangan dan makanan. Namun, ia tidak berdaya menghadapi serbuan makanan cepat saji lewat gerai-gerai restoran global. Anda akan merasa belum modern kalau tidak mengonsumsi berbagai hidangan itu.

Pusat kebudayaan

Pementasan “Kanjeng Leo Tidak Percaya” yang digelar oleh forum kebudayaan Paramaswara adalah sekaligus untuk mengukuhkan Universitas Paramadina sebagai pusat kebudayaan.

“Kami ingin menjadikan kampus sebagai pusat kebudayaan. Sebab, selama ini kampus sudah kehilangan oase untuk peduli dan merasakan getaran-getaran perasaan dalam hubungan-hubungan kemanusiaan,” kata Yudi Latif, Wakil Rektor Universitas Paramadina.

Menurut Yudi, kepedulian tersebut perlu disemai dan ditumbuhkan dalam sebuah ruang publik. Forum kebudayaan itu, katanya, diharapkan menimbulkan pertautan batin dan kebersamaan di antara mereka yang berasal dari berbagai latar belakang dan profesi.

Indah P Dahlan, dosen Universitas Paramadina yang membidani lahirnya forum Paramaswara, mengemukakan bahwa Kampus Paramadina terbuka bagi kampus mana pun dan siapa saja untuk bergabung serta bersama-sama mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini. Semacam forum kebudayaan antarkampus.

“Kami ingin melibatkan berbagai unsur secara bersahaja untuk membincangkan apa saja demi merajut kebersamaan,” tutur Yudi.

Kesenian sengaja dipilih sebagai media karena seni bersifat universal dan memiliki daya persuasif serta kekuatan penggugah yang tinggi. “Banyak cara untuk melakukan perubahan. Kami memilih jalur seni karena lebih bisa diterima dengan hati lapang,” ujar Indah.

Paramaswara diambil dari nama generik Universitas Paramadina dan swara, yang bisa diartikan sebagai suara, musik, puisi, maupun wacana. Paramaswara berarti “suara utama”.

Forum Paramaswara dengan setting utama Kyai Kanjeng dijadwalkan melakukan pergelaran setiap bulan pada hari Kamis kedua. Meski demikian, penampilan keduanya baru akan diadakan dua bulan kemudian. “Kami memerlukan waktu untuk evaluasi dan mempersiapkan materi selanjutnya,” ujar Indah.

Panggung Paramaswara kemarin malam menjadi lebih bergengsi dengan tampilnya penyair Taufiq Ismail dan Abdul Hadi WM. Sawung Jabo pun mempersembahkan lagunya dari album Swami: Bento..!

Seimons, Salomons, dan Entah Siapa Lagi…

  • Kompas: Kamis, 11 Agustus 2005, halaman 14
FERNANDO QUIKO menunjukkan Kali Cakung yang kondisinya tidak seperti dulu lagi, Kamis (28/7). Hingga tahun 1960-an, selain digunakan warga untuk mandi, cuci dan kakus, kali ini juga dijadikan sarana lalu lintas perahu yang akan menuju ke Kampung Tugu. (Kompas/jpe)

Kampung Tugu di dekat Tanjung Priok, Jakarta Utara, identik dengan gereja tua dan orkes keroncong. Memang hanya dua hal itu yang masih tampak nyata sebagai peninggalan keturunan Portugis yang bermukim di sana sejak lebih dari tiga abad lampau.

Selain Gereja Tugu dengan taman perkuburan di sisi kiri halamannya yang luas atau kelompok orkes keroncong, Anda akan kecewa jika datang ke Kampung Tugu untuk melihat sisa-sisa kebudayaan Portugis, yang mungkin dibawa oleh leluhur mereka pada masa awal dahulu, pertengahan abad ke-17.

Kehidupan sehari-hari masyarakat di Kampung Tugu sekarang ini tidak jauh berbeda dengan sudut-sudut Jakarta lainnya. Disesaki penduduk dari berbagai penjuru, dan warga keturunan Portugis berbaur -dan menjadi minoritas- di dalamnya. Mereka tinggal terpencar-pencar dalam radius sekitar lima kilometer dari persimpangan Semper hingga Jalan Cakung Cilincing Raya (Jalan Cacing).

Beberapa di antaranya masih tinggal di lahan yang sejak dulu ditempati orangtua mereka, seperti keluarga Andre J Michiels yang tinggal tidak jauh dari Gereja Tugu atau keluarga Martinus Cornelis yang rumahnya berada paling timur di seberang Jalan Cacing. Letak lahan mereka yang terpencar sejak dulu memang begitu. Pada mulanya, ketika orang-orang Portugis mendiami tempat itu pada tahun 1661, masih berupa rawa-rawa. Lalu mereka mengolah lahan menjadi sawah atau kebun.

Di samping bertani, keturunan Portugis di Kampung Tugu juga menangkap ikan di kali atau di laut. Mereka pun berburu babi hutan atau celeng di hutan-hutan sekitarnya. Hasil buruan mereka yang kemudian dibuat dendeng asin, yang dikenal sebagai dendeng tugu, kualitasnya tidak tertandingi.

Menurut orang-orang yang pernah mengecapnya, dendeng tugu sangat lezat dan sangat terkenal di Jakarta. Akan tetapi, kelezatan dendeng tugu itu kini tinggal cerita.

Meskipun demikian, kebiasaan berburu warga keturunan Portugis di Kampung Tugu masih berlangsung. “Di beberapa keluarga masih ada yang sering berburu,” kata Andre J Michiels (38) yang juga Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT).

“Kami tidak lagi berburu babi hutan, tetapi berburu musang di pinggiran Jakarta,” ungkap Arthur James Michiels (36), yang baru pulang berburu di Karawang pada Minggu (7/8) lalu. Arthur bersama adiknya, Milton Augustino Michiels, membawa pulang empat ekor musang yang lezat. “Selain karena tidak ada lagi babi hutan di sekitar Jakarta, kami tidak punya lagi senapan untuk berburu babi. Kami hanya menggunakan senapan angin,” tambah Arthur.

Bukan hanya dendeng asin yang telah hilang dari peredaran. Dodol tugu tidak lagi dijumpai, dan gado-gado khas Kampung Tugu sudah menjadi makanan langka. “Tidak ada lagi yang meneruskan pembuatan dodol tugu, kecuali gado-gado yang kadang-kadang masih dibuat di rumah,” tutur Andre.

Pesta perayaan

Sebagai daerah pertanian, kala itu Kampung Tugu memiliki tradisi pesta panen yang biasanya dilakukan setelah musim panen. Dalam pesta yang biasanya diadakan setiap bulan Agustus itu, warga menyisihkan sebagian hasil panennya, ternak, atau hasil kebunnya kepada gereja.

Gereja-melalui panitia yang dibentuk-kemudian menjual hasil panen itu dan hasilnya diserahkan untuk gereja. Dalam rangkaian pesta panen, diadakan lomba menembak oleh jago-jago tembak Kampung Tugu.

Di samping lomba menembak, biasanya diadakan pula lomba berburu di pantai utara Jakarta: mulai dari Marunda hingga Ujung Kerawang. Bahkan kadang-kadang diadakan di Ujung Kulon, Jawa Barat.

Lomba menembak dan berburu terkait erat dengan keberadaan orang-orang keturunan Portugis itu yang merupakan sisa tentara ekspedisi Portugis.

Seiring tergusurnya daerah pertanian dan perkebunan menjadi permukiman padat dan tempat usaha, warga Kampung Tugu tidak mengenal lagi pesta panen. Perayaan yang berasal dari tradisi masa silam yang masih tersisa adalah hari Natal, Tahun Baru, dan mandi-mandi. Itu pun tidak semeriah dahulu.

Hingga sembilan tahun lalu, masih ada keroncong keliling oleh anak-anak muda sambil mengunjungi rumah-rumah pada tengah malam Natal. Mereka menyapa setiap rumah dengan nyanyian dalam bahasa Portugis. Lalu saling bersalaman dengan tuan rumah.

Pesta Natal berlanjut dengan perayaan Tahun Baru, yang dimeriahkan dengan orkes keroncong. Mereka bermain musik, menyanyi, dan menari. Pada hari Minggu pertama setelah pergantian tahun, diadakanlah pesta mandi-mandi. Sekarang ini tidak ada yang basah dalam pesta mandi-mandi, sebab mereka hanya saling mengolesi bedak cair ke wajah. “Mandi-mandi adalah simbol saling membersihkan diri dan saling memaafkan,” jelas Andre.

KOMPLEKS PEMAKAMAN khusus “orang Toegoe” dan keturunannya di belakang Gereja Tugu, Kampung Tugu, Jakarta Utara. Foto diambil pada 28 Juli 2005. (Kompas/jpe)

Mati obor

Warga keturunan Portugis yang tinggal di sekitar Gereja Tugu diperkirakan kurang dari 100 keluarga dan sudah berdarah campuran. Menurut Andre, orang Kampung Tugu yang tergabung dalam IKBT, termasuk yang tinggal di luar Kampung Tugu atau daerah lainnya, masih sekitar 230 keluarga. Jumlah itu sebetulnya sangat kecil dibanding kemampuan mereka bertahan yang hampir empat abad.

Keportugisan mereka mulai pudar meski di tubuhnya tetap mengalir darah Portugis, karena mereka menganut sistem kekerabatan yang bersifat patrilineal. Banyak yang terpaksa melepas fam (nama keluarga) karena kawin dengan keturunan Sulawesi Utara, Maluku, Timor, Jawa, atau Tionghoa.

Pada mulanya terdapat belasan fam di Kampung Tugu. Namun karena faktor perkawinan campur tadi atau karena tidak memiliki anak laki-laki, beberapa fam tidak terpakai lagi. Kini hanya tersisa enam fam, yakni Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis.

“Terakhir, Seimons dan Salomons sudah mati obor, alias sudah padam,” ungkap Andre, yang dikaruniai tiga anak laki-laki dari perkawinannya dengan Rosalia Liliek Dewanti.

Tekad untuk meneruskan generasi Kampung Tugu di kalangan yang lebih muda, tercermin pada Johan Sopaheluwakan. Johan, yang sehari-hari sebagai guru di Sekolah Tugu Bhakti, memiliki garis keturunan Maluku.

Ia tetap bangga sebagai warga Kampung Tugu, meski tidak menggunakan fam Portugis karena terputus satu generasi. “Saya keturunan Quiko. Kelak jika saya punya anak laki-laki akan saya beri fam Quiko,” kata Johan dengan senyum optimistis.

Hidup dan matinya tradisi asli Kampung Tugu memang sangat bergantung pada masyarakat pendukungnya. Dan yang lebih menentukan lagi adalah seberapa kuat mereka menahan gerusan peradaban. (Nasru Alam Aziz, Johnny TG)

Mencoba Bertahan di Tanah Kelahirannya

  • Kompas: Rabu, 10 Agustus 2005, halaman 14
Andre J Michiels (38) sedang menikmati permainan biola anak sulungnya, Arend Stevanus Michiels (9). Demi keberlanjutan seni musik keroncong di Kampung Tugu, sejak dini Andre sudah mempersiapkan generasi penerus. (Kompas/lam)

Tampil dengan baju putih lengan panjang tanpa kerah dipadu dengan celana batik. Di kepala bertengger topi pet dan syal tebal melilit di leher. Itulah penampilan khas pemain musik keroncong tugu, khazanah kesenian yang sudah ada di Kampung Tugu sejak berabad lampau.

Kekhasan orkes keroncong tugu terkait dengan sejarahnya. Keroncong tugu dibawa oleh keturunan bekas tentara ekspedisi Portugis yang induk angkatan perangnya dipukul mundur oleh tentara Belanda pada akhir abad ke-16. Mereka adalah tawanan perang dari daerah yang diduduki Portugis pada masa itu, seperti Goa, Malabar, Coromandel, Bengal, Arakan, dan Malaka.

Orang-orang Portugis membawa musik keroncong ke Kampung Tugu sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Cikal-bakal musik keroncong itu kemudian dimainkan secara turun-temurun dan menyebar ke tempat- tempat lain di luar Kampung Tugu.

Keroncong Tugu menjadi inspirasi lahirnya Keroncong Kemayoran menjelang abad ke-20. Sinyo-sinyo Belanda pada masa itu mencoba memasukkan unsur jazz, yang menghasilkan keroncong dengan bunyi crong-crong yang lebih mendayu-dayu.

Kemudian, pada sekitar tahun 1950-an, berkembang pula langgam Jawa, yang dipopulerkan oleh kelompok Keroncong Irama Langgam pimpinan Sutedjo dan Orkes Keroncong Bintang Surakarta pimpinan Waldjinah.

Keroncong tetap terjaga dan bertahan karena kebutuhan masyarakat akan hiburan. Ketika itu belum ada gramafon, radio transistor, apalagi radio tape dan televisi. Sebelum memiliki alat musik organ, kebaktian di gereja juga diiringi musik keroncong.

Namun, sejak sekitar 14 tahun terakhir, keroncong tugu yang lahir dari masyarakat asli Kampung Tugu tidak lagi tampil dalam ibadat di gereja. Selain itu, ada lagu-lagu gereja yang agak sulit dimainkan dengan alat musik keroncong.

Menurut pemimpin Orkes Krontjong Toegoe, Andre J Michiels (38), warga muda Kampung Tugu memiliki tradisi bermain keroncong keliling sambil mengunjungi rumah-rumah warga pada malam Natal.

Biasanya pemilik rumah baru mau membuka pintu jika pimpinan rombongan telah mengucapkan salam berbahasa Portugis. Kebiasaan itu dimaksudkan untuk menghargai peristiwa keagamaan sekaligus untuk menurunkan tradisi berbahasa Portugis di kalangan anak muda.

Salam itu seperti berikut: Pisingku dia di Desember, nasedu di nos Sior jamundu Libra nos pekader unga ananti dikinta ferra asi klar kuma di dia unga anju di Sior asi grandi diallergria. Asi mow boso tar. Dies lobu Sua da bida cumpredae lampang kria so podeer, Santu Justru.

Terjemahannya kira-kira bahwa pada tanggal 25 Desember, Tuhan telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Juru Selamat, agar barang siapa yang percaya kepada Dia tidak binasa, melainkan mendapat hidup yang kekal, dan hendaklah kita dapat menaruh harapan kepada-Nya.

Sayangnya, tradisi yang bertahan lebih dari tiga setengah abad tidak lagi dilakukan sejak tahun 1996. Kebiasaan itu memudar karena sudah banyak orang Kampung Tugu asli yang pindah ke daerah-daerah lain, dan juga anak-anak mudanya nyaris tidak tertarik lagi dengan musik keroncong.

“Selain itu, keroncong keliling tidak lagi dilakukan demi menghormati warga lain,” ujar Andre, yang juga Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT).

Di kediamannya yang juga berfungsi sebagai kantor, Andre berusaha melestarikan keberadaan musik keroncong warisan leluhurnya dengan cara meneruskan pengelolaan grup musik Krontjong Toegoe. (Kompas/jpe)

Tantangan

Andre memandang, kurangnya kepedulian di kalangan anak muda Kampung Tugu terhadap musik keroncong merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi. Karena itu, ia masih tetap berupaya mengumpulkan beberapa orang untuk bergabung dalam Krontjong Toegoe, kelompok orkes yang pengelolaanya ia teruskan dari ayahnya.

“Saya mencoba mengumpulkan orang-orang Tugu agar kelompok ini tetap hidup dan bertahan di tempat kelahirannya. Yang sulit sekarang ini adalah mencari pemain biola dari kalangan orang Tugu,” ungkap Andre, yang meyakini bahwa kelestarian keroncong tugu sangat bergantung pada kepedulian orang Tugu sendiri.

Upaya ini Andre jalankan karena mengemban amanat orangtuanya agar tetap menjaga dan melestarikan keroncong tugu. Ia sendiri saat kecil tidak berminat dengan musik keroncong. Akan tetapi, berkat bimbingan ayahnya-yang juga pemain keroncong-akhirnya Andre kecil tertarik juga dan kemudian mahir menyanyi dan memainkan alat musik keroncong.

Andre, yang sehari-hari menjalankan usaha transportasi truk kontainer, sedang menyiapkan anak sulungnya, Arend Stevanus Michiels, untuk meneruskan Krontjong Toegoe. Setahun terakhir, Arend yang baru berusia sembilan tahun dengan tekun mengikuti kursus biola. “Kelak ia yang akan meneruskan kesenian kebanggaan orang Tugu ini,” kata Andre bangga.

Di kalangan generasi yang lebih tua, pelestarian musik keroncong dimotori oleh Samuel Quiko (67). Ia mengelola kelompok Cafrinho Tugu, yang sebelumnya dijalankan oleh kakaknya, Yakobus Quiko. Kelompok Cafrinho Tugu maupun Krontjong Toegoe telah beberapa kali mewakili delegasi kesenian Betawi dari DKI Jakarta pada Tong Tong Fair di Den Haag, Belanda.

Dibanding Krontjong Toegoe yang mengutamakan pemain dari kalangan orang Kampung Tugu keturunan Portugis, Cafrinho Tugu lebih terbuka bagi orang luar sehingga anggotanya pun jauh lebih banyak. Anggota dan pengurusnya sekitar 40 orang.

“Cafrinho punya beberapa kelompok sehingga kalau ada yang mengundang bermain pada saat bersamaan masih bisa dilayani,” kata Samuel, yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya pada musik keroncong.

Mengandalkan hidup dari berkesenian memang tidak selamanya mudah. Apalagi, kata Andre, sering kali harus bermain untuk amal, bukan komersial. “Kalau main secara profesional, bayarannya harus realistis, karena persiapan untuk tampil tentu membutuhkan biaya,” tambah Andre.

Waktu terus berjalan, seiring dengan perubahan zaman yang terus berlangsung. Kampung Tugu adalah tempat lahir keroncong, dan di tempat itu pula nasib keroncong tugu ditentukan.

Masihkah akan terdengar nyanyian merdu di malam terang bulan? O, bi aki mienja amada. Mienja noiba. O, moleer bonito. Jo espara con esparansa. E canta cantigo Moresco (Oh, datanglah kekasihku. Calon istriku. Oh, juwita. Kumenanti penuh harap. Sambil bernyanyi lagu Moresco). (Nasru Alam Aziz, Johnny TG)