Ketika Fosil Membakar Bumi

  • Kompas: Sabtu, 8 Oktober 2005, halaman 46
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Kamojang di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, adalah contoh salah satu energi alternatif yang bisa mengurangi dampak efek rumah kaca. (Kompas/lam)

Pemanasan global yang memicu perubahan iklim tidak terelakkan dan sedang berlangsung. Biang keladinya adalah penggunaan bahan bakar fosil yang terus-menerus menyemburkan emisi melalui cerobong dan knalpot.

Ilmuwan memperkirakan, pada abad ini terjadi peningkatan suhu global antara 1,4° Celsius hingga 5,8° Celsius, bergantung pada volume bahan bakar fosil yang dibakar dan kepekaan sistem iklim menghadapinya.

Bahan bakar fosil -minyak, batu bara, dan gas- sebagai sumber energi menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke atmosfer sebagai sisa pembakaran. Gas tersebut beserta gas-gas lain menumpuk, menyelimuti Bumi, dan menghalangi radiasi panas matahari yang seharusnya dikembalikan ke angkasa.

Radiasi panas dipantulkan kembali ke Bumi, diserap di permukaan, dan menimbulkan suatu fenomena yang disebut sebagai efek gas rumah kaca (EGRK). EGRK yang terjebak di atmosfer itulah yang meningkatkan secara drastis temperatur di permukaan Bumi sehingga terjadi pemanasan global.

Penggunaan bahan bakar fosil secara besar-besaran, terutama pada sektor listrik, ternyata menyumbang 37 persen dari total emisi karbon dioksida di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Angka tersebut tentu saja akan terus meningkat tanpa upaya menghentikan atau mengurangi penggunaan energi fosil.

Perubahan iklim akibat pemanasan global merupakan masalah lingkungan yang sangat serius di planet Bumi yang dapat mengancam kelangsungan habitat, keragaman hayati, sistem rantai makanan, hingga kelangsungan hidup manusia. Dampak nyata dari perubahan iklim sudah akrab dengan penghuni Bumi -meski sering kali hanya dipandang sebagai peristiwa alam yang wajar- yaitu kekeringan dan banjir, serta naiknya permukaan air laut.

Penelitian World Wide Fund for Nature (WWF) menunjukkan bahwa 33 persen habitat di hamparan muka Bumi memiliki risiko yang tinggi menghadapi perubahan iklim itu, bahkan beberapa tanaman dan spesies hewan tidak kuasa bertahan dan punah.

Beruang kutub adalah salah satu spesies yang berada paling depan di garis kematian jika permukaan es Samudra Artic terus meleleh. Sementara di sisi Bumi lainnya, bencana alam seperti banjir, badai, dan kekeringan terjadi secara berantai.

Perubahan iklim melahirkan El Nino dan La Nina, yang semakin memperburuk keadaan. Pada tahun 1997/1998 serangan El Nino memberi pengalaman buruk bagi Indonesia: musim kering berkepanjangan yang mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan paling parah dalam sejarah. Pada saat yang sama terumbu karang di Asia Tenggara, Australia, dan Kepulauan Pasifik mengalami pemucatan yang masif.

Di negara yang mayoritas penduduknya mengandalkan kehidupan sehari-harinya dari hasil bumi, seperti Indonesia, perubahan iklim tentu saja membawa konsekuensi pada masalah sosial-ekonomi yang serius.

Energi alternatif

WWF dalam program PowerSwitch! menekankan pentingnya pengalihan penggunaan bahan bakar fosil yang tidak terbarukan kepada sumber energi terbarukan, seperti tenaga angin, energi biomas, energi biodiesel, panas bumi (geotermal), pembangkit tenaga air berskala kecil (mikrohidro), dan tenaga surya. Kesemuanya itu sebetulnya sudah tersedia tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.

Penggunaan sumber energi terbarukan atau energi bersih itu dapat menekan tingkat emisi lebih dari 40 persen pada tahun 2020, dibandingkan pada tingkat yang sama pada tahun 2000 di negara berkembang.

Seperti dikemukakan Asisten Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Urusan Pengendalian Emisi Sumber Bergerak, Ridwan D Tamin, pencemaran udara di Indonesia merupakan masalah yang cukup serius dalam beberapa tahun terakhir, terutama dirasakan di beberapa kota besar.

“Itu ditandai dengan menurunnya kualitas udara ke tingkat yang cukup memprihatinkan hingga membawa dampak negatif terhadap kesehatan manusia maupun kehidupan lainnya, di samping kerusakan benda,” tutur Ridwan dalam sebuah diskusi mengenai biodiesel di Jakarta, Kamis (6/10) malam.

Berdasar pemantauan kualitas udara yang dilakukan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, dalam tahun 2003 hanya 25 hari udara Jakarta dikategorikan sehat. Selebihnya, warga Jakarta menghirup udara dalam kategori sedang dan tidak sehat, yang polutan dominannya adalah debu partikulat maupun ozon.

Menurut kajian Bank Dunia, dampak ekonomi akibat pencemaran udara di Jakarta saja diperkirakan Rp 1,8 triliun, dan diproyeksikan tahun 2015 akan mencapai Rp 4,3 triliun. Kajian dampak ekonomi yang pernah dilakukan Yayasan Pelangi (2001) menyebutkan bahwa kerugian ekonomi yang dialami mencapai Rp 12 triliun akibat pemborosan bahan bakar, kemacetan, dan kerugian waktu.

“Jika dilihat dari sumbernya, maka kendaraan bermotor merupakan penyumbang terbesar pencemaran udara di daerah perkotaan,” kata Ridwan. “Berbagai polutan udara yang diemisikan oleh kendaraan bermotor, seperti debu partikulat, karbon monoksida, hidrokarbon, ozon, telah melampaui baku mutu udara ambien, sebagaimana ditetapkan dalam peraturan pemerintah mengenai pengendalian pencemaran udara.”

Berbagai penelitian telah dilakukan dan menghasilkan sejumlah alternatif energi terbarukan. Hanya tinggal menunggu pemerintah mengurai kekusutan regulasi yang sering kali menjadi penghambat penerapan energi.

Menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak cukup untuk mendorong penggunaan energi terbarukan, tanpa memberi insentif kepada pihak-pihak yang mengusahakan energi ramah lingkungan tersebut.

Di beberapa negara Eropa dan Amerika Latin, misalnya, pemerintahnya mengenakan pajak yang tinggi untuk BBM berbasis fosil (fossil fuel), dan memberi insentif untuk BBM berbasis energi terbarukan. Hal itu terbukti efektif mendorong penggunaan energi terbarukan secara optimal. (Nasru Alam Aziz)

Advertisements

Berhadapan dengan Perdagangan Ilegal

  • Kompas: Kamis, 22 September 2005, halaman 14
Seorang pekerja tengah memperbaiki penyejuk udara (AC) di sebuah bengkel yang berada di Jalan Ciputat Raya, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (19/9). Penggunaan CFC 12 (Chloro Floro Carbon 12) yang tidak ramah lingkungan nantinya akan digantikan oleh R134A (Hidro Floro Carbon 134A) yang lebih ramah lingkungan. (Kompas/lam)

Indonesia telah menetapkan komitmen untuk ikut serta secara aktif dalam upaya perlindungan lapisan ozon dengan meratifikasi Konvensi Wina pada tahun 1992 dan Protokol Montreal pada tahun 1998. Dari sisi kebijakan, komitmen itu tidak perlu diragukan, akan tetapi pelaksanaannya masih memerlukan upaya konkret.

Lapisan ozon ditemukan tahun 1840, dan kemudian diketahui berperan melindungi Bumi terhadap radiasi ultraviolet (UV) yang berbahaya bagi kehidupan. Namun baru pada tahun 1970-an ilmuwan menunjukkan bahwa sejumlah bahan kimia yang digunakan secara luas telah menyebabkan kerusakan “payung Bumi” itu.

Mula-mula dikenali bahwa chlorofluorocarbons (CFCs) sebagai biang perusak lapisan ozon ketika atom klornya lepas ke atmosfer. Daftar bahan perusak ozon menjadi makin panjang, hingga saat ini mencapai 96 bahan kimia yang dikontrol oleh Protokol Montreal. Di antaranya adalah halon, carbon tetrachloride, methyl chloroform, hydrobromofluorocarbons (HBFCs), hydrochlorofluorocarbons (HCFCs), methyl bromide (CH3Br), dan bromochloromethane (BCM).

Bahan-bahan perusak ozon (BPO) biasanya digunakan untuk pendingin pada penyejuk udara dan kulkas, busa pengembang, pemadam kebakaran, pelarut, pestisida, dan bahan pendorong dalam tabung semprot pengharum ruangan, penyemprot rambut, atau parfum.

Konvensi Wina (1985) merupakan kesepakatan masyarakat internasional untuk melindungi lapisan ozon, dan Protokol Montreal (1987) berisi komitmen penghapusan BPO.

Menurut penilaian mantan Menteri Lingkungan Hidup (1978-1993) Emil Salim, berbagai kebijakan terkait dengan perlindungan lapisan ozon yang telah dikeluarkan belum menjamin penerapannya berjalan efektif. “Penghapusan CFCs dan halon belum menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan Indonesia,” katanya.

Indonesia telah menyepakati penghentian impor CFCs pada akhir 2007. Belajar dari pengalaman beberapa kali impor limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), agaknya Indonesia akan menghadapi masalah serupa dalam urusan BPO ini.

“Penegakan hukum di negara kita masih lemah. Itu akan memudahkan perdagangan ilegal,” tutur Emil.

Jauh-jauh hari Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) mengungkapkan telah meningkatnya perdagangan ilegal CFCs di dunia. CFCs hasil daur ulang memang masih bisa digunakan untuk peralatan (lemari es dan penyejuk udara) yang masih ada, akan tetapi sulit membedakan antara CFCs baru dan hasil daur ulang. Di samping itu, negara- negara industri masih memproduksi CFCs untuk kebutuhan sendiri dan untuk diekspor ke negara-negara berkembang.

Meski impor CFCs akan dihentikan pada 2007, Soetikno Ks Putra, salah seorang penyedia jasa perbaikan peralatan pendingin di Duren Sawit, Jakarta Timur, mengaku belum kesulitan mendapatkan CFC-12 maupun CFC-22.

Di Amerika Serikat (AS), CFCs dikenai pajak dan harga pasar yang tinggi. Itu cukup efektif membatasi penggunaan CFCs di dalam negeri, akan tetapi akibatnya pedagang ilegal menjual hampir 20.000 metrik ton setiaptahun, terutama ke negara berkembang.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengakui, kendala terbesar yang dihadapi Indonesia dalam implementasi program penghapusan BPO adalah masalah impor ilegal. Hingga saat ini hal itu masih sulit dikendalikan karena belum ada peraturan yang secara hukum dapat menjerat pelakunya.

Lubang ozon

Lapisan ozon terbentuk dari molekul-molekul ozon (O3) yang terkonsentrasi di stratosfer (antara 10 hingga 50 kilometer di atas permukaan Bumi). Secara alami, pembentukan ozon terjadi lebih banyak di daerah tropis dan semakin berkurang ke arah kutub. Di kutub bahkan hampir tidak terjadi pembentukan ozon, apalagi di kutub selatan yang sama sekali tidak memiliki vegetasi. Hidrokarbon yang dihasilkan pepohonan dan vegetasi lainnya lebih mampu membentuk ozon dibanding hasil kegiatan manusia, seperti pabrik atau pembakaran lainnya.

Molekul ozon terbentuk dan terurai melalui keseimbangan dinamis. Keberadaan bahan-bahan kimia tertentu di stratosfer mengakibatkan keseimbangan reaksi tersebut terganggu.

Kerusakan lapisan ozon di stratosfer berawal dari adanya emisi molekul gas yang mengandung klor dan brom yang dihasilkan dari berbagai aktivitasmanusia dan proses alamiah. Karena tidak bereaksi dan tidak larut dalam air, molekul gas tersebut terakumulasi di bagian bawah atmosfer. Pergerakan udara membawa molekul gas ke bagian atmosfer yang lebih tinggi hingga mencapai stratosfer.

Pada lapisan stratosfer, radiasi Matahari memecah molekul gas tersebut sehingga dihasilkan radikal klor dan brom. Melalui reaksi berantai, radikal klor dan brom memecah ikatan molekul gas-gas lain di atmosfer, termasuk molekul ozon.

Reaksi yang terjadi mengakibatkan molekul ozon terpecah menjadi oksigen dan radikal oksigen. Karena reaksi tersebut berlangsung secara berantai maka konsentrasi ozon di stratosfer akan terus berkurang, sehingga pada kondisi yang paling kritis akan membentuk lubang ozon.

Penipisan lapisan ozon menjadi ancaman bagi kesehatan manusia dan kehidupan Bumi. Berkurangnya molekul ozon di stratosfer mengakibatkan lapisan ozon semakin tipis, sehinggamenurunkan fungsi penyerapan radiasi UV-B. Dengan demikian, intensitas radiasi UV-B yang mencapai permukaan Bumi akan semakin meningkat. Setiap 10 persen penipisan ozon akan menaikkan radiasi UV-B sebesar 20 persen.

Paparan radiasi UV-B yang berlebih terhadap manusia, hewan, tanaman, dan bahan-bahan bangunan dapat menimbulkan dampak negatif. Manusia membutuhkan sinar ultraviolet dalam jumlah kecil untuk membantu pembentukan vitamin D oleh tubuh, akan tetapi radiasi yang berlebih dapat mengakibatkan kanker kulit, katarak, serta mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.

Peningkatan radiasi gelombang pendek UV-B juga memicu reaksi kimiawi di atmosfer bagian bawah, mengakibatkan penambahan jumlah reaksi fotokimia yang menghasilkan asap beracun, hujan asam, serta peningkatan gangguan saluran pernapasan.

Terhadap tumbuhan, radiasi UV-B menghambat pertumbuhan dan bahkan mengerdilkan berbagai jenis tanaman. Hal itu berakibat pada kerusakan hutan dan penurunan hasil panen sejumlah tanaman budidaya.

Di perairan laut, intensitas radiasi UV-B yang tinggi dapat memusnahkan organisme kecil yang hidup di permukaan air. Fitoplanton yang jadi sumber utama rantai makanan organisme laut dapat musnah sehingga timbul pengaruh berantai terhadap kehidupan organisme laut.

Radiasi UV-B juga menurunkan kemampuan sejumlah organisme menyerap karbon dioksida, yang merupakan salah satu gas rumah kaca, sehingga konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akan meningkat dan menyebabkan pemanasan global.

Di sektor pendingin (refrigerator), Dana Multilateral (MLF) untuk Pelaksanaan Protokol Montreal memberi bantuan hibah senilai 6,4 juta dollar AS untuk menghapus 1.141 metrik ton CFCs pada subsektor manufaktur dan sekitar 4,9 jutadollar AS untuk menghapus 1.072 metrik ton CFCs pada subsektor perbaikan.

Sutariyadi, Manajer Servis pada PT Sanyo Sales Indonesia, optimistis target penghapusan CFCs dapat tercapai pada tahun 2007. Sebab, kata Sutariyadi, seluruh produk baru telah menggunakan bahan pendingin yang ramah lingkungan. “Produk ramah lingkungan sudah tersedia di pasaran,” ujarnya.

Konsumsi CFCs memang telah ditekan dari 1,1 juta metrik ton (1986) menjadi 110.000 metrik ton (2001). Namun kenyataannya Indonesia masih menjadi pengguna CFCs terbesar (28 persen), setara dengan Iran, Meksiko, Nigeria, Thailand, dan Venezuela.

Bahkan di Asia -yang disebut sebagai lokomotif pertumbuhan- penggunaan CFCs masih tinggi. Emil menyimpulkan, pertumbuhan Asia belum ramah lingkungan. (Nasru Alam Aziz)

Penipisan Lapisan Ozon, Tidak Terasa tetapi Mengancam Kesehatan

  • Kompas: Jumat, 9 September 2005, halaman 12

JAKARTA, KOMPAS – Dampak penipisan lapisan ozon baru akan terlihat dalam jangka waktu relatif panjang. Akibatnya masalah itu sering kali terpinggirkan oleh isu pencemaran lingkungan lain yang dampaknya segera dirasakan pada tataran lokal.

“Sering tidak disadari bahwa penipisan lapisan ozon adalah masalah lingkungan global yang sekaligus berdampak buruk terhadap kesehatan. Dampaknya meluas pada kehidupan di Bumi dan tidak mengenal batas negara,” kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar di Jakarta, Kamis (8/9).

Jebolnya lapisan ozon di stratosfer akan meningkatkan intensitas radiasi Matahari ke Bumi, yang dapat menyebabkan kanker kulit, katarak, dan pelemahan sistem daya tahan tubuh. Terpapar ultraviolet berlebihan juga dapat menyebabkan penyakit melanoma, suatu kanker kulit.

Rachmat mengemukakan, Indonesia telah menetapkan komitmen untuk ikut serta secara aktif dalam upaya perlindungan lapisan ozon. Tahun 1992, Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Wina yang merupakan kesepakatan masyarakat internasional untuk melindungi lapisan ozon, dan Protokol Montreal mengenai Penghapusan Bahan Perusak Ozon (BPO).

Protokol Montreal yang ditandatangani tahun 1987 mengimbau negara- negara peserta untuk mengurangi secara bertahap penggunaan BPO, di antaranya chlorofluorocarbons (CFCs), hydrochlorofluorocarbons (HCFCs), halons, methyl bromide, carbon tetrachloride, dan methyl chloroform. BPO tersebut biasanya digunakan untuk bahan pendingin, busa pengembang, pemadam kebakaran, pelarut, pestisida, serta kaleng semprot untuk pengharum ruangan, penyemprot rambut, atau parfum.

Bantuan hibah

Rachmat mengatakan secara nasional telah disepakati penghentian impor CFCs pada akhir 2007. “Seluruh pihak yang sampai saat ini masih menggunakan CFCs diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi kelangkaan bahan tersebut, termasuk para pengusaha jasa servis alat pendingin yang masih menyediakan CFC-12,” tutur Rachmat.

Country Director UNDP untuk Indonesia, Gwi-yeop Son, menyatakan dukungan program PBB itu terhadap Pemerintah Indonesia untuk penghapusan BPO dalam industri manufaktur dan perbaikan peralatan pendingin.

Melalui Dana Multilateral (MLF) untuk Pelaksanaan Protokol Montreal, Indonesia mendapat sekitar 6,4 juta dollar AS untuk menghapus 1.141 metrik ton CFC pada subsektor manufaktur dan sekitar 4,9 juta dollar AS untuk menghapus 1.072 metrik ton CFC pada subsektor perbaikan hingga akhir 2007.

Kamis kemarin Rachmat menyerahkan bantuan hibah dari Dana Multilateral kepada perusahaan yang masih menggunakan BPO.

Alih teknologi

Dana tersebut untuk membantu alih teknologi pada industri manufaktur serta upaya daur ulang CFC-12 pada industri jasapelayanan servis peralatan pendingin, seperti lemari es, dispenser, dan penyejuk udara (AC).

Rachmat menambahkan, perusahaan menerima bantuan hibah berupa peralatan daur ulang (recycling) dan pemulihan (recovery) CFC-12, dan lebih lanjut akan memperoleh pelatihan mengenai tata cara servis peralatan pendingin yang baik, dengan memerhatikan aspek lingkungan.

Bantuan diberikan kepada 885 bengkel di seluruh Indonesia dan diharapkan pada 2007 dapat tercapai target penghapusan sebesar 1.072 metrik ton. Sejalan dengan itu, bantuan juga diberikan kepada bengkel servis AC mobil dengan target penghapusan 915 metrik ton pada 2007.

Sejak 1995 hingga akhir 2004, menurut Rachmat, Indonesia telah berhasil mengurangi penggunaan BPO 6.562 metrik ton.

“Penggunaan BPO yang masih tersisa terus dikurangi sejalan dengan pengurangan pemasukan BPO ke Indonesia.

Perketat pengawasan

Rachmat mengatakan bahwa kendala terbesar yang dihadapi Pemerintah Indonesia dalam implementasi program perlindungan lapisan ozon dan penghapusan BPO adalah masalah impor ilegal. Hingga saat ini hal itu masih sulit dikendalikan karena belum ada peraturan yang secara hukum dapat menjerat pelakunya.

“Pengawasan terhadap impor, perdagangan, dan penggunaan BPO diperketat agar penghapusan BPO dapat tercapai sesuai target, tahun 2007,” katanya.

Namun demikian, kata Rachmat, perlindungan lapisan ozon bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. (LAM)

Bantaran Sungai di Jakarta Perlu Restorasi

  • Kompas: Sabtu, 3 September 2005, halaman 13
Tarsoen Waryono (Kompas/gsa)

JAKARTA, KOMPAS – Makin ke hilir kondisi biofisik lahan bantaran sungai-sungai di Jakarta semakin buruk akibat kejadian alam dan campur tangan manusia. Kenyataan itu membutuhkan upaya restorasi ekologis untuk memulihkan kondisi lingkungan bantaran sungai.

“Perubahan fisik bantaran sungai di daerah perkotaan dapat menurunkan fungsi jasa biohidrologis vegetasi bantaran sungai. Padahal, bantaran berfungsi sebagai penyaring materi tanah dan air, penahan kecepatan angin, penyerap polutan, dan pengendali iklim mikro,” papar Tarsoen Waryono dalam disertasinya Pendekatan Pemulihan Bio-fisik Bantaran Sungai di Jakarta, di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Kamis (1/9).

Ia meraih gelar doktor pada Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UI.

Tarsoen yang menerima Kalpataru 2005 untuk kategori Pembina Lingkungan selama tujuh tahun meneliti kondisi fisik dan biologis ekosistem bantaran sungai-sungai di Jakarta.

Wilayah Provinsi DKI Jakarta dilintasi 13 aliran sungai dan 10 aliran di antaranya bermuara di Teluk Jakarta. Merujuk data Dinas Kehutanan DKI Jakarta (1997), alur-alur sungai tersebutpanjangnya 461 kilometer dengan luas bantaran 1.985,65 hektare.

Koordinator Binaan Hutan Kota UI itu menjelaskan, walaupun daerah bantaran atau riparian relatif sempit, perannya sangat penting dalam siklus hidup berbagai jenis kehidupan liar dan secara ekologis menjadi penyeimbang laju pertumbuhan wilayah. Karena itu, lahan bantaran sungai perlu dikonservasikan sebagai sempadan sungai untuk memulihkan komunitas bantaran secara alami melalui rehabilitasi habitat dan pengayaan jenis, serta sosialisasi untuk menumbuhkan kearifan masyarakat sekitarnya.

Berdasar penelusuran terhadap komunitas khas bantaran sungai di Jakarta, dalam kurun 93 tahun (1907-2000), tercatat lebih dari separuh jenis khas bantaran sungai telah hilang dan digantikan oleh jenis-jenis invasif. “Semula ada sekitar 100 jenis tumbuhan asli bantaran sungai, dan sekarang ditemukan hanya 56 jenis,” ungkap Tarsoen.

Dr Jatna Supriatna, salah seorang promotor Tarsoen menilai hasil penelitian tersebut sangat penting untuk segera diwujudkan. “Jika restorasi ekologis bantaran sungai itu terwujud, maka akan terbangun koridor hijau sepanjang alur sungai dari hulu, melintasi Jakarta, hingga ke hilir,” kata Jatna. (sf/lam)

Merancang Arah Asia dalam Keragaman

  • Kompas: Senin, 15 Agustus 2005, halaman 42
Peserta HYLI ke-7 bermain bersama pelajar penyandang tunarungu dari Persekutuan Orang Pekak Malaysia di Majlis Kebajikan dan Pembangunan Masyarakat Kebangsaan Malaysia, Kamis(14/7). (Kompas/lam)

Selama lima hari pada bulan Juli 2004, 24 mahasiswa dari enam negara Asia -Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand- berkumpul di Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka mendiskusikan sebuah tema “Balancing People, Planet, and Profit in Asia’s Future” (Menyeimbangkan Masyarakat, Bumi, dan Profit demi Masa Depan Asia).

Pertemuan para pemimpin muda Asia itu merupakan kegiatan pengabdian masyarakat dari perusahaan Jepang, Hitachi. Hitachi Young Leaders Initiative (HYLI) tahun ini adalah yang ketujuh sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 1996 di Singapura.

HYLI terbilang kegiatan bergengsi karena hanya diikuti mahasiswa berprestasi dari keenam negara Asia tadi. Setiap negara mengirimkan empat mahasiswa, yang telah diseleksi secara ketat oleh sebuah panel seleksi.

Empat mahasiswa yang mewakili Indonesia ialah Angelin Cornelia Sumendap dan Marsella Widiarta (Universitas Katolik Parahyangan), Muhammad Donny Eryastha (Universitas Indonesia), dan Maesy Angelina (Universitas Katolik Atma Jaya).

Sebelum memasuki sesi lokakarya yang melelahkan, peserta mendapat ceramah dari sejumlah narasumber dan diberi kesempatan tanya-jawab. Dua pembicara kunci adalah Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia Dato’ Dr Shafie Mohd Salleh dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia Dr Sri Mulyani Indrawati (diwakili oleh Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Dra Leila Retna Komala).

Lokakarya dibagi dalam tiga subtema, yakni Asian Economic Integration: Challenges and Opportunities (Integrasi Ekonomi Asia: Tantangan dan Peluang), The Changing Role of Education in a Dynamic Asia (Perubahan Peran Pendidikan dalam Asia yang Dinamis), dan Translating Environmental Awareness into Action (Mewujudkan Kesadaran Lingkungan ke dalam Aksi).

Selama ceramah dan lokakarya, mereka didampingi dua moderator, Dr Minni K Ang (Associate of Trinity College London) dan Dr Goh Chee Leong (Direktur Pusat Psikologi, HELP University College).

Dalam HYLI Ke-7 ini, peserta mendapat pengayaan untuk tiga subtema yang dibahas dari tokoh pemerintahan, pemimpin bisnis, organisasi nonpemerintah (LSM), serta akademisi. Dari Indonesia, Direktur Eksekutif Yayasan Kehati Ismid Hadad memberi masukan mengenai lingkungan hidup.

“Berinteraksi dan berdiskusi dengan mahasiswa dari negara lain adalah sesuatu yang sangat berharga dari HYLI ini. Kami bisa belajar dan berbagi pengalaman,” ungkap Marsella, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan.

Hal sama dikemukakan Fumiaki Ishizuka, mahasiswa College of Liberals Arts pada International Christian University, Tokyo. “Dari peserta lain saya mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang budaya dan masyarakat Asia yang beragam,” katanya.

Fumiaki yang mendalami Ekonomi Lingkungan dan Kebijakan Lingkungan yakin bahwa generasi muda yang akan memimpin Asia kelak akan membutuhkan dua kualitas. Pertama, penerimaan terhadap keragaman budaya, agama, dan sejarah Asia. Kedua, kesadaran terhadap bukan hanya potensi ekonomi regional, tetapi juga masalah-masalah sosial dan lingkungan hidup.

PEACE, Mosaic, Green Bank

Setelah melalui diskusi panjang, yang terkadang hingga pukul dua dini hari, para wakil negara itu menghasilkan draf rekomendasi untuk tiga subtema, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan hidup. Kelak pada akhir tahun ini draf tersebut akan diterbitkan sebagai sebuah buku putih (white paper), untuk disampaikan kepada pemerintah, akademisi, serta LSM terkait.

Kelompok yang membahas subtema ekonomi merekomendasikan sebuah proses untuk menciptakan ekonomi bersama Asia Timur, Process for an East Asia Common Economy (PEACE). Program ini direncanakan untuk mempercepat integrasi ekonomi di Asia, dengan memasukkannya dalam Komunitas Asia Timur, East Asian Community (EAC), sebagai sistem penyeimbang daerah perdagangan bebas yang bertujuan menggalang dana sukarela dari negara-negara anggota.

“Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan jaring pengaman sosial, mendanai pengembangan ekonomi negara-negara yang membutuhkan bantuan. Di samping itu, memperbaiki proses perdagangan bebas melalui usaha fasilitasi perdagangan, membangun infrastruktur terpadu, dan menyelaraskan standar dan praktik pelayanan publik,” papar Carl Nicholas Cheng Ng dari Filipina.

Dari sektor pendidikan ditawarkan model bagi empati sosial dan identitas Asia melalui pengembangan kompetensi, Model for Social Empathy and Asian Identity through Competency Enhancement (Mosaic). Model ini, seperti dijelaskan Maesy Angelina dari Indonesia, membagi jenjang pendidikan menjadi dua tahap, yakni dasar dan pelibatan.

Tahap 1 (Dasar) meliputi pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Standar di seluruh Asia, pembelajaran salah satu bahasa Asia, serta pengabdian masyarakat. Tahap 2 (Pelibatan) mencakup program pengenalan yang terintegrasi secara sistematis dengan beragam bidang karier. Tahapan ini bertujuan memperkenalkan para pelajar pada pilihan karier yang ada sebelum memutuskan jurusan yang akan diambil di perguruan tinggi.

Sementara subtema lingkungan merekomendasikan The Green Bank dan Sustainable Practices for Holistic Environmental Resource Engagement (SPHERE). Kedua program didasari kesulitan mengatasi dampak penurunan fungsi lingkungan di Asia akibat masalah ekonomi, pengawasan yang buruk, serta kurangnya rasa kepemilikan.

Kebersamaan

“Bank Hijau dirancang sebagai lembaga keuangan yang sepenuhnya ditujukan untuk pembangunan berkelanjutan, dengan menyediakan dukungan keuangan bagi proyek-proyek lingkungan berkelanjutan dengan baik,” kata Ali Andrea bin Hashim dari Malaysia.

Sementara SPHERE adalah program pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat, untukmelindungi lingkungan dengan memberdayakan komunitas sambil meningkatkan pendapatan mereka.

Di sela kesibukan menggodok draf rekomendasi, peserta diberi waktu senggang untuk mengunjungi beberapa obyek wisata budaya di kota Kuala Lumpur. Dalam acara Truly Malaysia Treasure Hunt ini, mereka berinteraksi dengan masyarakat di sekitar kuil Hindu Sri Maha Mariamman, Masjid Jamek, Pasar Seni, dan kawasan pecinan.

Kepemimpinan yang terkait dengan pelayanan terhadap masyarakat senantiasa menjadi bagian integral pada HYLI. Para pemimpin muda diberi kesempatan menunjukkan kemampuan kepemimpinannya dalam pengabdian kerja sosial dan diharapkan mempertajam kepeduliannya terhadap orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya, terutama bagi mereka yang kurang beruntung.

Melalui kerja sosial itu, para pemimpin muda akan memahami perannya dalam masyarakat sebagai pelayan masyarakat. Dengan demikian, mereka tahu bagaimana melayani masyarakat, lebih dari sekadar apa yang dapat mereka lakukan untuk diri sendiri.

Peserta HYLI Ke-7 diajak berbaur dengan penyandang tunarungu dari Persekutuan Orang Pekak Malaysia (Federasi Asosiasi Tuna Rungu Malaysia). Selama dua hari, sebanyak 24 mahasiswa dari enam negara berkomunikasi dan bermain bersama para pelajar tunarungu berusia 15-18 tahun dari Terengganu, Pulau Pinang, Negri Sembilan, Melaka, Selangor, dan Kuala Lumpur.

Suasana akrab yang tercipta membuat hari terasa sangat singkat. Meski berat, mereka saling mengucapkan selamat berpisah, tentu saja dengan isyarat tangan. (Nasru Alam Aziz)

Merestorasi Istana Bantimurung

  • Kompas: Sabtu, 30 Juli 2005, halaman 47

Sekerumunan kupu-kupu Tachyris zarinda memamerkan warna kemerah-merahan dan jingga terang sayapnya. Di antara mereka sesekali melintas Papilio sambil mengipas-ngipaskan sayap lebarnya yang berwarna hitam dengan ornamen hijau-biru.

Pada dahan-dahan berdaun rimbun di seberang sana, saya berharap dapat mengamati Ornithoptera dari dekat. Dan di semak belukar saya berhasil menangkap sejumlah kupu-kupu Amblypodia, serta beberapa kumbang dari famili Hispidae dan Chrysomelidae.

Kutipan pengalaman Alfred Russel Wallace (1823-1913) saat berada di Bantimurung (Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan) itu, ditulisnya dalam buku The Malay Archipelago. Begitu eksotik dan beragamnya kupu-kupu yang ia jumpai di Bantimurung sehingga naturalis Inggris itu menyebut kawasan yang kini menjadi obyek wisata air terjun sebagai The Kingdom of Butterfly (Kerajaan Kupu-kupu).

Tentu saja surga kupu-kupu yang dikunjungi Wallace tahun 1857 itu sudah berbeda dengan kondisi sekarang. Kini perburuan liar menjadi ancaman kepunahan serangga gemulai itu, di samping kerusakan habitat dan penggunaan pestisida di sekitar “istana” kupu-kupu.

Kini, hampir tak mungkin menemukan kupu-kupu bersayap lebar, macam Graphium, Papilio, Pachliopta, di sekitar air terjun yang ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan. Apalagi jenis-jenis yang sudah jarang ditemukan di Bantimurung, seperti Troides haliphron, Troides helena, Troides hypolitus, dan Cethosia myrina.

Anehnya, beberapa jenis kupu-kupu langka itu dengan mudah ditemukan pada penjaja kupu-kupu awetan. Bahkan, jenis yang dilindungi atau tak boleh diambil dari alam, seperti Cethosia myrina, juga ditawarkan. Mereka berkilah kupu-kupu yang mereka jual adalah hasil penangkaran atau ditangkap di luar kawasan taman wisata alam dan cagar alam Bantimurung.

Kupu-kupu bersayap lebar sebetulnya masih bisa dijumpai -meskipun jarang- sekitar lima kilometer menyusuri arah hulu sungai Bantimurung. Itu pun hanya pada pagi hari ketika matahari mulai menembus sungai bening di sela bukit karst. Selama empat jam di tempat itu pada suatu hari yang cerah akhir Juni lalu, Kompas hanya menjumpai seekor Hebomoia glaucippe. Selebihnya, kupu-kupu berukuran lebih kecil, Catapsilia pamona flava, Anartia sp, Calastrina sp, Danis sp, dan Vindula arsinoe.

Kepala Seksi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan I Baharuddin mengemukakan pentingnya bukit-bukit karst di sekitar kawasan itu sebagai habitat kupu-kupu. Sayangnya, kata dia, kawasan karst Maros dan Pangkajene Kepulauan juga mengalami ancaman kerusakan akibat eksploitasi perusahaan pertambangan marmer. “Setelah ditambang, karst tak mungkin dikembalikan lagi. Berbeda dengan kerusakan hutan yang masih bisa diatasi dengan reboisasi,” katanya.

SALAH SATU celah bukit karst di Cagar Alam Bantimung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang sedang mengalami restorasi habitat kupu-kupu. Restorasi dimaksudkan untuk mengembalikan habitat kupu-kupu Bantimurung agar terhindar dari ancaman kepunahan. (Kompas/lam)

Habitat dan populasi

Menurut Kepala Laboratorium Serangga Berguna Universitas Hasanuddin Makassar Prof Dr Mappatoba Sila, ketika habitatnya belum terganggu diperkirakan terdapat sekitar 250 jenis kupu-kupu di Bantimurung. Kini hanya tersisa kurang dari separuhnya.

“Perburuan liar sulit dihentikan karena besarnya permintaan ekspor kupu-kupu,” kata dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin, yang banyak meneliti kupu-kupu di Bantimurung. “Kalaupun ada usaha penangkaran untuk perdagangan, hasilnya tak seberapa dibandingkan dengan berburu di alam,” ujarnya.

Seorang penjaja kupu-kupu kepada Kompas mengakui jika sebagian besar kupu-kupu yang dijual di Bantimurung maupun diekspor bukan dari hasil penangkaran, melainkan ditangkap di alam. “Kami menangkapnya di luar areal yang dilindungi,” katanya.

Bukan tak ada upaya untuk mengembalikan kedaulatan wilayah Kerajaan Kupu-kupu. Setahun terakhir, kata Mappatoba, telah dimulai restorasi habitat dan restorasi populasi kupu-kupu di kawasan itu.

Restorasi habitat dilakukan terutama di daerah hulu tadi, dengan menanam kembali berbagai tanaman yang menjadi pakan kupu-kupu. Itu untuk mengembalikan kenyamanan habitat kupu-kupu. Berbarengan dengan itu, diupayakan pencegahan terhadap faktor-faktor yang mengancam kehidupan kupu-kupu, seperti perburuan liar dan penggunaan pestisida di sekitar kawasan.

Mengacu kepada berbagai penelitian yang pernah dilakukan, kata Mappatoba, dapat diketahui jenis tumbuhan apa saja yang terdapat di kawasan itu pada masa-masa kejayaan kupu-kupu. Tumbuh-tumbuhan pakan kupu-kupu mulai ditanam kembali di sana menggantikan yang sudah hilang, seperti Aristolachia sp untuk jenis kupu-kupu Troides), Citrus sp dan Rutaceae untuk Papilio, Ficus sp untuk Euploea sp, Annona muricata dan Annona squoma untuk Graphium, Cassia sp untuk Eurema sp, serta Passiflora sp untuk Cethosia myrina.

Salah satu upaya restorasi habitat adalah menutup kawasan tertentu yang menjadi tempat berkembang biak kupu-kupu pada musim tertentu ketika kupu-kupu mulai bertelur. Musim dan tempat dimaksud bergantung pada jenis kupu-kupu dan pakannya.

Mengacu kepada berbagai penelitian yang pernah dilakukan, kata Mappatoba, dapat diketahui jenis tumbuhan apa saja yang terdapat di kawasan itu pada masa-masa kejayaan kupu-kupu.

Di daerah hilir sedang dimarakkan penangkaran kupu-kupu sebagai upaya restorasi populasi. Tidak jauh dari pintu masuk kawasan wisata Bantimurung, dua bulan lalu, BKSDA Sulsel I mendirikan sebuah penangkaran kupu-kupu. Meskipun ukuran penangkarannya sangat mini untuk sebuah balai konservasi, upaya itu patut dihargai di tengah berbagai ancaman kepunahan kupu- kupu.

Beberapa warga yang difasilitasi oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat, Institusi Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (IPPM), juga telah membuat tiga tempat penangkaran sederhana. “Kami ingin mengembangkan ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan aspek konservasi kupu-kupu. Karena itu, kami membantu mereka membuat penangkaran,” ungkap Direktur IPPM Hidayat Palaloi.

Penangkaran kupu-kupu milik BKSDA maupun yang dikelola masyarakat baru bisa menghasilkan beberapa jenis saja, terutama Papilio polyphontes, Troides helena, dan Graphium androcles. “Imago yang dihasilkan dari penangkaran hanya sebagian yang diawetkan untuk dijual, sisanya dilepas kembali ke alam agar menjadi induk,” kata Alimutahar, salah seorang penangkar yang juga setiap hari menjajakan kupu-kupu awetan di Bantimurung.

Upaya restorasi habitat dan restorasi populasi yang sedang berlangsung bisa menjadi secercah harapan bagi bangkitnya kembali Kerajaan Kupu-kupu Bantimurung. (Nasru Alam Aziz)

Burung Botak Upeh di Malaysia

  • Kompas: Rabu, 20 Juli 2005, halaman 15
Milky stork atau botak upeh (Ibis cinereus) adalah salah satu jenis burung yang sudah sangat jarang ditemukan di Malaysia. Di alam liar, jumlahnya diperkirakan kurang dari 100 ekor dan hanya terdapat di kawasan konservasi dalam hutan bakau Perak. Kawanan burung ini berhasil ditangkarkan di Zoo Negara Malaysia (kebun binatang Malaysia) hingga berkembang menjadi 89 ekor. (Kompas/lam)