Bantaran Sungai di Jakarta Perlu Restorasi

  • Kompas: Sabtu, 3 September 2005, halaman 13
Tarsoen Waryono (Kompas/gsa)

JAKARTA, KOMPAS – Makin ke hilir kondisi biofisik lahan bantaran sungai-sungai di Jakarta semakin buruk akibat kejadian alam dan campur tangan manusia. Kenyataan itu membutuhkan upaya restorasi ekologis untuk memulihkan kondisi lingkungan bantaran sungai.

“Perubahan fisik bantaran sungai di daerah perkotaan dapat menurunkan fungsi jasa biohidrologis vegetasi bantaran sungai. Padahal, bantaran berfungsi sebagai penyaring materi tanah dan air, penahan kecepatan angin, penyerap polutan, dan pengendali iklim mikro,” papar Tarsoen Waryono dalam disertasinya Pendekatan Pemulihan Bio-fisik Bantaran Sungai di Jakarta, di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Kamis (1/9).

Ia meraih gelar doktor pada Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UI.

Tarsoen yang menerima Kalpataru 2005 untuk kategori Pembina Lingkungan selama tujuh tahun meneliti kondisi fisik dan biologis ekosistem bantaran sungai-sungai di Jakarta.

Wilayah Provinsi DKI Jakarta dilintasi 13 aliran sungai dan 10 aliran di antaranya bermuara di Teluk Jakarta. Merujuk data Dinas Kehutanan DKI Jakarta (1997), alur-alur sungai tersebutpanjangnya 461 kilometer dengan luas bantaran 1.985,65 hektare.

Koordinator Binaan Hutan Kota UI itu menjelaskan, walaupun daerah bantaran atau riparian relatif sempit, perannya sangat penting dalam siklus hidup berbagai jenis kehidupan liar dan secara ekologis menjadi penyeimbang laju pertumbuhan wilayah. Karena itu, lahan bantaran sungai perlu dikonservasikan sebagai sempadan sungai untuk memulihkan komunitas bantaran secara alami melalui rehabilitasi habitat dan pengayaan jenis, serta sosialisasi untuk menumbuhkan kearifan masyarakat sekitarnya.

Berdasar penelusuran terhadap komunitas khas bantaran sungai di Jakarta, dalam kurun 93 tahun (1907-2000), tercatat lebih dari separuh jenis khas bantaran sungai telah hilang dan digantikan oleh jenis-jenis invasif. “Semula ada sekitar 100 jenis tumbuhan asli bantaran sungai, dan sekarang ditemukan hanya 56 jenis,” ungkap Tarsoen.

Dr Jatna Supriatna, salah seorang promotor Tarsoen menilai hasil penelitian tersebut sangat penting untuk segera diwujudkan. “Jika restorasi ekologis bantaran sungai itu terwujud, maka akan terbangun koridor hijau sepanjang alur sungai dari hulu, melintasi Jakarta, hingga ke hilir,” kata Jatna. (sf/lam)

Merancang Arah Asia dalam Keragaman

  • Kompas: Senin, 15 Agustus 2005, halaman 42
Peserta HYLI ke-7 bermain bersama pelajar penyandang tunarungu dari Persekutuan Orang Pekak Malaysia di Majlis Kebajikan dan Pembangunan Masyarakat Kebangsaan Malaysia, Kamis(14/7). (Kompas/lam)

Selama lima hari pada bulan Juli 2004, 24 mahasiswa dari enam negara Asia -Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand- berkumpul di Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka mendiskusikan sebuah tema “Balancing People, Planet, and Profit in Asia’s Future” (Menyeimbangkan Masyarakat, Bumi, dan Profit demi Masa Depan Asia).

Pertemuan para pemimpin muda Asia itu merupakan kegiatan pengabdian masyarakat dari perusahaan Jepang, Hitachi. Hitachi Young Leaders Initiative (HYLI) tahun ini adalah yang ketujuh sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 1996 di Singapura.

HYLI terbilang kegiatan bergengsi karena hanya diikuti mahasiswa berprestasi dari keenam negara Asia tadi. Setiap negara mengirimkan empat mahasiswa, yang telah diseleksi secara ketat oleh sebuah panel seleksi.

Empat mahasiswa yang mewakili Indonesia ialah Angelin Cornelia Sumendap dan Marsella Widiarta (Universitas Katolik Parahyangan), Muhammad Donny Eryastha (Universitas Indonesia), dan Maesy Angelina (Universitas Katolik Atma Jaya).

Sebelum memasuki sesi lokakarya yang melelahkan, peserta mendapat ceramah dari sejumlah narasumber dan diberi kesempatan tanya-jawab. Dua pembicara kunci adalah Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia Dato’ Dr Shafie Mohd Salleh dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia Dr Sri Mulyani Indrawati (diwakili oleh Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Dra Leila Retna Komala).

Lokakarya dibagi dalam tiga subtema, yakni Asian Economic Integration: Challenges and Opportunities (Integrasi Ekonomi Asia: Tantangan dan Peluang), The Changing Role of Education in a Dynamic Asia (Perubahan Peran Pendidikan dalam Asia yang Dinamis), dan Translating Environmental Awareness into Action (Mewujudkan Kesadaran Lingkungan ke dalam Aksi).

Selama ceramah dan lokakarya, mereka didampingi dua moderator, Dr Minni K Ang (Associate of Trinity College London) dan Dr Goh Chee Leong (Direktur Pusat Psikologi, HELP University College).

Dalam HYLI Ke-7 ini, peserta mendapat pengayaan untuk tiga subtema yang dibahas dari tokoh pemerintahan, pemimpin bisnis, organisasi nonpemerintah (LSM), serta akademisi. Dari Indonesia, Direktur Eksekutif Yayasan Kehati Ismid Hadad memberi masukan mengenai lingkungan hidup.

“Berinteraksi dan berdiskusi dengan mahasiswa dari negara lain adalah sesuatu yang sangat berharga dari HYLI ini. Kami bisa belajar dan berbagi pengalaman,” ungkap Marsella, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan.

Hal sama dikemukakan Fumiaki Ishizuka, mahasiswa College of Liberals Arts pada International Christian University, Tokyo. “Dari peserta lain saya mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang budaya dan masyarakat Asia yang beragam,” katanya.

Fumiaki yang mendalami Ekonomi Lingkungan dan Kebijakan Lingkungan yakin bahwa generasi muda yang akan memimpin Asia kelak akan membutuhkan dua kualitas. Pertama, penerimaan terhadap keragaman budaya, agama, dan sejarah Asia. Kedua, kesadaran terhadap bukan hanya potensi ekonomi regional, tetapi juga masalah-masalah sosial dan lingkungan hidup.

PEACE, Mosaic, Green Bank

Setelah melalui diskusi panjang, yang terkadang hingga pukul dua dini hari, para wakil negara itu menghasilkan draf rekomendasi untuk tiga subtema, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan hidup. Kelak pada akhir tahun ini draf tersebut akan diterbitkan sebagai sebuah buku putih (white paper), untuk disampaikan kepada pemerintah, akademisi, serta LSM terkait.

Kelompok yang membahas subtema ekonomi merekomendasikan sebuah proses untuk menciptakan ekonomi bersama Asia Timur, Process for an East Asia Common Economy (PEACE). Program ini direncanakan untuk mempercepat integrasi ekonomi di Asia, dengan memasukkannya dalam Komunitas Asia Timur, East Asian Community (EAC), sebagai sistem penyeimbang daerah perdagangan bebas yang bertujuan menggalang dana sukarela dari negara-negara anggota.

“Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan jaring pengaman sosial, mendanai pengembangan ekonomi negara-negara yang membutuhkan bantuan. Di samping itu, memperbaiki proses perdagangan bebas melalui usaha fasilitasi perdagangan, membangun infrastruktur terpadu, dan menyelaraskan standar dan praktik pelayanan publik,” papar Carl Nicholas Cheng Ng dari Filipina.

Dari sektor pendidikan ditawarkan model bagi empati sosial dan identitas Asia melalui pengembangan kompetensi, Model for Social Empathy and Asian Identity through Competency Enhancement (Mosaic). Model ini, seperti dijelaskan Maesy Angelina dari Indonesia, membagi jenjang pendidikan menjadi dua tahap, yakni dasar dan pelibatan.

Tahap 1 (Dasar) meliputi pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Standar di seluruh Asia, pembelajaran salah satu bahasa Asia, serta pengabdian masyarakat. Tahap 2 (Pelibatan) mencakup program pengenalan yang terintegrasi secara sistematis dengan beragam bidang karier. Tahapan ini bertujuan memperkenalkan para pelajar pada pilihan karier yang ada sebelum memutuskan jurusan yang akan diambil di perguruan tinggi.

Sementara subtema lingkungan merekomendasikan The Green Bank dan Sustainable Practices for Holistic Environmental Resource Engagement (SPHERE). Kedua program didasari kesulitan mengatasi dampak penurunan fungsi lingkungan di Asia akibat masalah ekonomi, pengawasan yang buruk, serta kurangnya rasa kepemilikan.

Kebersamaan

“Bank Hijau dirancang sebagai lembaga keuangan yang sepenuhnya ditujukan untuk pembangunan berkelanjutan, dengan menyediakan dukungan keuangan bagi proyek-proyek lingkungan berkelanjutan dengan baik,” kata Ali Andrea bin Hashim dari Malaysia.

Sementara SPHERE adalah program pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat, untukmelindungi lingkungan dengan memberdayakan komunitas sambil meningkatkan pendapatan mereka.

Di sela kesibukan menggodok draf rekomendasi, peserta diberi waktu senggang untuk mengunjungi beberapa obyek wisata budaya di kota Kuala Lumpur. Dalam acara Truly Malaysia Treasure Hunt ini, mereka berinteraksi dengan masyarakat di sekitar kuil Hindu Sri Maha Mariamman, Masjid Jamek, Pasar Seni, dan kawasan pecinan.

Kepemimpinan yang terkait dengan pelayanan terhadap masyarakat senantiasa menjadi bagian integral pada HYLI. Para pemimpin muda diberi kesempatan menunjukkan kemampuan kepemimpinannya dalam pengabdian kerja sosial dan diharapkan mempertajam kepeduliannya terhadap orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya, terutama bagi mereka yang kurang beruntung.

Melalui kerja sosial itu, para pemimpin muda akan memahami perannya dalam masyarakat sebagai pelayan masyarakat. Dengan demikian, mereka tahu bagaimana melayani masyarakat, lebih dari sekadar apa yang dapat mereka lakukan untuk diri sendiri.

Peserta HYLI Ke-7 diajak berbaur dengan penyandang tunarungu dari Persekutuan Orang Pekak Malaysia (Federasi Asosiasi Tuna Rungu Malaysia). Selama dua hari, sebanyak 24 mahasiswa dari enam negara berkomunikasi dan bermain bersama para pelajar tunarungu berusia 15-18 tahun dari Terengganu, Pulau Pinang, Negri Sembilan, Melaka, Selangor, dan Kuala Lumpur.

Suasana akrab yang tercipta membuat hari terasa sangat singkat. Meski berat, mereka saling mengucapkan selamat berpisah, tentu saja dengan isyarat tangan. (Nasru Alam Aziz)

Ketika Si Kancil Naik Panggung

  • Kompas: Selasa, 26 Juli 2005, halaman 12
Sejumlah pendongeng dari berbagai negara menabuh gendang sebagai tanda dimulainya Festival Mendongeng di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (23/7). Festival yang diadakan dalam rangka Hari Anak Nasional 2005 itu, antara lain, dimaksudkan untuk memberi peluang bagi anak mengembangkan keterampilan berbahasa. (Kompas/tok)

Bagaimana seekor kancil dapat menyeberangi sungai yang penuh dengan buaya? Tentu yang terbayang adalah cerita Petualangan Si Kancil. Benar, binatang cerdik itu meminta para buaya berjajar hingga ke sisi seberang sungai, kemudian menghitungnya sambil meloncat-loncat di atas punggung-punggung buaya itu.

Petualangan Si Kancil menjadi berbeda ketika diceritakan pada Festival Mendongeng Ke-6 di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (23/7). Ohanashi Caravan Center dari Jepang menampilkan cerita rakyat asal Indonesia itu di atas panggung melalui teater boneka, yang di Jepang dikenal sebagai bunraku. Festival Mendongeng yang diselenggarakan Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) dan Yayasan Murti Bunanta itu berlangsung hingga hari ini, Selasa.

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan kali ini menghadirkan sejumlah pendongeng dari negeri sendiri dan dari luar negeri dengan berbagai latar belakang dan keunikan masing-masing. Selain Ohanashi Caravan Center dengan bunraku-nya, ada Dr Anne Pellowski -pendongeng kawakan dan ahli sastra anak dari Amerika Serikat- yang menampilkan cerita rakyat dari Kalimantan Tengah, Mengapa Udang Bengkok, melalui wayang beber.

Hari pertama, tampil pula dalang Slamet Gundono dengan kelompok wayang rumputnya membawakan cerita rakyat Jawa, Senggutru, serta Sanggar Mayang Sari dari Bengkulu memainkan sandiwara cerita rakyat Bengkulu, Putri Kemang. Sementara Rifki, bocah berusia 12 tahun dari Pondok Yatim asuhan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Aceh, membawakan cerita rakyat Aceh, Si Nyamuk.

Di antara deretan nama asing, masih ada Dr Margaret Read MacDonald (Amerika Serikat) yang tahun lalu juga tampil dalam acara yang sama, kemudian Sylvia Mihira dan Akiko Sueyoshi (Jepang), Ms Kiran Shah (Singapura), Ms Panna (Singapura). Sejumlah teater anak dan sekolah juga tidak ketinggalan ambil bagian, seperti SD Santa Ursula, TK Barunawati, SD TBB Hanaeka, TK IKKT Jakarta, TK Regina Pacis, TK Rukun Ibu, Teater Lensa, Grup Ina Kreativa, Panti Nugraha, dan Teater Kidschat. Penampil lain adalah Sujiwo Tejo (Eksotika Karmawibhangga Indonesia) dan Kak Agus DS (Puppet Theatre).

Dramatisasi

Festival mendongeng tahun ini memang memfokuskan pada dramatisasi atau pementasan teater. Alasannya tak lain karena sampai saat ini kurangnya ruang bagi anak-anak untuk berekspresi dan bersentuhan dengan kebudayaan, berkaitan dengan cerita rakyat.

“KPBA memang menaruh perhatian dalam hal dramatisasi atau teater. Selain merupakan salah satu cara meningkatkan kegiatan membaca, juga memberi peluang bagi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa, melakukan kerja sama dengan teman, melakukan kerja sama dengan guru dan pelatih seni, serta berdiskusi dengan mereka dan membicarakan buku,” kata Murti Bunanta, Ketua KPBA.

Pellowski dan MacDonald sepakat bahwa melalui dongeng kemampuan berbahasa anak akan terasah dengan baik, sekaligus memberi kesempatan kepada anak untuk memahami bahasa tutur. “Dongeng juga memberi pemahaman mengenai budaya negeri sendiri dan negara lain secara baik,” kata Pellowski yang telah menulis tidak kurang dari 20 buku panduan tentang mendongeng dengan menggunakan berbagai media.”Di samping menghibur, dongeng membuka ruang imajinasi bagi anak,” tambah MacDonald, pustakawan anak dan pendongeng yang telah menulis lebih dari 30 buku mengenai mendongeng dan berbagai topik cerita rakyat.

Drs Suyadi, pemeran Pak Raden dalam film boneka Si Unyil, menambahkan bahwa dongeng sebaiknya mengandung pesan moral. Namun yang lebih penting adalah membuat senang anak. “Sedapat mungkin pendongeng dapat melibatkan anak yang menjadi pendengarnya, sehingga mereka akan betah berjam-jam mendengar dongeng yang diceritakan,” katanya.

Festival Mendongeng Ke-6 tidak sekadar membuat anak bergeming di tempat duduknya mendengar dongengan, lebih dari itu berhasil menggalang solidaritas internasional. KPBA menerima sumbangan sekitar Rp 500 juta dari International Board on Books for Young People, United States Board on Book for Young People, Japanese Board on Book for Young People, Ohanashi Caravan Center, dan masyarakat Winona, AS.

Dana itu akan digunakan untuk menerbitkan buku-buku bermutu, mendirikan perpustakaan, melatih guru-guru dalam bercerita dan penggunaan buku yang efektif, antara lain di Nanggroe Aceh Darussalam, Nabire, Alor, Nias, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. (LAM)

Diluncurkan, “National Geographic Indonesia”

  • Kompas: Selasa, 29 Maret 2005, halaman 1

JAKARTA, KOMPAS – Majalah ilmu pengetahuan berbasis geografi, National Geographic edisi bahasa Indonesia secara resmi diluncurkan, Senin (28/3) malam di Gedung Arsip Nasional Jakarta. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggoreskan tanda tangan pada sampul edisi perdana National Geographic Indonesia bergambar Homo floresiensis dalam bingkai berwarna kuning.

Yudhoyono menabuh gong lalu menandatangani sampul edisi perdana National Geographic Indonesia dengan didampingi Executive Vice President National Geographic Society Terrence B Adamson, Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia Jakob Oetama, dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

Jakob Oetama sebagai penerbit National Geographic Indonesia menyerahkan nomor anggota National Geographic Society kepada Presiden, sedangkan Presiden Yudhoyono menyerahkan donasi dari National Geographic Society kepada sejumlah siswa berprestasi dari 50 sekolah di Indonesia.

Presiden berharap hadirnya National Geographic Indonesia akan semakin memajukan pengembangan ilmu pengetahuan. Di samping itu, juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap Tanah Air yang majemuk dan khas.

“Saya berkomitmen untuk turut serta mengembangkan majalah ini demi kemajuan bangsa Indonesia. Saya menyampaikan penghargaan kepada National Geographic Society yang memberi kepercayaan kepada Kelompok Kompas Gramedia untuk menerbitkannya dalam edisi Indonesia,” kata Yudhoyono.

Selama ini, lanjut Yudhoyono, pandangan geografis dalam interaksi antarbangsa selalu dilihat dari sudut geopolitik. Padahal, yang juga penting diperhatikan adalah dimensi geografis dalam sudut pandang sosial dan budaya. “Apresiasi terhadap kemajemukan dan kekhasan Tanah Air kita perlu diberi tempat,” kata Presiden.

Yudhoyono mengingatkan bahwa pada hakikatnya kehidupan itu menuju kepada suatu konsep keseimbangan. Ia menggambarkan konsep keseimbangan hidup dalam bentuk segitiga, yang masing-masing sisinya adalah Pencipta, alam semesta, dan manusia. “Hubungan ini sangat penting untuk membangun kehidupan dengan nilai-nilai yang seimbang. Mari warnai kehidupan ini dengan keseimbangan,” kata Presiden.

Lebih jauh ia menjelaskan, dalam berinteraksi tidak tepat apabila hanya masuk dalam wilayah logika dan etika. Menurut Yudhoyono, dalam berinteraksi dibutuhkan sesuatu yang meneduhkan sanubari, yaitu estetika.

Interaksi dan kebersamaan

Jakob Oetama dalam sambutannya menekankan pentingnya mengenal Indonesia dari bawah, yaitu melalui interaksi dan kebersamaan. Menurut Jakob, kehadiran National Geographic Indonesia dapat menjadi salah satu sarana untuk mengenal atau menemukan kembali Indonesia.

“Interaksi dengan kebersamaan dan pemikiran kita tentang Indonesia akan memengaruhi dan memberi warna bagi kehidupan ini. Sebab, ketika kita berbicara politik-ekonomi, senantiasa dikemukakan dimensi sosial-budaya. Jangan lupa bahwa sosial-budayalah yang memiliki akar sejarah, dihormati, dan disegani bangsa-bangsa lain di dunia. Apa yang bisa didialogkan dengan dunia adalah dimensi sosial-budaya itu,” tutur Jakob.

Pada kesempatan itu Adamson mengemukakan tekadnya untuk tidak mengecewakan masyarakat Indonesia dan akan berupaya semaksimal mungkin menghasilkan produk yang memberi kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

“Melalui National Geographic, kami menelusuri dan menyajikan hubungan manusia dengan alam semesta, lingkungan, sosial, budaya, dan hubungan dengan sesama manusia,” katanya.

Terbit di 27 negara

Majalah National Geographic yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1888 semula hanya berupa jurnal terbatas untuk anggota National Geographic Society di Amerika Serikat. Banyaknya peminat membuat jurnal itu kemudian dijual kepada umum. Dalam perkembangannya National Geographic menjadi pelopor penggunaan foto dalam penerbitan majalah di dunia.

Sejak diterbitkan dalam bahasa Jepang tahun 1995 hingga tahun 2005 National Geographic telah terbit di 27 negara dalam 25 bahasa dan dialek. Di Asia, selain edisi Indonesia majalah tertua ini terbit dalam edisi China, Jepang, Korea, dan Thailand. Di seluruh dunia oplahnya mencapai lebih dari 12 juta eksemplar per bulan, dengan kisaran pembaca lima sampai enam orang per eksemplar.

Peluncuran National Geographic Indonesia disertai pameran kompilasi foto-foto dasar laut karya Emory Kristof dan beberapa foto spektakuler yang dihasilkan para fotografer majalah National Geographic, serta pameran fosil Homo floresiensis dan Homo erectus.

Pameran foto akan berlangsung hingga 3 April 2005 di Gedung Arsip Nasional, Jalan Gajah Mada No 111, Jakarta Pusat. (LAM)

Optimisme di “Belahan Jantung” Rakyat Aceh

  • Kompas: Senin, 14 Februari 2005, halaman 1

“Tekad bulat melahirkan perbuatan jang njata. ‘Darussalam’ menudju kepada pelaksanaan tjita?”

DI bawah terik matahari, 2 September 1959, Presiden Soekarno meresmikan kawasan Darussalam -sekitar delapan kilometer arah timur Kota Banda Aceh- sebagai Kota Pelajar/Mahasiswa (Kopelma). Sesaat setelah menyampaikan pidato yang memukau ribuan orang yang memadati lapangan, Soekarno mengguratkan kalimat tadi pada kepingan batu pualam.

Boleh jadi tulisan tangan dan tanda tangan Soekarno yang dilekatkan pada sebuah tugu tidak menarik perhatian banyak orang. Tidak lebih dari sekadar tengara penghias alun-alun. Akan tetapi, sejarah membuktikan bahwa Darussalam tetap identik dengan dua perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry.

Kedua perguruan tinggi tersebut telah menorehkan sejarah panjang. Unsyiah didirikan secara resmi pada 21 Juni 1961 dan kini dilengkapi dengan Fakultas Ekonomi (1959), Kedokteran Hewan dan Ilmu Peternakan (1960), Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (1961), Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1961), Teknik (1963), Pertanian (1964), Kedokteran (1982), Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (1993), serta Program Pascasarjana (1995).

Tetangga sebelahnya, IAIN Ar-Raniry, diresmikan pada 5 Oktober 1963 sebagai IAIN ketiga setelah IAIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta. Kini di perguruan tinggi itu terdapat lima fakultas, yakni Syariah (1960), Tarbiyah (1962), Ushuluddin (1963), Dakwah (1968), dan Adab (1983), serta Program Pascasarjana (1988).

***

DARUSSALAM terletak di dataran rendah sekitar tiga meter di atas permukaan laut, kira-kira 2,5 kilometer dari bibir pantai Selat Sumatera. Jadi, bisa dibayangkan kalau kawasan yang dikelilingi permukiman penduduk itu tidak luput dari sapuan tsunami yang dipicu gempa bumi berkekuatan 8,5 pada skala Richter, 26 Desember 2004 silam.

RUSAK – Gedung Safwan Idris di salah satu sudut Kampus IAIN Ar- Raniry. Kampus IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala di kawasan Darussalam, Banda Aceh, mengalami kerusakan fisik dan kehilangan sumber daya manusia akibat bencana gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004. (Kompas/lam)

Bekas batas genangan air di atas satu meter masih terlihat jelas pada dinding-dinding gedung kampus IAIN Ar-Raniry. Beberapa gedung rusak akibat guncangan gempa bumi, di antaranya adalah Gedung Safwan Idris yang tidak mungkin digunakan lagi.

Secara fisik kerusakan yang dialami IAIN Ar-Raniry jauh lebih berat dibandingkan dengan Unsyiah. Namun, yang lebih parah, kedua perguruan tinggi itu kehilangan sumber daya manusia yang cukup besar jumlahnya.

Menurut informasi yang beredar, sedikitnya 89 pengajar dan 76 pegawai administrasi Unsyiah dinyatakan meninggal atau hilang dalam peristiwa itu. Namun, data IAIN Ar-Raniry sendiri menyebutkan, 23 pengajar dan 16 pegawai administrasi meninggal atau hilang. Jumlah mahasiswa yang menjadi korban bencana masih terus didata.

“Kerusakan fisik bisa segera diperbaiki. Gedung-gedung bisa dibangun kembali. Akan tetapi, kehilangan sumber daya manusia membutuhkan waktu sedikitnya lima tahun untuk mendapatkan yang setara,” ungkap Dr Amirul Hadi, Direktur Pascasarjana IAIN Ar-Raniry.

Amirul sendiri kehilangan istri -Nazlyh Hanum Lubis, master alumnus McGill University, Kanada- serta dua anaknya yang berusia 9 dan 4,5 tahun.

Di antara korban yang meninggal atau hilang terdapat sejumlah guru besar, doktor, master, dan tenaga-tenaga muda potensial. Beberapa di antara mereka baru kembali dari menempuh pendidikan di luar negeri atau perguruan tinggi di Pulau Jawa.

***

BAGI para dosen, pegawai, dan mahasiswa yang menjadi korban langsung tentu bukan suatu hal yang mudah untuk bangkit dari bencana tsunami. “Yang perlu segera dibangun adalah kepercayaan diri dan rasa kebersamaan. Jangan merasa sendiri,” kata Amirul.

Itu diterapkan oleh pimpinan IAIN Ar-Raniry dengan menginstruksikan kepada pengajar dan pegawai administrasi untuk hadir di kampus sejak tanggal 26 Januari 2005, persis sebulan setelah tsunami merenggut lebih dari 100.000 jiwa rakyat Aceh. Lalu pada Senin, 31 Januari 2005, IAIN Ar-Raniry mengadakan apel untuk mengukur keberadaan dosen dan karyawannya, dan yang hadir sekitar 60 persen.

“Dengan mendorong dosen dan karyawan hadir di kampus, kami mencoba menggerakkan semangat hidup mereka, semangat untuk menatap kembali ke depan. Harus tetap terjalin komunikasi antara dosen dan mahasiswa. Cobaan yang menjadi ujian bagi hamba Allah ini harus dijadikan momentum bagi masyarakat Aceh untuk bangkit,” tutur Rektor IAIN Ar-Raniry Prof Dr H Rusjdi Ali Muhammad.

Kesadaran yang sama merebak di Kampus Unsyiah. Agar tidak larut dalam kesedihan, di Unsyiah telah berlangsung kegiatan akademik sejak 1 Februari lalu.

Kegiatan akademik IAIN Ar-Raniry baru dimulai hari Senin ini.

Di samping dosen dan karyawan diharapkan sudah hadir di kampus, mahasiswa diimbau agar datang melaporkan keberadaannya dengan mengisi data diri pada fakultas masing-masing.

“Setelah membangun kepercayaan diri, harus ada semacam komitmen untuk bangkit bersama menatap masa depan. Saatnya melupakan perbedaan- perbedaan yang terjadi di masyarakat, dan menghimpun kekuatan,” ujar Pembantu Rektor Bidang Akademik Unsyiah Dr Darni M Daud.

Ia menambahkan, “Tantangannya adalah apakah kita mau menjadikan momentum untuk bangkit atau malah terlena meratapi kepedihan tanpa berbuat apa-apa. Mereka yang meninggal adalah satu hal yang niscaya. Akan tetapi, mereka yang masih hidup akan menjadi orang-orang yang sebenarnya sudah meninggal jika tidak diberdayakan.”

Semangat untuk memulai kegiatan akademik di kedua kampus yang secara metaforis dikenal sebagai “jantung hati rakyat Aceh” memancarkan optimisme. Pimpinan kedua kampus itu sepakat menjadikan bencana tsunami sebagai momentum untuk bangkit lebih baik dari sebelumnya.

Sebagai belahan jantung, masing-masing pihak saling mengisi. Unsyiah menyiapkan teknokrat dan perencana pembangunan, sementara IAIN Ar-Raniry menanamkan nilai-nilai keagamaan yang berakar pada jati diri keislaman masyarakat Aceh.

***

SEBAGAI lembaga pendidikan tinggi yang mengemban tridarma perguruan tinggi -pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat- Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry harus lebih dulu pulih dibandingkan dengan lembaga-lembaga lain. Peran perguruan tinggi dibutuhkan untuk ikut menentukan pemulihan dan rekonstruksi Aceh pascatsunami.

“Kampus harus mengobati dirinya agar sembuh lebih cepat karena punya tanggung jawab untuk menyembuhkan yang lain,” kata Amirul.

Menurut Darni, Unsyiah telah membentuk gugus tugas yang memikirkan bagaimana rekonstruksi Aceh sesuai dengan konteks sosial budaya dan keadaan alamnya. Penerapannya, kata Darni, pada saat yang sama tidak mengisolasi masyarakat Aceh secara keseluruhan hingga tercerabut dari integritas kebangsaannya.

Tekad telah dipancang di Darussalam, dan jalan masih membentang luas menuju cita-cita. (Nasru Alam Aziz)

Jemur Komik

  • Kompas: Rabu, 2 Februari 2005, halaman 1

JEMUR KOMIK — Nazir (34), pemilik Toko Buku Desperado di Jalan Daud Beureueh, Banda Aceh, Selasa (1/2), menjemur sekitar 500 buku komik yang terendam akibat tsunami. Toko buku miliknya yang lain di Jalan Prof A Madjid Ibrahim habis tersapu tsunami beserta sekitar 1.700 bukunya. (Kompas/Nasru Alam Aziz)

Iqro Club, Enggak Bikin “Bete”

  • Kompas: Rabu, 3 November 2004, halaman 7

MINGGU (31/10) sore ratusan pelajar berbusana muslim dari berbagai pelosok Jakarta menyerbu Pantai Ria Ancol, Jakarta Utara. Kedatangan mereka menarik perhatian pengunjung tempat rekreasi itu. Mereka tidak untuk berunjuk rasa, melainkan untuk mengikuti acara Obrolan Puasa.

Obrolan Puasa yang biasa disingkat opus menjadi puncak dari serangkaian pesantren kilat yang diorganisasi oleh Iqro Club. Pesantren kilat digelar di berbagai tempat sejak hari kelima Ramadhan (19/10), melibatkan lebih dari 300 pelajar yang berasal dari 150 SLTA dan SMK se-Jakarta. Selama tiga hari penuh mereka dibekali pengetahuan keislaman, yang dikemas dalam kegiatan-kegiatan menarik di luar kelas, seperti outbound, diskusi, dan perpaduan antara edukasi dan hiburan (edutainment).

“Materinya dikemas dengan gaya anak muda. Pokoknya enggak bikin bete,” ungkap Nurlita, pelajar SMU 64 Cipayung, Jakarta Timur. Bete digunakan kalangan anak muda untuk menggambarkan keadaan yang tidak mengasyikkan.

Iqro Club dibentuk pada tahun 1999 oleh sejumlah mantan aktivis mahasiswa. Salah satu pendirinya adalah Asep Iskandar, yang mengetuai lembaga swadaya masyarakat itu sejak tahun 2002. “Kami resah melihat fenomena degradasi moral di kalangan generasi muda. Lalu, kami bersepakat membentuk sebuah lembaga yang bergerak dalam kegiatan pembentukan karakter moral melalui penanaman nilai-nilai keislaman,” ungkap Asep, menceritakan latar pembentukan Iqro Club.

Kini lembaga itu boleh dibilang telah berkembang sesuai dengan arah yang dicita-citakan. Selain pesantren kilat pada bulan Ramadhan, juga digelar berbagai kegiatan menarik, seperti Experience Plus of Ramadhan dan Get Ramadhan of Our Own. Itu semua sudah didahului kegiatan pra-Ramadhan, Spirit of Ramadhan, dengan memberi pembekalan bagi pelajar menghadapi Ramadhan.

Di luar itu, Iqro Club punya kegiatan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang disebut Mentoring Agama Islam (MAI), suatu pembinaan pemuda pelajar yang berlangsung secara periodik dengan bimbingan seorang mentor. Di sini mentor yang terdiri dari para relawan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta menerapkan pola pendekatan teman sebaya (friendship).

MAI yang dilaksanakan bekerja sama dengan Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta telah menyentuh sekitar 250 SLTA dan SMK se-Jakarta. Bahkan, sebagian sekolah tidak lagi menjadikan MAI sekadar ekstrakurikuler, tetapi mengintegrasikannya ke dalam kurikulum. “Jadi, nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pelajar diambil dari nilai ulangan sekolah, ditambah nilai mentoring dan tugas mandiri,” ujar Asep Iskandar.

Bagi Asep, keberhasilan itu tidak datang begitu saja. Ia bersama rekan-rekannya harus mengawalinya dengan kerja keras menembus birokrasi pendidikan. Tidak mudah meyakinkan birokrat pendidikan dan pihak sekolah bahwa program Iqro Club itu membawa manfaat yang sangat besar bagi masa depan bangsa.

Selain memperkuat keimanan dan ketakwaan serta meningkatkan kualitas SDM generasi muda, Iqro Club terus berupaya memperkuat ukhuwah Islamiah dan mewujudkan suasana kehidupan Islami bagi kaum remaja di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Marwan, pelajar SMK 55 Pademangan, Jakarta Utara, mengemukakan bahwa kegiatan Iqro Club bukan hanya menguatkan persaudaraan di antara sesama pelajar Muslim, tetapi juga membangkitkan semangat sebagai pemuda Muslim. (Nasru Alam Aziz)