Bantaran Sungai di Jakarta Perlu Restorasi

  • Kompas: Sabtu, 3 September 2005, halaman 13
Tarsoen Waryono (Kompas/gsa)

JAKARTA, KOMPAS – Makin ke hilir kondisi biofisik lahan bantaran sungai-sungai di Jakarta semakin buruk akibat kejadian alam dan campur tangan manusia. Kenyataan itu membutuhkan upaya restorasi ekologis untuk memulihkan kondisi lingkungan bantaran sungai.

“Perubahan fisik bantaran sungai di daerah perkotaan dapat menurunkan fungsi jasa biohidrologis vegetasi bantaran sungai. Padahal, bantaran berfungsi sebagai penyaring materi tanah dan air, penahan kecepatan angin, penyerap polutan, dan pengendali iklim mikro,” papar Tarsoen Waryono dalam disertasinya Pendekatan Pemulihan Bio-fisik Bantaran Sungai di Jakarta, di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Kamis (1/9).

Ia meraih gelar doktor pada Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UI.

Tarsoen yang menerima Kalpataru 2005 untuk kategori Pembina Lingkungan selama tujuh tahun meneliti kondisi fisik dan biologis ekosistem bantaran sungai-sungai di Jakarta.

Wilayah Provinsi DKI Jakarta dilintasi 13 aliran sungai dan 10 aliran di antaranya bermuara di Teluk Jakarta. Merujuk data Dinas Kehutanan DKI Jakarta (1997), alur-alur sungai tersebutpanjangnya 461 kilometer dengan luas bantaran 1.985,65 hektare.

Koordinator Binaan Hutan Kota UI itu menjelaskan, walaupun daerah bantaran atau riparian relatif sempit, perannya sangat penting dalam siklus hidup berbagai jenis kehidupan liar dan secara ekologis menjadi penyeimbang laju pertumbuhan wilayah. Karena itu, lahan bantaran sungai perlu dikonservasikan sebagai sempadan sungai untuk memulihkan komunitas bantaran secara alami melalui rehabilitasi habitat dan pengayaan jenis, serta sosialisasi untuk menumbuhkan kearifan masyarakat sekitarnya.

Berdasar penelusuran terhadap komunitas khas bantaran sungai di Jakarta, dalam kurun 93 tahun (1907-2000), tercatat lebih dari separuh jenis khas bantaran sungai telah hilang dan digantikan oleh jenis-jenis invasif. “Semula ada sekitar 100 jenis tumbuhan asli bantaran sungai, dan sekarang ditemukan hanya 56 jenis,” ungkap Tarsoen.

Dr Jatna Supriatna, salah seorang promotor Tarsoen menilai hasil penelitian tersebut sangat penting untuk segera diwujudkan. “Jika restorasi ekologis bantaran sungai itu terwujud, maka akan terbangun koridor hijau sepanjang alur sungai dari hulu, melintasi Jakarta, hingga ke hilir,” kata Jatna. (sf/lam)

Advertisements

Anugerah “Kompas” untuk Ratna Indraswari Ibrahim

  • Kompas: Rabu, 29 Juni 2005, halaman 12
Cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim menerima ucapan selamat dari Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo pada Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005, Selasa (28/6) di Bentara Budaya Jakarta. Ratna (duduk di kursi roda) menerima Anugerah Kesetiaan Berkarya dari Kompas atas kesetiaannya dalam menulis cerpen. (Kompas/pri)

JAKARTA, KOMPAS – Harian Kompas memberi Anugerah Kesetiaan Berkarya kepada penulis Ratna Indraswari Ibrahim. Saat yang sama, Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005 diberikan kepada Kuntowijoyo (alm) sebagai penulis cerpen Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana”.

Trofi untuk Ratna diserahkan oleh Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-40 Harian Kompas, Selasa (28/6) malam, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Adapun trofi penghargaan cerpen terbaik diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo kepada Susilaningsih, istri almarhum Kuntowijoyo. Penghargaan kali ini merupakan yang keempat bagi Kuntowijoyo, setelah menerima penghargaan serupa pada tahun 1995, 1996, dan 1997.

Di samping karya Kuntowijoyo, sembilan cerpen lainnya yang dimuat dalam tahun 2004 menjadi cerpen pilihan yang dibukukan dalam Jl. “Asmaradana”: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005. Cerpen tersebut adalah Kupu-kupu Seribu Peluru (Agus Noor), Senja Buram, Daging di Mulutnya (Radhar Panca Dahana), Belatung (Gus tf Sakai), Dari Mana Datangnya Mata (Veven Sp Wardhana), Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura (Sunaryono Basuki Ks), Bulan Terbingkai Jendela (Indra Tranggono), Baju (Ratna Indraswari Ibrahim), Daun-daun Waru di Samirono (Nh Dini), dan Roti Tawar (Kurnia Effendi).

Kesetiaan berkarya Ratna ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen, novelet, dan novel yang dihasilkannya sejak usia remaja hingga saat ini. Sejumlah cerpen karya perempuan kelahiran Malang, 24 April 1949, terpilih masuk dalam kumpulan cerpen Kompas.

“Menulis adalah proses belajar yang tak berkesudahan di tengah berbagai informasi yang berdengung di mana-mana. Di tengah budaya ‘autis’ yang membuat kita asyik dengan diri sendiri, cerpen tetap diperlukan,” kata Ratna di atas kursi rodanya.

Menurut Jakob, cerpen merupakan bagian yang esensial dari eksistensi surat kabar seperti Kompas, yang falsafahnya adalah kemanusiaan yang beriman, kemanusiaan yang serba dimensi, dan kemanusiaan yang peduli.

“Kalau surat kabar melaporkan kenyataan yang hidup di masyarakat lewat berita dan komentar, lewat cerpen sukma dari kenyataan itulah yang coba digambarkan,” ujarnya. (LAM)

Romantisme Air Supply di Makassar

  • Kompas: Minggu, 19 Juni 2005, halaman 30
EMOSI PENONTON – Ketika tampil di Makassar, Air Supply yang terdiri dari Russell Hitchcock dan Graham Russell berhasil melibatkan emosi penonton lewat lagu-lagunya yang banyak bertutur tentang cinta. (Kompas/rei)

PENGGEMAR Air Supply yang memadati Maraja Ballroom Hotel Sahid Makassar berseru senang ketika duo Russell Hitchcock dan Graham Russell turun dari panggung dan berbaur dengan mereka sambil melantunkan Sweet Dream. Kontan para penonton yang didekati membidikkan kamera saku atau telepon genggam berkamera ke arah Russell.

Russel menenggelamkan diri di tengah penonton yang menyambut, memeluk, dan menciumnya. Sedangkan Graham yang berdiri di depan panggung mengiringi dengan petikan gitar. Aksi Russell dan Graham itu berhasil membuat suasana interaktif.

Sejak membuka penampilan dengan Remember Me, Russell dan Graham mencoba melibatkan emosi penonton dengan mengajak bercakap-cakap. Akan tetapi ucapan-ucapannya lebih banyak dibalas dengan tepukan tangan. Selebihnya, penonton yang sebagian besar berusia belia hanya terpukau dengan penampilan dan paduan suara bening mereka.

Kelompok asal Australia yang bermukim di Amerika Serikat (AS) itu tampil dengan lagu-lagu romantisnya, mulai dari Remember Me, Here I Am, Goodbye, Sweet Dream, Even the Nights Are Better, Every Woman in the World, hingga Making Love Out of Nothing At All.

Seusai melantunkan lagu kelima, Goodbye, Graham mengajak penonton mengisi tempat yang kosong di depan (disiapkan untuk penonton VIP dan VVIP). “Mengapa kalian hanya berdiri di belakang dan tidak mendekat ke sini saja!” ajak Graham dari panggung. Maka, penonton kelas festival segera “menjebol” pembatas dan merangsek dekat panggung.

Graham sempat mengajak seorang bocah naik ke panggung mendampinginya bernyanyi. “Hello, do you speak English? What’s your name?” Yang ditanya hanya mengangguk dan menggeleng. “You don’t have to do anything,” katanya sambil duduk berselonjor di bibir panggung bersama sang bocah. Pemain gitar kidal dan pencetak lagu-lagu Air Supply itu lalu memetik gitar dan menyenandungkan We Are All Children.

Termasuk awet

MESKIPUN baru pertama kali berada di Makassar, duo Air Supply bukanlah kelompok asing bagi publik Indonesia. Pasangan penyanyi Graham (lahir di Nottingham, Inggris, 11 Juni 1950) dan Russell (lahir di Melbourne, Australia, 15 Juni 1949), pertama kali tampil di hadapan publik Indonesia di Sirkuit Ancol Jakarta tahun 1994. Ketika itu, kelompok musik slow rock ini membawa misi penyelamatan badak jawa dan badak sumatera.

Pada kunjungan berikutnya tahun 1995, mereka tampil di Hard Rock Kafe Jakarta untuk mempromosikan album News from Nowhere. Tahun 1997 mereka datang lagi untuk promosi album The Book of Love.

Lalu tahun 2000 Air Supply mengadakan rangkaian tur ke beberapa kota di Indonesia, sambil mempromosikan album The Ultimate Collection. Album tersebut merupakan kompilasi karya-karya terbaik mereka.

Air Supply merupakan salah satu duet musik pop 1970-an yang terbilang awet. Sejak terbentuk tahun 1975, mereka masih berkarya dan melakukan tur dunia. Dua hari sebelum memukau penggemarnya di Makassar, mereka tampil di Memphis dan Los Angeles, AS. Dari Makassar mereka melanjutkan tur ke beberapa kota lain di Indonesia. Selama hampir 30 tahun itu, Graham-Russell masih setia bertutur tentang cinta, menebar romantisme.

Mendekati tengah malam pada pertunjukan mereka di Makassar, pertunjukan ditutup dengan lagu ke-14, Making Love Out of Nothing At All. Namun Russell-Graham agaknya tak tega meninggalkan penggemar begitu saja. Mereka memberi bonus dua lagu, All Out of Love dan It’s Never Too Late, sebelum benar-benar mengucapkan selamat tinggal.

Penonton masih enggan beranjak, padahal Russell-Graham sudah menghilang ke balik panggung. … I would rather hurt myself/ than to ever make you cry/ thereÆs nothing left to say/ but goodbye// There’s no other way/ than to say goodbye…. (ren/rei/lam)

Tarsoen, Sang Arsitek Hutan Kota

  • Kompas: Rabu, 15 Juni 2005, halaman 12
Tarsoen Waryono (Kompas/gsa)

HARI Lingkungan Hidup Sedunia 2005 adalah hari yang sangat berkesan dalam hidup Tarsoen Waryono. Saat dunia internasional menyerukan tema green cities, ia mendapat penghargaan Kalpataru –simbol pelestarian lingkungan hidup– dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena upayanya yang keras membangun hutan kota.

Dalam berbagai kesempatan ia selalu mengemukakan keresahannya akan penurunan kualitas lingkungan hidup di Jakarta. Jumlah kendaraan bermotor yang tidak terkendali menyebabkan polusi, hutan beton yang makin lebat meningkatkan laju limpasan air hujan, dengan dinding- dinding kaca yang meningkatkan titik-titik panas kota.

“Salah satu solusi untuk memulihkan kualitas lingkungan di kota Jakarta adalah dengan membangun hutan kota serta kawasan terbuka hijau lainnya,” kata Tarsoen, yang menerima Kalpataru untuk kategori Pembina Lingkungan.

***

LAKI-laki kelahiran Cilacap, 12 Juni 1952, itu memulai kariernya sebagai pegawai negeri sipil pada sebuah kantor cabang Dinas Kehutanan di Kalimantan Timur. Selama delapan tahun di hutan Kalimantan, Tarsoen akhirnya ditarik ke Jakarta sebagai Kepala Seksi Perencanaan Hutan Kawasan Timur di Departemen Kehutanan (1976-1985). Lalu Tarsoen diberi kepercayaan sebagai Pelaksana Program Pembangunan Hutan Kota Kampus UI Depok (1985-1990).

Ia pernah ditampung di Kantor Wilayah Kehutanan DKI Jakarta sebelum diangkat sebagai Pengelola Hutan Kota Kampus UI Depok (1998- 1999). Sejak tahun 2004 Tarsoen menjadi Koordinator Binaan Hutan Kota UI. Di samping itu, ia masih mengajar mata kuliah yang erat kaitannya dengan ilmu lingkungan hidup di Jurusan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI, yaitu mata kuliah Erosi dan Konservasi dan juga Biogeografi.

Kandidat doktor bidang Biologi Konservasi pada UI itu hampir setiap hari meluangkan waktu untuk melayani mahasiswa yang sedang praktik lapangan dan konsultasi skripsi maupun tesis berkaitan dengan hutan kota, biologi, ekologi, konservasi, atau tanaman obat.

Bukan hanya itu, Tarsoen disibukkan dengan berbagai seminar, penyuluhan, dan pendampingan. “Anak-anak saya selalu risau. Mereka khawatir saya tidak lagi mengajar karena sibuk mengurusi hutan kota,” ungkap ayah dari dua anak –Mellia Jenetica (24) dan Afrieza Galihtica (15)– buah perkawinannya dengan Sri Purwati ini.

***

MERINTIS pembangunan hutan kota bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang panjang, energi yang besar, dan semangat pantang menyerah.

Tarsoen memulai pembangunan hutan kota UI dengan menyusun rencana dan rancangan pembangunannya. Desain hutan kota UI disusun berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Hutan Kota UI Tahap I (1989/1999) yang memisahkan antara Tata Hijau Bangunan yang terletak di sebelah selatan Kampus UI Depok dan hutan kota di wilayah utara kampus.

Sejak awal perencanaan pembangunan Kampus UI Depok seluas 390 hektar, pihak rektorat berkomitmen untuk hanya menggunakan 30 persen dari luas lahan untuk lantai bangunan termasuk jalan. Sisanya, 70 persen, harus menjadi daerah resapan air atau sebagai ruang terbuka hijau.

Rancangan itu ditawarkan ke beberapa instansi terkait guna mendapatkan pendanaan karena sejak awal UI tidak membiayai pembangunan dan pemeliharaan hutan kota UI. Rancangan hutan kota UI ketika itu dipresentasikan di hadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Fuad Hassan.

“Saya presentasi begitu semangatnya. Tanggapan Pak Menteri: rencana Mas Tarsoen hebat sekali. Saya kagum dari ujung ke ujung, tapi sayang dengan dana yang sebegitu kecil, Dikbud tidak bisa memenuhi karena tolok ukurnya tidak ada,” tuturnya mengenang. “Karena tolok ukur membangun hutan memang tidak ada di Dikbud, saya terpaksa lari ke Dephut (Departemen Kehutanan). Akhirnya dapat sekitar Rp 40 juta,” katanya lagi.

Hutan kota UI ditata menyatu dengan kawasan tandon air atau situ yang merupakan ekosistem perairan atau kawasan tata air. Saat ini sudah dibangun enam situ (15 hektar) di atas lahan sawah dengan sumber air dari air limpasan. “Jika situ-situ yang ada digunakan sebagai daerah resapan, maka akan mampu menyuplai air untuk tiga juta penduduk. Situ-situ tersebut adalah kesatuan ekologis dengan hutan kota yang tidak dapat dipisahkan,” paparnya.

Tarsoen membagi hutan kota UI dalam zona Wallacea Barat yang diisi tanaman dari belahan barat Indonesia dan Wallacea Timur untuk tanaman dari wilayah timur. Di antara kedua zona itu disediakan kawasan untuk tanaman lokal yang memang merupakan tumbuhan asli di sana. “Kampus UI yang membawa nama Indonesia saya beri ciri dengan tanaman dari Sabang sampai Merauke. Butuh sedikitnya 400 spesies tanaman untuk itu, dan sekarang baru sekitar 130 spesies,” ujarnya.

Memberi ciri khas seperti itu pada hutan kota merupakan keahlian Tarsoen. Tengoklah rancangan terakhirnya di halaman Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Anda akan menemukan jenis pohon yang namanya diambil dari huruf-huruf “J-A-K-A-R-T-A-S-E-L-A-T-A-N”. Di sana ada jati, agatis, kesambi, rambutan, tusam, dan seterusnya.

Lain lagi di markas tentara. Ketika akan merancang hutan untuk Mabes TNI di Cilangkap, Tarsoen diminta membuat hutan seperti di Papua, dengan pepohonan yang tinggi, sehingga jika tentara diterjunkan di sana tidak akan sampai ke tanah karena terhalang pohon. Ia pun memilih pohon yang besar-besar, tanamannya rapat, dan di bawahnya bukan rumput, tetapi tumbuhan berduri.

Markas Kopassus di Cijantung ingin hutan Kalimantan, tetapi didominasi warna merah. Hasilnya, di sana sekarang banyak ditemukan pohon flamboyan dan keciat yang bunganya berwarna merah, serta ketapang yang daunnya juga merah kalau mulai kering.

Di Markas Marinir Cilandak, Tarsoen membuat hutan yang didominasi warna ungu dari pohon-pohon bungur.

Yang agak unik dan lebih sulit, kata Tarsoen, adalah Lanud Halim Perdana Kusuma yang menginginkan hutan yang tidak dihinggapi burung dan jajaran pohon yang mampu meredam suara pesawat. “Burung di Jakarta lebih dominan makanannya biji atau ulat. Maka kita mencari predatornya. Ulat tidak akan banyak kalau banyak semut di pohon itu. Itu namanya trik kombinasi,” tutur Tarsoen bangga.

Lalu apa obsesinya ke depan? “Saya ingin menjadikan hutan kota UI sebagai ecoscience park. Di samping untuk arena rekreasi, kawasan hutan akan diberdayakan sebagai laboratorium alam,” ungkapnya. “Dananya harus saya cari sendiri. Mungkin ada yang berminat jadi sponsor.” (Nasru Alam Aziz)

Achdiat K Mihardja

  • Kompas: Minggu, 12 Juni 2005, halaman 16
Achdiat K Mihardja (Kompas/gsa)

LUAR biasa. Itulah ungkapan untuk menggambarkan penulis roman Atheis yang melegenda, Achdiat K Mihardja (94). Bukan saja karena romannya dicetak ulang 27 kali -tahun 1972 diterjemahkan dalam bahasa Inggris- atau pernah difilmkan dengan sutradara Sjuman Djaya (1974), tetapi juga karena ia masih berkarya di usia senjanya.

Ungkapan luar biasa digunakan sastrawan Taufiq Ismail dalam sambutan peluncuran kisah panjang (kispan) berjudul Manifesto Khalifatullah di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat, Selasa (7/7).

Kekaguman pun muncul dari rekan-rekan sastrawan, seperti Ramadhan KH dan Ajip Rosidi, yang berselisih usia lebih dari sepuluh tahun dari “Aki” -begitu Achdiat menyebut dirinya. “Saya saja sudah merasa sulit membereskan satu novel saya,” begitu Ramadhan (78) membandingkan dirinya.

Meskipun tidak dapat disebut sastrawan yang produktif, seperti diakui Aki, ia kembali menorehkan prestasi ketika sebagian besar rekan seusianya sudah tiada. Sepanjang sejarah sastra-budaya Indonesia, inilah satu-satunya pengarang yang masih menulis di usia hampir seabad. Karya terakhir sebelumnya, kumpulan dongeng Si Kabayan Manusia Lucu (1997).

Manifesto Khalifatullah bukanlah obsesi terakhir karier kepenulisannya. Ia sedang menyiapkan kumpulan tulisannya mengenai ketuhanan, filsafat, dan budaya berjudul Ki Separoh Plus Ki Setengah Sama Dengan Insan Kamil yang akan diterbitkan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Ia juga ingin menulis autobiografi. “Pikiran harus selalu digunakan agar tetap sehat,” kata sastrawan yang sejak tahun 1961 bermukim di Canberra, Australia, itu.

Sebutan Aki dipilih Achdiat untuk mengingatkan bahwa ia sudah tua. Ia tidak memilih sebutan kakek. Alasannya, “Enak kalau bunyinya Akiiiiii…begitu. Kalau kakek kelihatannya kurang enak saja (lalu tertawa).”

Di sela-sela kunjungannya di Jakarta, Achdiat masih mampu memenuhi permintaan wawancara khusus lebih dari dua media dalam sehari. Jalan pikirannya jelas, ingatannya kuat, pun masih mampu berjalan tanpa bantuan orang lain. Hanya saja, ia seolah tak bisa lepas dari tongkatnya.

Ditemui dalam dua kesempatan di hari yang berbeda, tak tampak kelelahan fisik yang berarti. Wajahnya tak berubah lelah, sesekali ia tertawa mengingat sesuatu yang berkesan. Kedua tangannya sering kali digerakkan untuk memberi penekanan. Apalagi ketika menjelaskan hal- hal menyangkut sekularisme dan ketuhanan.

Di kenangan bungsunya, Nuska Achdiat, ayahnya adalah pekerja keras, berego tinggi, pendebat, dan kutu buku sekaligus perenung.

***

APA aktivitas Anda di usia sekarang?

Ya menulis, membaca, dan merenung.

Tetapi mata ini sudah buta huruf sehingga sulit kalau tidak dibantu orang lain. Kadang-kadang pakai suryakanta, tapi slow. Tidak praktis.

Kondisi tubuh Anda tetap sehat, bagaimana menjaganya?

Itu urusan Tuhan. Tuhan beri kesehatan Aki. Supaya sehat, Aki mengingat soal makanan, gerak badan, olah pikir, merenung, dan tentu sembahyang. Bagaimana bisa punya pendirian dan gagasan kalau pikiran tidak jalan lagi? Alhamdulillah pikiran Aki masih sehat walafiat dan tetap beriman kepada Tuhan.

Keimanan Aki yang kuat menyuruh Aki sebagai khalifatullah, wakil Tuhan di muka bumi ini, untuk menjalankan perintah-Nya dan mengelakkan yang dilarang.

Ada diet tertentu?

Biasa saja. Pagi sarapan cara Australia dengan corn flakes, sup, dan roti dua potong. Siang makan masakan Indonesia. Malam sandwich supaya enteng untuk perut. Buah juga teratur, reguler, terutama pisang. (Nuska yang duduk di sebelahnya menambahkan kalau ayahnya juga teratur minum vitamin seminggu tiga kali).

Selama wawancara berlangsung beberapa kali Achdiat memberi penekanan pada konsep khalifatullah, konsep yang katanya selalu ia renungkan. Konsep itu pula yang sedang disiapkannya dalam buku berikutnya.

Setelah Atheis (1949) dan Debu Cinta Bertebaran (1973), kenapa baru muncul Manifesto Khalifatullah? Tidakkah terlalu lama?

Aki kebetulan saja tidak produktif. Aki banyak membaca dan merenungkan soal-soal keagamaan dan buku-buku filsafat. Kalau Aki membuat karya, itu adalah sesuatu yang pasti penting. Tidak usah cepat-cepat berproduksi. Memang panjang jedanya, tetapi Aki berpendirian jangan asal menulis. Harus ada arti dan pesannya. Itulah hasilnya, Atheis, Debu Cinta Bertebaran, dan Manifesto Khalifatullah. Apa pentingnya? Bagi orang Islam, manusia itu ditugaskan sebagai khalifatullah, wakil Tuhan di muka bumi. Karya berikut Aki tengah susun, kispan juga, mengenai insan kamil atau manusia sempurna.

Karya-karya Anda menonjol muatan religius. Apa yang memengaruhi?

Keluarga saya saleh, terutama ayah. Ia intelektuil meskipun sekolahnya rendah. Buku-buku koleksinya ada karya Shakespeare, Karl Marx, dan banyak lagi. Lengkap untuk dibaca. Aki juga mendengarkan perbincangan orang-orang tua, termasuk ngelmu mengenai agama dari paman-paman dan saudara-saudara Aki.

Sesudah di AMS, sekolah menengah, Aki lebih banyak bergaul dengan orang-orang berlatar belakang agama macam-macam. Bukan saja Islam, tapi juga dengan orang Kristen, Katolik, Buddha, filsuf, dan banyak lagi. Ayah saya heran, ini anak imannya tipis sekali, mudah terpengaruh ajaran lain, tapi ternyata enggak. Banyak juga sendi-sendi yang bagus dari agama-agama lain itu. Maka, di buku terbaru salah satunya Aki ceritakan juga tentang Siddharta.

Apa yang melatari pesan ketuhanan atau kedekatan manusia dengan Tuhan, seperti dalam karya-karya Anda itu?

Aki percaya Tuhan menciptakan manusia dengan tugas, yakni mewakili Tuhan menjadi manusia sempurna yang baik, bukan jahat. Dalam karya-karya itu Aki jelaskan keadaan dunia internasional sekarang sekularistis.

Kita menentang sekularisme karena menyepelekan soal ketuhanan dan menyemarakkan kerakusan. Pancasila itu artinya bekerja sama dan toleran, bukan saling bersaing, seperti yang dilakukan oleh negara- negara sekuler.

Kondisi sekarang sudah bertentangan dengan tugas manusia sebagai khalifatullah?

Semua bertentangan. Khusus bagi kita orang Indonesia, bertentangan juga dengan Pancasila. Bagi Aki, Pancasila adalah sebagai dasar demokrasi dan nasionalisme yang berlandaskan ketuhanan yang maha esa.

Sejak kapan Anda mempersiapkan Manifesto Khalifatullah?

Sudah lama itu. Soal agama sudah lama ada di jiwa, di kandung badan, dan sanubari. Menulisnya sih gampang, dua-tiga bulan selesai.

Bagaimana proses pengerjaannya?

Aki dibantu seorang typist di Kantor Kedutaan RI di Canberra. Namanya Siti Fatimah, ahli komputer. Itu yang diperbantukan kedutaan besar kita di Australia kepada Aki. Gratis lagi. Tanpa bantuan kedutaan besar dan bagian kebudayaan kedutaan kita di sana, buku itu tak mungkin terbit.

***

KHUSUS mengenai karya terbaru Anda, Ramadhan KH menilai kualitasnya masih di bawah Atheis.

Tidak bisa disamakan. Di bawah dalam arti apa? Karena ini kan soalnya lain, meski dasarnya sama. Ketuhanan, komunisme, atheisme, dan khalifatullah, lain toh. Khalifatullah itu menentang sekularisme yang semiatheis. Sekularisme menyatakan bahwa Tuhan itu boleh saja ada, tapi tidak berati apa-apa bagi manusia. Itu bedanya dengan komunisme yang tidak mengakui keberadaan Tuhan.

Titik pentingnya adalah pada manusia yang sifatnya rakus. Rakus kekuasaan dan rakus bendawi. Karena kerakusan manusia, timbul persaingan antarmanusia. Kemudian sampai pada tingkat ideologi politik dan ekonomi antarnegara, akhirnya timbul kekacauan di mana-mana. Kita sebagai negara Pancasilais berketuhanan tidak mau begitu.

Kritikan lain, struktur narasi Manifesto Khalifatullah tidak sebagus Atheis.

Terserahlah. Pokoknya memang beda. Kondisi zamannya dan persoalannya berbeda. Sebagai tulisan tidak bisa disamakan, itu menyangkut selera dan subyektif. Bagi Aki yang pokok adalah efektivitas penyampaian pesan. Ternyata Atheis efektif sekali, dan Manifesto Khalifatullah belum tentu tidak efektif, dalam arti mendapat perhatian. Bahasa itu punya arti, bergantung pada maknanya, ekspresinya, atau pelukisannya.

Wakil Tuhan atau khalifatullah itu maknanya indah sekali. Tanpa bahasa romantis seperti si cebol merindukan bulan, ketuhanan itu sendiri sudah indah. Bukan zamannya lagi karya dengan bahasa berbunga-bunga dan berkembang-kembang. Aki dengan Pujangga Baru tidak mau lagi berpantun-pantun, bersyair-syair. Maunya bahasa Indonesia yang zakelijk.

Apa yang memengaruhi proses kreatif Anda ketika menulis Atheis?

Latar belakang Aki adalah pendidikan dan sastra, Sastra Belanda dan Sastra Eropa. Modern sekali masa itu. Jadi kalau Aki dibilang seperti menyepelekan bahasa, itu tidak betul. Kembali kepada apa yang melatari lahirnya Atheis. Pengaruhnya macam-macam, termasuk dari berbagai buku yang Aki baca waktu itu. Aki yang sosialis tidak setuju dengan komunisme yang didengung-dengungkan Soekarno dalam Nasakom. Partai Aki sendiri, Partai Sosialis Indonesia, oleh Soekarno dihantam dan dikutuk. Aki tidak bisa betah dalam suasana begitu.

Zaman itu, komunis sangat besar pengaruhnya. Jadi Aki terpikir, kok begitu. Aki memikirkan soal ketuhanan supaya orang kembali kepada Tuhan. Kan kita punya Pancasila yang berketuhanan.

Anda puas hasilnya?

Sungguh luar biasa. Aki bangga. Itu rekor dan tidak tersaingi di Indonesia. Sudah dicetak ulang 26 kali. (catatan Kompas tercetak ulang 27 kali).

Oya, kami dengar Atheis membuahkan ancaman pembunuhan. Bagaimana ceritanya?

Ooo… dulu, sekitar 50 tahun lalu ada surat kaleng. Isinya mengancam Aki akan dibunuh, tapi Aki tidak takut. Buang saja surat itu, ignore saja karena Aki menganggap penulisnya pengecut. Padahal, bisa terus terang toh. Pengirimnya dari daerah Pekalongan, daerah Islam. Itu nyata kalau salah pengertian toh. Aki yang antiatheis antikomunis, justru dianggap pro-atheisme. Itu karena kebodohan dan penakut (lalu tertawa).

Sebelum menghasilkan Atheis, Achdiat aktif sebagai wartawan di harian Bintang Timur. Di sana ia menulis artikel, cerpen, atau tulisan kecil-kecil yang aktual. Meskipun sudah muncul angkatan Pujangga Baru, Achdiat belum mengenal para tokohnya. Hanya akrab dengan karya mereka.

Pada zaman Jepang, ia banyak membaca karya Multatuli yang anti- Belanda, seperti Max Havelaar. Saat itu, ia aktif membuat ceramah dan sandiwara radio. Ia pun menulis sajak-sajak yang menyindir Jepang, tetapi bentuknya seperti anti-Belanda dan Amerika.

Aktivitasnya dalam dunia kesusastraan dan kebudayaan membuatnya terlibat dalam penerbitan buku Polemik Kebudayaan (1948). Ia juga tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Bagaimana Lekra berdiri?

Lekra itu begini. Masa itu Belanda akan kembali lagi. Kami sebagai nasionalis tulen atau fanatik barangkali, melihat Chairil (Anwar) mulai dekat dengan orang yang kami curigai sebagai mata-mata Belanda. Mereka sudah mendirikan grup Gelanggang.

Kami berpikir itu harus ditendang, maka kami bersama MS Ashar, Kelana Asmara, dan seorang lagi yang Aki sudah lupa namanya mendirikan Lekra. Lembaga itu tidak ada hubungan sama sekali dengan komunis, tetapi justru untuk menentang ancaman masuknya kembali Belanda. Kami terperanjat ketika enam bulan kemudian, kok Lekra dijadikan onderbouw PKI. Kok jadi begini. Aki sebagai orang PSI, bukan PKI, tentu menentang itu.

Bagaimana Lekra sampai berbalik haluan?

Barangkali kawan-kawan kita itu ada yang PKI, seperti Kelana Asmara, Sanyoto, Lukman, atau Aidit sendiri. Teman-teman Aki memang ada yang pro-PKI.

Apa reaksi Anda kemudian?

Aki pindah ke Australia tahun 1960-an. Habis itu tidak ada aktivitas apa pun di Lekra karena Aki mengajar di sana. Keberadaan Aki di Australia pun ada idealismenya. Dalam arti, Australia dengan Indonesia kan negara bertetangga, masak tidak saling mengerti.

Anda kecewa Lekra ke PKI?

Ya, sampai sekarang. Karena ketika Aki dirikan tidak ada kaitan apa pun dengan komunis atau PKI. Paling-paling dengan religius sosialisme. Aki orang PSI yang di dalam anggaran dasarnya menyebut-nyebut ketuhanan dan mendukung Pancasila yang ada pasal ketuhanannya itu.

Dalam sambutannya di depan publik, Achdiat menekankan bila dirinya antisekularisme, antikomunis, dan antikedaerahan. Ia mengklaim beraliran sosialisme religius, seperti Bung Hatta.

Pilihan itu ditunjukkan dengan bergabung pada Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Sjahrir. Ia juga turut mendirikan perkumpulan Indonesia Muda ketika masih sekolah menengah (AMS) di Solo, Jawa Tengah. Konsepnya, mengurangi semangat kedaerahan seperti yang muncul dalam sebutan “jong-jong” seperti dalam Kongres Pemuda 1928.

Bagaimana Anda memandang kondisi global sekarang?

Yang terjadi sekularisme. Amerika itu kan negara sekularis yang seolah-olah anti-Tuhan, terutama politik luar negeri dan politik ekonominya. Kalau sebagai bangsa, yang Aki tahu selama belajar di Amerika, mereka itu church going. Artinya, suka beribadah ke gereja. Itu formalnya, tapi melalui kebijakan politik luar negeri dan ekonominya bisa dilihat sendiri.

Di Indonesia?

Kalau kita terlalu kacau moralnya. Korupsi dan sebagainya. Kalau ketuhanan tinggi, maka moral juga tinggi. Korupsi itu kan sama dengan antiketuhanan. Itu moral rendah. Memang sudah terjadi sejak masa lalu.

Apa seharusnya peran karya sastra Indonesia yang harus dimainkan di tengah kondisi semacam itu?

Maaf ya, sejak Aki tidak mengajar sastra di Australia, Aki tidak mengikuti sama sekali perkembangan sastra di Indonesia. Aki tidak tahu siapa ini, siapa itu sastrawan yang seharusnya menonjol. Bukan Aki kurang perhatikan, tapi kalau sudah tidak mengajar buat apa.

Yang bisa dilakukan saat ini semestinya besar toh, tapi tidak tahu sampai di mana pengaruh sastra budaya, ahli kebudayaan. Semestinya ada. Kalau tidak? Buat apa bergerak di kebudayaan dan sastra? Buat apa? Mesti ada pengaruhnya.

***

SEJAK tidak aktif mengajar dan ketiga anaknya mandiri, masa tua Achdiat dihabiskan berdua saja dengan istrinya, Tati Suprapti Noor. Ketiga anaknya tinggal di Sydney dan Jakarta. Sesekali ia bolak-balik Jakarta-Canberra.

Sejak tahun 1961, Achdiat memboyong keluarganya berpindah ke Australia. Ia menerima tawaran sebagai dosen di Australia National University (ANU) dan mengajar sastra dan budaya Indonesia.

Apa pertimbangan Anda hingga menerima tawaran ANU?

Aki mula-mula tidak mau. Tapi dipikir-pikir, sastra budaya itu kan ciri khas manusia Indonesia. Dan, kita bertetangga dekat. Jadi agar rukun dan damai mesti ada saling pengertian antartetangga, saling menghargai. Jadi Aki terima saja supaya Aki mengerti orang Australia dan mereka mengerti orang Indonesia lewat Aki yang mengajar di universitas.

Alasan kedua, saat itu Aki kurang betah di Indonesia karena ideologi Nasakom. Bagi Aki, itu bejat. Kita kan tidak bisa satukan atheis sama orang berketuhanan. Aki tidak enak hidup di negara yang hipokrit. Tidak cocok. Jadi terima saja tawaran mengajar di Australia sambil bangun saling pengertian.

Respons terhadap peristiwa tahun 1965?

Aki sedih karena clash-nya jadi bersenjata, saling bunuh. Mestinya kan bisa biasa saja, berunding atau toleran. Silakan atheis atau komunis, tapi jangan ganggu orang yang percaya Tuhan. Kalau tidak percaya go ahead, tapi ukurannya jangan mengganggu. Tapi kok jadinya bersenjata. Menyedihkan sekali.

Kapan pensiun dari ANU?

Aki tidak pensiun, tapi keluar karena perbedaan pendapat dengan pimpinan sekitar tahun 1972. Itu masalah personal. Dia berpendirian yang Aki anggap menentang prinsip Aki. Tidak bisa bekerja sama kalau begitu. Keluar saja.

Terus?

Tidak mengajar lagi, tapi sering diundang untuk memberi kuliah di Australia atau Papua Niugini untuk pelajaran sastra. Juga di Ohio University, Amerika Serikat. Begitulah.

Ada keinginan kembali ke Indonesia?

Ah, sudah kepalanglah. Bolak-balik saja.

Obsesi Aki sekarang?

(Sambil tertawa)…. Mengingat akan mati saja. Jadi Aki suka berpikir dan merenung, membaca soal kematian. Ada tulisan menarik dari seorang peraih Nobel tentang mati yang sempurna. Katanya, kalau kita hidup memuaskan dan sehat, pasti akan mati dengan baik. Dalam arti, tidak menderita ini-itu seperti Queen Elizabeth yang mati di tempat tidur.

Ya yang macam begitu dan tidak ada faktor kecelakaan, drug addict, dan alkohol. Bagi Aki, mati sempurna itu kalau lagi sekarat kita ingat sama Tuhan.

Pewawancara: Nasru Alam Aziz, Gesit Ariyanto

Katrina Koni Kii, Ibu Ribuan Pohon

  • Kompas: Kamis, 9 Juni 2005, halaman 12
Katrina Koni Kii (Kompas/inu)

PEREMPUAN berusia 63 tahun itu seakan tidak percaya ketika bersalaman dan mendapat ucapan selamat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Cipanas (Jawa Barat), Senin (6/6). Ia tampak tersenyum sambil mendekap kotak kaca berisi piala Kalpataru, simbol pelestarian lingkungan hidup, yang baru saja ia terima dari Presiden.

Katrina Koni Kii, perempuan itu, berasal dari Dusun Pokapaka, Desa Malimada, Kecamatan Wewewa Utara, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia menerima penghargaan Kalpataru 2005 untuk kategori Perintis Lingkungan karena dinilai telah berjasa menghijaukan lahan kritis dengan tanaman kayu-kayuan, seperti cendana, lame, ello, mahoni, johar, dan kemiri.

Kabupaten Sumba Barat sejak dulu dikenal sebagai penghasil cendana (Santalum album L) berkualitas prima. Tanaman itu semakin langka karena harus menunggu sekitar 40 tahun sebelum bisa dimanfaatkan dan masyarakat tidak tertarik untuk menanam kembali.

“Saya menanam pohon karena dorongan dari hati dan hanya untuk saya wariskan kepada anak-anak. Karena telah menerima hadiah ini, saya harus bekerja lebih keras lagi,” katanya dalam bahasa Indonesia yang sangat terbatas.

Kesempatan bertemu langsung dengan Presiden dan menerima Kalpataru serta uang tunai Rp 6 juta menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi seorang petani miskin seperti Katrina. Karena itu, ia rela meninggalkan kampung halamannya meski berat. “Ini pertama kali saya meninggalkan kampung dan menempuh perjalanan yang begitu jauh sampai ke Jakarta,” ujarnya.

Untuk sampai ke ibu kota kecamatan saja perlu dua jam perjalanan mendaki dan menuruni bukit dengan jalan berbatu dan terjal. Kemudian satu jam untuk mencapai Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat.

Dari Waikabubak masih perlu satu jam lagi untuk sampai ke Lapangan Terbang Tambolaka. Katrina pun harus berganti pesawat sampai tiga kali sebelum tiba di Jakarta, yakni di Bima (Nusa Tenggara Barat), Denpasar (Bali), dan Surabaya (Jawa Timur). Sebuah perjalanan yang melelahkan bagi Katrina, yang sehari-hari hanya berkutat di ladang.

***

DUSUN Pokapaka dengan penduduk sekitar 100 keluarga berada pada lahan berbukit dan berbatu sehingga mereka membangun rumah terpencar-pencar. Satu rumah bisa berjarak satu kilometer dengan yang lain. Lahan yang berbatu sangat menyulitkan untuk mendapatkan sumber air. Jangan bertanya apakah kawat listrik PLN sudah sampai ke dusun tersebut.

Kondisi seperti itu menjadi tantangan bagi Katrina untuk membuktikan bahwa alam selalu bersahabat apabila manusia mau mengelolanya dengan baik.

Ibu beranak lima itu berangkat dari niat menggarap lahan seluas sembilan hektar yang ditinggalkan mendiang suaminya pada tahun 1976. Mulailah ia menanam pohon apa saja di lahan yang terletak sekitar empat kilometer dari rumahnya itu. “Saya menanam cendana supaya ada yang bisa saya wariskan kepada anak dan cucu saya kelak,” katanya menjelaskan.

Mula-mula ia mendapat empat bibit pohon cendana dari petugas pertanian lapangan yang datang ke desanya. “Hanya dua pohon yang hidup dan berbiak sampai sekarang. Pohon tidak gampang tumbuh karena tanahnya berbatu-batu,” ungkapnya.

Dua pohon cendana induk yang kini berumur hampir 30 tahun itu telah menghasilkan ratusan tunas-tunas baru. Di samping dari cabutan tunas dari tanaman induk, ia juga mengambil dari pohon-pohon lain di sekitarnya. Sejak itu, Katrina dibantu anak- anaknya telah menanam 400 pohon cendana di lahannya sendiri. Kalau digabung dengan pohon- pohon jenis lain, jumlahnya melebihi 500 pohon.

Katrina, yang kini tinggal bersama dua anaknya –tiga lainnya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah– menanam pohon secara swadaya tanpa bantuan pemerintah atau pihak mana pun. Ia membudidayakan cendana secara sederhana dan tradisional, juga tanpa bimbingan teknis dari petugas lapangan.

“Saya tidak pernah mendapat penyuluhan bagaimana menanam pohon cendana. Saya hanya melakukannya dari hati sendiri,” katanya. Ia mengaku tidak pernah mengikuti penyuluhan yang dilakukan di balai desa. “Saya selalu dipanggil kalau ada penyuluhan, tapi saya lebih baik di rumah atau di kebun saja,” lanjutnya.

Sebelum menanam, Katrina terlebih dahulu membuat terasering sehingga dapat menampung tanah yang terbawa aliran air saat hujan. Ia membuat terasering karena kondisi lahan yang berbatu dan lapisan tanah permukaannya (top soil) tipis untuk penanaman bibit. Karena sulitnya mendapatkan air, penanaman dilakukan pada musim hujan.

“Selain memikirkan kelanjutan hidup anak-cucu saya, pohon-pohon itu saya tanam supaya lahan itu tidak kosong saja,” katanya.

Seiring makin banyaknya pohon tanaman keras yang ditanam, lahannya semakin subur. Daun-daun yang rontok menjadi humus, sedangkan akar-akarnya menahan erosi dan mencegah hilangnya top soil. Lahan yang subur di sela-sela pepohonan ditanami tanaman ladang, seperti ubi, jewawut, keladi, dan jagung.

Jagung, ubi, atau keladi menjadi makanan pokok bagi penduduk di sana karena beras hanya didapat dari padi ladang atau dari pasar. “Kami makan beras sekali-kali saja,” ujar Katrina yang buta huruf dan tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya.

Hasil kerja keras Katrina membuahkan hasil yang luar biasa bagi pengelolaan lahan berkelanjutan. Ia berhasil melestarikan pohon cendana yang mulai langka dan sekaligus menghijaukan bukit-bukit yang dulu gersang. Katrina memperoleh penghasilan tambahan dari tanaman semusim yang tumbuh subur.

***

APA yang dihasilkan Katrina selama belasan tahun itu menginspirasi masyarakat sekitarnya. Mata mereka terbuka melihat lahan yang dulu gersang menjadi hijau. Masyarakat tidak lagi membuka ladang berpindah-pindah karena lahan sekitar mereka sudah subur dan mudah ditanami apa saja.

Bagi Katrina sendiri, penghargaan Kalpataru merupakan amanah untuk tetap melanjutkan upayanya melestarikan lingkungan. “Tidak akan ada yang berubah. Seperti biasa, saya ke ladang pagi dan sore. Saya akan terus mencari dan menanam bibit cendana,” tuturnya sembari berharap anak bungsunya yang berusia 20 tahun dapat meneruskan yang telah ia rintis.

Di tanah kelahirannya, sebuah dusun di atas bukit berbatu yang kini menghijau, Katrina menjadi ibu bagi ribuan pohon. (Nasru Alam Aziz)