Seimons, Salomons, dan Entah Siapa Lagi…

  • Kompas: Kamis, 11 Agustus 2005, halaman 14
FERNANDO QUIKO menunjukkan Kali Cakung yang kondisinya tidak seperti dulu lagi, Kamis (28/7). Hingga tahun 1960-an, selain digunakan warga untuk mandi, cuci dan kakus, kali ini juga dijadikan sarana lalu lintas perahu yang akan menuju ke Kampung Tugu. (Kompas/jpe)

Kampung Tugu di dekat Tanjung Priok, Jakarta Utara, identik dengan gereja tua dan orkes keroncong. Memang hanya dua hal itu yang masih tampak nyata sebagai peninggalan keturunan Portugis yang bermukim di sana sejak lebih dari tiga abad lampau.

Selain Gereja Tugu dengan taman perkuburan di sisi kiri halamannya yang luas atau kelompok orkes keroncong, Anda akan kecewa jika datang ke Kampung Tugu untuk melihat sisa-sisa kebudayaan Portugis, yang mungkin dibawa oleh leluhur mereka pada masa awal dahulu, pertengahan abad ke-17.

Kehidupan sehari-hari masyarakat di Kampung Tugu sekarang ini tidak jauh berbeda dengan sudut-sudut Jakarta lainnya. Disesaki penduduk dari berbagai penjuru, dan warga keturunan Portugis berbaur -dan menjadi minoritas- di dalamnya. Mereka tinggal terpencar-pencar dalam radius sekitar lima kilometer dari persimpangan Semper hingga Jalan Cakung Cilincing Raya (Jalan Cacing).

Beberapa di antaranya masih tinggal di lahan yang sejak dulu ditempati orangtua mereka, seperti keluarga Andre J Michiels yang tinggal tidak jauh dari Gereja Tugu atau keluarga Martinus Cornelis yang rumahnya berada paling timur di seberang Jalan Cacing. Letak lahan mereka yang terpencar sejak dulu memang begitu. Pada mulanya, ketika orang-orang Portugis mendiami tempat itu pada tahun 1661, masih berupa rawa-rawa. Lalu mereka mengolah lahan menjadi sawah atau kebun.

Di samping bertani, keturunan Portugis di Kampung Tugu juga menangkap ikan di kali atau di laut. Mereka pun berburu babi hutan atau celeng di hutan-hutan sekitarnya. Hasil buruan mereka yang kemudian dibuat dendeng asin, yang dikenal sebagai dendeng tugu, kualitasnya tidak tertandingi.

Menurut orang-orang yang pernah mengecapnya, dendeng tugu sangat lezat dan sangat terkenal di Jakarta. Akan tetapi, kelezatan dendeng tugu itu kini tinggal cerita.

Meskipun demikian, kebiasaan berburu warga keturunan Portugis di Kampung Tugu masih berlangsung. “Di beberapa keluarga masih ada yang sering berburu,” kata Andre J Michiels (38) yang juga Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT).

“Kami tidak lagi berburu babi hutan, tetapi berburu musang di pinggiran Jakarta,” ungkap Arthur James Michiels (36), yang baru pulang berburu di Karawang pada Minggu (7/8) lalu. Arthur bersama adiknya, Milton Augustino Michiels, membawa pulang empat ekor musang yang lezat. “Selain karena tidak ada lagi babi hutan di sekitar Jakarta, kami tidak punya lagi senapan untuk berburu babi. Kami hanya menggunakan senapan angin,” tambah Arthur.

Bukan hanya dendeng asin yang telah hilang dari peredaran. Dodol tugu tidak lagi dijumpai, dan gado-gado khas Kampung Tugu sudah menjadi makanan langka. “Tidak ada lagi yang meneruskan pembuatan dodol tugu, kecuali gado-gado yang kadang-kadang masih dibuat di rumah,” tutur Andre.

Pesta perayaan

Sebagai daerah pertanian, kala itu Kampung Tugu memiliki tradisi pesta panen yang biasanya dilakukan setelah musim panen. Dalam pesta yang biasanya diadakan setiap bulan Agustus itu, warga menyisihkan sebagian hasil panennya, ternak, atau hasil kebunnya kepada gereja.

Gereja-melalui panitia yang dibentuk-kemudian menjual hasil panen itu dan hasilnya diserahkan untuk gereja. Dalam rangkaian pesta panen, diadakan lomba menembak oleh jago-jago tembak Kampung Tugu.

Di samping lomba menembak, biasanya diadakan pula lomba berburu di pantai utara Jakarta: mulai dari Marunda hingga Ujung Kerawang. Bahkan kadang-kadang diadakan di Ujung Kulon, Jawa Barat.

Lomba menembak dan berburu terkait erat dengan keberadaan orang-orang keturunan Portugis itu yang merupakan sisa tentara ekspedisi Portugis.

Seiring tergusurnya daerah pertanian dan perkebunan menjadi permukiman padat dan tempat usaha, warga Kampung Tugu tidak mengenal lagi pesta panen. Perayaan yang berasal dari tradisi masa silam yang masih tersisa adalah hari Natal, Tahun Baru, dan mandi-mandi. Itu pun tidak semeriah dahulu.

Hingga sembilan tahun lalu, masih ada keroncong keliling oleh anak-anak muda sambil mengunjungi rumah-rumah pada tengah malam Natal. Mereka menyapa setiap rumah dengan nyanyian dalam bahasa Portugis. Lalu saling bersalaman dengan tuan rumah.

Pesta Natal berlanjut dengan perayaan Tahun Baru, yang dimeriahkan dengan orkes keroncong. Mereka bermain musik, menyanyi, dan menari. Pada hari Minggu pertama setelah pergantian tahun, diadakanlah pesta mandi-mandi. Sekarang ini tidak ada yang basah dalam pesta mandi-mandi, sebab mereka hanya saling mengolesi bedak cair ke wajah. “Mandi-mandi adalah simbol saling membersihkan diri dan saling memaafkan,” jelas Andre.

KOMPLEKS PEMAKAMAN khusus “orang Toegoe” dan keturunannya di belakang Gereja Tugu, Kampung Tugu, Jakarta Utara. Foto diambil pada 28 Juli 2005. (Kompas/jpe)

Mati obor

Warga keturunan Portugis yang tinggal di sekitar Gereja Tugu diperkirakan kurang dari 100 keluarga dan sudah berdarah campuran. Menurut Andre, orang Kampung Tugu yang tergabung dalam IKBT, termasuk yang tinggal di luar Kampung Tugu atau daerah lainnya, masih sekitar 230 keluarga. Jumlah itu sebetulnya sangat kecil dibanding kemampuan mereka bertahan yang hampir empat abad.

Keportugisan mereka mulai pudar meski di tubuhnya tetap mengalir darah Portugis, karena mereka menganut sistem kekerabatan yang bersifat patrilineal. Banyak yang terpaksa melepas fam (nama keluarga) karena kawin dengan keturunan Sulawesi Utara, Maluku, Timor, Jawa, atau Tionghoa.

Pada mulanya terdapat belasan fam di Kampung Tugu. Namun karena faktor perkawinan campur tadi atau karena tidak memiliki anak laki-laki, beberapa fam tidak terpakai lagi. Kini hanya tersisa enam fam, yakni Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis.

“Terakhir, Seimons dan Salomons sudah mati obor, alias sudah padam,” ungkap Andre, yang dikaruniai tiga anak laki-laki dari perkawinannya dengan Rosalia Liliek Dewanti.

Tekad untuk meneruskan generasi Kampung Tugu di kalangan yang lebih muda, tercermin pada Johan Sopaheluwakan. Johan, yang sehari-hari sebagai guru di Sekolah Tugu Bhakti, memiliki garis keturunan Maluku.

Ia tetap bangga sebagai warga Kampung Tugu, meski tidak menggunakan fam Portugis karena terputus satu generasi. “Saya keturunan Quiko. Kelak jika saya punya anak laki-laki akan saya beri fam Quiko,” kata Johan dengan senyum optimistis.

Hidup dan matinya tradisi asli Kampung Tugu memang sangat bergantung pada masyarakat pendukungnya. Dan yang lebih menentukan lagi adalah seberapa kuat mereka menahan gerusan peradaban. (Nasru Alam Aziz, Johnny TG)

Advertisements

Mencoba Bertahan di Tanah Kelahirannya

  • Kompas: Rabu, 10 Agustus 2005, halaman 14
Andre J Michiels (38) sedang menikmati permainan biola anak sulungnya, Arend Stevanus Michiels (9). Demi keberlanjutan seni musik keroncong di Kampung Tugu, sejak dini Andre sudah mempersiapkan generasi penerus. (Kompas/lam)

Tampil dengan baju putih lengan panjang tanpa kerah dipadu dengan celana batik. Di kepala bertengger topi pet dan syal tebal melilit di leher. Itulah penampilan khas pemain musik keroncong tugu, khazanah kesenian yang sudah ada di Kampung Tugu sejak berabad lampau.

Kekhasan orkes keroncong tugu terkait dengan sejarahnya. Keroncong tugu dibawa oleh keturunan bekas tentara ekspedisi Portugis yang induk angkatan perangnya dipukul mundur oleh tentara Belanda pada akhir abad ke-16. Mereka adalah tawanan perang dari daerah yang diduduki Portugis pada masa itu, seperti Goa, Malabar, Coromandel, Bengal, Arakan, dan Malaka.

Orang-orang Portugis membawa musik keroncong ke Kampung Tugu sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Cikal-bakal musik keroncong itu kemudian dimainkan secara turun-temurun dan menyebar ke tempat- tempat lain di luar Kampung Tugu.

Keroncong Tugu menjadi inspirasi lahirnya Keroncong Kemayoran menjelang abad ke-20. Sinyo-sinyo Belanda pada masa itu mencoba memasukkan unsur jazz, yang menghasilkan keroncong dengan bunyi crong-crong yang lebih mendayu-dayu.

Kemudian, pada sekitar tahun 1950-an, berkembang pula langgam Jawa, yang dipopulerkan oleh kelompok Keroncong Irama Langgam pimpinan Sutedjo dan Orkes Keroncong Bintang Surakarta pimpinan Waldjinah.

Keroncong tetap terjaga dan bertahan karena kebutuhan masyarakat akan hiburan. Ketika itu belum ada gramafon, radio transistor, apalagi radio tape dan televisi. Sebelum memiliki alat musik organ, kebaktian di gereja juga diiringi musik keroncong.

Namun, sejak sekitar 14 tahun terakhir, keroncong tugu yang lahir dari masyarakat asli Kampung Tugu tidak lagi tampil dalam ibadat di gereja. Selain itu, ada lagu-lagu gereja yang agak sulit dimainkan dengan alat musik keroncong.

Menurut pemimpin Orkes Krontjong Toegoe, Andre J Michiels (38), warga muda Kampung Tugu memiliki tradisi bermain keroncong keliling sambil mengunjungi rumah-rumah warga pada malam Natal.

Biasanya pemilik rumah baru mau membuka pintu jika pimpinan rombongan telah mengucapkan salam berbahasa Portugis. Kebiasaan itu dimaksudkan untuk menghargai peristiwa keagamaan sekaligus untuk menurunkan tradisi berbahasa Portugis di kalangan anak muda.

Salam itu seperti berikut: Pisingku dia di Desember, nasedu di nos Sior jamundu Libra nos pekader unga ananti dikinta ferra asi klar kuma di dia unga anju di Sior asi grandi diallergria. Asi mow boso tar. Dies lobu Sua da bida cumpredae lampang kria so podeer, Santu Justru.

Terjemahannya kira-kira bahwa pada tanggal 25 Desember, Tuhan telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Juru Selamat, agar barang siapa yang percaya kepada Dia tidak binasa, melainkan mendapat hidup yang kekal, dan hendaklah kita dapat menaruh harapan kepada-Nya.

Sayangnya, tradisi yang bertahan lebih dari tiga setengah abad tidak lagi dilakukan sejak tahun 1996. Kebiasaan itu memudar karena sudah banyak orang Kampung Tugu asli yang pindah ke daerah-daerah lain, dan juga anak-anak mudanya nyaris tidak tertarik lagi dengan musik keroncong.

“Selain itu, keroncong keliling tidak lagi dilakukan demi menghormati warga lain,” ujar Andre, yang juga Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT).

Di kediamannya yang juga berfungsi sebagai kantor, Andre berusaha melestarikan keberadaan musik keroncong warisan leluhurnya dengan cara meneruskan pengelolaan grup musik Krontjong Toegoe. (Kompas/jpe)

Tantangan

Andre memandang, kurangnya kepedulian di kalangan anak muda Kampung Tugu terhadap musik keroncong merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi. Karena itu, ia masih tetap berupaya mengumpulkan beberapa orang untuk bergabung dalam Krontjong Toegoe, kelompok orkes yang pengelolaanya ia teruskan dari ayahnya.

“Saya mencoba mengumpulkan orang-orang Tugu agar kelompok ini tetap hidup dan bertahan di tempat kelahirannya. Yang sulit sekarang ini adalah mencari pemain biola dari kalangan orang Tugu,” ungkap Andre, yang meyakini bahwa kelestarian keroncong tugu sangat bergantung pada kepedulian orang Tugu sendiri.

Upaya ini Andre jalankan karena mengemban amanat orangtuanya agar tetap menjaga dan melestarikan keroncong tugu. Ia sendiri saat kecil tidak berminat dengan musik keroncong. Akan tetapi, berkat bimbingan ayahnya-yang juga pemain keroncong-akhirnya Andre kecil tertarik juga dan kemudian mahir menyanyi dan memainkan alat musik keroncong.

Andre, yang sehari-hari menjalankan usaha transportasi truk kontainer, sedang menyiapkan anak sulungnya, Arend Stevanus Michiels, untuk meneruskan Krontjong Toegoe. Setahun terakhir, Arend yang baru berusia sembilan tahun dengan tekun mengikuti kursus biola. “Kelak ia yang akan meneruskan kesenian kebanggaan orang Tugu ini,” kata Andre bangga.

Di kalangan generasi yang lebih tua, pelestarian musik keroncong dimotori oleh Samuel Quiko (67). Ia mengelola kelompok Cafrinho Tugu, yang sebelumnya dijalankan oleh kakaknya, Yakobus Quiko. Kelompok Cafrinho Tugu maupun Krontjong Toegoe telah beberapa kali mewakili delegasi kesenian Betawi dari DKI Jakarta pada Tong Tong Fair di Den Haag, Belanda.

Dibanding Krontjong Toegoe yang mengutamakan pemain dari kalangan orang Kampung Tugu keturunan Portugis, Cafrinho Tugu lebih terbuka bagi orang luar sehingga anggotanya pun jauh lebih banyak. Anggota dan pengurusnya sekitar 40 orang.

“Cafrinho punya beberapa kelompok sehingga kalau ada yang mengundang bermain pada saat bersamaan masih bisa dilayani,” kata Samuel, yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya pada musik keroncong.

Mengandalkan hidup dari berkesenian memang tidak selamanya mudah. Apalagi, kata Andre, sering kali harus bermain untuk amal, bukan komersial. “Kalau main secara profesional, bayarannya harus realistis, karena persiapan untuk tampil tentu membutuhkan biaya,” tambah Andre.

Waktu terus berjalan, seiring dengan perubahan zaman yang terus berlangsung. Kampung Tugu adalah tempat lahir keroncong, dan di tempat itu pula nasib keroncong tugu ditentukan.

Masihkah akan terdengar nyanyian merdu di malam terang bulan? O, bi aki mienja amada. Mienja noiba. O, moleer bonito. Jo espara con esparansa. E canta cantigo Moresco (Oh, datanglah kekasihku. Calon istriku. Oh, juwita. Kumenanti penuh harap. Sambil bernyanyi lagu Moresco). (Nasru Alam Aziz, Johnny TG)

Terserak dalam Deru Truk Kontainer

  • Kompas: Selasa, 9 Agustus 2005, halaman 14
Jalan Tugu Raya kini menjadi jalur lalu lintas truk kontainer. (Kompas/lam)

Sekitar tiga kilometer dari Cilincing, dekat Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengikuti jalan yang terbentang lurus, Anda akan sampai pada sebuah jembatan tinggi. Sekitar dua kilometer kemudian, Anda akan menemui persimpangan jalan di sebelah kanan.

Mengikuti jalan yang agak sempit dan tak beraspal, di sebelah kiri akan tampak sebuah gereja kecil, dengan pekarangan luas ditumbuhi pepohonan. Di samping gereja, terdapat beberapa kuburan bercat putih dengan nisan berbentuk salib.

Catatan yang disadur dalam dokumen milik Fernando Quiko (58) itu menggambarkan bagaimana mencapai Gereja Tugu pada tahun 1950-an. Fernando adalah salah seorang warga Kampung Tugu keturunan Portugis generasi kesembilan, yang disapa sebagai Om Nyonyo oleh warga setempat.

Kini jalan yang terbentang luas itu telah menjadi semakin lebar dan berjalur dua arah, dikenal sebagai Jalan Cacing atau Jalan Cakung Cilincing Raya. Adapun jalan sempit yang tak beraspal tadi, sekarang adalah Jalan Tugu Raya, yang membentang hingga persimpangan Semper. Jalan ini menjadi jalur lalu lintas truk-truk kontainer yang sangat sibuk.

Menurut Fernando, hingga tahun 1960-an Kali Cakung yang mengalir membelah Kampung Tugu masih dimanfaatkan untuk mandi. Perahu-perahu yang ditumpangi dari Marunda dan Pasar Ikan masih ditambatkan di tepi sungai. Sekarang, sungai itu sudah mendangkal dan berlumpur.

Bahkan pada tahun 1940-an, kata Fernando mengenang, orang-orang dari luar Kampung Tugu banyak yang datang menikah di Gereja Tugu. Perahu yang ditumpangi rombongan pengantin diparkir di sungai, persis depan gereja.

“Posisi gereja yang menghadap ke Kali Cakung, bukan ke Jalan Tugu Raya, menunjukkankalau kali itu adalah lalu lintas yang ramai pada masa itu,” kata Samuel Quiko (67), juga warga Kampung Tugu keturunan Portugis, menambahkan.

Bagaimana dengan Gereja Tugu? Bangunan yang didirikan tahun 1744 dan ditahbiskan pada 29 Juli 1744 oleh Pendeta Mohr itu masih menjadi saksi sejarah kehadiran warga keturunan Portugis di sana. Gereja yang sekarang adalah bangunan ketiga, setelah dua sebelumnya -didirikan tahun 1678 dan 1737- yang dibangun dengan konstruksi kayu hancur. Di lokasi gereja terdahulu sekarang berdiri Gereja Katolik Salib Suci.

Kawasan Kampung Tugu sekarang adalah permukiman padat yang dikepung berbagai tempat usaha. “Dulu rumah-rumah ‘Orang Tugu’ berjarak sampai empat kilometer dan dipisahkan oleh tanah kosong atau kebun,” ungkap Samuel.

Lahan-lahan perkebunan telah berganti bangunan-bangunan semen, bengkel, dan tempat parkir truk kontainer. Keasrian lingkungan di masa lalu menyerah oleh kepulan debu dan sengatan matahari di siang hari.

Pada masa Gubernur Ali Sadikin, Kampung Tugu ditetapkan sebagai daerah yang dilindungi undang-undang. Monumen dan Gereja Tugu dijadikan cagar budaya. Namun demikian, radius 600 meter dari Gereja Tugu sebagai cagar budaya yang seharusnya terjaga kini nyaris terabaikan.

Asal-usul nama Tugu sendiri ada beberapa versi. Ada yang menyebutkan nama itu diambil dari tanda batas, dan ada yang berpendapat bahwa nama Tugu berasal dari kata Por Tugu Esa (Portugis). Versi yang banyak ditulis adalah berkaitan dengan ditemukannya sebuah prasasti (tugu) batu bertuliskan huruf Pallawa dari masa kekuasaan Raja Purnawarman.

Komunitas Kampung Tugu yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) secara rutin setiap bulan mengadakan pertemuan untuk mempererat tali persaudaraan. Pertemuan di rumah keluarga Martinus Cornelis, Minggu (7/8), diawali kebaktian. (Kompas/lam)

Keturunan Portugis

Kampung Tugu adalah sebuah sejarah yang panjang. Menurut Fernando, yang menyimpan penggalan-penggalan catatan warisan orangtuanya, pada mulanya Kampung Tugu dihuni sisa tentara ekspedisi Portugis yang tertinggal Jakarta ketika induk angkatan perangnya dipukul mundur oleh tentara kompeni Belanda pada akhir abad ke-16. Mereka berasal dari tawanan-tawanan perang dari daerah yang diduduki Portugis pada masa itu, seperti Goa, Malabar, Coromandel, Bengal, Arakan, dan Malaka.

Pada masa itu, mereka hidup terpencil di rawa-rawa bernyamuk ganas, dan hidup dari perburuan, pertanian, dan perikanan. Hingga generasi kesepuluh sekarang ini, tradisi berburu masih berlangsung.

“Kami masih sering berburu di pinggiran Jakarta. Di sekitar Kampung Tugu tidak ada tempat berburu yang tersisa,” kata Arthur James Michiels (36), yang baru pulang berburu musang di Karawang bersama adiknya, Milton Augustino Michiels, saat ditemui Kompas, Minggu (7/8).

Pada masa-masa awal, orang-orang Tugu melakukan perkawinan antarkalangan sendiri yang berbeda fam (nama keluarga), bahkan diwajibkan hingga akhir abad ke-19. Seiring dengan makin terbukanya lingkungan sosial mereka, perkawinan campuran pun dibolehkan. Mereka yang tadinya menjadi inti masyarakat, umumnya kawin dengan orang Sulawesi Utara, Maluku, Timor, Jawa, dan keturunan Tionghoa.

“Karena perkawinan campuran itu, secara fisik agak sulit mengenali seseorang itu keturunan Tugu atau bukan. Kecuali jika disebutkan famnya,” kata Samuel, yang beristrikan orang Jawa.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Batavia, tahun 1661, terdapat belasan fam yang hidup di Kampung Tugu. Kini hanya tersisa enam, yakni Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis. Tidak ada lagi Seimons, Salomons, Mayo, Da Costa, Kantil, atau lainnya.

Sebelum Perang Dunia II, di Kampung Tugu terdapat sekitar 60 keluarga, dan mulai bercerai-berai setelah perang kemerdekaan Indonesia. Mereka banyak yang pindah ke luar Kampung Tugu dan menetap di tempat lain di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Irian Barat alias Papua, dan Negeri Belanda.

Warga keturunan Portugis yang masih tinggal di sekitar Gereja Tugu diperkirakan kurang dari 100 keluarga. Menurut Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), Andre J Michiels, jumlah anggotanya yang terdata, termasuk yang tinggal di luar Kampung Tugu atau daerah lainnya, masih sekitar 230 keluarga. Jumlah itu sebetulnya sangat kecil dibanding kemampuan mereka bertahan yang hampir empat abad.

“Kami dalam wadah IKBT setiap hari Minggu pertama setiap bulan mengadakan pertemuan untuk mempererat kekerabatan,” kata Andre, yang mendapat tiga putra dari perkawinannya dengan Rosalia Liliek Dewanti. “Mereka yang tinggal di luar pun masih tetap menganggap Kampung Tugu sebagai kampung halamannya,” tambahnya.

Kampung Tugu sekarang adalah masyarakat heterogen, dan warga keturunan Portugis menjadi bagian di dalamnya. Seperti pada masa awal, mereka tinggal pada jarak berjauhan. Bedanya, mereka sekarang berada di tengah-tengah permukiman penduduk yang berasal dari berbagai suku dan agama. Tak terelakkan, mereka menjadi warga minoritas di kampung sendiri. (Johnny TG, Nasru Alam Aziz)

Mereka Bukan Sembarang Waria

  • Kompas: Rabu, 13 Juli 2005, halaman 14
Puang Upe melakukan tari spiritual yang disebut maggiri’ , diiringi tabuhan gendang. Ia menusukkan keris ke leher, pelipis, atau telapak tangan tanpa luka gores sedikit pun. Biasanya, inilah atraksi yang ditunggu-tunggu dalam setiap upacara bissu. (Kompas/lam)

Wa’ Matang (60-an), menghentak-hentakkan kakinya di lantai papan rumah panggung itu sambil menusuk-nusukkan keris ke telapak tangannya. Tabuhan gendang terus menderu ritmis, mempercepat detak jantung setiap yang menyaksikan aksi Matang.

Sejurus kemudian ia berputar dengan gemulai, lalu menusukkan kembali kerisnya. Kali ini lehernya yang kurus itu menjadi sasaran. Tak ada luka gores sedikit pun, apalagi tetesan darah dari tubuhnya.

Itulah maggiri’ (menusuk), tari spiritual kaum bissu yang sudah berusia ratusan tahun. Maggiri’ merupakan rangkaian dari prosesi upacara dalam tradisi Bugis kuno yang dilaksanakan para bissu, dan sampai hari ini masih bertahan meski jumlah bissu tinggal sehitungan jari di setiap kabupaten di tanah Bugis, Sulawesi Selatan.

Pada masa pra-Islam, di Kerajaan Segeri (Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Pangkep) saja jumlah bissunya 40 orang, sehingga disebut sebagai Bissu PatappuloE (Bissu Empat Puluh). Jumlah yang sama pada masa itu juga dikenal di Kerajaan Bone (sekarang Kabupaten Bone). Di antara Bissu PatappuloE terdapat bissu perempuan.

Kesaktian para waria Bugis itu bukan hanya terlihat saat maggiri’, melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap waria yang telah menjadi bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa ke depan. Dengan bahasa tersendiri atau basa to rilangi, bissu mampu berkomunikasi dengan para leluhurnya dari zaman baheula.

Dalam bahasa Bugis, waria disebut calabai. Kata ini berasal dari sala baine, yang artinya “bukan perempuan”. Mereka adalah lelaki dengan kondisi jasmaniah yang abnormal. Senang berpenampilan feminin dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini juga merupakan kebiasaan para wandu, yakni laki-laki dengan keadaan jasmaniah serupa tetapi belum menjadi bissu,” jelas Halilintar Lathief, antropolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM).

Para waria, termasuk bissu, mengaku lebih tertarik kepada laki-laki serta menganggap dan memosisikan dirinya sebagai perempuan. Namun demikian, dalam dokumen-dokumen resmi, seperti ijazah maupun KTP, mereka menuliskan jenis kelaminnya sebagai laki-laki.

Puang Upe punya pengalaman menarik ketika mengurus KTP dan menempelkan pas fotonya dalam pose berpakaian kebaya, dan tentu saja bersanggul.

“Pak Camat menolak menandatangani KTP saya karena fotonya perempuan, tapi jenis kelaminnya laki-laki,” katanya sambil tersipu- sipu.

Beberapa bissu memiliki arajang (pusaka yang dikeramatkan), yang menjadi media untuk berhubungan dengan leluhur. Puang Upe, bissu yang sangat terkenal di Segeri saat ini, menyimpan arajang di rakkeang (loteng rumah panggung). Setiap tamu yang datang ia hadapkan (mappangolo) ke arajang-nya.

Bissu perempuan yang terkenal di Desa Kanaungan -masih di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep)- Puang Temmi (60-an) atau Mak Temmi memiliki arajang yang “dirawat” secara turun-temurun. Arajang ditempatkan di sebuah kamar antara ruang tamu dan dapur.

“Saya keturunan ketujuh yang menerima wangsit untuk meneruskan arajang ini,” ungkapnya.

Puang Temmi sedang berkomunikasi dengan arwah leluhur di arajang yang ditempatkan dalam sebuah kamar. (Kompas/lam)

Arajang diletakkan di dalam palakka yang ditutupi kelambu. Pusaka itu berwujud sebilah keris dan batu-batuan. “Batu-batu ini bukan dibuat-buat tapi muncul dengan sendirinya. Ada yang muncul di sini, ada juga yang di tempat lain lalu saya mendapat wangsit melalui mimpi sehingga tahu lokasinya,” kata Mak Temmi sembari menunjukkan sebutir batu berbentuk telur.

Selama satu jam lebih Kompas di rumah Mak Temmi, perempaun yang dikenal sebagai sanro (dukun) itu kedatangan tiga tamu lainnya. Dua minta disiapkan upacara mappano (persembahan) sesajian karena tambaknya mendapatkan hasil yang baik. Satu lagi sekadar menyampaikan terima kasih, setelah saudaranya sembuh dari sakit yang diobati oleh Mak Temmi.

“Saya sudah tahu kalau akan kedatangan tamu dari jauh. Karena itulah tadi saya buru-buru pulang dari pasar,” katanya menyongsong kedatangan Kompas di kolong rumahnya. “Ada beberapa orang yang akan datang menemui saya hari ini, dan saya tahu ada satu yang datang dari jauh,” tambahnya.

Batu-batu pusaka Puang Upe (54) -yang juga di tunjukkan kepada Kompas– lebih unik lagi. Tidak kurang dari 10 butir batu seluruhnya berbentuk sesuatu benda, seperti kemiri, kerang, atau bentuk lainnya. Batu-batuan itu tersimpan dalam kopor besi bersama beberapa buku berisi naskah Bugis kuno. “Kalau tamu yang datang rezekinya kurang baik, kopor ini tidak akan mau terbuka,” kata Puang Upe.

Ia juga menunjukkan selembar kertas bergambar dua ular saling berpilin disertai penjelasan dalam aksara Bugis. “Ini namanya jimat naga sikoi. Kalau mau disenangi orang, terutama lawan jenis, pakai ini. Tapi tentu ada syaratnya,” tutur Puang Upe.

Setiap bissu punya kekuatan magis untuk memikat orang lain atau dalam khazanah Bugis dikenal sebagai cenning rara. Inilah yang digunakan para bissu ketika merias pengantin sehingga mempelai tampak anggun dan memesona.

Menjadi bissu

Bissu memperoleh kesaktian dengan berbagai jalan. Puang Upe misalnya, mendapatkan tuntunan untuk menjadi bissu sejak berusia 13 tahun.

“Sejak berusia belasan tahun saya sudah menyadari kelainan yang saya alami, dan saya mencoba untuk masuk seutuhnya ke wilayah itu. Maka saya datang berguru kepada bissu-bissu senior ketika itu, salah satunya Puang Matoa Sanro Seke’. Saya dinyatakan lulus sebagai bissu pada usia 21 tahun,” kata Puang Upe. Kini di Segeri ia duduk sebagai Puang Lolo (wakil dari Puang Matoa, pemimpin tertinggi bissu di suatu wilayah kerajaan).

Keberadaan bissu memang sangat erat kaitannya dengan keberadaan kerajaan pada masa lampau. Kedudukan seorang datu (raja) tidaklah sempurna tanpa kehadiran bissu. Bissu diibaratkan sebagai uang receh, yang jadi pembanding bagi uang yang lebih besar pecahannya.

Para bissu berperan sebagai penasihat raja. Pada masa pra-Islam mereka bisa dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno. Sebagai pelaksana dalam ritual kerajaan, bissulah yang menentukan hari baik untuk memulai sesuatu, seperti turun ke sawah atau membangun rumah. Sebelum pasukan berangkat perang misalnya, raja senantiasa berkonsultasi dengan para bissu.

Lain lagi cerita Khahar Eka, waria yang ditahbiskan menjadi bissu tahun 2003, setelah menjalani masa magang selama empat tahun pada bissu senior di Bola Arajang, rumah tempat penyimpanan pusaka yang dikeramatkan. Perjalanan spiritual Eka berawal dari beberapa mimpi saat masih duduk di bangku SMP.

“Tiga kali saya bermimpi bertemu lelaki tua berbusana serba putih yang menyuruh saya datang ke arajang. Saya tak berani ke sana. Melihat bissu-bissu itu saja sudah takut, karena cara berpakaiannya seperti perempuan tetapi wajahnya kekar-kekar. Setelah mimpi ketiga baru saya memberanikan diri,” kenang Eka, yang ditemui di rumahnya, di depan Pasar Segeri.

Pengalaman spiritual yang hampir sama juga dialami Syamsul Bahri, yang sehari-hari dikenal sebagai Angel. Ia mulai mendalami kehidupan bissu setelah tamat SMA hingga akhirnya ditahbiskan sebagai bissu pada tahun 2003. Puang Lolo Bone itu menceritakan, “Pada mulanya saya mencari bissu-bissu tua. Lalu saya mempelajari berbagai hal tentang bissu dan ritual-ritual bissu.”

Seorang waria baru dikategorikan layak menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian Puang Matoa atau Puang Lolo. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai bissu, ia harus menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan pada Arajang.

Waria yang akan dilantik menjadi bissu diwajibkan berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Setelah itu, bernazar (mattinja’) untuk menjalani irebba selama beberapa hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air.

Selama disemayamkan sesuai nazarnya, calon bissu dianggap dan diperlakukan sebagai orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang irebba. Setelah melewati upacara sakral itu, seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan.

“Kami beda dengan waria kebanyakan. Kami harus menjaga sikap, perilaku, dan tutur kata,” ucap Eka.

Ya, bissu memang bukan sembarang waria….

Yang Tersisa dari Peradaban Bugis Kuno

  • Kompas: Selasa, 12 Juli 2005, halaman 14
Sesajian dilabuh dalam sebuah upacara mattemmu taun di Desa Assuranjang, Pangkep, Sulawesi Selatan, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi yang diperoleh masyarakat setempat. (Kompas/lam)

Melintasi jalur Trans Sulawesi, sekitar 80 kilometer dari Makassar ke arah selatan, terlihat pemandangan dengan nuansa Bugis yang sangat pekat. Rumah-rumah panggung dengan bubungan atap mirip sirip-sirip ikan, dengan hamparan tambak di depannya. Di sana-sini tampak pohon-pohon lontar yang malas menyahuti godaan angin.

“Beberapa kilometer lagi kita akan sampai di Segeri,” kata salah seorang penumpang pete-pete (angkutan kota) yang ditumpangi Kompas dari Makassar. Segeri adalah salah satu kota kecamatan di Kabupaten Pangkep (Pangkajene Kepulauan), yang terletak di pesisir barat Provinsi Sulawesi Selatan.

Di tengah hiruk-pikuk kampanye pemilihan kepala daerah langsung pada suatu siang, dua pekan lalu, Kompas dipandu seorang bissu muda, Khahar Eka, menelusuri jalan pertanian yang seolah tak berujung. Kira-kira 20 menit perjalanan dengan sepeda motor, kami akhirnya tiba di sebuah desa berpenduduk sekitar 300 keluarga. Di Desa Assaurajang kami bertemu dengan Puang Lolo Segeri yang disapa sebagai Puang Upe, yang sedang menyiapkan penyelenggaraan upacara bissu (mabbissu) tahunan atau mattemmu taung.

Eka dan Puang Upe merupakan dua dari segelintir bissu yang masih berperan dalam setiap upacara bissu di Segeri. Padahal, pada masa lampau, ketika kerajaan masih memerintah, pernah hidup 40 bissu, yang dikenal sebagai bissu patappuloE.

Pada umumnya bissu adalah wadam (wanita-Adam) atau perempuan dari kalangan putri bangsawan tinggi. Bissu perempuan satu-satunya yang masih tersisa ialah Puang Temmi atau akrab disapa Mak Temmi. Sehari- harinya ia dikenal sebagai sanro (dukun) yang tinggal di Desa Kanaungan, Pangkep.

Setiap hari, Mak Temmi sibuk menerima warga yang datang dengan berbagai keperluan atau yang ingin melunasi nazar (tinjak). Saat Kompas bertandang, perempuan berusia lebih dari 60 tahun yang nyaris tidak pernah melepas rokok kereteknya itu kedatangan tiga orang “pasien”.

Puang Temmi sedang berkomunikasi dengan arwah leluhur di arajang yang ditempatkan dalam sebuah kamar. (Kompas/lam)

“Sureq Galigo”

Halilintar Lathief, antropolog dan dosen pada Universitas Negeri Makassar (UNM), menggambarkan bissu sebagai figur feminin dengan wajah licin seperti seorang kasim. Mereka adalah lelaki dengan kondisi jasmaniah yang abnormal. Senang berpenampilan feminin dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini juga merupakan kebiasaan para wandu, yakni laki-laki dengan keadaan jasmaniah serupa tetapi belum menjadi bissu,” jelas Halilintar, yang mendalami kehidupan para bissu.

Bissu diyakini berasal dari kata Bugis “mabessi” , yang berarti bersih. Tradisi transvestites itu sudah ada sejak ratusan tahun silam di tanah Bugis. Dalam naskah kuno (lontarak) Bugis, Sureq Galigo, disebutkan bahwa bissu pertama yang ada di bumi bernama Lae Lae. Sureq Galigo mengisahkan, Lae Lae diturunkan dari langit (manurung) ke Luwu bersama dengan Raja Luwu, Batara Guru, putra sulung Maharaja Agung dari Kayangan.

Menurut mitos dalam Sureq Galigo itu, Batara Guru turun dan keluar dari sebatang bambu. Keterasingan Batara Guru yang berasal dari boting langi’ (dunia atas) terobati dengan pertemuannya dengan We’ Nyelli’ Timo dari bori’ liung (dunia bawah). Keduanya bertemu dan hidup secara turun-temurun di ale kawa (dunia tengah).

Dari sinilah diyakini tradisi bissu berawal dan menyebar ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Selain di Luwu dan Segeri, beberapa bissu masih dapat dijumpai di Bone, Wajo, Soppeng, Pinrang, Sidenreng Rappang, Parepare, dan Makassar.

Sebagai to manurung, bissu dihargai oleh masyarakat Bugis karena memiliki banyak kelebihan dan pengetahuan, serta menguasai seluk-beluk adat-istiadat, silsilah keluarga. Masyarakat, terutama kalangan kerajaan, meminta berbagai petunjuk, pertolongan, ataupun berobat dan berguru kepada kaum bissu.

Saat berkomunikasi dengan para dewata atau di antara mereka, bissu menggunakan bahasa sendiri yang disebut basa torilangi atau bahasa orang langit. Para bissu meyakini bahasa tersebut diturunkan dari langit melalui dewata. Bahasanya memiliki kesamaan dengan bahasa yang digunakan dalam syiar-syair klasik bugis, La Galigo, yang mengetengahkan kehidupan Batara Guru beserta keturunannya di muka bumi ini.

“Bahasa suci” itu memungkinkan para bissu hingga kini masih dapat berhubungan dengan Batara Guru beserta para dewa dan roh-roh leluhurnya. Bissu menggunakan bahasa yang sama saat menghubungkan masyarakat dengan dewata, dalam upacara-upacara mabbissu.

Diberantas

Sistem kepercayaan masyarakat Bugis di masa silam itu dijalankan sesuai konsep dewa tertinggi atau To PalanroE. Sistem kepercayaan ini disebut juga attroirolong, yang secara harfiah berarti “mengikuti tata cara leluhur”. Melalui attoriolong, petunjuk-petunjuk normatif dalam kehidupan bermasyarakat diwariskan. Sampai saat ini, kepercayaan itu tidak benar-benar punah, meskipun masyarakat telah bersentuhan dengan agama Islam.

Halilintar mengungkapkan, kenyataan itu menjadi bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan para penganut agama-agama wahyu. Pada masa perjuangan DI/TII, tahun 1950-an, pasukan Kahar Muzakkar memberantas para bissu karena dianggap penyembah berhala dan tidak sejalan dengan syariat Islam. Ribuan perlengkapan upacara dibakar atau ditenggelamkan ke laut. Banyak dukun (sanro) dan bissu dibunuh, atau digunduli lalu dipaksa menjadi laki-laki normal.

Gelombang berikutnya datang pada 1965-1967. Melalui suatu operasi dengan sandi “Operasi Toba”, masyarakat menjadi anti terhadap praktik bissu. Para bissu dan mereka yang percaya akan kesaktian para arajang (pusaka) dicap sebagai komunis.

“Barang siapa yang menganggap arajang sebagai barang keramat berarti musyrik, dan bissu yang tertangkap harus memilih mati dibunuh atau menjadi penganut agama tertentu. Para bissu pun harus bersikap sebagai laki-laki normal, bukan waria,” jelas Halilintar.

Ia memperkirakan, para bissu yang masih tersisa hingga saat ini adalah generasi terakhir pewaris tradisi Bugis klasik.

“Komunitas bissu sudah tercerai-berai. Jumlah dan kualitasnya pun semakin menyusut dari hari ke hari,” kata Halilintar.

Di antara lembaran catatan sejarah peradaban Bugis kuno yang tersisa, bissu adalah salah satu bukti yang benar-benar hidup. Bissu mampu mengantar imajinasi ke belasan abad yang lampau, ketika Nusantara belum tersentuh pengaruh Islam. (Nasru Alam Aziz)

Segelas Air dan Seekor Ayam dari Leluhur

  • Kompas: Selasa, 12 Juli 2005, halaman 1
Ungkapan syukur atas hasil panen yang diperoleh keluarga Caco diwujudkan dalam upacara mattemu taung. Upacara ini hampir setiap tahun dilaksanakan warga Desa Assaurajang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Kompas/lam)

Hari masih sangat pagi di Desa Assaurajang yang dikelilingi hamparan sawah yang siap ditanami kembali. Namun, di rumah pasangan keluarga Caco-Rahmatiah warga mulai berdatangan.

Mereka mempersiapkan upacara yang dilakukan setiap tahun (mattemu taung) di desa itu sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan panen padi.

Tidak ada kesan meriah menyambut upacara itu. Padahal, prosesinya berlangsung sejak pagi hingga dini hari. “Ini hanya acara keluarga, tetapi seluruh warga ikut membantu. Warga datang dan menyumbangkan sesuatu, berupa bahan makanan atau tenaga,” kata Khahar Eka, salah seorang bissu penyelenggara upacara, di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Dalam tradisi Bugis kuno, setiap penyelenggaraan upacara dipimpin oleh bissu. Biasanya oleh bissu yang paling tua atau yang paling tinggi ilmu kebissuannya. Tiga orang bissu yang terlibat dalam upacara kali ini, selain bissu muda Eka, adalah Puang Upe yang juga menjabat sebagai Puang Lolo Segeri (wakil Puang Matoa Segeri) serta bissu Matang.

Rangkaian prosesi upacara diawali dengan mattedu arajang (membangunkan pusaka yang dikeramatkan). Puang Upe sebagai pemimpin upacara di depan arajang mengucapkan mantra dalam gemuruh tabuhan perkusi (genrang), mencoba berkomunikasi dengan dewata atau arwah leluhurnya.

Komunikasi dengan arwah leluhur untuk mendapatkan restu terus-menerus dilakukan sepanjang upacara pada saat-saat tertentu, yakni pada tengah hari (mattangasso), petang (mallabukesso), tengah malam (mattengngabenni), dan dini hari (maddenniari). “Setiap waktu tertentu selama upacara kami harus berkomunikasi dengan arajang,” ungkap Puang Upe (54).

Menjelang sore, lilin-lilin yang dibuat dari kemiri yang ditumbuk halus, pesse pelleng, mulai dinyalakan. Walasoji, semacam usungan terbuat dari bilah bambu, diisi penuh dengan berbagai penganan yang telah disiapkan sejak pagi oleh kaum perempuan. Isi paling penting dari walasoji adalah nasi ketan empat warna, merah, kuning, hitam, dan putih, yang menggambarkan empat unsur alam: api, udara, tanah, dan air. Kemudian ada ayam, buah-buahan, dan kue-kue tradisional Bugis. “Sesajian itu menjadi persembahan untuk leluhur sebagai ungkapan syukur,” kata Puang Upe.

Sesajian dilabuh dalam sebuah upacara mattemmu taun di Desa Assuranjang, Pangkep, Sulawesi Selatan, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi yang diperoleh masyarakat setempat. (Kompas/lam)

Saat senja mulai mengintip, walasoji diusung ke tengah sawah yang menghampar di belakang jajaran rumah penduduk. Melihat kedatangan iring-iringan, warga yang sedang menyiapkan penanaman padi berdatangan menyambut. Diiringi mantra-mantra, Puang Upe melepas sesajian itu ke sawah. Sisanya ditaruh di wadah yang dilapisi daun pisang, digantung pada pohon-pohon yang dianggap keramat (makerre’).

Setelah makan malam bersama, prosesi dilanjutkan dengan massanro. Terlebih dahulu bissu Matang, Eka, dan Puang Upe berganti pakaian di dalam kelambu yang digantung di tengah ruangan. Cukup lama, sekitar 45 menit, warga yang sudah berdatangan ke rumah Caco menunggu para bissu berdandan di balik kain tembus pandang.

Para bissu kemudian muncul dengan busana yang sangat feminin dengan warna-warna yang kontras. Alis menjadi lebih hitam, bibir bergincu, dan wajah berlapis bedak.

Warga berdatangan menemui para bissu untuk mengetahui peruntungan, kesehatan, atau berbagai hal yang dihasratkannya. Nasib seseorang akan terbaca pada lembaran daun sirih yang ia serahkan kepada sang bissu. (Kompas/lam)

Tiga bissu mengambil posisi duduk, lalu setiap tamu datang menghadap (mappangolo). Setiap tamu tampak menyodorkan beberapa lembar daun sirih yang disisipi selembar uang kertas Rp 1.000. Dari lembaran daun sirih yang telah dikibas-kibaskan di asap dupa, Puang Upe membaca nasib seseorang. Sebagian datang karena merasa sakit dan mohon kesembuhan.

Prosesi massanro itu berlangsung hingga sekitar pukul 21.00, lalu ketiga bissu kembali menghadap ke arajang yang ditempatkan pada sebuah bilik di ruang belakang dekat dapur. Setelah beristirahat sejenak dan memberi kesempatan kepada dua penabuh gendang untuk mempersiapkan diri, mereka menari dengan iringan gendang.

Makin lama ritme tarian makin cepat, kemudian para bissu menyelipkan kipas dan tiba-tiba mencabut kerisnya. Mereka berputar-putar, mengentak-entakkan kakinya di lantai papan, lalu menusukkan keris ke telapak tangan, pelipis, dan leher masing-masing. Atraksi yang dinanti-nantikan pada setiap upacara bissu ini disebut maggiri’ (menusuk).

Dalam keadaan bawah sadar, Puang Upe yang dikendarai oleh arwah leluhurnya itu terus mengoceh dalam bahasa Bugis. Ia mengingatkan kepada setiap orang agar terus memerhatikan dan memelihara tradisi itu.

“Jika kalian tidak menjagaku, maka kehidupan ini akan menjadi tidak seimbang,” begitu kira-kira ucapan sang leluhur.

Puang Upe memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit. Bissu memperoleh kemampuan itu biasanya melalui mimpi ataupun dengan mempelajarinya dari para bissu pendahulunya. (Kompas/lam)

Mulailah setiap orang dipersilakan satu per satu masuk ke bilik. Mereka masing-masing masuk dengan keyakinan sedang berhadapan dengan leluhur yang dapat mengabulkan segala hasratnya. Mereka tidak sekadar menggenggam tangan Puang Upe dan membisikkan sesuatu, tetapi beberapa orang juga datang dengan segelas air atau sesisir pisang untuk diberkahi. Bahkan ada yang menyodorkan ayam untuk dielus-elus agar membawa berkah.

Begitulah, hingga setiap warga berangsur pulang setelah lewat tengah malam. Keesokan harinya warga Desa Assaurajang kembali mengarungi kehidupan dengan spirit baru. Tradisi Bugis kuno itu masih berlanjut. (Nasru Alam Aziz)

Achdiat K Mihardja

  • Kompas: Minggu, 12 Juni 2005, halaman 16
Achdiat K Mihardja (Kompas/gsa)

LUAR biasa. Itulah ungkapan untuk menggambarkan penulis roman Atheis yang melegenda, Achdiat K Mihardja (94). Bukan saja karena romannya dicetak ulang 27 kali -tahun 1972 diterjemahkan dalam bahasa Inggris- atau pernah difilmkan dengan sutradara Sjuman Djaya (1974), tetapi juga karena ia masih berkarya di usia senjanya.

Ungkapan luar biasa digunakan sastrawan Taufiq Ismail dalam sambutan peluncuran kisah panjang (kispan) berjudul Manifesto Khalifatullah di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat, Selasa (7/7).

Kekaguman pun muncul dari rekan-rekan sastrawan, seperti Ramadhan KH dan Ajip Rosidi, yang berselisih usia lebih dari sepuluh tahun dari “Aki” -begitu Achdiat menyebut dirinya. “Saya saja sudah merasa sulit membereskan satu novel saya,” begitu Ramadhan (78) membandingkan dirinya.

Meskipun tidak dapat disebut sastrawan yang produktif, seperti diakui Aki, ia kembali menorehkan prestasi ketika sebagian besar rekan seusianya sudah tiada. Sepanjang sejarah sastra-budaya Indonesia, inilah satu-satunya pengarang yang masih menulis di usia hampir seabad. Karya terakhir sebelumnya, kumpulan dongeng Si Kabayan Manusia Lucu (1997).

Manifesto Khalifatullah bukanlah obsesi terakhir karier kepenulisannya. Ia sedang menyiapkan kumpulan tulisannya mengenai ketuhanan, filsafat, dan budaya berjudul Ki Separoh Plus Ki Setengah Sama Dengan Insan Kamil yang akan diterbitkan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Ia juga ingin menulis autobiografi. “Pikiran harus selalu digunakan agar tetap sehat,” kata sastrawan yang sejak tahun 1961 bermukim di Canberra, Australia, itu.

Sebutan Aki dipilih Achdiat untuk mengingatkan bahwa ia sudah tua. Ia tidak memilih sebutan kakek. Alasannya, “Enak kalau bunyinya Akiiiiii…begitu. Kalau kakek kelihatannya kurang enak saja (lalu tertawa).”

Di sela-sela kunjungannya di Jakarta, Achdiat masih mampu memenuhi permintaan wawancara khusus lebih dari dua media dalam sehari. Jalan pikirannya jelas, ingatannya kuat, pun masih mampu berjalan tanpa bantuan orang lain. Hanya saja, ia seolah tak bisa lepas dari tongkatnya.

Ditemui dalam dua kesempatan di hari yang berbeda, tak tampak kelelahan fisik yang berarti. Wajahnya tak berubah lelah, sesekali ia tertawa mengingat sesuatu yang berkesan. Kedua tangannya sering kali digerakkan untuk memberi penekanan. Apalagi ketika menjelaskan hal- hal menyangkut sekularisme dan ketuhanan.

Di kenangan bungsunya, Nuska Achdiat, ayahnya adalah pekerja keras, berego tinggi, pendebat, dan kutu buku sekaligus perenung.

***

APA aktivitas Anda di usia sekarang?

Ya menulis, membaca, dan merenung.

Tetapi mata ini sudah buta huruf sehingga sulit kalau tidak dibantu orang lain. Kadang-kadang pakai suryakanta, tapi slow. Tidak praktis.

Kondisi tubuh Anda tetap sehat, bagaimana menjaganya?

Itu urusan Tuhan. Tuhan beri kesehatan Aki. Supaya sehat, Aki mengingat soal makanan, gerak badan, olah pikir, merenung, dan tentu sembahyang. Bagaimana bisa punya pendirian dan gagasan kalau pikiran tidak jalan lagi? Alhamdulillah pikiran Aki masih sehat walafiat dan tetap beriman kepada Tuhan.

Keimanan Aki yang kuat menyuruh Aki sebagai khalifatullah, wakil Tuhan di muka bumi ini, untuk menjalankan perintah-Nya dan mengelakkan yang dilarang.

Ada diet tertentu?

Biasa saja. Pagi sarapan cara Australia dengan corn flakes, sup, dan roti dua potong. Siang makan masakan Indonesia. Malam sandwich supaya enteng untuk perut. Buah juga teratur, reguler, terutama pisang. (Nuska yang duduk di sebelahnya menambahkan kalau ayahnya juga teratur minum vitamin seminggu tiga kali).

Selama wawancara berlangsung beberapa kali Achdiat memberi penekanan pada konsep khalifatullah, konsep yang katanya selalu ia renungkan. Konsep itu pula yang sedang disiapkannya dalam buku berikutnya.

Setelah Atheis (1949) dan Debu Cinta Bertebaran (1973), kenapa baru muncul Manifesto Khalifatullah? Tidakkah terlalu lama?

Aki kebetulan saja tidak produktif. Aki banyak membaca dan merenungkan soal-soal keagamaan dan buku-buku filsafat. Kalau Aki membuat karya, itu adalah sesuatu yang pasti penting. Tidak usah cepat-cepat berproduksi. Memang panjang jedanya, tetapi Aki berpendirian jangan asal menulis. Harus ada arti dan pesannya. Itulah hasilnya, Atheis, Debu Cinta Bertebaran, dan Manifesto Khalifatullah. Apa pentingnya? Bagi orang Islam, manusia itu ditugaskan sebagai khalifatullah, wakil Tuhan di muka bumi. Karya berikut Aki tengah susun, kispan juga, mengenai insan kamil atau manusia sempurna.

Karya-karya Anda menonjol muatan religius. Apa yang memengaruhi?

Keluarga saya saleh, terutama ayah. Ia intelektuil meskipun sekolahnya rendah. Buku-buku koleksinya ada karya Shakespeare, Karl Marx, dan banyak lagi. Lengkap untuk dibaca. Aki juga mendengarkan perbincangan orang-orang tua, termasuk ngelmu mengenai agama dari paman-paman dan saudara-saudara Aki.

Sesudah di AMS, sekolah menengah, Aki lebih banyak bergaul dengan orang-orang berlatar belakang agama macam-macam. Bukan saja Islam, tapi juga dengan orang Kristen, Katolik, Buddha, filsuf, dan banyak lagi. Ayah saya heran, ini anak imannya tipis sekali, mudah terpengaruh ajaran lain, tapi ternyata enggak. Banyak juga sendi-sendi yang bagus dari agama-agama lain itu. Maka, di buku terbaru salah satunya Aki ceritakan juga tentang Siddharta.

Apa yang melatari pesan ketuhanan atau kedekatan manusia dengan Tuhan, seperti dalam karya-karya Anda itu?

Aki percaya Tuhan menciptakan manusia dengan tugas, yakni mewakili Tuhan menjadi manusia sempurna yang baik, bukan jahat. Dalam karya-karya itu Aki jelaskan keadaan dunia internasional sekarang sekularistis.

Kita menentang sekularisme karena menyepelekan soal ketuhanan dan menyemarakkan kerakusan. Pancasila itu artinya bekerja sama dan toleran, bukan saling bersaing, seperti yang dilakukan oleh negara- negara sekuler.

Kondisi sekarang sudah bertentangan dengan tugas manusia sebagai khalifatullah?

Semua bertentangan. Khusus bagi kita orang Indonesia, bertentangan juga dengan Pancasila. Bagi Aki, Pancasila adalah sebagai dasar demokrasi dan nasionalisme yang berlandaskan ketuhanan yang maha esa.

Sejak kapan Anda mempersiapkan Manifesto Khalifatullah?

Sudah lama itu. Soal agama sudah lama ada di jiwa, di kandung badan, dan sanubari. Menulisnya sih gampang, dua-tiga bulan selesai.

Bagaimana proses pengerjaannya?

Aki dibantu seorang typist di Kantor Kedutaan RI di Canberra. Namanya Siti Fatimah, ahli komputer. Itu yang diperbantukan kedutaan besar kita di Australia kepada Aki. Gratis lagi. Tanpa bantuan kedutaan besar dan bagian kebudayaan kedutaan kita di sana, buku itu tak mungkin terbit.

***

KHUSUS mengenai karya terbaru Anda, Ramadhan KH menilai kualitasnya masih di bawah Atheis.

Tidak bisa disamakan. Di bawah dalam arti apa? Karena ini kan soalnya lain, meski dasarnya sama. Ketuhanan, komunisme, atheisme, dan khalifatullah, lain toh. Khalifatullah itu menentang sekularisme yang semiatheis. Sekularisme menyatakan bahwa Tuhan itu boleh saja ada, tapi tidak berati apa-apa bagi manusia. Itu bedanya dengan komunisme yang tidak mengakui keberadaan Tuhan.

Titik pentingnya adalah pada manusia yang sifatnya rakus. Rakus kekuasaan dan rakus bendawi. Karena kerakusan manusia, timbul persaingan antarmanusia. Kemudian sampai pada tingkat ideologi politik dan ekonomi antarnegara, akhirnya timbul kekacauan di mana-mana. Kita sebagai negara Pancasilais berketuhanan tidak mau begitu.

Kritikan lain, struktur narasi Manifesto Khalifatullah tidak sebagus Atheis.

Terserahlah. Pokoknya memang beda. Kondisi zamannya dan persoalannya berbeda. Sebagai tulisan tidak bisa disamakan, itu menyangkut selera dan subyektif. Bagi Aki yang pokok adalah efektivitas penyampaian pesan. Ternyata Atheis efektif sekali, dan Manifesto Khalifatullah belum tentu tidak efektif, dalam arti mendapat perhatian. Bahasa itu punya arti, bergantung pada maknanya, ekspresinya, atau pelukisannya.

Wakil Tuhan atau khalifatullah itu maknanya indah sekali. Tanpa bahasa romantis seperti si cebol merindukan bulan, ketuhanan itu sendiri sudah indah. Bukan zamannya lagi karya dengan bahasa berbunga-bunga dan berkembang-kembang. Aki dengan Pujangga Baru tidak mau lagi berpantun-pantun, bersyair-syair. Maunya bahasa Indonesia yang zakelijk.

Apa yang memengaruhi proses kreatif Anda ketika menulis Atheis?

Latar belakang Aki adalah pendidikan dan sastra, Sastra Belanda dan Sastra Eropa. Modern sekali masa itu. Jadi kalau Aki dibilang seperti menyepelekan bahasa, itu tidak betul. Kembali kepada apa yang melatari lahirnya Atheis. Pengaruhnya macam-macam, termasuk dari berbagai buku yang Aki baca waktu itu. Aki yang sosialis tidak setuju dengan komunisme yang didengung-dengungkan Soekarno dalam Nasakom. Partai Aki sendiri, Partai Sosialis Indonesia, oleh Soekarno dihantam dan dikutuk. Aki tidak bisa betah dalam suasana begitu.

Zaman itu, komunis sangat besar pengaruhnya. Jadi Aki terpikir, kok begitu. Aki memikirkan soal ketuhanan supaya orang kembali kepada Tuhan. Kan kita punya Pancasila yang berketuhanan.

Anda puas hasilnya?

Sungguh luar biasa. Aki bangga. Itu rekor dan tidak tersaingi di Indonesia. Sudah dicetak ulang 26 kali. (catatan Kompas tercetak ulang 27 kali).

Oya, kami dengar Atheis membuahkan ancaman pembunuhan. Bagaimana ceritanya?

Ooo… dulu, sekitar 50 tahun lalu ada surat kaleng. Isinya mengancam Aki akan dibunuh, tapi Aki tidak takut. Buang saja surat itu, ignore saja karena Aki menganggap penulisnya pengecut. Padahal, bisa terus terang toh. Pengirimnya dari daerah Pekalongan, daerah Islam. Itu nyata kalau salah pengertian toh. Aki yang antiatheis antikomunis, justru dianggap pro-atheisme. Itu karena kebodohan dan penakut (lalu tertawa).

Sebelum menghasilkan Atheis, Achdiat aktif sebagai wartawan di harian Bintang Timur. Di sana ia menulis artikel, cerpen, atau tulisan kecil-kecil yang aktual. Meskipun sudah muncul angkatan Pujangga Baru, Achdiat belum mengenal para tokohnya. Hanya akrab dengan karya mereka.

Pada zaman Jepang, ia banyak membaca karya Multatuli yang anti- Belanda, seperti Max Havelaar. Saat itu, ia aktif membuat ceramah dan sandiwara radio. Ia pun menulis sajak-sajak yang menyindir Jepang, tetapi bentuknya seperti anti-Belanda dan Amerika.

Aktivitasnya dalam dunia kesusastraan dan kebudayaan membuatnya terlibat dalam penerbitan buku Polemik Kebudayaan (1948). Ia juga tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Bagaimana Lekra berdiri?

Lekra itu begini. Masa itu Belanda akan kembali lagi. Kami sebagai nasionalis tulen atau fanatik barangkali, melihat Chairil (Anwar) mulai dekat dengan orang yang kami curigai sebagai mata-mata Belanda. Mereka sudah mendirikan grup Gelanggang.

Kami berpikir itu harus ditendang, maka kami bersama MS Ashar, Kelana Asmara, dan seorang lagi yang Aki sudah lupa namanya mendirikan Lekra. Lembaga itu tidak ada hubungan sama sekali dengan komunis, tetapi justru untuk menentang ancaman masuknya kembali Belanda. Kami terperanjat ketika enam bulan kemudian, kok Lekra dijadikan onderbouw PKI. Kok jadi begini. Aki sebagai orang PSI, bukan PKI, tentu menentang itu.

Bagaimana Lekra sampai berbalik haluan?

Barangkali kawan-kawan kita itu ada yang PKI, seperti Kelana Asmara, Sanyoto, Lukman, atau Aidit sendiri. Teman-teman Aki memang ada yang pro-PKI.

Apa reaksi Anda kemudian?

Aki pindah ke Australia tahun 1960-an. Habis itu tidak ada aktivitas apa pun di Lekra karena Aki mengajar di sana. Keberadaan Aki di Australia pun ada idealismenya. Dalam arti, Australia dengan Indonesia kan negara bertetangga, masak tidak saling mengerti.

Anda kecewa Lekra ke PKI?

Ya, sampai sekarang. Karena ketika Aki dirikan tidak ada kaitan apa pun dengan komunis atau PKI. Paling-paling dengan religius sosialisme. Aki orang PSI yang di dalam anggaran dasarnya menyebut-nyebut ketuhanan dan mendukung Pancasila yang ada pasal ketuhanannya itu.

Dalam sambutannya di depan publik, Achdiat menekankan bila dirinya antisekularisme, antikomunis, dan antikedaerahan. Ia mengklaim beraliran sosialisme religius, seperti Bung Hatta.

Pilihan itu ditunjukkan dengan bergabung pada Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Sjahrir. Ia juga turut mendirikan perkumpulan Indonesia Muda ketika masih sekolah menengah (AMS) di Solo, Jawa Tengah. Konsepnya, mengurangi semangat kedaerahan seperti yang muncul dalam sebutan “jong-jong” seperti dalam Kongres Pemuda 1928.

Bagaimana Anda memandang kondisi global sekarang?

Yang terjadi sekularisme. Amerika itu kan negara sekularis yang seolah-olah anti-Tuhan, terutama politik luar negeri dan politik ekonominya. Kalau sebagai bangsa, yang Aki tahu selama belajar di Amerika, mereka itu church going. Artinya, suka beribadah ke gereja. Itu formalnya, tapi melalui kebijakan politik luar negeri dan ekonominya bisa dilihat sendiri.

Di Indonesia?

Kalau kita terlalu kacau moralnya. Korupsi dan sebagainya. Kalau ketuhanan tinggi, maka moral juga tinggi. Korupsi itu kan sama dengan antiketuhanan. Itu moral rendah. Memang sudah terjadi sejak masa lalu.

Apa seharusnya peran karya sastra Indonesia yang harus dimainkan di tengah kondisi semacam itu?

Maaf ya, sejak Aki tidak mengajar sastra di Australia, Aki tidak mengikuti sama sekali perkembangan sastra di Indonesia. Aki tidak tahu siapa ini, siapa itu sastrawan yang seharusnya menonjol. Bukan Aki kurang perhatikan, tapi kalau sudah tidak mengajar buat apa.

Yang bisa dilakukan saat ini semestinya besar toh, tapi tidak tahu sampai di mana pengaruh sastra budaya, ahli kebudayaan. Semestinya ada. Kalau tidak? Buat apa bergerak di kebudayaan dan sastra? Buat apa? Mesti ada pengaruhnya.

***

SEJAK tidak aktif mengajar dan ketiga anaknya mandiri, masa tua Achdiat dihabiskan berdua saja dengan istrinya, Tati Suprapti Noor. Ketiga anaknya tinggal di Sydney dan Jakarta. Sesekali ia bolak-balik Jakarta-Canberra.

Sejak tahun 1961, Achdiat memboyong keluarganya berpindah ke Australia. Ia menerima tawaran sebagai dosen di Australia National University (ANU) dan mengajar sastra dan budaya Indonesia.

Apa pertimbangan Anda hingga menerima tawaran ANU?

Aki mula-mula tidak mau. Tapi dipikir-pikir, sastra budaya itu kan ciri khas manusia Indonesia. Dan, kita bertetangga dekat. Jadi agar rukun dan damai mesti ada saling pengertian antartetangga, saling menghargai. Jadi Aki terima saja supaya Aki mengerti orang Australia dan mereka mengerti orang Indonesia lewat Aki yang mengajar di universitas.

Alasan kedua, saat itu Aki kurang betah di Indonesia karena ideologi Nasakom. Bagi Aki, itu bejat. Kita kan tidak bisa satukan atheis sama orang berketuhanan. Aki tidak enak hidup di negara yang hipokrit. Tidak cocok. Jadi terima saja tawaran mengajar di Australia sambil bangun saling pengertian.

Respons terhadap peristiwa tahun 1965?

Aki sedih karena clash-nya jadi bersenjata, saling bunuh. Mestinya kan bisa biasa saja, berunding atau toleran. Silakan atheis atau komunis, tapi jangan ganggu orang yang percaya Tuhan. Kalau tidak percaya go ahead, tapi ukurannya jangan mengganggu. Tapi kok jadinya bersenjata. Menyedihkan sekali.

Kapan pensiun dari ANU?

Aki tidak pensiun, tapi keluar karena perbedaan pendapat dengan pimpinan sekitar tahun 1972. Itu masalah personal. Dia berpendirian yang Aki anggap menentang prinsip Aki. Tidak bisa bekerja sama kalau begitu. Keluar saja.

Terus?

Tidak mengajar lagi, tapi sering diundang untuk memberi kuliah di Australia atau Papua Niugini untuk pelajaran sastra. Juga di Ohio University, Amerika Serikat. Begitulah.

Ada keinginan kembali ke Indonesia?

Ah, sudah kepalanglah. Bolak-balik saja.

Obsesi Aki sekarang?

(Sambil tertawa)…. Mengingat akan mati saja. Jadi Aki suka berpikir dan merenung, membaca soal kematian. Ada tulisan menarik dari seorang peraih Nobel tentang mati yang sempurna. Katanya, kalau kita hidup memuaskan dan sehat, pasti akan mati dengan baik. Dalam arti, tidak menderita ini-itu seperti Queen Elizabeth yang mati di tempat tidur.

Ya yang macam begitu dan tidak ada faktor kecelakaan, drug addict, dan alkohol. Bagi Aki, mati sempurna itu kalau lagi sekarat kita ingat sama Tuhan.

Pewawancara: Nasru Alam Aziz, Gesit Ariyanto