Mengalahkan Letusan Bedil dengan Alunan Musik

  • Kompas: Kamis, 28 Juli 2005, halaman 12
Simfoni Aceh Damaiyang digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Selasa (26/7) malam, juga menampilkan penyanyi Iga Mawarni. Ia membawakan lagu daerah Nanggroe Aceh Darussalam dengan iringan orkestra pimpinan M Jafar Puteh. Acara musik bertajuk “Simfoni Aceh Damai” yang menampilkan sejumlah artis Ibu Kota itu diadakan untuk menyambut ulang tahun ke-2 majalah Acehkita. (Kompas/tok)

Satu lagi malam untuk Aceh. Dan ratusan orang yang hadir di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (26/7) malam, beku dalam larik-larik puisi Salam Damai: Sebab begitu lama kita dalam duka cita/ Oleh amuk serakah kaum pendurhaka/ Takluk di hadapan pembidik/ Dalam kokang senjata tak berjiwa//

Suara serak Fikar W Eda membacakan puisinya itu terasa menggetarkan dan begitu menyentuh. Penyair asal Aceh itu menyela Konser Aceh Damai yang menampilkan sejumlah penyanyi asal Aceh dan Jakarta. Syair Aceh yang biasanya diiringi rapa’i (perkusi) dan serune kale (seruling), malam itu tampil beda dalam simfoni orkestra. Konduktor sekaligus penata musiknya juga berasal dari Aceh, Muhammad Jafar Ali Puteh.

Jafar jelas bukan orang baru dalam permusikan di Indonesia. Ia pernah bermain pada beberapa orkestra, di antaranya Orkes Simfoni Jakarta.

Seperti biasa dalam pergelaran musik Aceh, pertunjukan dibuka dengan Peumulia, syair yang dinyanyikan untuk memuliakan setiap yang hadir. “Jangan sampai duduk di luar tikar yang sudah digelar,” begitu kira-kira terjemahan satu baris syair yang dinyanyikan dengan riang gembira oleh Yusdedi, penyanyi asal Aceh pesisir.

Sederetan penyanyi asal Aceh, seperti Falara Simeulu Gruop (Simeulu Ate Fulawan/Simeulu yang Kusayang), Kabri Wali dan Jassin Burhan (Aman/Damai), Adi Alfaisal yang dikenal sebagai Adi KDI (Aneuk Yatim/Anak Yatim), dan Fajar Sidiq (Ingat/Ingat).

Kemudian disusul penyanyi kawakan yang bukan orang Aceh tetapi membawakan lagu dari Aceh: Trie Utami (Dododaidi/Ninabobo), Franky Sahilatua (Sibijeh Mata/buah hati), Iga Mawarni (Tawar Sedenge/Tanah Leluhur), Iwan Zein (Trok Bak Watee/Hingga Tiba Saatnya), dan Lita Zein (Tuak Kukur/Kicau Burung).

Pesan damai

Majalah Acehkita menggelar Konser Aceh Damai tidak sekadar sebagai rangkaian peringatan ulang tahunnya yang ke-2. Majalah alternatif yang terbit sejak 19 Juli 2003 -tiga bulan setelah wilayah Aceh diberi status darurat militer- berpretensi menyuarakan pesan damai menyongsong penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 15 Agustus nanti.

Acehkita mula-mula muncul melalui situs acehkita.com (http://www.acehkita.com). Sebulan kemudian, terbit dalam bentuk majalah berita. Media ini sering dituding pro-GAM karena memaparkan fakta tentang Aceh secara blak-blakan. Kelahiran Acehkita dibidani oleh sejumlah jurnalis di Aceh dan Jakarta. Mereka gerah pada pemberitaan media umum tentang Aceh yang hanya bermain di permukaan.

Mula-mula reporternya hanya 10 orang dan terus bertambah menjadi lebih dari 20 orang ketika status darurat militer diperpanjang, November 2003. Menapaki tahun ketiga, kontributor Acehkita sudah mencapai 40 orang, umumnya adalah para jurnalis dari berbagai media yang bertugas di Aceh maupun di Jakarta.

Menurut Jauhari Samalanga dari bagian sirkulasi Acehkita, majalah itu dicetak sebanyak 8.000 eksemplar, belum termasuk 1.000 eksemplar edisi bahasa Inggris. Acehkita beredar di Aceh, Medan, dan Jakarta.

“Semoga Acehkita bisa berkontribusi mewujudkan perdamaian di Tanah Rencong,” ujar T Mulya Lubis, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Acehkita.

Melalui apresiasi seni, kata Mulya Lubis, Yayasan Acehkita ingin menarik dukungan khalayak yang lebih luas terhadap perdamaian di Aceh.

Sebagai puncaknya, akan digelar Rapa’i Pase (parade rebana) Uroh Taloe Rod di Nanggroe Aceh Darussalam, 7-8 Agustus 2005. Acara ini menampilkan 144 rapa’i yang ditabuh oleh 288 orang tanpa jeda, menempuh perjalanan sekitar 400 kilometer selama 24 jam. Rute yang dilalui mulai dari Banda Aceh ke Pidie, Bireuen, Lhok Seumawe, Panton Labu, Paya Deman, Idi, hingga Peureulak, kemudian kembali dan berakhir di Panton Labu.

Tabuhan rapa’i menyusuri pesisir utara itu agaknya menjadi simbol untuk mengalahkan suara bedil, yang belum juga berhenti menyalak di Aceh. (Nasru Alam Aziz)

Advertisements

Anugerah “Kompas” untuk Ratna Indraswari Ibrahim

  • Kompas: Rabu, 29 Juni 2005, halaman 12
Cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim menerima ucapan selamat dari Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo pada Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005, Selasa (28/6) di Bentara Budaya Jakarta. Ratna (duduk di kursi roda) menerima Anugerah Kesetiaan Berkarya dari Kompas atas kesetiaannya dalam menulis cerpen. (Kompas/pri)

JAKARTA, KOMPAS – Harian Kompas memberi Anugerah Kesetiaan Berkarya kepada penulis Ratna Indraswari Ibrahim. Saat yang sama, Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005 diberikan kepada Kuntowijoyo (alm) sebagai penulis cerpen Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana”.

Trofi untuk Ratna diserahkan oleh Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-40 Harian Kompas, Selasa (28/6) malam, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Adapun trofi penghargaan cerpen terbaik diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo kepada Susilaningsih, istri almarhum Kuntowijoyo. Penghargaan kali ini merupakan yang keempat bagi Kuntowijoyo, setelah menerima penghargaan serupa pada tahun 1995, 1996, dan 1997.

Di samping karya Kuntowijoyo, sembilan cerpen lainnya yang dimuat dalam tahun 2004 menjadi cerpen pilihan yang dibukukan dalam Jl. “Asmaradana”: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005. Cerpen tersebut adalah Kupu-kupu Seribu Peluru (Agus Noor), Senja Buram, Daging di Mulutnya (Radhar Panca Dahana), Belatung (Gus tf Sakai), Dari Mana Datangnya Mata (Veven Sp Wardhana), Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura (Sunaryono Basuki Ks), Bulan Terbingkai Jendela (Indra Tranggono), Baju (Ratna Indraswari Ibrahim), Daun-daun Waru di Samirono (Nh Dini), dan Roti Tawar (Kurnia Effendi).

Kesetiaan berkarya Ratna ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen, novelet, dan novel yang dihasilkannya sejak usia remaja hingga saat ini. Sejumlah cerpen karya perempuan kelahiran Malang, 24 April 1949, terpilih masuk dalam kumpulan cerpen Kompas.

“Menulis adalah proses belajar yang tak berkesudahan di tengah berbagai informasi yang berdengung di mana-mana. Di tengah budaya ‘autis’ yang membuat kita asyik dengan diri sendiri, cerpen tetap diperlukan,” kata Ratna di atas kursi rodanya.

Menurut Jakob, cerpen merupakan bagian yang esensial dari eksistensi surat kabar seperti Kompas, yang falsafahnya adalah kemanusiaan yang beriman, kemanusiaan yang serba dimensi, dan kemanusiaan yang peduli.

“Kalau surat kabar melaporkan kenyataan yang hidup di masyarakat lewat berita dan komentar, lewat cerpen sukma dari kenyataan itulah yang coba digambarkan,” ujarnya. (LAM)

Aceh dan Banten dalam Saman

  • Kompas: Selasa, 28 Juni 2005, halaman 12
Sarka Afandi (65) dan Sukma (45) melantunkan syair-syair saman Banten dengan iringan perkusi (rapa’i) dari Aceh, saat latihan akhir pekan lalu. Selasa (28/6) malam ini, Komunitas Nyawoung Aceh tampil berkolaborasi dengan kelompok zikir saman dari Banten di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). (Kompas/lam)

Salam alaikum warahmatullah. Jaroe dua blah ateuh jeumala.

Komunitas Nyawoung Aceh menyapa dengan salam khas Aceh. Salam yang mengawali lagu Meubri Salem itu sekaligus menjadi pembuka acara peluncuran buku Jl. “Asmaradana”: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005, Selasa (28/6) malam ini di Bentara Budaya Jakarta.

Peluncuran buku kumpulan cerpen yang diadakan Kompas sejak tahun 1992, kali ini terbilang unik. Komunitas Nyawoung Aceh yang mencoba memadukan nuansa musik tradisional Aceh pesisir yang vulgar dengan Aceh pedalaman yang lebih verbal. Perpaduan itu kemudian dikolaborasikan dengan zikir saman dari Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kelompok yang berdomisili di Desa Ciandur (sekitar 40 kilometer dari Serang, ibu kota Provinsi Banten) itu masih bertahan hingga saat ini dengan tradisi ritual saman.

Melalui kolaborasi ini mereka ingin menemukan benang merah antara saman Banten dan saman Aceh. “Aceh dan Banten punya marwah keislaman yang sama, dan itu bisa bertemu dalam saman,” kata Manajer Produksi Komunitas Nyawoung Aceh, Jauhari Samalanga.

Sementara bagi Dadan Sujana, Ko-Direktur Banten Heritage, kolaborasi itu merupakan pertemuan dua saudara kembar. Banten dan Aceh, menurut Dadan, sama-sama berangkat dari kesenian tarekat. Tradisi kesenian Banten dipengaruhi oleh tarekat Sammaniyah, sedangkan seni musik tradisional Aceh yang didominasi tabuhan rapa’i adalah pengaruh tarekat Rifa’iyyah.

Pertemuan Komunitas Nyawoung Aceh dan lembaga kajian kebudayaan Banten Heritage merupakan yang kedua. Mereka pernah membuat rekaman pada tahun 2003 untuk keperluan pendokumentasian musik tradisional Banten.

Kolaborasi Aceh-Banten

Setelah membukanya dengan Meubri Salem, Kandar SA sebagai representasi Aceh pedalaman dan Yusdedi dari Aceh pesisir secara bergantian menyanyikan Urang Uten (orang hutan), Nyawoung Geutanyo (nyawa kita ini), dan Nyang Na (apa adanya). Dibanding musik dari Aceh pedalaman, musik pesisir lebih kencang, beat-nya cepat, biasanya bertema patriotik, dengan cengkok vokal yang lebih kuat. Musik Aceh pedalaman lebih lembut dan melankolis.

Musik pesisir mengentak-entak bagai ombak pantai utara Aceh. Tabuhan rapa’i (perkusi) dan lengkingan serune kale (seruling) lebih dominan dalam musik pesisir. Adapun musik Aceh pedalaman mendayu-dayu mengikuti semilir angin Pegunungan Gayo.

Urang Uten karya To’et (meninggal tahun 2004) dibawakan dengan sangat energik oleh Kandar SA. To’et yang bernama asli Abdul Kadir adalah penyair tiga zaman yang menciptakan banyak puisi-puisi tradisional Gayo yang disebut didong. Urang Uten adalah semacam fabel yang bercerita tentang perebutan kekuasaan yang mengorbankan rakyat kecil. “Moral ceritanya, kalau seseorang tak becus sebagai pemimpin lebih baik mundur saja. Karena hanya akan menyengsarakan rakyatnya,” kata Kandar.

Komunitas Nyawoung Aceh tidak lupa mengenang mereka yang tersapu tsunami di Aceh enam bulan lalu, melalui lagu Nyawoung Geutanyo. “Lagu ini sebetulnya syair lama, akan tetapi sangat relevan untuk mengenang rekan-rekan seniman yang pergi bersama tsunami,” kata Jauhari yang akrab dengan sapaan Joe.

Berikutnya, melalui Nyang Na, Yusdedi mengajak untuk bersatu padu, tidak tercerai-berai. Dua nomor terakhir adalah hasil kolaborasi, yakni Wamolee dan Shalawat Banten serta Sikrak dan Saman Tolap Nabak.

Saman yang dikenal di Banten berangkat dari tarekat Sammaniyah, sebuah aliran modifikasi tarekat Khalwatiyah yang dibawa seorang ulama asal Madina bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman (wafat tahun 1771). Melalui tarekat ini, muncul keyakinan bahwa Syekh Samman dapat mentransfer kekuatan-kekuatan intervensi spiritual kepada para pengikutnya. Di Aceh, saman dapat ditelusuri dari Aceh Tenggara.

Secara empirik, kekuatan spiritual ini dipresentasikan melalui tarian rakyat yang kemudian dikenal sebagai saman. Namun demikian, sesungguhnya gerak-gerik magis itu hanya merupakan tampilan fisik dari kekuatan sesungguhnya yang bersumber pada zikir dan rateb Sammaniyah, yang dilantunkan dalam vokal melengking. Di Aceh, rateb saman dapat ditelusuri dari Aceh Tenggara.

Saman Banten yang dibawakan malam ini oleh Sarka Afandi (65), Sukma (45), dan Radi (31) hanya versi singkat. Mereka melantunkan shalawat nabi dan syair-syair saman dalam iringan syair dan melodi top daboh (debus) dari Aceh. (Nasru Alam Aziz)

Achdiat K Mihardja

  • Kompas: Minggu, 12 Juni 2005, halaman 16
Achdiat K Mihardja (Kompas/gsa)

LUAR biasa. Itulah ungkapan untuk menggambarkan penulis roman Atheis yang melegenda, Achdiat K Mihardja (94). Bukan saja karena romannya dicetak ulang 27 kali -tahun 1972 diterjemahkan dalam bahasa Inggris- atau pernah difilmkan dengan sutradara Sjuman Djaya (1974), tetapi juga karena ia masih berkarya di usia senjanya.

Ungkapan luar biasa digunakan sastrawan Taufiq Ismail dalam sambutan peluncuran kisah panjang (kispan) berjudul Manifesto Khalifatullah di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat, Selasa (7/7).

Kekaguman pun muncul dari rekan-rekan sastrawan, seperti Ramadhan KH dan Ajip Rosidi, yang berselisih usia lebih dari sepuluh tahun dari “Aki” -begitu Achdiat menyebut dirinya. “Saya saja sudah merasa sulit membereskan satu novel saya,” begitu Ramadhan (78) membandingkan dirinya.

Meskipun tidak dapat disebut sastrawan yang produktif, seperti diakui Aki, ia kembali menorehkan prestasi ketika sebagian besar rekan seusianya sudah tiada. Sepanjang sejarah sastra-budaya Indonesia, inilah satu-satunya pengarang yang masih menulis di usia hampir seabad. Karya terakhir sebelumnya, kumpulan dongeng Si Kabayan Manusia Lucu (1997).

Manifesto Khalifatullah bukanlah obsesi terakhir karier kepenulisannya. Ia sedang menyiapkan kumpulan tulisannya mengenai ketuhanan, filsafat, dan budaya berjudul Ki Separoh Plus Ki Setengah Sama Dengan Insan Kamil yang akan diterbitkan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Ia juga ingin menulis autobiografi. “Pikiran harus selalu digunakan agar tetap sehat,” kata sastrawan yang sejak tahun 1961 bermukim di Canberra, Australia, itu.

Sebutan Aki dipilih Achdiat untuk mengingatkan bahwa ia sudah tua. Ia tidak memilih sebutan kakek. Alasannya, “Enak kalau bunyinya Akiiiiii…begitu. Kalau kakek kelihatannya kurang enak saja (lalu tertawa).”

Di sela-sela kunjungannya di Jakarta, Achdiat masih mampu memenuhi permintaan wawancara khusus lebih dari dua media dalam sehari. Jalan pikirannya jelas, ingatannya kuat, pun masih mampu berjalan tanpa bantuan orang lain. Hanya saja, ia seolah tak bisa lepas dari tongkatnya.

Ditemui dalam dua kesempatan di hari yang berbeda, tak tampak kelelahan fisik yang berarti. Wajahnya tak berubah lelah, sesekali ia tertawa mengingat sesuatu yang berkesan. Kedua tangannya sering kali digerakkan untuk memberi penekanan. Apalagi ketika menjelaskan hal- hal menyangkut sekularisme dan ketuhanan.

Di kenangan bungsunya, Nuska Achdiat, ayahnya adalah pekerja keras, berego tinggi, pendebat, dan kutu buku sekaligus perenung.

***

APA aktivitas Anda di usia sekarang?

Ya menulis, membaca, dan merenung.

Tetapi mata ini sudah buta huruf sehingga sulit kalau tidak dibantu orang lain. Kadang-kadang pakai suryakanta, tapi slow. Tidak praktis.

Kondisi tubuh Anda tetap sehat, bagaimana menjaganya?

Itu urusan Tuhan. Tuhan beri kesehatan Aki. Supaya sehat, Aki mengingat soal makanan, gerak badan, olah pikir, merenung, dan tentu sembahyang. Bagaimana bisa punya pendirian dan gagasan kalau pikiran tidak jalan lagi? Alhamdulillah pikiran Aki masih sehat walafiat dan tetap beriman kepada Tuhan.

Keimanan Aki yang kuat menyuruh Aki sebagai khalifatullah, wakil Tuhan di muka bumi ini, untuk menjalankan perintah-Nya dan mengelakkan yang dilarang.

Ada diet tertentu?

Biasa saja. Pagi sarapan cara Australia dengan corn flakes, sup, dan roti dua potong. Siang makan masakan Indonesia. Malam sandwich supaya enteng untuk perut. Buah juga teratur, reguler, terutama pisang. (Nuska yang duduk di sebelahnya menambahkan kalau ayahnya juga teratur minum vitamin seminggu tiga kali).

Selama wawancara berlangsung beberapa kali Achdiat memberi penekanan pada konsep khalifatullah, konsep yang katanya selalu ia renungkan. Konsep itu pula yang sedang disiapkannya dalam buku berikutnya.

Setelah Atheis (1949) dan Debu Cinta Bertebaran (1973), kenapa baru muncul Manifesto Khalifatullah? Tidakkah terlalu lama?

Aki kebetulan saja tidak produktif. Aki banyak membaca dan merenungkan soal-soal keagamaan dan buku-buku filsafat. Kalau Aki membuat karya, itu adalah sesuatu yang pasti penting. Tidak usah cepat-cepat berproduksi. Memang panjang jedanya, tetapi Aki berpendirian jangan asal menulis. Harus ada arti dan pesannya. Itulah hasilnya, Atheis, Debu Cinta Bertebaran, dan Manifesto Khalifatullah. Apa pentingnya? Bagi orang Islam, manusia itu ditugaskan sebagai khalifatullah, wakil Tuhan di muka bumi. Karya berikut Aki tengah susun, kispan juga, mengenai insan kamil atau manusia sempurna.

Karya-karya Anda menonjol muatan religius. Apa yang memengaruhi?

Keluarga saya saleh, terutama ayah. Ia intelektuil meskipun sekolahnya rendah. Buku-buku koleksinya ada karya Shakespeare, Karl Marx, dan banyak lagi. Lengkap untuk dibaca. Aki juga mendengarkan perbincangan orang-orang tua, termasuk ngelmu mengenai agama dari paman-paman dan saudara-saudara Aki.

Sesudah di AMS, sekolah menengah, Aki lebih banyak bergaul dengan orang-orang berlatar belakang agama macam-macam. Bukan saja Islam, tapi juga dengan orang Kristen, Katolik, Buddha, filsuf, dan banyak lagi. Ayah saya heran, ini anak imannya tipis sekali, mudah terpengaruh ajaran lain, tapi ternyata enggak. Banyak juga sendi-sendi yang bagus dari agama-agama lain itu. Maka, di buku terbaru salah satunya Aki ceritakan juga tentang Siddharta.

Apa yang melatari pesan ketuhanan atau kedekatan manusia dengan Tuhan, seperti dalam karya-karya Anda itu?

Aki percaya Tuhan menciptakan manusia dengan tugas, yakni mewakili Tuhan menjadi manusia sempurna yang baik, bukan jahat. Dalam karya-karya itu Aki jelaskan keadaan dunia internasional sekarang sekularistis.

Kita menentang sekularisme karena menyepelekan soal ketuhanan dan menyemarakkan kerakusan. Pancasila itu artinya bekerja sama dan toleran, bukan saling bersaing, seperti yang dilakukan oleh negara- negara sekuler.

Kondisi sekarang sudah bertentangan dengan tugas manusia sebagai khalifatullah?

Semua bertentangan. Khusus bagi kita orang Indonesia, bertentangan juga dengan Pancasila. Bagi Aki, Pancasila adalah sebagai dasar demokrasi dan nasionalisme yang berlandaskan ketuhanan yang maha esa.

Sejak kapan Anda mempersiapkan Manifesto Khalifatullah?

Sudah lama itu. Soal agama sudah lama ada di jiwa, di kandung badan, dan sanubari. Menulisnya sih gampang, dua-tiga bulan selesai.

Bagaimana proses pengerjaannya?

Aki dibantu seorang typist di Kantor Kedutaan RI di Canberra. Namanya Siti Fatimah, ahli komputer. Itu yang diperbantukan kedutaan besar kita di Australia kepada Aki. Gratis lagi. Tanpa bantuan kedutaan besar dan bagian kebudayaan kedutaan kita di sana, buku itu tak mungkin terbit.

***

KHUSUS mengenai karya terbaru Anda, Ramadhan KH menilai kualitasnya masih di bawah Atheis.

Tidak bisa disamakan. Di bawah dalam arti apa? Karena ini kan soalnya lain, meski dasarnya sama. Ketuhanan, komunisme, atheisme, dan khalifatullah, lain toh. Khalifatullah itu menentang sekularisme yang semiatheis. Sekularisme menyatakan bahwa Tuhan itu boleh saja ada, tapi tidak berati apa-apa bagi manusia. Itu bedanya dengan komunisme yang tidak mengakui keberadaan Tuhan.

Titik pentingnya adalah pada manusia yang sifatnya rakus. Rakus kekuasaan dan rakus bendawi. Karena kerakusan manusia, timbul persaingan antarmanusia. Kemudian sampai pada tingkat ideologi politik dan ekonomi antarnegara, akhirnya timbul kekacauan di mana-mana. Kita sebagai negara Pancasilais berketuhanan tidak mau begitu.

Kritikan lain, struktur narasi Manifesto Khalifatullah tidak sebagus Atheis.

Terserahlah. Pokoknya memang beda. Kondisi zamannya dan persoalannya berbeda. Sebagai tulisan tidak bisa disamakan, itu menyangkut selera dan subyektif. Bagi Aki yang pokok adalah efektivitas penyampaian pesan. Ternyata Atheis efektif sekali, dan Manifesto Khalifatullah belum tentu tidak efektif, dalam arti mendapat perhatian. Bahasa itu punya arti, bergantung pada maknanya, ekspresinya, atau pelukisannya.

Wakil Tuhan atau khalifatullah itu maknanya indah sekali. Tanpa bahasa romantis seperti si cebol merindukan bulan, ketuhanan itu sendiri sudah indah. Bukan zamannya lagi karya dengan bahasa berbunga-bunga dan berkembang-kembang. Aki dengan Pujangga Baru tidak mau lagi berpantun-pantun, bersyair-syair. Maunya bahasa Indonesia yang zakelijk.

Apa yang memengaruhi proses kreatif Anda ketika menulis Atheis?

Latar belakang Aki adalah pendidikan dan sastra, Sastra Belanda dan Sastra Eropa. Modern sekali masa itu. Jadi kalau Aki dibilang seperti menyepelekan bahasa, itu tidak betul. Kembali kepada apa yang melatari lahirnya Atheis. Pengaruhnya macam-macam, termasuk dari berbagai buku yang Aki baca waktu itu. Aki yang sosialis tidak setuju dengan komunisme yang didengung-dengungkan Soekarno dalam Nasakom. Partai Aki sendiri, Partai Sosialis Indonesia, oleh Soekarno dihantam dan dikutuk. Aki tidak bisa betah dalam suasana begitu.

Zaman itu, komunis sangat besar pengaruhnya. Jadi Aki terpikir, kok begitu. Aki memikirkan soal ketuhanan supaya orang kembali kepada Tuhan. Kan kita punya Pancasila yang berketuhanan.

Anda puas hasilnya?

Sungguh luar biasa. Aki bangga. Itu rekor dan tidak tersaingi di Indonesia. Sudah dicetak ulang 26 kali. (catatan Kompas tercetak ulang 27 kali).

Oya, kami dengar Atheis membuahkan ancaman pembunuhan. Bagaimana ceritanya?

Ooo… dulu, sekitar 50 tahun lalu ada surat kaleng. Isinya mengancam Aki akan dibunuh, tapi Aki tidak takut. Buang saja surat itu, ignore saja karena Aki menganggap penulisnya pengecut. Padahal, bisa terus terang toh. Pengirimnya dari daerah Pekalongan, daerah Islam. Itu nyata kalau salah pengertian toh. Aki yang antiatheis antikomunis, justru dianggap pro-atheisme. Itu karena kebodohan dan penakut (lalu tertawa).

Sebelum menghasilkan Atheis, Achdiat aktif sebagai wartawan di harian Bintang Timur. Di sana ia menulis artikel, cerpen, atau tulisan kecil-kecil yang aktual. Meskipun sudah muncul angkatan Pujangga Baru, Achdiat belum mengenal para tokohnya. Hanya akrab dengan karya mereka.

Pada zaman Jepang, ia banyak membaca karya Multatuli yang anti- Belanda, seperti Max Havelaar. Saat itu, ia aktif membuat ceramah dan sandiwara radio. Ia pun menulis sajak-sajak yang menyindir Jepang, tetapi bentuknya seperti anti-Belanda dan Amerika.

Aktivitasnya dalam dunia kesusastraan dan kebudayaan membuatnya terlibat dalam penerbitan buku Polemik Kebudayaan (1948). Ia juga tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Bagaimana Lekra berdiri?

Lekra itu begini. Masa itu Belanda akan kembali lagi. Kami sebagai nasionalis tulen atau fanatik barangkali, melihat Chairil (Anwar) mulai dekat dengan orang yang kami curigai sebagai mata-mata Belanda. Mereka sudah mendirikan grup Gelanggang.

Kami berpikir itu harus ditendang, maka kami bersama MS Ashar, Kelana Asmara, dan seorang lagi yang Aki sudah lupa namanya mendirikan Lekra. Lembaga itu tidak ada hubungan sama sekali dengan komunis, tetapi justru untuk menentang ancaman masuknya kembali Belanda. Kami terperanjat ketika enam bulan kemudian, kok Lekra dijadikan onderbouw PKI. Kok jadi begini. Aki sebagai orang PSI, bukan PKI, tentu menentang itu.

Bagaimana Lekra sampai berbalik haluan?

Barangkali kawan-kawan kita itu ada yang PKI, seperti Kelana Asmara, Sanyoto, Lukman, atau Aidit sendiri. Teman-teman Aki memang ada yang pro-PKI.

Apa reaksi Anda kemudian?

Aki pindah ke Australia tahun 1960-an. Habis itu tidak ada aktivitas apa pun di Lekra karena Aki mengajar di sana. Keberadaan Aki di Australia pun ada idealismenya. Dalam arti, Australia dengan Indonesia kan negara bertetangga, masak tidak saling mengerti.

Anda kecewa Lekra ke PKI?

Ya, sampai sekarang. Karena ketika Aki dirikan tidak ada kaitan apa pun dengan komunis atau PKI. Paling-paling dengan religius sosialisme. Aki orang PSI yang di dalam anggaran dasarnya menyebut-nyebut ketuhanan dan mendukung Pancasila yang ada pasal ketuhanannya itu.

Dalam sambutannya di depan publik, Achdiat menekankan bila dirinya antisekularisme, antikomunis, dan antikedaerahan. Ia mengklaim beraliran sosialisme religius, seperti Bung Hatta.

Pilihan itu ditunjukkan dengan bergabung pada Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Sjahrir. Ia juga turut mendirikan perkumpulan Indonesia Muda ketika masih sekolah menengah (AMS) di Solo, Jawa Tengah. Konsepnya, mengurangi semangat kedaerahan seperti yang muncul dalam sebutan “jong-jong” seperti dalam Kongres Pemuda 1928.

Bagaimana Anda memandang kondisi global sekarang?

Yang terjadi sekularisme. Amerika itu kan negara sekularis yang seolah-olah anti-Tuhan, terutama politik luar negeri dan politik ekonominya. Kalau sebagai bangsa, yang Aki tahu selama belajar di Amerika, mereka itu church going. Artinya, suka beribadah ke gereja. Itu formalnya, tapi melalui kebijakan politik luar negeri dan ekonominya bisa dilihat sendiri.

Di Indonesia?

Kalau kita terlalu kacau moralnya. Korupsi dan sebagainya. Kalau ketuhanan tinggi, maka moral juga tinggi. Korupsi itu kan sama dengan antiketuhanan. Itu moral rendah. Memang sudah terjadi sejak masa lalu.

Apa seharusnya peran karya sastra Indonesia yang harus dimainkan di tengah kondisi semacam itu?

Maaf ya, sejak Aki tidak mengajar sastra di Australia, Aki tidak mengikuti sama sekali perkembangan sastra di Indonesia. Aki tidak tahu siapa ini, siapa itu sastrawan yang seharusnya menonjol. Bukan Aki kurang perhatikan, tapi kalau sudah tidak mengajar buat apa.

Yang bisa dilakukan saat ini semestinya besar toh, tapi tidak tahu sampai di mana pengaruh sastra budaya, ahli kebudayaan. Semestinya ada. Kalau tidak? Buat apa bergerak di kebudayaan dan sastra? Buat apa? Mesti ada pengaruhnya.

***

SEJAK tidak aktif mengajar dan ketiga anaknya mandiri, masa tua Achdiat dihabiskan berdua saja dengan istrinya, Tati Suprapti Noor. Ketiga anaknya tinggal di Sydney dan Jakarta. Sesekali ia bolak-balik Jakarta-Canberra.

Sejak tahun 1961, Achdiat memboyong keluarganya berpindah ke Australia. Ia menerima tawaran sebagai dosen di Australia National University (ANU) dan mengajar sastra dan budaya Indonesia.

Apa pertimbangan Anda hingga menerima tawaran ANU?

Aki mula-mula tidak mau. Tapi dipikir-pikir, sastra budaya itu kan ciri khas manusia Indonesia. Dan, kita bertetangga dekat. Jadi agar rukun dan damai mesti ada saling pengertian antartetangga, saling menghargai. Jadi Aki terima saja supaya Aki mengerti orang Australia dan mereka mengerti orang Indonesia lewat Aki yang mengajar di universitas.

Alasan kedua, saat itu Aki kurang betah di Indonesia karena ideologi Nasakom. Bagi Aki, itu bejat. Kita kan tidak bisa satukan atheis sama orang berketuhanan. Aki tidak enak hidup di negara yang hipokrit. Tidak cocok. Jadi terima saja tawaran mengajar di Australia sambil bangun saling pengertian.

Respons terhadap peristiwa tahun 1965?

Aki sedih karena clash-nya jadi bersenjata, saling bunuh. Mestinya kan bisa biasa saja, berunding atau toleran. Silakan atheis atau komunis, tapi jangan ganggu orang yang percaya Tuhan. Kalau tidak percaya go ahead, tapi ukurannya jangan mengganggu. Tapi kok jadinya bersenjata. Menyedihkan sekali.

Kapan pensiun dari ANU?

Aki tidak pensiun, tapi keluar karena perbedaan pendapat dengan pimpinan sekitar tahun 1972. Itu masalah personal. Dia berpendirian yang Aki anggap menentang prinsip Aki. Tidak bisa bekerja sama kalau begitu. Keluar saja.

Terus?

Tidak mengajar lagi, tapi sering diundang untuk memberi kuliah di Australia atau Papua Niugini untuk pelajaran sastra. Juga di Ohio University, Amerika Serikat. Begitulah.

Ada keinginan kembali ke Indonesia?

Ah, sudah kepalanglah. Bolak-balik saja.

Obsesi Aki sekarang?

(Sambil tertawa)…. Mengingat akan mati saja. Jadi Aki suka berpikir dan merenung, membaca soal kematian. Ada tulisan menarik dari seorang peraih Nobel tentang mati yang sempurna. Katanya, kalau kita hidup memuaskan dan sehat, pasti akan mati dengan baik. Dalam arti, tidak menderita ini-itu seperti Queen Elizabeth yang mati di tempat tidur.

Ya yang macam begitu dan tidak ada faktor kecelakaan, drug addict, dan alkohol. Bagi Aki, mati sempurna itu kalau lagi sekarat kita ingat sama Tuhan.

Pewawancara: Nasru Alam Aziz, Gesit Ariyanto

Pak Koh, Pram-mania dari Korea Selatan

  • Kompas: Jumat, 10 September 2004, halaman 12
Koh Young-hun (Kompas/lam)

“ANDA mencari Pak Koh? Mari saya antar,” seorang mahasiswa menawarkan diri untuk mengantar Kompas menemui Prof Dr Koh Young-hun. Di sebuah ruangan berukuran 2,5 x 5 meter di Kampus Hankuk University of Foreign Studies, Koh menyambut kedatangan Kompas.

Pak Koh -demikian ia disapa oleh mahasiswanya- adalah Ketua Jurusan Kajian Melayu-Indonesia (Department of Malay-Indonesian Studies) Hankuk University of Foreign Studies (HUFS). Maka, bukan sesuatu yang mengejutkan jika mendengar kefasihannya berbahasa Indonesia.

Dari ruang kerjanya di kawasan Imun, Kota Seoul, Korea Selatan, Koh tidak hanya memimpin Kajian Melayu-Indonesia. Dari sana Koh juga mengelola Pusat Kebudayaan Indonesia yang ia rintis bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sejak tahun 2001.

Terdorong untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan, Koh membiayai sendiri berbagai kegiatan dan menyewa sebuah tempat di dekat kantor KBRI. Berjalan setahun, tetapi tetap tidak ada dukungan berarti dari pihak Indonesia. Akhirnya ia memutuskan menarik kantor Pusat Kebudayaan Indonesia itu ke ruang kerjanya yang kecil dan disesaki buku-buku, yang sebagian besar berbahasa Indonesia dan Melayu.

Pusat Kebudayaan Indonesia menjadi ajang pengenalan budaya Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan dan diarahkan untuk membantu para tenaga kerja Indonesia jika menghadapi masalah di tempat kerjanya.

Januari lalu Pusat Kebudayaan Indonesia menggelar konser grup musik Dewa di Suwon, Provinsi Gyeonggi, untuk menghibur ribuan TKI yang bekerja di Korea Selatan. Koh mendapat sponsor dari beberapa perusahaan Korea Selatan yang menanamkan modal di Indonesia, tetapi ternyata itu tidak cukup.

“Saya merugi sekitar 40.000 dollar AS. Untung tidak sampai menjual rumah,” ungkap ayah dari Koh Byoung-seo (15) dan Koh Soo-min (13). Kedua anaknya itu adalah “representasi” Melayu-Indonesia -yang pertama lahir di Jakarta dan yang kedua lahir di Kuala Lumpur.

Meski berjalan sendiri dan harus merugi, Koh tidak jera. Ia bertekad tetap mempromosikan kebudayaan Indonesia dan mengabdikan hidupnya untuk Indonesia. Alasannya bersahaja, tetapi menyentuh. Katanya, “Sejak kuliah sampai sekarang saya berkecimpung dalam hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia. Saya bisa menjadi seperti ini karena Indonesia.”

***

KOH yang lahir di Jeonju -ibu kota Provinsi Jeollabuk, 27 September 1957, menyelesaikan pendidikan kesarjanaannya di Jurusan Kajian Melayu-Indonesia HUFS pada tahun 1981. Dari situlah ia mulai berkenalan dengan karya kesusastraan Indonesia, terutama karya-karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

Sebelum mengikuti wajib militer pada tahun 1983, Koh telah meraih gelar magister kesusastraan dari almamaternya, HUFS. Ia mengkaji novel Perburuan karangan Pramoedya.

“Ketika kuliah saya membaca sejumlah novel karya sastrawan Indonesia. Saya menyimpulkan bahwa novel-novel Pak Pram adalah karya kesusastraan Indonesia yang unggul dan berwibawa,” tuturnya.

Sejak itu ia terus mengkaji karya-karya Pramoedya, utamanya tetralogi Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988). Tetralogi ini, menurut Koh, adalah karya novel sejarah Indonesia yang membawa wawasan baru.

Mengkaji karya-karya tersebut bagi Koh sama dengan membicarakan dan menganalisis dunia dan alam pemikiran Pramoedya.

“Seorang novelis tidak hanya menyajikan kehidupan, melainkan juga intuisi dan tafsiran tentang kehidupan,” jelas Koh, yang menulis novel Kampus-ei Star-del (Bintang-bintang di Kampus). Sejak diterbitkan tahun 1983 novel yang mengisahkan seorang pemuda yang lari dari wajib militer itu telah tujuh kali dicetak ulang.

Tahun 1986 Koh sempat mengajar setahun di HUFS sebelum menempuh S2 di Malaysia dalam bidang teater Malaysia modern.

Semangatnya yang semakin meluap-luap untuk mengkaji karya Pramoedya membawanya ke Indonesia pada tahun 1988. Akan tetapi, keinginannya menempuh S3 di Indonesia kandas. Ketika itu, tidak seorang pun yang berani menjadi pembimbingnya di tengah gencarnya pelarangan karya-karya Pramoedya di bawah rezim Soeharto.

Selama dua tahun di Jakarta, Koh mengumpulkan bahan-bahan kajian tentang Pramoedya, sambil mengajar pada Pusat Studi Korea di Universitas Nasional. “Pengumpulan bahan untuk S3 saya banyak dibantu oleh Pak HB Jassin dan Pak Pram sendiri. Mereka adalah dokumentator yang luar biasa,” ujarnya.

Ia berhasil meraih gelar doktor di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, pada tahun 1993. Disertasinya kemudian dibukukan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dengan judul Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-novel Mutakhirnya (1996). Ia sedang menjajaki kemungkinan buku tersebut diterbitkan dalam bahasa Indonesia. “Buku saya itu ada juga di rak buku Pak Pram,” kata Koh bangga.

***

WAJAH cerah Koh tiba-tiba meredup begitu ia mulai bercerita tentang perjalanan hidup Pramoedya pada masa Orde Baru yang penuh tekanan. Ia mengungkapkan, betapa Pemerintah Indonesia pada masa itu menempuh berbagai cara untuk menekan Pramoedya, mulai dari pelarangan karya-karyanya sampai upaya diplomatik yang dilancarkan agar Pramoedya tidak memenangi hadiah Nobel.

Beberapa kali Pramoedya masuk nominasi penerima hadiah Nobel untuk bidang kesusastraan, tetapi tidak pernah berhasil. Menurut Koh, “Itu berkat intervensi Pemerintah Indonesia melalui diplomatnya di luar negeri.”

Selembar copy surat yang dikirim seorang sastrawan Indonesia kepada HB Jassin pada tanggal 5 Januari 1990 menjadi pegangan Koh. Dalam surat tersebut, menurut Koh, sastrawan itu menceritakan pertemuannya dengan seorang diplomat yang secara tidak sengaja mengungkapkan bahwa Pramoedya tidak bisa mendapat hadiah Nobel adalah karena keberhasilan diplomasi Indonesia.

“Saya menceritakan apa yang saya ketahui ini berdasarkan hasil analisis dan penelitian saya sebagai seorang sarjana. Bukan sekadar sebagai seorang yang pro Pak Pram,” tambahnya.

Pada ujung percakapan dengan Kompas, Koh menuliskan tiga alamat surat elektroniknya. Salah satunya, prammania@hanmail.net. Ia pun kembali tersenyum. (Nasru Alam Aziz)

Ziarah dalam Deru Mesin Diesel

  • Kompas: Kamis, 8 Juli 2004, halaman 9
MASJID TUA – Masjid Sultan Riau adalah salah satu bangunan bersejarah di Pulau Penyengat. Masjid ini dibangun pada tahun 1832 (1249 Hijriyah) atas prakarsa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman. (Kompas/lam)

MEMANDANG sebuah pulau di depan Kota Tanjung Pinang (Provinsi Kepulauan Riau), dalam jarak sekitar 1,5 kilometer, mata akan terfokus pada sebuah bangunan berwarna putih. Semakin dekat pompong (perahu bermotor) ke dermaga, semakin jelas wujud bangunan berkubah dengan menara pada empat penjuru.

Bangunan tua yang menjadi landmark Pulau Penyengat itu adalah sebuah masjid, yang dibangun pada tahun 1832 (1249 Hijriyah), atas prakarsa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman. Lanskap Pulau Penyengat agaknya akan tampak lebih alami andaikata tidak dibayang-bayangi sebuah menara telekomunikasi yang menjulang di belakang masjid.

Masjid Sultan Riau itu menyimpan ratusan koleksi naskah kuno beraksara Arab dan beberapa kitab suci Alquran tulisan tangan. Sayangnya, sebagian besar naskah tersebut dalam kondisi hancur karena udara lembab.

Dari masjid inilah pelancong memulai perjalanan wisata ziarah di pulau yang pernah menjadi pusat kebudayaan Melayu abad ke-19 itu.

***

PULAU Penyengat menarik wisatawan, terutama karena di sana pada masa lalu pernah tinggal 30-an pengarang Melayu. Salah seorang yang melegenda adalah pujangga Raja Ali Haji, yang mengarang Gurindam Dua Belas. Raja Ali Haji (1808-1873) dikenal sebagai tokoh yang pertama kali memelopori penyusunan tata bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia dan bahasa nasional di Malaysia dan Singapura.

Pengarang lainnya yang dilahirkan di pulau itu di antaranya adalah Raja Ahmad, Abu Muhammad Adnan, dan Khalid Hitam, serta sejumlah pengarang perempuan, seperti Aisyah Sulaiman Riau dan Khatijah Terong. Mereka menulis syair, tata bahasa, sejarah, hukum, politik, dan ekonomi.

Selain makam raja-raja, tiga istana, puluhan gedung dan percetakan, tersebar sejumlah parit dan benteng pertahanan di pulau seluas 3,50 kilometer persegi itu. Akan tetapi, tidak banyak di antara peninggalan sejarah itu yang dapat “dinikmati” pengunjung. Sebagian besar tidak terawat dengan baik, dan terkesan terabaikan. Pengunjung lebih banyak disuguhi reruntuhan bangunan yang tidak menampakkan tanda-tanda perbaikan.

Di antara bangunan yang kondisinya cukup memprihatinkan adalah gerbang dan Istana Marhum Kantor, Gedung Engku Bilik, dan Gedung Tabib.

Kerusakan bangunan-bangunan bersejarah di Pulau Penyengat sebetulnya terjadi setelah Sultan Abdul Rahman yang memerintah pada masa 1812-1832. Ketika itu, Abdul Rahman yang menolak politik kontrak dengan Belanda, lalu menyerukan masyarakat agar menghancurkan bangunan kerajaan dan meninggalkan pulau itu. Sultan sendiri mengungsi ke Singapura.

Sayangnya, sejak kehancurannya tidak pernah ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk sekadar menata kembali warisan budaya yang menyimpan kenangan sejarah itu. Suasananya pun semakin semrawut karena permukiman penduduk yang bersulam dengan situs-situs yang bertebaran.

Suasana paling tidak nyaman akan terasa saat berziarah ke makam Raja Ali Haji, yang berada di Kompleks Makam Engku Putri. Tepat di depan kompleks makam itu terdapat mesin pembangkit listrik tenaga diesel untuk menyuplai energi listrik di pulau ini. Sejak tahun 1997 pembangkit itu beroperasi 24 jam.

Kekhusyukan peziarah saat mengirimkan untaian doa ke alam barzakh, terusik deru mesin diesel yang tanpa jeda. Padahal, di situ sedang “beristirahat” Raja Hamidah (Engku Putri, Permaisuri Sultan Mahmud Shah III), Raja Ahmad (penasihat kerajaan), Raja Ali Haji (pujangga kerajaan), Raja Haji Abdullah (Yang Dipertuan Muda Riau- Lingga IX), serta sejumlah kerabat Engku Putri yang lainnya.

Penggalan Pasal Kelima Gurindam Dua Belas yang dipampang di depan makam Raja Ali Haji, seolah kehilangan makna di tengah deru mesin diesel. //Jika hendak mengenal orang berbangsa. Lihatlah kepada budi dan bahasa.// (Nasru Alam Aziz)

“Mirah dari Banda” Terbit Kembali

  • Kompas: Selasa, 3 Februari 2004, halaman 9 

JAKARTA, KOMPAS – Novel Mirah dari Banda karya Hanna Rambe, yang pernah diterbitkan UI Press pada tahun 1986, diterbitkan kembali oleh Indonesia Tera.

Novel sosio-drama, yang juga akan diterbitkan dalam versi bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation (Yayasan Lontar), diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, Sabtu (31/1).

Mirah dari Banda mengambil latar cerita di Pulau Banda, dan memaparkan sisi gelap tragedi kemanusiaan pada masa penjajahan. Banda sengaja dipilih oleh Hanna karena pulau elok itu menyimpan fakta sejarah tentang perkebunan pala terbaik pada masa lalu, sekaligus tempat perbudakan pada zaman penjajahan Belanda hingga Jepang.

Dalam novel ini digambarkan tentang fenomena kebiadaban penjajah yang menyisakan luka mendalam bagi generasi yang mengalami masa penjajahan tersebut. Ia mengingatkan betapa kuli kontrak oleh Belanda, kuli kerja paksa oleh Jepang (romusha), banyaknya perempuan Indonesia yang secara paksa dijadikan penghibur bagi tentara Jepang (jugun ianfu), atau simpanan Tuan Belanda (nyai) menjadi kenyataan pahit yang terpaksa dialami bangsa ini.

Banda sengaja dipilih oleh Hanna karena pulau elok itu menyimpan fakta sejarah tentang perkebunan pala terbaik pada masa lalu, sekaligus tempat perbudakan pada zaman penjajahan Belanda hingga Jepang.

“Saya memang bermaksud mengungkapkan kepada dunia tentang perbudakan, tentang jugun ianfu. Memang jugun ianfu banyak di Indonesia, tetapi kok enggak ada yang memperhatikan, enggak ada yang membela. Sebagai seorang penulis, saya hanya mampu melakukannya lewat novel,” papar Hanna.

Gambaran tentang situasi masa lalu Pulau Banda diperoleh Hanna bukan hanya dengan beberapa kali mengunjungi pulau itu. Hanna juga melakukan riset pada sejumlah perpustakaan di Belanda.

Pengarang Gerson Poyk mengategorikan Mirah dari Banda sebagai novel sejarah. “Cerita ini berlangsung dalam satu semangat ekses absolut penjajahan. Ini bukan novel akhirat, juga bukan novel aurat yang imajinasinya menjadi bagian dari libido,” kata Gerson Poyk.

Berikutnya: cengkeh

Hanna Rambe, yang lahir di Jakarta pada 23 November 1940, menghasilkan berbagai karya yang telah diterbitkan. Di antaranya, Terhempas Prahara ke Pasifik, Seorang Lelaki di Waimital, Mencari Makna Hidupku (Biografi Ibu Suyatin Kartowijono, Tokoh Emansipasi Hak Perempuan dari 1928), Pelayaran Cadik Nusantara, dan sebuah novel ekologi tentang kehidupan gajah di hutan-hutan Sumatera, Pertarungan.

Mantan jurnalis Sinar Harapan ini sedang menyiapkan sebuah novel tentang fenomena di perkebunan cengkeh. “Kita suka membangga- banggakan betapa subur dan kayanya alam Indonesia. Akan tetapi, kita tidak pernah merenungkan tentang pala, cengkeh, dan rempah-rempah lainnya, sekian ratus tahun diperdagangkan oleh orang-orang Belanda, Arab, dan Cina,” tuturnya. “Saya ingin mengajak untuk mencintai negeri yang kaya ini. Jangan jadi maling.” (LAM)