Sebuah Oase di Kampus Paramadina

  • Kompas: Sabtu, 13 Agustus 2005, halaman 1
Emha Ainun Nadjib bersama Kyai Kanjeng saat tampil dalam Pergelaran Puisi Musik berjudul “Kanjeng Leo Tidak Percaya” di lapangan parkir Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (11/8). Tampil pula dalam pergelaran tersebut penyanyi Leo Kristi dan sastrawan Taufiq Ismail. (Kompas/rad)

“Kanjeng Leo Tidak Percaya”. Sebaris kalimat pesimistis melatari panggung pertunjukan di halaman Kampus Universitas Paramadina, Kamis (11/8) malam. Di atas panggung, penyanyi balada Leo Kristi dengan suara mengentak-entak bernyanyi diiringi ensambel Kyai Kanjeng.

Pentas kolaborasi Kyai Kanjeng dengan Leo Kristi diawali dengan lagu anak-anak berirama riang, Gundul Pacul. Lagu itu, menurut pemimpin komunitas Kyai Kanjeng, Emha Ainun Nadjib, tidak sekadar untuk meriangkan anak-anak, tetapi mengandung pesan politik.

“Jangan punya karakter gembelengan, bermain-main, tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan substansinya,” kata Emha. “Kalau jadi anggota DPR, ya jadilah anggota DPR yang mewakili rakyat. Jangan tamasya melulu.”

Emha lalu menjelaskan bait berikutnya. “Kalau Anda sudah menjadi pejabat, dibayar oleh rakyat, berarti posisimu berada di bawah bakul rakyat. Anda harus menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat di atas martabatmu sendiri,” tuturnya.

“Kalau Anda bermain-main, maka bakulnya akan glimpang. Dan, kalau nasinya sudah bertebaran ke mana-mana, tidak terorganisasi, akhirnya busung lapar terjadi di lumbung pangan NTB sana,” paparnya.

Demikianlah, setiap lagu yang dinyanyikan di panggung kemudian diuraikan secara lugas oleh Emha. Begitu pula tiga lagu yang dibawakan Leo Kristi, Salam dari Desa, Nyanyian Fajar, dan Sayur Asem Kacang Panjang.

Coba simak syair Salam dari Desa. “Kalau ke kota esok pagi. Sampaikan salam rinduku. Katakan padanya padi-padi telah kembang. Ani-ani seluas padang, roda lori berputar-putar siang malam. Tapi bukan kami punya.

Lagu tersebut menggambarkan betapa banyak hal yang seharusnya menjadi milik rakyat, tetapi tidak seperti kenyataannya. Sebagai salah satu contoh, penguasaan sumber daya air yang kini banyak dikuasai pemilik modal asing melalui privatisasi. Itu dimungkinkan dalam Undang-Undang Sumber Daya Air.

Contoh lain dikemukakan Emha mengenai perubahan status sejumlah perguruan tinggi negeri menjadi badan hukum milik negara alias BHMN. “Tiba-tiba saja Gedung UGM yang begitu banyak di Yogyakarta bukan lagi milik rakyat. Semuanya tiba-tiba menjadi milik perusahaan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Emha menguraikan lagu Sayur Asem Kacang Panjang yang menuturkan bahwa betapa kaya negeri Indonesia ini dengan berbagai bahan pangan dan makanan. Namun, ia tidak berdaya menghadapi serbuan makanan cepat saji lewat gerai-gerai restoran global. Anda akan merasa belum modern kalau tidak mengonsumsi berbagai hidangan itu.

Pusat kebudayaan

Pementasan “Kanjeng Leo Tidak Percaya” yang digelar oleh forum kebudayaan Paramaswara adalah sekaligus untuk mengukuhkan Universitas Paramadina sebagai pusat kebudayaan.

“Kami ingin menjadikan kampus sebagai pusat kebudayaan. Sebab, selama ini kampus sudah kehilangan oase untuk peduli dan merasakan getaran-getaran perasaan dalam hubungan-hubungan kemanusiaan,” kata Yudi Latif, Wakil Rektor Universitas Paramadina.

Menurut Yudi, kepedulian tersebut perlu disemai dan ditumbuhkan dalam sebuah ruang publik. Forum kebudayaan itu, katanya, diharapkan menimbulkan pertautan batin dan kebersamaan di antara mereka yang berasal dari berbagai latar belakang dan profesi.

Indah P Dahlan, dosen Universitas Paramadina yang membidani lahirnya forum Paramaswara, mengemukakan bahwa Kampus Paramadina terbuka bagi kampus mana pun dan siapa saja untuk bergabung serta bersama-sama mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini. Semacam forum kebudayaan antarkampus.

“Kami ingin melibatkan berbagai unsur secara bersahaja untuk membincangkan apa saja demi merajut kebersamaan,” tutur Yudi.

Kesenian sengaja dipilih sebagai media karena seni bersifat universal dan memiliki daya persuasif serta kekuatan penggugah yang tinggi. “Banyak cara untuk melakukan perubahan. Kami memilih jalur seni karena lebih bisa diterima dengan hati lapang,” ujar Indah.

Paramaswara diambil dari nama generik Universitas Paramadina dan swara, yang bisa diartikan sebagai suara, musik, puisi, maupun wacana. Paramaswara berarti “suara utama”.

Forum Paramaswara dengan setting utama Kyai Kanjeng dijadwalkan melakukan pergelaran setiap bulan pada hari Kamis kedua. Meski demikian, penampilan keduanya baru akan diadakan dua bulan kemudian. “Kami memerlukan waktu untuk evaluasi dan mempersiapkan materi selanjutnya,” ujar Indah.

Panggung Paramaswara kemarin malam menjadi lebih bergengsi dengan tampilnya penyair Taufiq Ismail dan Abdul Hadi WM. Sawung Jabo pun mempersembahkan lagunya dari album Swami: Bento..!

Seimons, Salomons, dan Entah Siapa Lagi…

  • Kompas: Kamis, 11 Agustus 2005, halaman 14
FERNANDO QUIKO menunjukkan Kali Cakung yang kondisinya tidak seperti dulu lagi, Kamis (28/7). Hingga tahun 1960-an, selain digunakan warga untuk mandi, cuci dan kakus, kali ini juga dijadikan sarana lalu lintas perahu yang akan menuju ke Kampung Tugu. (Kompas/jpe)

Kampung Tugu di dekat Tanjung Priok, Jakarta Utara, identik dengan gereja tua dan orkes keroncong. Memang hanya dua hal itu yang masih tampak nyata sebagai peninggalan keturunan Portugis yang bermukim di sana sejak lebih dari tiga abad lampau.

Selain Gereja Tugu dengan taman perkuburan di sisi kiri halamannya yang luas atau kelompok orkes keroncong, Anda akan kecewa jika datang ke Kampung Tugu untuk melihat sisa-sisa kebudayaan Portugis, yang mungkin dibawa oleh leluhur mereka pada masa awal dahulu, pertengahan abad ke-17.

Kehidupan sehari-hari masyarakat di Kampung Tugu sekarang ini tidak jauh berbeda dengan sudut-sudut Jakarta lainnya. Disesaki penduduk dari berbagai penjuru, dan warga keturunan Portugis berbaur -dan menjadi minoritas- di dalamnya. Mereka tinggal terpencar-pencar dalam radius sekitar lima kilometer dari persimpangan Semper hingga Jalan Cakung Cilincing Raya (Jalan Cacing).

Beberapa di antaranya masih tinggal di lahan yang sejak dulu ditempati orangtua mereka, seperti keluarga Andre J Michiels yang tinggal tidak jauh dari Gereja Tugu atau keluarga Martinus Cornelis yang rumahnya berada paling timur di seberang Jalan Cacing. Letak lahan mereka yang terpencar sejak dulu memang begitu. Pada mulanya, ketika orang-orang Portugis mendiami tempat itu pada tahun 1661, masih berupa rawa-rawa. Lalu mereka mengolah lahan menjadi sawah atau kebun.

Di samping bertani, keturunan Portugis di Kampung Tugu juga menangkap ikan di kali atau di laut. Mereka pun berburu babi hutan atau celeng di hutan-hutan sekitarnya. Hasil buruan mereka yang kemudian dibuat dendeng asin, yang dikenal sebagai dendeng tugu, kualitasnya tidak tertandingi.

Menurut orang-orang yang pernah mengecapnya, dendeng tugu sangat lezat dan sangat terkenal di Jakarta. Akan tetapi, kelezatan dendeng tugu itu kini tinggal cerita.

Meskipun demikian, kebiasaan berburu warga keturunan Portugis di Kampung Tugu masih berlangsung. “Di beberapa keluarga masih ada yang sering berburu,” kata Andre J Michiels (38) yang juga Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT).

“Kami tidak lagi berburu babi hutan, tetapi berburu musang di pinggiran Jakarta,” ungkap Arthur James Michiels (36), yang baru pulang berburu di Karawang pada Minggu (7/8) lalu. Arthur bersama adiknya, Milton Augustino Michiels, membawa pulang empat ekor musang yang lezat. “Selain karena tidak ada lagi babi hutan di sekitar Jakarta, kami tidak punya lagi senapan untuk berburu babi. Kami hanya menggunakan senapan angin,” tambah Arthur.

Bukan hanya dendeng asin yang telah hilang dari peredaran. Dodol tugu tidak lagi dijumpai, dan gado-gado khas Kampung Tugu sudah menjadi makanan langka. “Tidak ada lagi yang meneruskan pembuatan dodol tugu, kecuali gado-gado yang kadang-kadang masih dibuat di rumah,” tutur Andre.

Pesta perayaan

Sebagai daerah pertanian, kala itu Kampung Tugu memiliki tradisi pesta panen yang biasanya dilakukan setelah musim panen. Dalam pesta yang biasanya diadakan setiap bulan Agustus itu, warga menyisihkan sebagian hasil panennya, ternak, atau hasil kebunnya kepada gereja.

Gereja-melalui panitia yang dibentuk-kemudian menjual hasil panen itu dan hasilnya diserahkan untuk gereja. Dalam rangkaian pesta panen, diadakan lomba menembak oleh jago-jago tembak Kampung Tugu.

Di samping lomba menembak, biasanya diadakan pula lomba berburu di pantai utara Jakarta: mulai dari Marunda hingga Ujung Kerawang. Bahkan kadang-kadang diadakan di Ujung Kulon, Jawa Barat.

Lomba menembak dan berburu terkait erat dengan keberadaan orang-orang keturunan Portugis itu yang merupakan sisa tentara ekspedisi Portugis.

Seiring tergusurnya daerah pertanian dan perkebunan menjadi permukiman padat dan tempat usaha, warga Kampung Tugu tidak mengenal lagi pesta panen. Perayaan yang berasal dari tradisi masa silam yang masih tersisa adalah hari Natal, Tahun Baru, dan mandi-mandi. Itu pun tidak semeriah dahulu.

Hingga sembilan tahun lalu, masih ada keroncong keliling oleh anak-anak muda sambil mengunjungi rumah-rumah pada tengah malam Natal. Mereka menyapa setiap rumah dengan nyanyian dalam bahasa Portugis. Lalu saling bersalaman dengan tuan rumah.

Pesta Natal berlanjut dengan perayaan Tahun Baru, yang dimeriahkan dengan orkes keroncong. Mereka bermain musik, menyanyi, dan menari. Pada hari Minggu pertama setelah pergantian tahun, diadakanlah pesta mandi-mandi. Sekarang ini tidak ada yang basah dalam pesta mandi-mandi, sebab mereka hanya saling mengolesi bedak cair ke wajah. “Mandi-mandi adalah simbol saling membersihkan diri dan saling memaafkan,” jelas Andre.

KOMPLEKS PEMAKAMAN khusus “orang Toegoe” dan keturunannya di belakang Gereja Tugu, Kampung Tugu, Jakarta Utara. Foto diambil pada 28 Juli 2005. (Kompas/jpe)

Mati obor

Warga keturunan Portugis yang tinggal di sekitar Gereja Tugu diperkirakan kurang dari 100 keluarga dan sudah berdarah campuran. Menurut Andre, orang Kampung Tugu yang tergabung dalam IKBT, termasuk yang tinggal di luar Kampung Tugu atau daerah lainnya, masih sekitar 230 keluarga. Jumlah itu sebetulnya sangat kecil dibanding kemampuan mereka bertahan yang hampir empat abad.

Keportugisan mereka mulai pudar meski di tubuhnya tetap mengalir darah Portugis, karena mereka menganut sistem kekerabatan yang bersifat patrilineal. Banyak yang terpaksa melepas fam (nama keluarga) karena kawin dengan keturunan Sulawesi Utara, Maluku, Timor, Jawa, atau Tionghoa.

Pada mulanya terdapat belasan fam di Kampung Tugu. Namun karena faktor perkawinan campur tadi atau karena tidak memiliki anak laki-laki, beberapa fam tidak terpakai lagi. Kini hanya tersisa enam fam, yakni Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis.

“Terakhir, Seimons dan Salomons sudah mati obor, alias sudah padam,” ungkap Andre, yang dikaruniai tiga anak laki-laki dari perkawinannya dengan Rosalia Liliek Dewanti.

Tekad untuk meneruskan generasi Kampung Tugu di kalangan yang lebih muda, tercermin pada Johan Sopaheluwakan. Johan, yang sehari-hari sebagai guru di Sekolah Tugu Bhakti, memiliki garis keturunan Maluku.

Ia tetap bangga sebagai warga Kampung Tugu, meski tidak menggunakan fam Portugis karena terputus satu generasi. “Saya keturunan Quiko. Kelak jika saya punya anak laki-laki akan saya beri fam Quiko,” kata Johan dengan senyum optimistis.

Hidup dan matinya tradisi asli Kampung Tugu memang sangat bergantung pada masyarakat pendukungnya. Dan yang lebih menentukan lagi adalah seberapa kuat mereka menahan gerusan peradaban. (Nasru Alam Aziz, Johnny TG)

Mencoba Bertahan di Tanah Kelahirannya

  • Kompas: Rabu, 10 Agustus 2005, halaman 14
Andre J Michiels (38) sedang menikmati permainan biola anak sulungnya, Arend Stevanus Michiels (9). Demi keberlanjutan seni musik keroncong di Kampung Tugu, sejak dini Andre sudah mempersiapkan generasi penerus. (Kompas/lam)

Tampil dengan baju putih lengan panjang tanpa kerah dipadu dengan celana batik. Di kepala bertengger topi pet dan syal tebal melilit di leher. Itulah penampilan khas pemain musik keroncong tugu, khazanah kesenian yang sudah ada di Kampung Tugu sejak berabad lampau.

Kekhasan orkes keroncong tugu terkait dengan sejarahnya. Keroncong tugu dibawa oleh keturunan bekas tentara ekspedisi Portugis yang induk angkatan perangnya dipukul mundur oleh tentara Belanda pada akhir abad ke-16. Mereka adalah tawanan perang dari daerah yang diduduki Portugis pada masa itu, seperti Goa, Malabar, Coromandel, Bengal, Arakan, dan Malaka.

Orang-orang Portugis membawa musik keroncong ke Kampung Tugu sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Cikal-bakal musik keroncong itu kemudian dimainkan secara turun-temurun dan menyebar ke tempat- tempat lain di luar Kampung Tugu.

Keroncong Tugu menjadi inspirasi lahirnya Keroncong Kemayoran menjelang abad ke-20. Sinyo-sinyo Belanda pada masa itu mencoba memasukkan unsur jazz, yang menghasilkan keroncong dengan bunyi crong-crong yang lebih mendayu-dayu.

Kemudian, pada sekitar tahun 1950-an, berkembang pula langgam Jawa, yang dipopulerkan oleh kelompok Keroncong Irama Langgam pimpinan Sutedjo dan Orkes Keroncong Bintang Surakarta pimpinan Waldjinah.

Keroncong tetap terjaga dan bertahan karena kebutuhan masyarakat akan hiburan. Ketika itu belum ada gramafon, radio transistor, apalagi radio tape dan televisi. Sebelum memiliki alat musik organ, kebaktian di gereja juga diiringi musik keroncong.

Namun, sejak sekitar 14 tahun terakhir, keroncong tugu yang lahir dari masyarakat asli Kampung Tugu tidak lagi tampil dalam ibadat di gereja. Selain itu, ada lagu-lagu gereja yang agak sulit dimainkan dengan alat musik keroncong.

Menurut pemimpin Orkes Krontjong Toegoe, Andre J Michiels (38), warga muda Kampung Tugu memiliki tradisi bermain keroncong keliling sambil mengunjungi rumah-rumah warga pada malam Natal.

Biasanya pemilik rumah baru mau membuka pintu jika pimpinan rombongan telah mengucapkan salam berbahasa Portugis. Kebiasaan itu dimaksudkan untuk menghargai peristiwa keagamaan sekaligus untuk menurunkan tradisi berbahasa Portugis di kalangan anak muda.

Salam itu seperti berikut: Pisingku dia di Desember, nasedu di nos Sior jamundu Libra nos pekader unga ananti dikinta ferra asi klar kuma di dia unga anju di Sior asi grandi diallergria. Asi mow boso tar. Dies lobu Sua da bida cumpredae lampang kria so podeer, Santu Justru.

Terjemahannya kira-kira bahwa pada tanggal 25 Desember, Tuhan telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Juru Selamat, agar barang siapa yang percaya kepada Dia tidak binasa, melainkan mendapat hidup yang kekal, dan hendaklah kita dapat menaruh harapan kepada-Nya.

Sayangnya, tradisi yang bertahan lebih dari tiga setengah abad tidak lagi dilakukan sejak tahun 1996. Kebiasaan itu memudar karena sudah banyak orang Kampung Tugu asli yang pindah ke daerah-daerah lain, dan juga anak-anak mudanya nyaris tidak tertarik lagi dengan musik keroncong.

“Selain itu, keroncong keliling tidak lagi dilakukan demi menghormati warga lain,” ujar Andre, yang juga Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT).

Di kediamannya yang juga berfungsi sebagai kantor, Andre berusaha melestarikan keberadaan musik keroncong warisan leluhurnya dengan cara meneruskan pengelolaan grup musik Krontjong Toegoe. (Kompas/jpe)

Tantangan

Andre memandang, kurangnya kepedulian di kalangan anak muda Kampung Tugu terhadap musik keroncong merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi. Karena itu, ia masih tetap berupaya mengumpulkan beberapa orang untuk bergabung dalam Krontjong Toegoe, kelompok orkes yang pengelolaanya ia teruskan dari ayahnya.

“Saya mencoba mengumpulkan orang-orang Tugu agar kelompok ini tetap hidup dan bertahan di tempat kelahirannya. Yang sulit sekarang ini adalah mencari pemain biola dari kalangan orang Tugu,” ungkap Andre, yang meyakini bahwa kelestarian keroncong tugu sangat bergantung pada kepedulian orang Tugu sendiri.

Upaya ini Andre jalankan karena mengemban amanat orangtuanya agar tetap menjaga dan melestarikan keroncong tugu. Ia sendiri saat kecil tidak berminat dengan musik keroncong. Akan tetapi, berkat bimbingan ayahnya-yang juga pemain keroncong-akhirnya Andre kecil tertarik juga dan kemudian mahir menyanyi dan memainkan alat musik keroncong.

Andre, yang sehari-hari menjalankan usaha transportasi truk kontainer, sedang menyiapkan anak sulungnya, Arend Stevanus Michiels, untuk meneruskan Krontjong Toegoe. Setahun terakhir, Arend yang baru berusia sembilan tahun dengan tekun mengikuti kursus biola. “Kelak ia yang akan meneruskan kesenian kebanggaan orang Tugu ini,” kata Andre bangga.

Di kalangan generasi yang lebih tua, pelestarian musik keroncong dimotori oleh Samuel Quiko (67). Ia mengelola kelompok Cafrinho Tugu, yang sebelumnya dijalankan oleh kakaknya, Yakobus Quiko. Kelompok Cafrinho Tugu maupun Krontjong Toegoe telah beberapa kali mewakili delegasi kesenian Betawi dari DKI Jakarta pada Tong Tong Fair di Den Haag, Belanda.

Dibanding Krontjong Toegoe yang mengutamakan pemain dari kalangan orang Kampung Tugu keturunan Portugis, Cafrinho Tugu lebih terbuka bagi orang luar sehingga anggotanya pun jauh lebih banyak. Anggota dan pengurusnya sekitar 40 orang.

“Cafrinho punya beberapa kelompok sehingga kalau ada yang mengundang bermain pada saat bersamaan masih bisa dilayani,” kata Samuel, yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya pada musik keroncong.

Mengandalkan hidup dari berkesenian memang tidak selamanya mudah. Apalagi, kata Andre, sering kali harus bermain untuk amal, bukan komersial. “Kalau main secara profesional, bayarannya harus realistis, karena persiapan untuk tampil tentu membutuhkan biaya,” tambah Andre.

Waktu terus berjalan, seiring dengan perubahan zaman yang terus berlangsung. Kampung Tugu adalah tempat lahir keroncong, dan di tempat itu pula nasib keroncong tugu ditentukan.

Masihkah akan terdengar nyanyian merdu di malam terang bulan? O, bi aki mienja amada. Mienja noiba. O, moleer bonito. Jo espara con esparansa. E canta cantigo Moresco (Oh, datanglah kekasihku. Calon istriku. Oh, juwita. Kumenanti penuh harap. Sambil bernyanyi lagu Moresco). (Nasru Alam Aziz, Johnny TG)

Terserak dalam Deru Truk Kontainer

  • Kompas: Selasa, 9 Agustus 2005, halaman 14
Jalan Tugu Raya kini menjadi jalur lalu lintas truk kontainer. (Kompas/lam)

Sekitar tiga kilometer dari Cilincing, dekat Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengikuti jalan yang terbentang lurus, Anda akan sampai pada sebuah jembatan tinggi. Sekitar dua kilometer kemudian, Anda akan menemui persimpangan jalan di sebelah kanan.

Mengikuti jalan yang agak sempit dan tak beraspal, di sebelah kiri akan tampak sebuah gereja kecil, dengan pekarangan luas ditumbuhi pepohonan. Di samping gereja, terdapat beberapa kuburan bercat putih dengan nisan berbentuk salib.

Catatan yang disadur dalam dokumen milik Fernando Quiko (58) itu menggambarkan bagaimana mencapai Gereja Tugu pada tahun 1950-an. Fernando adalah salah seorang warga Kampung Tugu keturunan Portugis generasi kesembilan, yang disapa sebagai Om Nyonyo oleh warga setempat.

Kini jalan yang terbentang luas itu telah menjadi semakin lebar dan berjalur dua arah, dikenal sebagai Jalan Cacing atau Jalan Cakung Cilincing Raya. Adapun jalan sempit yang tak beraspal tadi, sekarang adalah Jalan Tugu Raya, yang membentang hingga persimpangan Semper. Jalan ini menjadi jalur lalu lintas truk-truk kontainer yang sangat sibuk.

Menurut Fernando, hingga tahun 1960-an Kali Cakung yang mengalir membelah Kampung Tugu masih dimanfaatkan untuk mandi. Perahu-perahu yang ditumpangi dari Marunda dan Pasar Ikan masih ditambatkan di tepi sungai. Sekarang, sungai itu sudah mendangkal dan berlumpur.

Bahkan pada tahun 1940-an, kata Fernando mengenang, orang-orang dari luar Kampung Tugu banyak yang datang menikah di Gereja Tugu. Perahu yang ditumpangi rombongan pengantin diparkir di sungai, persis depan gereja.

“Posisi gereja yang menghadap ke Kali Cakung, bukan ke Jalan Tugu Raya, menunjukkankalau kali itu adalah lalu lintas yang ramai pada masa itu,” kata Samuel Quiko (67), juga warga Kampung Tugu keturunan Portugis, menambahkan.

Bagaimana dengan Gereja Tugu? Bangunan yang didirikan tahun 1744 dan ditahbiskan pada 29 Juli 1744 oleh Pendeta Mohr itu masih menjadi saksi sejarah kehadiran warga keturunan Portugis di sana. Gereja yang sekarang adalah bangunan ketiga, setelah dua sebelumnya -didirikan tahun 1678 dan 1737- yang dibangun dengan konstruksi kayu hancur. Di lokasi gereja terdahulu sekarang berdiri Gereja Katolik Salib Suci.

Kawasan Kampung Tugu sekarang adalah permukiman padat yang dikepung berbagai tempat usaha. “Dulu rumah-rumah ‘Orang Tugu’ berjarak sampai empat kilometer dan dipisahkan oleh tanah kosong atau kebun,” ungkap Samuel.

Lahan-lahan perkebunan telah berganti bangunan-bangunan semen, bengkel, dan tempat parkir truk kontainer. Keasrian lingkungan di masa lalu menyerah oleh kepulan debu dan sengatan matahari di siang hari.

Pada masa Gubernur Ali Sadikin, Kampung Tugu ditetapkan sebagai daerah yang dilindungi undang-undang. Monumen dan Gereja Tugu dijadikan cagar budaya. Namun demikian, radius 600 meter dari Gereja Tugu sebagai cagar budaya yang seharusnya terjaga kini nyaris terabaikan.

Asal-usul nama Tugu sendiri ada beberapa versi. Ada yang menyebutkan nama itu diambil dari tanda batas, dan ada yang berpendapat bahwa nama Tugu berasal dari kata Por Tugu Esa (Portugis). Versi yang banyak ditulis adalah berkaitan dengan ditemukannya sebuah prasasti (tugu) batu bertuliskan huruf Pallawa dari masa kekuasaan Raja Purnawarman.

Komunitas Kampung Tugu yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) secara rutin setiap bulan mengadakan pertemuan untuk mempererat tali persaudaraan. Pertemuan di rumah keluarga Martinus Cornelis, Minggu (7/8), diawali kebaktian. (Kompas/lam)

Keturunan Portugis

Kampung Tugu adalah sebuah sejarah yang panjang. Menurut Fernando, yang menyimpan penggalan-penggalan catatan warisan orangtuanya, pada mulanya Kampung Tugu dihuni sisa tentara ekspedisi Portugis yang tertinggal Jakarta ketika induk angkatan perangnya dipukul mundur oleh tentara kompeni Belanda pada akhir abad ke-16. Mereka berasal dari tawanan-tawanan perang dari daerah yang diduduki Portugis pada masa itu, seperti Goa, Malabar, Coromandel, Bengal, Arakan, dan Malaka.

Pada masa itu, mereka hidup terpencil di rawa-rawa bernyamuk ganas, dan hidup dari perburuan, pertanian, dan perikanan. Hingga generasi kesepuluh sekarang ini, tradisi berburu masih berlangsung.

“Kami masih sering berburu di pinggiran Jakarta. Di sekitar Kampung Tugu tidak ada tempat berburu yang tersisa,” kata Arthur James Michiels (36), yang baru pulang berburu musang di Karawang bersama adiknya, Milton Augustino Michiels, saat ditemui Kompas, Minggu (7/8).

Pada masa-masa awal, orang-orang Tugu melakukan perkawinan antarkalangan sendiri yang berbeda fam (nama keluarga), bahkan diwajibkan hingga akhir abad ke-19. Seiring dengan makin terbukanya lingkungan sosial mereka, perkawinan campuran pun dibolehkan. Mereka yang tadinya menjadi inti masyarakat, umumnya kawin dengan orang Sulawesi Utara, Maluku, Timor, Jawa, dan keturunan Tionghoa.

“Karena perkawinan campuran itu, secara fisik agak sulit mengenali seseorang itu keturunan Tugu atau bukan. Kecuali jika disebutkan famnya,” kata Samuel, yang beristrikan orang Jawa.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Batavia, tahun 1661, terdapat belasan fam yang hidup di Kampung Tugu. Kini hanya tersisa enam, yakni Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis. Tidak ada lagi Seimons, Salomons, Mayo, Da Costa, Kantil, atau lainnya.

Sebelum Perang Dunia II, di Kampung Tugu terdapat sekitar 60 keluarga, dan mulai bercerai-berai setelah perang kemerdekaan Indonesia. Mereka banyak yang pindah ke luar Kampung Tugu dan menetap di tempat lain di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Irian Barat alias Papua, dan Negeri Belanda.

Warga keturunan Portugis yang masih tinggal di sekitar Gereja Tugu diperkirakan kurang dari 100 keluarga. Menurut Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), Andre J Michiels, jumlah anggotanya yang terdata, termasuk yang tinggal di luar Kampung Tugu atau daerah lainnya, masih sekitar 230 keluarga. Jumlah itu sebetulnya sangat kecil dibanding kemampuan mereka bertahan yang hampir empat abad.

“Kami dalam wadah IKBT setiap hari Minggu pertama setiap bulan mengadakan pertemuan untuk mempererat kekerabatan,” kata Andre, yang mendapat tiga putra dari perkawinannya dengan Rosalia Liliek Dewanti. “Mereka yang tinggal di luar pun masih tetap menganggap Kampung Tugu sebagai kampung halamannya,” tambahnya.

Kampung Tugu sekarang adalah masyarakat heterogen, dan warga keturunan Portugis menjadi bagian di dalamnya. Seperti pada masa awal, mereka tinggal pada jarak berjauhan. Bedanya, mereka sekarang berada di tengah-tengah permukiman penduduk yang berasal dari berbagai suku dan agama. Tak terelakkan, mereka menjadi warga minoritas di kampung sendiri. (Johnny TG, Nasru Alam Aziz)

Mengalahkan Letusan Bedil dengan Alunan Musik

  • Kompas: Kamis, 28 Juli 2005, halaman 12
Simfoni Aceh Damaiyang digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Selasa (26/7) malam, juga menampilkan penyanyi Iga Mawarni. Ia membawakan lagu daerah Nanggroe Aceh Darussalam dengan iringan orkestra pimpinan M Jafar Puteh. Acara musik bertajuk “Simfoni Aceh Damai” yang menampilkan sejumlah artis Ibu Kota itu diadakan untuk menyambut ulang tahun ke-2 majalah Acehkita. (Kompas/tok)

Satu lagi malam untuk Aceh. Dan ratusan orang yang hadir di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (26/7) malam, beku dalam larik-larik puisi Salam Damai: Sebab begitu lama kita dalam duka cita/ Oleh amuk serakah kaum pendurhaka/ Takluk di hadapan pembidik/ Dalam kokang senjata tak berjiwa//

Suara serak Fikar W Eda membacakan puisinya itu terasa menggetarkan dan begitu menyentuh. Penyair asal Aceh itu menyela Konser Aceh Damai yang menampilkan sejumlah penyanyi asal Aceh dan Jakarta. Syair Aceh yang biasanya diiringi rapa’i (perkusi) dan serune kale (seruling), malam itu tampil beda dalam simfoni orkestra. Konduktor sekaligus penata musiknya juga berasal dari Aceh, Muhammad Jafar Ali Puteh.

Jafar jelas bukan orang baru dalam permusikan di Indonesia. Ia pernah bermain pada beberapa orkestra, di antaranya Orkes Simfoni Jakarta.

Seperti biasa dalam pergelaran musik Aceh, pertunjukan dibuka dengan Peumulia, syair yang dinyanyikan untuk memuliakan setiap yang hadir. “Jangan sampai duduk di luar tikar yang sudah digelar,” begitu kira-kira terjemahan satu baris syair yang dinyanyikan dengan riang gembira oleh Yusdedi, penyanyi asal Aceh pesisir.

Sederetan penyanyi asal Aceh, seperti Falara Simeulu Gruop (Simeulu Ate Fulawan/Simeulu yang Kusayang), Kabri Wali dan Jassin Burhan (Aman/Damai), Adi Alfaisal yang dikenal sebagai Adi KDI (Aneuk Yatim/Anak Yatim), dan Fajar Sidiq (Ingat/Ingat).

Kemudian disusul penyanyi kawakan yang bukan orang Aceh tetapi membawakan lagu dari Aceh: Trie Utami (Dododaidi/Ninabobo), Franky Sahilatua (Sibijeh Mata/buah hati), Iga Mawarni (Tawar Sedenge/Tanah Leluhur), Iwan Zein (Trok Bak Watee/Hingga Tiba Saatnya), dan Lita Zein (Tuak Kukur/Kicau Burung).

Pesan damai

Majalah Acehkita menggelar Konser Aceh Damai tidak sekadar sebagai rangkaian peringatan ulang tahunnya yang ke-2. Majalah alternatif yang terbit sejak 19 Juli 2003 -tiga bulan setelah wilayah Aceh diberi status darurat militer- berpretensi menyuarakan pesan damai menyongsong penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 15 Agustus nanti.

Acehkita mula-mula muncul melalui situs acehkita.com (http://www.acehkita.com). Sebulan kemudian, terbit dalam bentuk majalah berita. Media ini sering dituding pro-GAM karena memaparkan fakta tentang Aceh secara blak-blakan. Kelahiran Acehkita dibidani oleh sejumlah jurnalis di Aceh dan Jakarta. Mereka gerah pada pemberitaan media umum tentang Aceh yang hanya bermain di permukaan.

Mula-mula reporternya hanya 10 orang dan terus bertambah menjadi lebih dari 20 orang ketika status darurat militer diperpanjang, November 2003. Menapaki tahun ketiga, kontributor Acehkita sudah mencapai 40 orang, umumnya adalah para jurnalis dari berbagai media yang bertugas di Aceh maupun di Jakarta.

Menurut Jauhari Samalanga dari bagian sirkulasi Acehkita, majalah itu dicetak sebanyak 8.000 eksemplar, belum termasuk 1.000 eksemplar edisi bahasa Inggris. Acehkita beredar di Aceh, Medan, dan Jakarta.

“Semoga Acehkita bisa berkontribusi mewujudkan perdamaian di Tanah Rencong,” ujar T Mulya Lubis, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Acehkita.

Melalui apresiasi seni, kata Mulya Lubis, Yayasan Acehkita ingin menarik dukungan khalayak yang lebih luas terhadap perdamaian di Aceh.

Sebagai puncaknya, akan digelar Rapa’i Pase (parade rebana) Uroh Taloe Rod di Nanggroe Aceh Darussalam, 7-8 Agustus 2005. Acara ini menampilkan 144 rapa’i yang ditabuh oleh 288 orang tanpa jeda, menempuh perjalanan sekitar 400 kilometer selama 24 jam. Rute yang dilalui mulai dari Banda Aceh ke Pidie, Bireuen, Lhok Seumawe, Panton Labu, Paya Deman, Idi, hingga Peureulak, kemudian kembali dan berakhir di Panton Labu.

Tabuhan rapa’i menyusuri pesisir utara itu agaknya menjadi simbol untuk mengalahkan suara bedil, yang belum juga berhenti menyalak di Aceh. (Nasru Alam Aziz)

Bertahan di Arus Deras Peradaban

  • Kompas: Kamis, 14 Juli 2005, halaman 14
Para bissu dengan segala atribut yang melekat pada mereka masih tetap bertahan dan mendapat tempat di tengah arus deras peradaban. Hanya saja, posisi dan peran para bissu itu kini tidaklah sepenting pada masa puncak kejayaan komunitas ini saat kerajaan-kerajaan Bugis pra-Islam berkuasa. Kini, para bissu seperti (searah jarum jam) Khahar Eka (kiri atas), Puang Upe, Daeng Tawero, Mak Temi, dan Angel harus berjuang agar bisa mempertahankan hidup sehari-hari. (Kompas/lam)

Masa kerajaan pra-Islam di tanah Bugis adalah masa kejayaan para bissu. Kaum transvestite Bugis ini memegang peranan yang begitu penting dalam kerajaan (addatuang), sehingga nyaris tidak ada kegiatan upacara ritual tanpa kehadiran bissu sebagai pelaksana sekaligus pemimpin prosesi upacara.

Kala itu, setiap ranreng atau semacam wilayah adat memiliki komunitas bissu. Maka di Kerajaan Segeri dan Kerajaan Bone dikenal komunitas bissu dengan sebutan Bissu PatappuloE (40 orang bissu). Pada setiap upacara ritual, ke-40 bissu itu harus hadir.

Dalam buku La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, Dr Gilbert Albert Hamonic, ahli naskah Bugis kuno dari Perancis, menyimpulkan bahwa bissu adalah segolongan kecil dalam masyarakat tapi posisinya cukup penting untuk jadi patokan dalam suatu wilayah yang cukup luas. Ia menyebut tradisi bissu sebagai tradisi agama dalam masyarakat Bugis kuno.

“Agama bissu rupanya mula-mula lahir dari upacara dan kepercayaan rakyat yang sangat kuno. Dalam perjalanan masa, kepercayaan orang biasa itu diubah oleh beberapa pengaruh tradisi lainnya- termasuk tradisi Hindu, Buddha, dan Islam- lalu diterima oleh kalangan bangsawan. Perkembangannya kemudian, agama itu dikembalikan lagi kepada masyarakat tempat ia lahir, tetapi telah mengalami perubahan dan seolah-olah merupakan agama eksklusif para bangsawan masa itu,” paparnya.

Sebagai “orang suci” atau pendeta agama Bugis kuno, bissu mendapat perlakuan yang sangat istimewa oleh istana kerajaan. Puang Matoa (pimpinan tertua bissu) diberi berhektar-hektar sawah yang pengerjaannya dilakukan secara bergotong-royong, dan hasilnya digunakan untuk membiayai upacara-upacara ritual dan kebutuhan hidup komunitas bissu selama setahun ke depan. Sawah yang disebut galung arajang itu sekaligus menjadi tempat upacara mappalili (pesta atau upacara ritual menandai dimulainya penanaman padi) atau acara ritual lainnya. Di samping itu, kaum saudagar, petani, atau bangsawan, secara pribadi senantiasa memberi sedekah kepada para bissu.

Setelah agama Islam masuk ke kerajaan-kerajaan Bugis, peranan bissu sebagai pendeta nyaris hilang karena upacara-upacara ritual tidak dibenarkan lagi. Peranan bissu semakin pupus ketika pemerintahan kerajaan beralih ke pemerintahan republik, seiring memudarnya peran lembaga-lembaga adat.

Dr Halilintar Lathief, antropolog yang mendalami kehidupan bissu, komunitas bissu sempat mengalami prahara yang memorak-porandakan seluruh pranata kebissuannya. Pada masa perjuangan DI/TII, gerombolan pimpinan Kahar Muzakkar melancarkan operasi penumpasan bissu. Ribuan perlengkapan upacara ritual bissu dibakar atau ditenggelamkan ke laut. Tidak sedikit bissu maupun sanro (dukun) dibunuh. Yang dibiarkan hidup digunduli lalu dipaksa menjadi laki-laki tulen.

“Sisa-sisa mereka yang selamat itulah bissu-bissu tua yang masih ada sekarang. Boleh dikatakan bissu mereka adalah generasi terakhir yang mewarisi kejayaan tradisi Bugis klasik,” kata Halilintar.

Menurut Halilintar, bissu bisa bertahan hingga saat ini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis kuno hingga sekarang ini masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasratnya.

Akan tetapi, tidak ada lagi perhatian dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup mereka. Tidak ada lagi galung arajang yang menjadi sumber kehidupan sepanjang tahun. Di Segeri, misalnya, sawah pusaka itu sudah beralih kepemilikan dan dijadikan tambak oleh mereka yang mengklaimnya sebagai tanah warisan.

Kini para bissu terpaksa membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan. Mereka menggantungkan hidup pada panggilan orang-orang yang menggelar upacara adat. Sebagian besar di antara mereka menjadi perias pengantin dan penyedia perlengkapan pesta-pesta perkawinan.

Bissu Khahar Eka (29) di Segeri memiliki usaha penyewaan perlengkapan pesta dan sekaligus berprofesi sebagai perias pengantin. Di sela kesibukannya melayani perkawinan yang terkadang menerima lebih dari lima panggilan dalam sehari, Eka menjahit dan membuat pernak-pernik kelengkapan pesta untuk dijual atau disewakan.

Pekerjaan yang sama ditekuni Angel (39), yang kini berkedudukan sebagai puang lolo atau wakil dari puang matoa (pemimpin bissu). Bissu bernama asli Syamsul Bahri ini termasuk salah satu perias pengantin yang laris di Bone.

Puang Matoa Bone, Daeng Tawero (H Maruddin Daeng Tawero) yang kini berusia lebih dari 60 tahun, kondisinya tidak lebih baik. Saat ditemui di rumahnya di Desa Galung, Kecamatan Ulaweng, sekitar 15 kilometer dari Watampone (ibu kota Kabupaten Bone), ia sedang terbaring lemah akibat sakit.

Perhiasan pengantin dan tumpukan pakaian tradisional Bugis di dalam empat lemari milik Tawero sudah terbalut debu karena sekian lama tidak pernah tersentuh. “Sudah banyak sekali perias pengantin. Mereka bukan bissu, tapi menguasai rias kecantikan modern,” kata Tawero dengan suara lirih.

Sementara itu, Puang Upe (54) yang kini sebagai Puang Lolo Segeri, dan bissu perempuan Puang Temmi (60-an) di Desa Kanaungan, Pangkep, hanya mengharapkan penghasilan dari orang-orang datang meminta berkah. Sesuai ketentuan adat, para tamu yang datang membawa beberapa lembar daun sirih yang disisipi lembaran uang kertas. Lipatan daun sirih itu menjadi pengantar untuk menghadapkan sang tamu ke arajang (pusaka yang disakralkan).

“Seperti terjadi di mana-mana, lambat laun upacara ritual bissu diarahkan untuk kepentingan atraksi pariwisata. Bahkan, bisa diadakan untuk kepentingan penggalangan massa oleh partai tertentu saat kampanye pemilu. Ritual yang dipertahankan keasliannya oleh orang-orang Bugis selama beberapa dekade itu pun mulai disisipi unsur-unsur baru,” kata Halilintar.

Tidak sedikit anak muda dan calabai (waria yang belum/tidak sampai pada tingkatan bissu) menggunakan kesempatan upacara mappalili sebagai ajang main-main. Lebih memprihatinkan lagi, beberapa kabupaten telah mengebiri fungsi dan peran komunitas bissu menjadi sekadar sebuah sanggar seni tari saja.

Pada akhirnya waktu yang akan menentukan hingga kapan komunitas bissu bisa bertahan di tengah arus deras peradaban yang berubah.

Mereka Bukan Sembarang Waria

  • Kompas: Rabu, 13 Juli 2005, halaman 14
Puang Upe melakukan tari spiritual yang disebut maggiri’ , diiringi tabuhan gendang. Ia menusukkan keris ke leher, pelipis, atau telapak tangan tanpa luka gores sedikit pun. Biasanya, inilah atraksi yang ditunggu-tunggu dalam setiap upacara bissu. (Kompas/lam)

Wa’ Matang (60-an), menghentak-hentakkan kakinya di lantai papan rumah panggung itu sambil menusuk-nusukkan keris ke telapak tangannya. Tabuhan gendang terus menderu ritmis, mempercepat detak jantung setiap yang menyaksikan aksi Matang.

Sejurus kemudian ia berputar dengan gemulai, lalu menusukkan kembali kerisnya. Kali ini lehernya yang kurus itu menjadi sasaran. Tak ada luka gores sedikit pun, apalagi tetesan darah dari tubuhnya.

Itulah maggiri’ (menusuk), tari spiritual kaum bissu yang sudah berusia ratusan tahun. Maggiri’ merupakan rangkaian dari prosesi upacara dalam tradisi Bugis kuno yang dilaksanakan para bissu, dan sampai hari ini masih bertahan meski jumlah bissu tinggal sehitungan jari di setiap kabupaten di tanah Bugis, Sulawesi Selatan.

Pada masa pra-Islam, di Kerajaan Segeri (Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Pangkep) saja jumlah bissunya 40 orang, sehingga disebut sebagai Bissu PatappuloE (Bissu Empat Puluh). Jumlah yang sama pada masa itu juga dikenal di Kerajaan Bone (sekarang Kabupaten Bone). Di antara Bissu PatappuloE terdapat bissu perempuan.

Kesaktian para waria Bugis itu bukan hanya terlihat saat maggiri’, melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap waria yang telah menjadi bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa ke depan. Dengan bahasa tersendiri atau basa to rilangi, bissu mampu berkomunikasi dengan para leluhurnya dari zaman baheula.

Dalam bahasa Bugis, waria disebut calabai. Kata ini berasal dari sala baine, yang artinya “bukan perempuan”. Mereka adalah lelaki dengan kondisi jasmaniah yang abnormal. Senang berpenampilan feminin dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini juga merupakan kebiasaan para wandu, yakni laki-laki dengan keadaan jasmaniah serupa tetapi belum menjadi bissu,” jelas Halilintar Lathief, antropolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM).

Para waria, termasuk bissu, mengaku lebih tertarik kepada laki-laki serta menganggap dan memosisikan dirinya sebagai perempuan. Namun demikian, dalam dokumen-dokumen resmi, seperti ijazah maupun KTP, mereka menuliskan jenis kelaminnya sebagai laki-laki.

Puang Upe punya pengalaman menarik ketika mengurus KTP dan menempelkan pas fotonya dalam pose berpakaian kebaya, dan tentu saja bersanggul.

“Pak Camat menolak menandatangani KTP saya karena fotonya perempuan, tapi jenis kelaminnya laki-laki,” katanya sambil tersipu- sipu.

Beberapa bissu memiliki arajang (pusaka yang dikeramatkan), yang menjadi media untuk berhubungan dengan leluhur. Puang Upe, bissu yang sangat terkenal di Segeri saat ini, menyimpan arajang di rakkeang (loteng rumah panggung). Setiap tamu yang datang ia hadapkan (mappangolo) ke arajang-nya.

Bissu perempuan yang terkenal di Desa Kanaungan -masih di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep)- Puang Temmi (60-an) atau Mak Temmi memiliki arajang yang “dirawat” secara turun-temurun. Arajang ditempatkan di sebuah kamar antara ruang tamu dan dapur.

“Saya keturunan ketujuh yang menerima wangsit untuk meneruskan arajang ini,” ungkapnya.

Puang Temmi sedang berkomunikasi dengan arwah leluhur di arajang yang ditempatkan dalam sebuah kamar. (Kompas/lam)

Arajang diletakkan di dalam palakka yang ditutupi kelambu. Pusaka itu berwujud sebilah keris dan batu-batuan. “Batu-batu ini bukan dibuat-buat tapi muncul dengan sendirinya. Ada yang muncul di sini, ada juga yang di tempat lain lalu saya mendapat wangsit melalui mimpi sehingga tahu lokasinya,” kata Mak Temmi sembari menunjukkan sebutir batu berbentuk telur.

Selama satu jam lebih Kompas di rumah Mak Temmi, perempaun yang dikenal sebagai sanro (dukun) itu kedatangan tiga tamu lainnya. Dua minta disiapkan upacara mappano (persembahan) sesajian karena tambaknya mendapatkan hasil yang baik. Satu lagi sekadar menyampaikan terima kasih, setelah saudaranya sembuh dari sakit yang diobati oleh Mak Temmi.

“Saya sudah tahu kalau akan kedatangan tamu dari jauh. Karena itulah tadi saya buru-buru pulang dari pasar,” katanya menyongsong kedatangan Kompas di kolong rumahnya. “Ada beberapa orang yang akan datang menemui saya hari ini, dan saya tahu ada satu yang datang dari jauh,” tambahnya.

Batu-batu pusaka Puang Upe (54) -yang juga di tunjukkan kepada Kompas– lebih unik lagi. Tidak kurang dari 10 butir batu seluruhnya berbentuk sesuatu benda, seperti kemiri, kerang, atau bentuk lainnya. Batu-batuan itu tersimpan dalam kopor besi bersama beberapa buku berisi naskah Bugis kuno. “Kalau tamu yang datang rezekinya kurang baik, kopor ini tidak akan mau terbuka,” kata Puang Upe.

Ia juga menunjukkan selembar kertas bergambar dua ular saling berpilin disertai penjelasan dalam aksara Bugis. “Ini namanya jimat naga sikoi. Kalau mau disenangi orang, terutama lawan jenis, pakai ini. Tapi tentu ada syaratnya,” tutur Puang Upe.

Setiap bissu punya kekuatan magis untuk memikat orang lain atau dalam khazanah Bugis dikenal sebagai cenning rara. Inilah yang digunakan para bissu ketika merias pengantin sehingga mempelai tampak anggun dan memesona.

Menjadi bissu

Bissu memperoleh kesaktian dengan berbagai jalan. Puang Upe misalnya, mendapatkan tuntunan untuk menjadi bissu sejak berusia 13 tahun.

“Sejak berusia belasan tahun saya sudah menyadari kelainan yang saya alami, dan saya mencoba untuk masuk seutuhnya ke wilayah itu. Maka saya datang berguru kepada bissu-bissu senior ketika itu, salah satunya Puang Matoa Sanro Seke’. Saya dinyatakan lulus sebagai bissu pada usia 21 tahun,” kata Puang Upe. Kini di Segeri ia duduk sebagai Puang Lolo (wakil dari Puang Matoa, pemimpin tertinggi bissu di suatu wilayah kerajaan).

Keberadaan bissu memang sangat erat kaitannya dengan keberadaan kerajaan pada masa lampau. Kedudukan seorang datu (raja) tidaklah sempurna tanpa kehadiran bissu. Bissu diibaratkan sebagai uang receh, yang jadi pembanding bagi uang yang lebih besar pecahannya.

Para bissu berperan sebagai penasihat raja. Pada masa pra-Islam mereka bisa dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno. Sebagai pelaksana dalam ritual kerajaan, bissulah yang menentukan hari baik untuk memulai sesuatu, seperti turun ke sawah atau membangun rumah. Sebelum pasukan berangkat perang misalnya, raja senantiasa berkonsultasi dengan para bissu.

Lain lagi cerita Khahar Eka, waria yang ditahbiskan menjadi bissu tahun 2003, setelah menjalani masa magang selama empat tahun pada bissu senior di Bola Arajang, rumah tempat penyimpanan pusaka yang dikeramatkan. Perjalanan spiritual Eka berawal dari beberapa mimpi saat masih duduk di bangku SMP.

“Tiga kali saya bermimpi bertemu lelaki tua berbusana serba putih yang menyuruh saya datang ke arajang. Saya tak berani ke sana. Melihat bissu-bissu itu saja sudah takut, karena cara berpakaiannya seperti perempuan tetapi wajahnya kekar-kekar. Setelah mimpi ketiga baru saya memberanikan diri,” kenang Eka, yang ditemui di rumahnya, di depan Pasar Segeri.

Pengalaman spiritual yang hampir sama juga dialami Syamsul Bahri, yang sehari-hari dikenal sebagai Angel. Ia mulai mendalami kehidupan bissu setelah tamat SMA hingga akhirnya ditahbiskan sebagai bissu pada tahun 2003. Puang Lolo Bone itu menceritakan, “Pada mulanya saya mencari bissu-bissu tua. Lalu saya mempelajari berbagai hal tentang bissu dan ritual-ritual bissu.”

Seorang waria baru dikategorikan layak menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian Puang Matoa atau Puang Lolo. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai bissu, ia harus menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan pada Arajang.

Waria yang akan dilantik menjadi bissu diwajibkan berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Setelah itu, bernazar (mattinja’) untuk menjalani irebba selama beberapa hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air.

Selama disemayamkan sesuai nazarnya, calon bissu dianggap dan diperlakukan sebagai orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang irebba. Setelah melewati upacara sakral itu, seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan.

“Kami beda dengan waria kebanyakan. Kami harus menjaga sikap, perilaku, dan tutur kata,” ucap Eka.

Ya, bissu memang bukan sembarang waria….