Bertahan di Arus Deras Peradaban

  • Kompas: Kamis, 14 Juli 2005, halaman 14
Para bissu dengan segala atribut yang melekat pada mereka masih tetap bertahan dan mendapat tempat di tengah arus deras peradaban. Hanya saja, posisi dan peran para bissu itu kini tidaklah sepenting pada masa puncak kejayaan komunitas ini saat kerajaan-kerajaan Bugis pra-Islam berkuasa. Kini, para bissu seperti (searah jarum jam) Khahar Eka (kiri atas), Puang Upe, Daeng Tawero, Mak Temi, dan Angel harus berjuang agar bisa mempertahankan hidup sehari-hari. (Kompas/lam)

Masa kerajaan pra-Islam di tanah Bugis adalah masa kejayaan para bissu. Kaum transvestite Bugis ini memegang peranan yang begitu penting dalam kerajaan (addatuang), sehingga nyaris tidak ada kegiatan upacara ritual tanpa kehadiran bissu sebagai pelaksana sekaligus pemimpin prosesi upacara.

Kala itu, setiap ranreng atau semacam wilayah adat memiliki komunitas bissu. Maka di Kerajaan Segeri dan Kerajaan Bone dikenal komunitas bissu dengan sebutan Bissu PatappuloE (40 orang bissu). Pada setiap upacara ritual, ke-40 bissu itu harus hadir.

Dalam buku La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, Dr Gilbert Albert Hamonic, ahli naskah Bugis kuno dari Perancis, menyimpulkan bahwa bissu adalah segolongan kecil dalam masyarakat tapi posisinya cukup penting untuk jadi patokan dalam suatu wilayah yang cukup luas. Ia menyebut tradisi bissu sebagai tradisi agama dalam masyarakat Bugis kuno.

“Agama bissu rupanya mula-mula lahir dari upacara dan kepercayaan rakyat yang sangat kuno. Dalam perjalanan masa, kepercayaan orang biasa itu diubah oleh beberapa pengaruh tradisi lainnya- termasuk tradisi Hindu, Buddha, dan Islam- lalu diterima oleh kalangan bangsawan. Perkembangannya kemudian, agama itu dikembalikan lagi kepada masyarakat tempat ia lahir, tetapi telah mengalami perubahan dan seolah-olah merupakan agama eksklusif para bangsawan masa itu,” paparnya.

Sebagai “orang suci” atau pendeta agama Bugis kuno, bissu mendapat perlakuan yang sangat istimewa oleh istana kerajaan. Puang Matoa (pimpinan tertua bissu) diberi berhektar-hektar sawah yang pengerjaannya dilakukan secara bergotong-royong, dan hasilnya digunakan untuk membiayai upacara-upacara ritual dan kebutuhan hidup komunitas bissu selama setahun ke depan. Sawah yang disebut galung arajang itu sekaligus menjadi tempat upacara mappalili (pesta atau upacara ritual menandai dimulainya penanaman padi) atau acara ritual lainnya. Di samping itu, kaum saudagar, petani, atau bangsawan, secara pribadi senantiasa memberi sedekah kepada para bissu.

Setelah agama Islam masuk ke kerajaan-kerajaan Bugis, peranan bissu sebagai pendeta nyaris hilang karena upacara-upacara ritual tidak dibenarkan lagi. Peranan bissu semakin pupus ketika pemerintahan kerajaan beralih ke pemerintahan republik, seiring memudarnya peran lembaga-lembaga adat.

Dr Halilintar Lathief, antropolog yang mendalami kehidupan bissu, komunitas bissu sempat mengalami prahara yang memorak-porandakan seluruh pranata kebissuannya. Pada masa perjuangan DI/TII, gerombolan pimpinan Kahar Muzakkar melancarkan operasi penumpasan bissu. Ribuan perlengkapan upacara ritual bissu dibakar atau ditenggelamkan ke laut. Tidak sedikit bissu maupun sanro (dukun) dibunuh. Yang dibiarkan hidup digunduli lalu dipaksa menjadi laki-laki tulen.

“Sisa-sisa mereka yang selamat itulah bissu-bissu tua yang masih ada sekarang. Boleh dikatakan bissu mereka adalah generasi terakhir yang mewarisi kejayaan tradisi Bugis klasik,” kata Halilintar.

Menurut Halilintar, bissu bisa bertahan hingga saat ini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis kuno hingga sekarang ini masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasratnya.

Akan tetapi, tidak ada lagi perhatian dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup mereka. Tidak ada lagi galung arajang yang menjadi sumber kehidupan sepanjang tahun. Di Segeri, misalnya, sawah pusaka itu sudah beralih kepemilikan dan dijadikan tambak oleh mereka yang mengklaimnya sebagai tanah warisan.

Kini para bissu terpaksa membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan. Mereka menggantungkan hidup pada panggilan orang-orang yang menggelar upacara adat. Sebagian besar di antara mereka menjadi perias pengantin dan penyedia perlengkapan pesta-pesta perkawinan.

Bissu Khahar Eka (29) di Segeri memiliki usaha penyewaan perlengkapan pesta dan sekaligus berprofesi sebagai perias pengantin. Di sela kesibukannya melayani perkawinan yang terkadang menerima lebih dari lima panggilan dalam sehari, Eka menjahit dan membuat pernak-pernik kelengkapan pesta untuk dijual atau disewakan.

Pekerjaan yang sama ditekuni Angel (39), yang kini berkedudukan sebagai puang lolo atau wakil dari puang matoa (pemimpin bissu). Bissu bernama asli Syamsul Bahri ini termasuk salah satu perias pengantin yang laris di Bone.

Puang Matoa Bone, Daeng Tawero (H Maruddin Daeng Tawero) yang kini berusia lebih dari 60 tahun, kondisinya tidak lebih baik. Saat ditemui di rumahnya di Desa Galung, Kecamatan Ulaweng, sekitar 15 kilometer dari Watampone (ibu kota Kabupaten Bone), ia sedang terbaring lemah akibat sakit.

Perhiasan pengantin dan tumpukan pakaian tradisional Bugis di dalam empat lemari milik Tawero sudah terbalut debu karena sekian lama tidak pernah tersentuh. “Sudah banyak sekali perias pengantin. Mereka bukan bissu, tapi menguasai rias kecantikan modern,” kata Tawero dengan suara lirih.

Sementara itu, Puang Upe (54) yang kini sebagai Puang Lolo Segeri, dan bissu perempuan Puang Temmi (60-an) di Desa Kanaungan, Pangkep, hanya mengharapkan penghasilan dari orang-orang datang meminta berkah. Sesuai ketentuan adat, para tamu yang datang membawa beberapa lembar daun sirih yang disisipi lembaran uang kertas. Lipatan daun sirih itu menjadi pengantar untuk menghadapkan sang tamu ke arajang (pusaka yang disakralkan).

“Seperti terjadi di mana-mana, lambat laun upacara ritual bissu diarahkan untuk kepentingan atraksi pariwisata. Bahkan, bisa diadakan untuk kepentingan penggalangan massa oleh partai tertentu saat kampanye pemilu. Ritual yang dipertahankan keasliannya oleh orang-orang Bugis selama beberapa dekade itu pun mulai disisipi unsur-unsur baru,” kata Halilintar.

Tidak sedikit anak muda dan calabai (waria yang belum/tidak sampai pada tingkatan bissu) menggunakan kesempatan upacara mappalili sebagai ajang main-main. Lebih memprihatinkan lagi, beberapa kabupaten telah mengebiri fungsi dan peran komunitas bissu menjadi sekadar sebuah sanggar seni tari saja.

Pada akhirnya waktu yang akan menentukan hingga kapan komunitas bissu bisa bertahan di tengah arus deras peradaban yang berubah.

Tu Weiming: Hanya Tradisi Terbuka yang Bisa Bertahan

  • Kompas: Senin, 23 Mei 2005,┬áhalaman 9
DIALOG KONFUSIANISME – Ahli sejarah China dan filsafat konfusianisme, Prof Tu Weiming, berbicara dalam sebuah dialog tentang humanisme konfusian di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (21/5). (Kompas/lam)

JAKARTA, KOMPAS – Tidak ada tradisi yang dapat bertahan dengan menutup diri terhadap pengaruh tradisi lain. Agar tetap langgeng, suatu tradisi harus menjadikan dirinya sebagai peradaban yang terus-menerus belajar (learning civilization).

Hal itu dikemukakan Prof Tu Weiming, ahli sejarah China dan filsafat Konfusianisme dari Harvard University, dalam sebuah dialog di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (21/5). Weiming datang ke Indonesia untuk serangkaian seminar dan dialog di sejumlah perguruan tinggi atas undangan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof Azyumardi Azra, atas nama Komunitas Pemerhati Budaya dan Filsafat Timur.

Dialog bertema Modern Transformation of Confucian Humanism itu menghadirkan panelis Mulyadhi Kartanegara (UIN Syarif Hidayatullah), BS Mardiatmadja (Konferensi Waligereja Indonesia), HAR Tilaar (Universitas Negeri Jakarta), dan Chandra Setiawan (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia). Sedangkan Amsal Bakhtiar (UIN Syarif Hidayatullah), Nyoman Astawa (Sekolah Tinggi Agama Hindu), Abdul Mu’thi (Ma’arif Institute), Krishnanda Wijaya-Mukti (Lembaga Kajian Buddhayana), dan Mulyadi Wahyono (Sekolah Tinggi Agama Budha), sebagai penanggap.

Weiming mencontohkan konfusianisme sebagai tradisi yang tetap bertahan karena keterbukaannya terhadap tradisi spiritual lain. Keterbukaan serupa, menurut dia, dapat diterapkan pada tradisi spiritual lain.

Ia menguraikan bahwa tradisi konfusianisme awalnya hanya suatu budaya lokal, yang kemudian menjadi arus utama budaya China. Dari budaya China lalu menjadi manifestasi dari spiritualitas Asia Timur (Orient). Kini tradisi konfusianisme menyebar lebih luas ke Asia Tenggara, Asia Selatan, Amerika Latin, dan bahkan ke dunia Barat modern.

Keterbukaan melalui dialog di tengah pluralitas, menurut Weiming hanya salah satu dari tiga tantangan yang dihadapi tradisi konfusianisme, di samping masalah lingkungan hidup dan feminisme. Gerakan lingkungan hidup dan gerakan feminisme yang berkembang dari Barat dalam 50 tahun terakhir, telah membentuk pemahaman umat manusia mengenai pentingnya kemitraan. Ketiga tantangan tersebut sekaligus merupakan tantangan global.

Tradisi konfusianisme, kata Weiming, pada dasarnya adalah peradaban yang terus-menerus mengalami pembelajaran (learning). “Manusia sebagai individu harus belajar, keluarga harus belajar, organisasi harus belajar, bangsa harus belajar, dan komunitas global pun harus belajar. Dialog menjadi sangat penting dalam learning civilization. Dialog bukan sekadar menunjukkan toleransi, namun yang lebih penting adalah mengakui eksistensi pihak lain,” papar Direktur Harvard-Yenching Institute itu.

Menyinggung masalah lingkungan hidup sebagai salah satu tantangan global, Mulyadhi mengatakan bahwa manusia modern menjadi semakin teralienasi dari alam. Hal itu terjadi setelah mereka menciptakan jurang yang tak terjembatani antara keduanya, manusia sebagai subyek dan alam sebagai obyek.

“Dengan memandang alam sebagai obyek nafsu, manusia modern dengan sains dan teknologinya mendominasi alam dan mengeksploitasinya secara kasar untuk memenuhi tuntutan mereka yang terus-menerus meningkat. Akibatnya alam sekarang dalam proses kehilangan kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan ekologisnya,” kata Mulyadhi.

Kosmosentris

Ketua Umum Matakin Chandra Setiawan mengemukakan bahwa nilai-nilai kebijakan konfusian yang memberi sumbangan terhadap pembentukan etika global, mengingatkan umat manusia untuk menerima bahwa bumi adalah pusat dari alam semesta.

“Bumi adalah rumah kita dan kita bertekad mengawal bumi sebaik-baiknya, menjadi pemegang amanat Tian, Tuhan yang Maha Esa, yang dapat dipercaya dengan menjaga kesehatan, kepekaan hati, kecerdasan pikiran, jiwa yang senantiasa dibersihkan, dan semangat yang gemilang,” paparnya.

Dalam pandangan Weiming, pembelajaran menjadi diri sendiri dan menjadi manusia yang inklusif merupakan bagian dari proses transformasi dari antroposentris (menjadikan dirinya sebagai pusat) ke kosmosentris (menjadikan dirinya bagian dari alam semesta).

Tilaar menyimpulkan bahwa budaya produktivitas yang tinggi pada masyarakat China merupakan nilai-nilai yang lahir dari pandangan dunia yang kosmosentris. Dunia, alam sekitar, merupakan tantangan yang sekaligus harus dijaga keberlanjutannya untuk kehidupan manusia. “Kosmosentrisme ini menjadikan manusia sebagai titik tolak dalam hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tian,” jelas Tilaar.

Sedang Krishnanda mengemukakan, bagi konfusian hukum kodrat manusia tidak terpisah dari alam semesta, dan manusia adalah bagian atau konstituen dari alam semesta. Manusia harus berhubungan secara harmonis dengan alam.

“Jika merangkum ajaran Konfusius dalam satu kalimat saja, kita dapat menggambarkannya sebagai suatu tatanan sosial yang rukun dan bekerja sama dengan tatanan kosmis,” ujarnya. (LAM)

Rudjimin Ingin Tetap Jadi Koster

  • Kompas: Sabtu, 18 Desember 2004, halaman 6
Felix Rudjimin (Kompas/lam)

SORE itu Felix Rudjimin sedang bersantai di tempat tinggalnya, di samping Gereja Kristus Salvator, Jalan KS Tubun, Jakarta. Sebagai seorang koster, ia memang harus tinggal di dekat gereja.

“Rumah ini disiapkan oleh gereja, khusus untuk koster,” kata Rudjimin yang tinggal di rumah itu sejak tahun 1985. Sebelumnya, ia tinggal di pastoran.

Setiap pagi rutinitasnya dimulai di gereja pada pukul 05.30. Rudjimin menyiapkan peralatan liturgi, mulai dari lilin, piala, hingga pakaian pastor.

Selesai ibadah, ia merapikan kembali segala sesuatunya lalu melanjutkan dengan mengontrol kebersihan lingkungan gereja. Untuk urusan kebersihan halaman gereja, ia dibantu oleh seorang pekerja kebun, Paulus.

Tugas utama seorang koster sebetulnya hanya menyiapkan perlengkapan ibadah. Akan tetapi, ayah dari empat anak ini –anak bungsunya baru berusia 18 bulan– bekerja melebihi tanggung jawabnya. Baginya, seorang koster adalah mengurusi satu gereja.

Saban hari ia memastikan listrik tidak padam, lampu-lampu gereja menyala, dan sound system siap pakai. Lebih dari itu, ia juga dipercaya sebagai sopir pastor sejak tahun 1981.

Setiap hari Rabu dan Kamis ia mengantar pastor mengunjungi orang sakit ke rumah- rumah atau rumah sakit. Hari-hari lainnya ia habiskan di lingkungan gereja. “Hari-hari paling sibuk adalah Sabtu dan Minggu,” ujarnya.

Rudjimin akan lebih sibuk lagi menjelang hari besar, seperti Natal atau Paskah. Kesibukannya bertambah sejak tiga hari menjelang Natal atau sepekan menjelang Paskah.

Menjelang hari raya, ia harus memasang tenda dan tempat duduk untuk 1.300 anggota jemaat di halaman gereja sebab gedung gereja hanya menampung sekitar 1.200 orang. Pemasangan tenda dan kursi sebenarnya dikerjakan orang lain, tetapi tetap saja ia ikut terlibat.

Berapa penghasilannya sebagai koster, Rudjimin enggan mengungkapkan. “Kalau dibilang cukup untuk menghidupi keluarga, ya dicukup-cukupkanlah,” katanya.

Untuk menunjang biaya sekolah tiga anaknya –masing-masing kelas I SMA, kelas I SMP, dan kelas V SD– ia membuka kios rokok di depan gereja. Ia juga membuat dekorasi yang ditawarkan jika ada pesta perkawinan di aula gereja. “Saya tidak pernah berharap, tetapi selalu saja ada belas kasihan dari orang lain,” ungkapnya.

***

RUDJIMIN bekerja sebagai koster di Gereja Kristus Salvator sejak tahun 1977. Ketika itu ia tidak bercita-cita untuk menjadi koster.

Lelaki yang lahir 10 Februari 1959 itu hanya sempat menamatkan pendidikan formal di sebuah SD di tempat kelahirannya, Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Setelah putus sekolah selama empat tahun, ia melanjutkan di SMP, tetapi hanya hingga kelas II, lalu ia berhenti.

“Saya ke Jakarta dibawa oleh saudara sepupu. Rencananya untuk melanjutkan sekolah. Eh, malah nyangkut di sini, jadi koster,” kata sulung dari tujuh bersaudara itu.

Ia menyebut pekerjaannya sebagai koster adalah jalan hidup yang lebih baik. “Pekerjaan ini berhubungan langsung dengan ibadah. Di sini saya merasa sangat dekat dengan Yang Mahakuasa,” ungkap Rudjimin.

Oleh karena itu, ia berharap bisa tetap mengabdikan hidupnya sebagai koster meski kelak sudah melampaui masa pensiunnya di gereja itu. “Lima belas tahun lagi seharusnya saya pensiun, tetapi saya ingin tetap jadi koster,” ujarnya. (Nasru Alam Aziz)

Anak Jawara di Jalur Dakwah

  • Kompas: Sabtu, 20 November 2004, halaman 6
Muhammad Sanusi Said (Kompas/lam)

PENAMPILANNYA sangat sederhana, dengan baju koko dipadu celana warna gelap, Muhammad Sanusi Said (60) berdiri di balik mimbar. Hari Jumat pertama (19/11) setelah hari raya Idul Fitri, ia dapat giliran berkhotbah Jumat di Masjid Failaka, masjid mungil di Jalan Palmerah Utara, Jakarta Barat.

Pekerjaan sebagai mubalig itu ia tekuni sejak tahun 1986 ketika aktif dalam Korps Mubalig Yayasan Soutul Ummah. Meski demikian, semasa mudanya, sejak tahun 1965, ia sudah terlibat aktif dalam organisasi Pemuda Muhammadiyah.

Sehari-hari, dengan sepeda motor, ia berkeliling memenuhi undangan berceramah pada forum pengajian di masjid atau kompleks perumahan di kawasan Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. “Kalau lagi tidak ada undangan, saya di rumah saja,” ujarnya.

Di Yayasan Soutul Ummah, ia bersama 25 mubalig lainnya menggerakkan Divisi Dakwah, dengan menumpang tempat di sisi Masjid Failaka. Setiap Kamis dan Jumat ia bisa ditemui di tempat itu. Pada hari lain, waktu luangnya ia gunakan mengelola Yayasan At Taubah di Jembatan Lima, Jakarta Barat.

Sebagai keturunan Betawi asli, Sanusi lahir di Jembatan Lima, 21 Desember 1944. Ketika Kompas menanyakan tanggal lahirnya, ia mengeluarkan dompet untuk memastikan tanggal yang tertera di KTP- nya. “Saya tidak ingat tanggal lahir saya,” katanya.

Sanusi dibesarkan dalam keluarga yang ayahnya seorang jawara Betawi. Akan tetapi, ia tidak pernah berniat mengikuti jejak sang ayah. Selepas bangku SLTP, Sanusi lebih tertarik memperdalam pengetahuan keagamaan.

Pendidikan formalnya hanya sampai di bangku SLTP, dan tidak pernah mengikuti sekolah keagamaan semacam pesantren. Pengetahuan keislaman ia peroleh dengan rajin mengikuti ceramah-ceramah di masjid, membaca buku-buku agama, serta mengikuti perkembangan nasional melalui media massa.

***

SANUSI tidak pernah merasa prihatin dengan kehidupannya meski penghasilannya hanya bergantung pada infak dari orang-orang yang mengundangnya berceramah. Yang membuat prihatin ayah sepuluh anak (yang bungsu masih di Kelas III SLTP) itu justru situasi yang kian tidak menentu dan penuh godaan jahiliyah modern.

Menurut dia, berbagai krisis yang masih dirasakan hingga saat ini berakar dari krisis moral, yang terutama menjangkiti para elite politik. Maka, dalam khotbah Jumat kemarin, ia pun menyinggung masalah krisis moral. “Perekonomian nasional masih semaput, politik terus gonjang-ganjing diselimuti hawa panas, kondisi sosial makin morat-marit tak karuan, sementara akhlak dan moral insaniah anjlok ke titik paling rendah. Inilah saat kita merayakan Idul Fitri di tengah wajah kemasyarakatan yang bopeng-bopeng.”

Ia menjelaskan, semua manusia pada awalnya berada dalam keadaan fitrah. Namun, intervensi nilai-nilai jahiliyah serta ulah manusia itu sendiri, kebobrokan, kesesatan, dan segala jenis perilaku syaitoniah lainnya merajalela ke semua sektor kehidupan.

Watak syaitoniah itu, kata Sanusi, merebak ke kantor-kantor pemerintahan, istana para raja dan penguasa, pusat-pusat bisnis, lembaga-lembaga pendidikan, bahkan menyusup sampai ke tempat-tempat suci yang semestinya membuat orang tunduk dan patuh kepada Allah SWT.

Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis moral itu? Menurut Sanusi, harapan hanya dapat digantungkan kepada generasi muda. “Jalan satu-satunya adalah tarbiyah anak-anak muda melalui berbagai media dakwah, agar mengenal Islam sebagai ajaran moral, akhlakul karimah,” katanya dengan raut wajah serius. “Sepertinya sulit berharap kepada para elite untuk memberi contoh yang baik. Harus menunggu turunnya hidayah dari Allah kepada mereka.”

Sambil melangkah beriringan dengan Sanusi meninggalkan masjid di bawah rintik hujan, terngiang lirik lagu Iwan Fals yang ditujukan kepada “Presiden kami yang baru”. Masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri…. (Nasru Alam Aziz)

Jadi Dubes AS, Enak Enggak?

  • Kompas: Sabtu, 13 November 2004, halaman 6

BOCAH lelaki itu berdiri dengan mantap tanpa rasa canggung meski di depannya ada Duta Besar Amerika Serikat (Dubes AS) untuk Indonesia, B Lynn Pascoe. Ia malah melontarkan pertanyaan kepada Mr Pascoe, “Enak enggak, jadi Dubes Amerika?”

Yang ditanya tersenyum-senyum. “Sangat menyenangkan menjadi Dubes AS di Indonesia. Karena AS dan Indonesia, keduanya adalah negara besar,” tutur Pascoe.

Tanya jawab singkat itu berlangsung menjelang buka puasa di Panti Asuhan Hairun Nisa, Jakarta Selatan, Kamis (11/11).

Pascoe yang baru menjabat sebagai Dubes AS sejak 28 Oktober 2004 datang bersama istrinya, Diane, beserta Direktur USAID William M Frej dan General Manager Hotel JW Marriott John Jaskula.

Menyambung pertanyaan rekannya, seorang anak perempuan ingin mengetahui saat-saat paling menyenangkan bagi seorang dubes.

“Sangat menyenangkan menjadi Dubes AS di Indonesia. Karena AS dan Indonesia, keduanya adalah negara besar.”

“Ketika bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara,” jawab Pascoe singkat. “Bertemu dengan kalian semua adalah saat yang paling menyenangkan juga.”

Kedatangan Pascoe merupakan yang ketiga kalinya pejabat Dubes AS menghadiri buka puasa di panti asuhan yang membina sekitar 80 anak yatim piatu itu. Dua kunjungan sebelumnya dilakukan pendahulu Pascoe, Ralph L Boyce.

Panti asuhan yang dipimpin Lies Haryoso itu adalah salah satu dari ratusan lembaga yang dibantu oleh program bantuan pangan USAID sejak tahun 2000. USAID menyumbangkan beras, campuran gandum kedelai, dan minyak nabati bagi anak-anak panti asuhan itu.

Mereka juga mendapat bantuan buku-buku serta lemari es dan perlengkapan masak dari Hotel JW Marriott.

Menurut Frej, AS dan Indonesia memiliki nilai-nilai yang sama. Ramadhan mengajarkan pentingnya bersimpati, keadilan, kemurahan hati, dan perdamaian. Itulah yang membawa kita semua pada kebersamaan. (Nasru Alam Aziz)

Menanti Kemuliaan di Ujung Ramadhan

  • Kompas: Sabtu, 13 November 2004, halaman 6
ITIKAF- Sejumlah jamaah melakukan itikaf di Masjid Assalam, Sawangan, Kota Depok (Jawa Barat), pada penghujung Ramadhan tahun 2004 (1425 Hijriah). Sepuluh hari terakhir Ramadhan diyakini umat Islam sebagai saat-saat datangnya lailatulkadar atau malam kemuliaan. (Kompas/lam)

SEPULUH hari terakhir bulan Ramadhan diyakini oleh umat Islam sebagai saat-saat datangnya lailatulkadar atau malam kemuliaan. Bagi mereka yang mengharapkan berkah lailatulkadar, mengisi malam-malam terakhir itu dengan melakukan iktikaf, berdiam diri di dalam masjid.

Sejumlah masjid di Jakarta setiap Ramadhan dipadati muktakif (orang yang beriktikaf), seperti di Masjid Istiqlal, Masjid Sunda Kelapa, Masjid Raya Pondok Indah, dan Masjid At Tin. Masjid-masjid kecil juga didatangi warga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT di ujung Ramadhan.

Masjid Assalam, salah satu masjid di Desa Cinangka, Kecamatan Sawangan, Kota Depok (Jawa Barat), sejak hari ke-21 Ramadhan mengadakan kegiatan iktikaf pada malam-malam ganjil. Di masjid kecil yang jauh dari kebisingan kota ini, muktakif dengan tenang melakukan shalat sunah, berzikir, bertafakur, membaca Al Quran, mempelajari hadis dan perikehidupan Muhammad Rasulullah, serta mengucapkan shalawat, tasbih, tahlil, istigfar, hamdalah, dan takbir.

Secara etimologis, iktikaf berasal dari kata ‘akafa alaihi, artinya senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi atau setia terhadap sesuatu. Secara harfiah, iktikaf berarti tinggal berdiam diri di suatu tempat. Sedangkan secara syariah, kata iktikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa waktu, dengan maksud beribadah kepada Allah SWT. Iktikaf dapat dikerjakan kapan saja pada waktu siang atau malam hari, tetapi lebih dianjurkan dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Biasanya, selama berhari-hari muktakif mengasingkan diri dari segala urusan duniawi. Mereka menggantinya dengan kesibukan ibadah dan zikir. Iktikaf seperti dicontohkan Rasulullah adalah seseorang berserah diri kepada Allah SWT, menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT, dan bersimpuh di hadapan pintu anugerah dan rahmat- Nya.

Mastuki HS, salah seorang pengurus Masjid Assalam, kepada Kompas mengemukakan bahwa iktikaf dilakukan untuk meningkatkan intensitas ibadah. Iktikaf pada bulan Ramadhan merupakan suatu proses dari rangkaian ibadah yang dilakukan, yakni puasa pada siang hari dan ibadah malam pada hari-hari sebelumnya.

“Semangat iktikaf adalah meningkatkan intensitas ibadah. Di samping itu, iktikaf diharapkan dapat membentengi kita dari berbagai gangguan dan godaan duniawi, terutama menjelang Lebaran yang membawa kecenderungan konsumtivisme berlebihan,” tuturnya.

***

SECARA tradisional, iktikaf dipahami sebagai jalan untuk mencari berkah dari lailatulkadar dalam nuansa religius. Mereka yang memahami iktikaf secara tradisional biasanya membayangkan lailatulkadar ibarat bintang jatuh dari langit. Obsesi terhadap lailatulkadar memberi efek psikis, seolah hal itu adalah segala-galanya yang dapat memberi kekuatan luar biasa.

Sebagian pihak bahkan terjebak pada hal-hal yang sifatnya periferal, bukan yang spiritual. Mereka mengharapkan kedatangan lailatulkadar dengan penampakan secara fisik yang datang sekonyong-konyong.

Menurut Mastuki, iktikaf Ramadhan akan mendatangkan ketenangan batin kepada seseorang yang telah melakukan pergulatan batin selama Ramadhan. Sedangkan kedatangan lailatulkadar merupakan puncak dari pendakian spiritual yang dilakukan secara tepat dan sungguh-sungguh oleh seorang hamba Allah SWT selama sebulan Ramadhan.

“Seseorang yang mendapat lailatulkadar akan makin menguat keyakinan spiritualnya,” ujar mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Sementara itu, Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar HM Radhi al-Hafid memandang iktikaf sebagai suatu perenungan atau kontemplasi. Secara rasional, kata Radhi, iktikaf dapat diinterpretasi sebagai suatu proses ketika seseorang mendapatkan petunjuk yang kemudian dijabarkan dalam kemampuannya memperbaiki kehidupannya. Misalnya, seorang ayah, yang mendapatkan cara mendidik anak secara lebih baik.

Koordinator Badan Pengelola Harian (BPH) Masjid Al Markaz Al Islami Makassar itu menjelaskan, pada saat merenung dalam iktikaf itu, seseorang tiba-tiba mendapat kekuatan, yang diyakini sebagai malaikat yang datang membantu merumuskan pemecahan masalah sehari- hari yang dihadapi, dari yang ringan sampai berat.

Dalam surat Al Qadr diterangkan bahwa pada malam kemuliaan (lailatulkadar) itu turun malaikat dengan izin Tuhan-nya untuk mengatur segala urusan. “Ada kekuatan eksternal malaikat yang membantu kita melihat realitas yang tidak kasatmata. Tetapi, itu sangat bergantung pada kemampuan seseorang dalam membuat rumusan atau kemampuan berpikir,” katanya.

Isyarat yang paling jelas tentang kedatangan malam yang mulia bagi seseorang adalah kedamaian dan ketenangan. Jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan akan selalu merasakan kedamaian dan ketenangan yang tidak hanya sebatas hingga terbit fajar, melainkan hingga akhir hayatnya. (Nasru Alam Aziz)