Terserak dalam Deru Truk Kontainer

  • Kompas: Selasa, 9 Agustus 2005, halaman 14
Jalan Tugu Raya kini menjadi jalur lalu lintas truk kontainer. (Kompas/lam)

Sekitar tiga kilometer dari Cilincing, dekat Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengikuti jalan yang terbentang lurus, Anda akan sampai pada sebuah jembatan tinggi. Sekitar dua kilometer kemudian, Anda akan menemui persimpangan jalan di sebelah kanan.

Mengikuti jalan yang agak sempit dan tak beraspal, di sebelah kiri akan tampak sebuah gereja kecil, dengan pekarangan luas ditumbuhi pepohonan. Di samping gereja, terdapat beberapa kuburan bercat putih dengan nisan berbentuk salib.

Catatan yang disadur dalam dokumen milik Fernando Quiko (58) itu menggambarkan bagaimana mencapai Gereja Tugu pada tahun 1950-an. Fernando adalah salah seorang warga Kampung Tugu keturunan Portugis generasi kesembilan, yang disapa sebagai Om Nyonyo oleh warga setempat.

Kini jalan yang terbentang luas itu telah menjadi semakin lebar dan berjalur dua arah, dikenal sebagai Jalan Cacing atau Jalan Cakung Cilincing Raya. Adapun jalan sempit yang tak beraspal tadi, sekarang adalah Jalan Tugu Raya, yang membentang hingga persimpangan Semper. Jalan ini menjadi jalur lalu lintas truk-truk kontainer yang sangat sibuk.

Menurut Fernando, hingga tahun 1960-an Kali Cakung yang mengalir membelah Kampung Tugu masih dimanfaatkan untuk mandi. Perahu-perahu yang ditumpangi dari Marunda dan Pasar Ikan masih ditambatkan di tepi sungai. Sekarang, sungai itu sudah mendangkal dan berlumpur.

Bahkan pada tahun 1940-an, kata Fernando mengenang, orang-orang dari luar Kampung Tugu banyak yang datang menikah di Gereja Tugu. Perahu yang ditumpangi rombongan pengantin diparkir di sungai, persis depan gereja.

“Posisi gereja yang menghadap ke Kali Cakung, bukan ke Jalan Tugu Raya, menunjukkankalau kali itu adalah lalu lintas yang ramai pada masa itu,” kata Samuel Quiko (67), juga warga Kampung Tugu keturunan Portugis, menambahkan.

Bagaimana dengan Gereja Tugu? Bangunan yang didirikan tahun 1744 dan ditahbiskan pada 29 Juli 1744 oleh Pendeta Mohr itu masih menjadi saksi sejarah kehadiran warga keturunan Portugis di sana. Gereja yang sekarang adalah bangunan ketiga, setelah dua sebelumnya -didirikan tahun 1678 dan 1737- yang dibangun dengan konstruksi kayu hancur. Di lokasi gereja terdahulu sekarang berdiri Gereja Katolik Salib Suci.

Kawasan Kampung Tugu sekarang adalah permukiman padat yang dikepung berbagai tempat usaha. “Dulu rumah-rumah ‘Orang Tugu’ berjarak sampai empat kilometer dan dipisahkan oleh tanah kosong atau kebun,” ungkap Samuel.

Lahan-lahan perkebunan telah berganti bangunan-bangunan semen, bengkel, dan tempat parkir truk kontainer. Keasrian lingkungan di masa lalu menyerah oleh kepulan debu dan sengatan matahari di siang hari.

Pada masa Gubernur Ali Sadikin, Kampung Tugu ditetapkan sebagai daerah yang dilindungi undang-undang. Monumen dan Gereja Tugu dijadikan cagar budaya. Namun demikian, radius 600 meter dari Gereja Tugu sebagai cagar budaya yang seharusnya terjaga kini nyaris terabaikan.

Asal-usul nama Tugu sendiri ada beberapa versi. Ada yang menyebutkan nama itu diambil dari tanda batas, dan ada yang berpendapat bahwa nama Tugu berasal dari kata Por Tugu Esa (Portugis). Versi yang banyak ditulis adalah berkaitan dengan ditemukannya sebuah prasasti (tugu) batu bertuliskan huruf Pallawa dari masa kekuasaan Raja Purnawarman.

Komunitas Kampung Tugu yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) secara rutin setiap bulan mengadakan pertemuan untuk mempererat tali persaudaraan. Pertemuan di rumah keluarga Martinus Cornelis, Minggu (7/8), diawali kebaktian. (Kompas/lam)

Keturunan Portugis

Kampung Tugu adalah sebuah sejarah yang panjang. Menurut Fernando, yang menyimpan penggalan-penggalan catatan warisan orangtuanya, pada mulanya Kampung Tugu dihuni sisa tentara ekspedisi Portugis yang tertinggal Jakarta ketika induk angkatan perangnya dipukul mundur oleh tentara kompeni Belanda pada akhir abad ke-16. Mereka berasal dari tawanan-tawanan perang dari daerah yang diduduki Portugis pada masa itu, seperti Goa, Malabar, Coromandel, Bengal, Arakan, dan Malaka.

Pada masa itu, mereka hidup terpencil di rawa-rawa bernyamuk ganas, dan hidup dari perburuan, pertanian, dan perikanan. Hingga generasi kesepuluh sekarang ini, tradisi berburu masih berlangsung.

“Kami masih sering berburu di pinggiran Jakarta. Di sekitar Kampung Tugu tidak ada tempat berburu yang tersisa,” kata Arthur James Michiels (36), yang baru pulang berburu musang di Karawang bersama adiknya, Milton Augustino Michiels, saat ditemui Kompas, Minggu (7/8).

Pada masa-masa awal, orang-orang Tugu melakukan perkawinan antarkalangan sendiri yang berbeda fam (nama keluarga), bahkan diwajibkan hingga akhir abad ke-19. Seiring dengan makin terbukanya lingkungan sosial mereka, perkawinan campuran pun dibolehkan. Mereka yang tadinya menjadi inti masyarakat, umumnya kawin dengan orang Sulawesi Utara, Maluku, Timor, Jawa, dan keturunan Tionghoa.

“Karena perkawinan campuran itu, secara fisik agak sulit mengenali seseorang itu keturunan Tugu atau bukan. Kecuali jika disebutkan famnya,” kata Samuel, yang beristrikan orang Jawa.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Batavia, tahun 1661, terdapat belasan fam yang hidup di Kampung Tugu. Kini hanya tersisa enam, yakni Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis. Tidak ada lagi Seimons, Salomons, Mayo, Da Costa, Kantil, atau lainnya.

Sebelum Perang Dunia II, di Kampung Tugu terdapat sekitar 60 keluarga, dan mulai bercerai-berai setelah perang kemerdekaan Indonesia. Mereka banyak yang pindah ke luar Kampung Tugu dan menetap di tempat lain di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Irian Barat alias Papua, dan Negeri Belanda.

Warga keturunan Portugis yang masih tinggal di sekitar Gereja Tugu diperkirakan kurang dari 100 keluarga. Menurut Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), Andre J Michiels, jumlah anggotanya yang terdata, termasuk yang tinggal di luar Kampung Tugu atau daerah lainnya, masih sekitar 230 keluarga. Jumlah itu sebetulnya sangat kecil dibanding kemampuan mereka bertahan yang hampir empat abad.

“Kami dalam wadah IKBT setiap hari Minggu pertama setiap bulan mengadakan pertemuan untuk mempererat kekerabatan,” kata Andre, yang mendapat tiga putra dari perkawinannya dengan Rosalia Liliek Dewanti. “Mereka yang tinggal di luar pun masih tetap menganggap Kampung Tugu sebagai kampung halamannya,” tambahnya.

Kampung Tugu sekarang adalah masyarakat heterogen, dan warga keturunan Portugis menjadi bagian di dalamnya. Seperti pada masa awal, mereka tinggal pada jarak berjauhan. Bedanya, mereka sekarang berada di tengah-tengah permukiman penduduk yang berasal dari berbagai suku dan agama. Tak terelakkan, mereka menjadi warga minoritas di kampung sendiri. (Johnny TG, Nasru Alam Aziz)

Merestorasi Istana Bantimurung

  • Kompas: Sabtu, 30 Juli 2005, halaman 47

Sekerumunan kupu-kupu Tachyris zarinda memamerkan warna kemerah-merahan dan jingga terang sayapnya. Di antara mereka sesekali melintas Papilio sambil mengipas-ngipaskan sayap lebarnya yang berwarna hitam dengan ornamen hijau-biru.

Pada dahan-dahan berdaun rimbun di seberang sana, saya berharap dapat mengamati Ornithoptera dari dekat. Dan di semak belukar saya berhasil menangkap sejumlah kupu-kupu Amblypodia, serta beberapa kumbang dari famili Hispidae dan Chrysomelidae.

Kutipan pengalaman Alfred Russel Wallace (1823-1913) saat berada di Bantimurung (Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan) itu, ditulisnya dalam buku The Malay Archipelago. Begitu eksotik dan beragamnya kupu-kupu yang ia jumpai di Bantimurung sehingga naturalis Inggris itu menyebut kawasan yang kini menjadi obyek wisata air terjun sebagai The Kingdom of Butterfly (Kerajaan Kupu-kupu).

Tentu saja surga kupu-kupu yang dikunjungi Wallace tahun 1857 itu sudah berbeda dengan kondisi sekarang. Kini perburuan liar menjadi ancaman kepunahan serangga gemulai itu, di samping kerusakan habitat dan penggunaan pestisida di sekitar “istana” kupu-kupu.

Kini, hampir tak mungkin menemukan kupu-kupu bersayap lebar, macam Graphium, Papilio, Pachliopta, di sekitar air terjun yang ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan. Apalagi jenis-jenis yang sudah jarang ditemukan di Bantimurung, seperti Troides haliphron, Troides helena, Troides hypolitus, dan Cethosia myrina.

Anehnya, beberapa jenis kupu-kupu langka itu dengan mudah ditemukan pada penjaja kupu-kupu awetan. Bahkan, jenis yang dilindungi atau tak boleh diambil dari alam, seperti Cethosia myrina, juga ditawarkan. Mereka berkilah kupu-kupu yang mereka jual adalah hasil penangkaran atau ditangkap di luar kawasan taman wisata alam dan cagar alam Bantimurung.

Kupu-kupu bersayap lebar sebetulnya masih bisa dijumpai -meskipun jarang- sekitar lima kilometer menyusuri arah hulu sungai Bantimurung. Itu pun hanya pada pagi hari ketika matahari mulai menembus sungai bening di sela bukit karst. Selama empat jam di tempat itu pada suatu hari yang cerah akhir Juni lalu, Kompas hanya menjumpai seekor Hebomoia glaucippe. Selebihnya, kupu-kupu berukuran lebih kecil, Catapsilia pamona flava, Anartia sp, Calastrina sp, Danis sp, dan Vindula arsinoe.

Kepala Seksi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan I Baharuddin mengemukakan pentingnya bukit-bukit karst di sekitar kawasan itu sebagai habitat kupu-kupu. Sayangnya, kata dia, kawasan karst Maros dan Pangkajene Kepulauan juga mengalami ancaman kerusakan akibat eksploitasi perusahaan pertambangan marmer. “Setelah ditambang, karst tak mungkin dikembalikan lagi. Berbeda dengan kerusakan hutan yang masih bisa diatasi dengan reboisasi,” katanya.

SALAH SATU celah bukit karst di Cagar Alam Bantimung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang sedang mengalami restorasi habitat kupu-kupu. Restorasi dimaksudkan untuk mengembalikan habitat kupu-kupu Bantimurung agar terhindar dari ancaman kepunahan. (Kompas/lam)

Habitat dan populasi

Menurut Kepala Laboratorium Serangga Berguna Universitas Hasanuddin Makassar Prof Dr Mappatoba Sila, ketika habitatnya belum terganggu diperkirakan terdapat sekitar 250 jenis kupu-kupu di Bantimurung. Kini hanya tersisa kurang dari separuhnya.

“Perburuan liar sulit dihentikan karena besarnya permintaan ekspor kupu-kupu,” kata dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin, yang banyak meneliti kupu-kupu di Bantimurung. “Kalaupun ada usaha penangkaran untuk perdagangan, hasilnya tak seberapa dibandingkan dengan berburu di alam,” ujarnya.

Seorang penjaja kupu-kupu kepada Kompas mengakui jika sebagian besar kupu-kupu yang dijual di Bantimurung maupun diekspor bukan dari hasil penangkaran, melainkan ditangkap di alam. “Kami menangkapnya di luar areal yang dilindungi,” katanya.

Bukan tak ada upaya untuk mengembalikan kedaulatan wilayah Kerajaan Kupu-kupu. Setahun terakhir, kata Mappatoba, telah dimulai restorasi habitat dan restorasi populasi kupu-kupu di kawasan itu.

Restorasi habitat dilakukan terutama di daerah hulu tadi, dengan menanam kembali berbagai tanaman yang menjadi pakan kupu-kupu. Itu untuk mengembalikan kenyamanan habitat kupu-kupu. Berbarengan dengan itu, diupayakan pencegahan terhadap faktor-faktor yang mengancam kehidupan kupu-kupu, seperti perburuan liar dan penggunaan pestisida di sekitar kawasan.

Mengacu kepada berbagai penelitian yang pernah dilakukan, kata Mappatoba, dapat diketahui jenis tumbuhan apa saja yang terdapat di kawasan itu pada masa-masa kejayaan kupu-kupu. Tumbuh-tumbuhan pakan kupu-kupu mulai ditanam kembali di sana menggantikan yang sudah hilang, seperti Aristolachia sp untuk jenis kupu-kupu Troides), Citrus sp dan Rutaceae untuk Papilio, Ficus sp untuk Euploea sp, Annona muricata dan Annona squoma untuk Graphium, Cassia sp untuk Eurema sp, serta Passiflora sp untuk Cethosia myrina.

Salah satu upaya restorasi habitat adalah menutup kawasan tertentu yang menjadi tempat berkembang biak kupu-kupu pada musim tertentu ketika kupu-kupu mulai bertelur. Musim dan tempat dimaksud bergantung pada jenis kupu-kupu dan pakannya.

Mengacu kepada berbagai penelitian yang pernah dilakukan, kata Mappatoba, dapat diketahui jenis tumbuhan apa saja yang terdapat di kawasan itu pada masa-masa kejayaan kupu-kupu.

Di daerah hilir sedang dimarakkan penangkaran kupu-kupu sebagai upaya restorasi populasi. Tidak jauh dari pintu masuk kawasan wisata Bantimurung, dua bulan lalu, BKSDA Sulsel I mendirikan sebuah penangkaran kupu-kupu. Meskipun ukuran penangkarannya sangat mini untuk sebuah balai konservasi, upaya itu patut dihargai di tengah berbagai ancaman kepunahan kupu- kupu.

Beberapa warga yang difasilitasi oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat, Institusi Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (IPPM), juga telah membuat tiga tempat penangkaran sederhana. “Kami ingin mengembangkan ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan aspek konservasi kupu-kupu. Karena itu, kami membantu mereka membuat penangkaran,” ungkap Direktur IPPM Hidayat Palaloi.

Penangkaran kupu-kupu milik BKSDA maupun yang dikelola masyarakat baru bisa menghasilkan beberapa jenis saja, terutama Papilio polyphontes, Troides helena, dan Graphium androcles. “Imago yang dihasilkan dari penangkaran hanya sebagian yang diawetkan untuk dijual, sisanya dilepas kembali ke alam agar menjadi induk,” kata Alimutahar, salah seorang penangkar yang juga setiap hari menjajakan kupu-kupu awetan di Bantimurung.

Upaya restorasi habitat dan restorasi populasi yang sedang berlangsung bisa menjadi secercah harapan bagi bangkitnya kembali Kerajaan Kupu-kupu Bantimurung. (Nasru Alam Aziz)

Mengalahkan Letusan Bedil dengan Alunan Musik

  • Kompas: Kamis, 28 Juli 2005, halaman 12
Simfoni Aceh Damaiyang digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Selasa (26/7) malam, juga menampilkan penyanyi Iga Mawarni. Ia membawakan lagu daerah Nanggroe Aceh Darussalam dengan iringan orkestra pimpinan M Jafar Puteh. Acara musik bertajuk “Simfoni Aceh Damai” yang menampilkan sejumlah artis Ibu Kota itu diadakan untuk menyambut ulang tahun ke-2 majalah Acehkita. (Kompas/tok)

Satu lagi malam untuk Aceh. Dan ratusan orang yang hadir di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (26/7) malam, beku dalam larik-larik puisi Salam Damai: Sebab begitu lama kita dalam duka cita/ Oleh amuk serakah kaum pendurhaka/ Takluk di hadapan pembidik/ Dalam kokang senjata tak berjiwa//

Suara serak Fikar W Eda membacakan puisinya itu terasa menggetarkan dan begitu menyentuh. Penyair asal Aceh itu menyela Konser Aceh Damai yang menampilkan sejumlah penyanyi asal Aceh dan Jakarta. Syair Aceh yang biasanya diiringi rapa’i (perkusi) dan serune kale (seruling), malam itu tampil beda dalam simfoni orkestra. Konduktor sekaligus penata musiknya juga berasal dari Aceh, Muhammad Jafar Ali Puteh.

Jafar jelas bukan orang baru dalam permusikan di Indonesia. Ia pernah bermain pada beberapa orkestra, di antaranya Orkes Simfoni Jakarta.

Seperti biasa dalam pergelaran musik Aceh, pertunjukan dibuka dengan Peumulia, syair yang dinyanyikan untuk memuliakan setiap yang hadir. “Jangan sampai duduk di luar tikar yang sudah digelar,” begitu kira-kira terjemahan satu baris syair yang dinyanyikan dengan riang gembira oleh Yusdedi, penyanyi asal Aceh pesisir.

Sederetan penyanyi asal Aceh, seperti Falara Simeulu Gruop (Simeulu Ate Fulawan/Simeulu yang Kusayang), Kabri Wali dan Jassin Burhan (Aman/Damai), Adi Alfaisal yang dikenal sebagai Adi KDI (Aneuk Yatim/Anak Yatim), dan Fajar Sidiq (Ingat/Ingat).

Kemudian disusul penyanyi kawakan yang bukan orang Aceh tetapi membawakan lagu dari Aceh: Trie Utami (Dododaidi/Ninabobo), Franky Sahilatua (Sibijeh Mata/buah hati), Iga Mawarni (Tawar Sedenge/Tanah Leluhur), Iwan Zein (Trok Bak Watee/Hingga Tiba Saatnya), dan Lita Zein (Tuak Kukur/Kicau Burung).

Pesan damai

Majalah Acehkita menggelar Konser Aceh Damai tidak sekadar sebagai rangkaian peringatan ulang tahunnya yang ke-2. Majalah alternatif yang terbit sejak 19 Juli 2003 -tiga bulan setelah wilayah Aceh diberi status darurat militer- berpretensi menyuarakan pesan damai menyongsong penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 15 Agustus nanti.

Acehkita mula-mula muncul melalui situs acehkita.com (http://www.acehkita.com). Sebulan kemudian, terbit dalam bentuk majalah berita. Media ini sering dituding pro-GAM karena memaparkan fakta tentang Aceh secara blak-blakan. Kelahiran Acehkita dibidani oleh sejumlah jurnalis di Aceh dan Jakarta. Mereka gerah pada pemberitaan media umum tentang Aceh yang hanya bermain di permukaan.

Mula-mula reporternya hanya 10 orang dan terus bertambah menjadi lebih dari 20 orang ketika status darurat militer diperpanjang, November 2003. Menapaki tahun ketiga, kontributor Acehkita sudah mencapai 40 orang, umumnya adalah para jurnalis dari berbagai media yang bertugas di Aceh maupun di Jakarta.

Menurut Jauhari Samalanga dari bagian sirkulasi Acehkita, majalah itu dicetak sebanyak 8.000 eksemplar, belum termasuk 1.000 eksemplar edisi bahasa Inggris. Acehkita beredar di Aceh, Medan, dan Jakarta.

“Semoga Acehkita bisa berkontribusi mewujudkan perdamaian di Tanah Rencong,” ujar T Mulya Lubis, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Acehkita.

Melalui apresiasi seni, kata Mulya Lubis, Yayasan Acehkita ingin menarik dukungan khalayak yang lebih luas terhadap perdamaian di Aceh.

Sebagai puncaknya, akan digelar Rapa’i Pase (parade rebana) Uroh Taloe Rod di Nanggroe Aceh Darussalam, 7-8 Agustus 2005. Acara ini menampilkan 144 rapa’i yang ditabuh oleh 288 orang tanpa jeda, menempuh perjalanan sekitar 400 kilometer selama 24 jam. Rute yang dilalui mulai dari Banda Aceh ke Pidie, Bireuen, Lhok Seumawe, Panton Labu, Paya Deman, Idi, hingga Peureulak, kemudian kembali dan berakhir di Panton Labu.

Tabuhan rapa’i menyusuri pesisir utara itu agaknya menjadi simbol untuk mengalahkan suara bedil, yang belum juga berhenti menyalak di Aceh. (Nasru Alam Aziz)

Ketika Si Kancil Naik Panggung

  • Kompas: Selasa, 26 Juli 2005, halaman 12
Sejumlah pendongeng dari berbagai negara menabuh gendang sebagai tanda dimulainya Festival Mendongeng di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (23/7). Festival yang diadakan dalam rangka Hari Anak Nasional 2005 itu, antara lain, dimaksudkan untuk memberi peluang bagi anak mengembangkan keterampilan berbahasa. (Kompas/tok)

Bagaimana seekor kancil dapat menyeberangi sungai yang penuh dengan buaya? Tentu yang terbayang adalah cerita Petualangan Si Kancil. Benar, binatang cerdik itu meminta para buaya berjajar hingga ke sisi seberang sungai, kemudian menghitungnya sambil meloncat-loncat di atas punggung-punggung buaya itu.

Petualangan Si Kancil menjadi berbeda ketika diceritakan pada Festival Mendongeng Ke-6 di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (23/7). Ohanashi Caravan Center dari Jepang menampilkan cerita rakyat asal Indonesia itu di atas panggung melalui teater boneka, yang di Jepang dikenal sebagai bunraku. Festival Mendongeng yang diselenggarakan Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) dan Yayasan Murti Bunanta itu berlangsung hingga hari ini, Selasa.

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan kali ini menghadirkan sejumlah pendongeng dari negeri sendiri dan dari luar negeri dengan berbagai latar belakang dan keunikan masing-masing. Selain Ohanashi Caravan Center dengan bunraku-nya, ada Dr Anne Pellowski -pendongeng kawakan dan ahli sastra anak dari Amerika Serikat- yang menampilkan cerita rakyat dari Kalimantan Tengah, Mengapa Udang Bengkok, melalui wayang beber.

Hari pertama, tampil pula dalang Slamet Gundono dengan kelompok wayang rumputnya membawakan cerita rakyat Jawa, Senggutru, serta Sanggar Mayang Sari dari Bengkulu memainkan sandiwara cerita rakyat Bengkulu, Putri Kemang. Sementara Rifki, bocah berusia 12 tahun dari Pondok Yatim asuhan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Aceh, membawakan cerita rakyat Aceh, Si Nyamuk.

Di antara deretan nama asing, masih ada Dr Margaret Read MacDonald (Amerika Serikat) yang tahun lalu juga tampil dalam acara yang sama, kemudian Sylvia Mihira dan Akiko Sueyoshi (Jepang), Ms Kiran Shah (Singapura), Ms Panna (Singapura). Sejumlah teater anak dan sekolah juga tidak ketinggalan ambil bagian, seperti SD Santa Ursula, TK Barunawati, SD TBB Hanaeka, TK IKKT Jakarta, TK Regina Pacis, TK Rukun Ibu, Teater Lensa, Grup Ina Kreativa, Panti Nugraha, dan Teater Kidschat. Penampil lain adalah Sujiwo Tejo (Eksotika Karmawibhangga Indonesia) dan Kak Agus DS (Puppet Theatre).

Dramatisasi

Festival mendongeng tahun ini memang memfokuskan pada dramatisasi atau pementasan teater. Alasannya tak lain karena sampai saat ini kurangnya ruang bagi anak-anak untuk berekspresi dan bersentuhan dengan kebudayaan, berkaitan dengan cerita rakyat.

“KPBA memang menaruh perhatian dalam hal dramatisasi atau teater. Selain merupakan salah satu cara meningkatkan kegiatan membaca, juga memberi peluang bagi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa, melakukan kerja sama dengan teman, melakukan kerja sama dengan guru dan pelatih seni, serta berdiskusi dengan mereka dan membicarakan buku,” kata Murti Bunanta, Ketua KPBA.

Pellowski dan MacDonald sepakat bahwa melalui dongeng kemampuan berbahasa anak akan terasah dengan baik, sekaligus memberi kesempatan kepada anak untuk memahami bahasa tutur. “Dongeng juga memberi pemahaman mengenai budaya negeri sendiri dan negara lain secara baik,” kata Pellowski yang telah menulis tidak kurang dari 20 buku panduan tentang mendongeng dengan menggunakan berbagai media.”Di samping menghibur, dongeng membuka ruang imajinasi bagi anak,” tambah MacDonald, pustakawan anak dan pendongeng yang telah menulis lebih dari 30 buku mengenai mendongeng dan berbagai topik cerita rakyat.

Drs Suyadi, pemeran Pak Raden dalam film boneka Si Unyil, menambahkan bahwa dongeng sebaiknya mengandung pesan moral. Namun yang lebih penting adalah membuat senang anak. “Sedapat mungkin pendongeng dapat melibatkan anak yang menjadi pendengarnya, sehingga mereka akan betah berjam-jam mendengar dongeng yang diceritakan,” katanya.

Festival Mendongeng Ke-6 tidak sekadar membuat anak bergeming di tempat duduknya mendengar dongengan, lebih dari itu berhasil menggalang solidaritas internasional. KPBA menerima sumbangan sekitar Rp 500 juta dari International Board on Books for Young People, United States Board on Book for Young People, Japanese Board on Book for Young People, Ohanashi Caravan Center, dan masyarakat Winona, AS.

Dana itu akan digunakan untuk menerbitkan buku-buku bermutu, mendirikan perpustakaan, melatih guru-guru dalam bercerita dan penggunaan buku yang efektif, antara lain di Nanggroe Aceh Darussalam, Nabire, Alor, Nias, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. (LAM)

Burung Botak Upeh di Malaysia

  • Kompas: Rabu, 20 Juli 2005, halaman 15
Milky stork atau botak upeh (Ibis cinereus) adalah salah satu jenis burung yang sudah sangat jarang ditemukan di Malaysia. Di alam liar, jumlahnya diperkirakan kurang dari 100 ekor dan hanya terdapat di kawasan konservasi dalam hutan bakau Perak. Kawanan burung ini berhasil ditangkarkan di Zoo Negara Malaysia (kebun binatang Malaysia) hingga berkembang menjadi 89 ekor. (Kompas/lam)

Bertahan di Arus Deras Peradaban

  • Kompas: Kamis, 14 Juli 2005, halaman 14
Para bissu dengan segala atribut yang melekat pada mereka masih tetap bertahan dan mendapat tempat di tengah arus deras peradaban. Hanya saja, posisi dan peran para bissu itu kini tidaklah sepenting pada masa puncak kejayaan komunitas ini saat kerajaan-kerajaan Bugis pra-Islam berkuasa. Kini, para bissu seperti (searah jarum jam) Khahar Eka (kiri atas), Puang Upe, Daeng Tawero, Mak Temi, dan Angel harus berjuang agar bisa mempertahankan hidup sehari-hari. (Kompas/lam)

Masa kerajaan pra-Islam di tanah Bugis adalah masa kejayaan para bissu. Kaum transvestite Bugis ini memegang peranan yang begitu penting dalam kerajaan (addatuang), sehingga nyaris tidak ada kegiatan upacara ritual tanpa kehadiran bissu sebagai pelaksana sekaligus pemimpin prosesi upacara.

Kala itu, setiap ranreng atau semacam wilayah adat memiliki komunitas bissu. Maka di Kerajaan Segeri dan Kerajaan Bone dikenal komunitas bissu dengan sebutan Bissu PatappuloE (40 orang bissu). Pada setiap upacara ritual, ke-40 bissu itu harus hadir.

Dalam buku La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, Dr Gilbert Albert Hamonic, ahli naskah Bugis kuno dari Perancis, menyimpulkan bahwa bissu adalah segolongan kecil dalam masyarakat tapi posisinya cukup penting untuk jadi patokan dalam suatu wilayah yang cukup luas. Ia menyebut tradisi bissu sebagai tradisi agama dalam masyarakat Bugis kuno.

“Agama bissu rupanya mula-mula lahir dari upacara dan kepercayaan rakyat yang sangat kuno. Dalam perjalanan masa, kepercayaan orang biasa itu diubah oleh beberapa pengaruh tradisi lainnya- termasuk tradisi Hindu, Buddha, dan Islam- lalu diterima oleh kalangan bangsawan. Perkembangannya kemudian, agama itu dikembalikan lagi kepada masyarakat tempat ia lahir, tetapi telah mengalami perubahan dan seolah-olah merupakan agama eksklusif para bangsawan masa itu,” paparnya.

Sebagai “orang suci” atau pendeta agama Bugis kuno, bissu mendapat perlakuan yang sangat istimewa oleh istana kerajaan. Puang Matoa (pimpinan tertua bissu) diberi berhektar-hektar sawah yang pengerjaannya dilakukan secara bergotong-royong, dan hasilnya digunakan untuk membiayai upacara-upacara ritual dan kebutuhan hidup komunitas bissu selama setahun ke depan. Sawah yang disebut galung arajang itu sekaligus menjadi tempat upacara mappalili (pesta atau upacara ritual menandai dimulainya penanaman padi) atau acara ritual lainnya. Di samping itu, kaum saudagar, petani, atau bangsawan, secara pribadi senantiasa memberi sedekah kepada para bissu.

Setelah agama Islam masuk ke kerajaan-kerajaan Bugis, peranan bissu sebagai pendeta nyaris hilang karena upacara-upacara ritual tidak dibenarkan lagi. Peranan bissu semakin pupus ketika pemerintahan kerajaan beralih ke pemerintahan republik, seiring memudarnya peran lembaga-lembaga adat.

Dr Halilintar Lathief, antropolog yang mendalami kehidupan bissu, komunitas bissu sempat mengalami prahara yang memorak-porandakan seluruh pranata kebissuannya. Pada masa perjuangan DI/TII, gerombolan pimpinan Kahar Muzakkar melancarkan operasi penumpasan bissu. Ribuan perlengkapan upacara ritual bissu dibakar atau ditenggelamkan ke laut. Tidak sedikit bissu maupun sanro (dukun) dibunuh. Yang dibiarkan hidup digunduli lalu dipaksa menjadi laki-laki tulen.

“Sisa-sisa mereka yang selamat itulah bissu-bissu tua yang masih ada sekarang. Boleh dikatakan bissu mereka adalah generasi terakhir yang mewarisi kejayaan tradisi Bugis klasik,” kata Halilintar.

Menurut Halilintar, bissu bisa bertahan hingga saat ini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis kuno hingga sekarang ini masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasratnya.

Akan tetapi, tidak ada lagi perhatian dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup mereka. Tidak ada lagi galung arajang yang menjadi sumber kehidupan sepanjang tahun. Di Segeri, misalnya, sawah pusaka itu sudah beralih kepemilikan dan dijadikan tambak oleh mereka yang mengklaimnya sebagai tanah warisan.

Kini para bissu terpaksa membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan. Mereka menggantungkan hidup pada panggilan orang-orang yang menggelar upacara adat. Sebagian besar di antara mereka menjadi perias pengantin dan penyedia perlengkapan pesta-pesta perkawinan.

Bissu Khahar Eka (29) di Segeri memiliki usaha penyewaan perlengkapan pesta dan sekaligus berprofesi sebagai perias pengantin. Di sela kesibukannya melayani perkawinan yang terkadang menerima lebih dari lima panggilan dalam sehari, Eka menjahit dan membuat pernak-pernik kelengkapan pesta untuk dijual atau disewakan.

Pekerjaan yang sama ditekuni Angel (39), yang kini berkedudukan sebagai puang lolo atau wakil dari puang matoa (pemimpin bissu). Bissu bernama asli Syamsul Bahri ini termasuk salah satu perias pengantin yang laris di Bone.

Puang Matoa Bone, Daeng Tawero (H Maruddin Daeng Tawero) yang kini berusia lebih dari 60 tahun, kondisinya tidak lebih baik. Saat ditemui di rumahnya di Desa Galung, Kecamatan Ulaweng, sekitar 15 kilometer dari Watampone (ibu kota Kabupaten Bone), ia sedang terbaring lemah akibat sakit.

Perhiasan pengantin dan tumpukan pakaian tradisional Bugis di dalam empat lemari milik Tawero sudah terbalut debu karena sekian lama tidak pernah tersentuh. “Sudah banyak sekali perias pengantin. Mereka bukan bissu, tapi menguasai rias kecantikan modern,” kata Tawero dengan suara lirih.

Sementara itu, Puang Upe (54) yang kini sebagai Puang Lolo Segeri, dan bissu perempuan Puang Temmi (60-an) di Desa Kanaungan, Pangkep, hanya mengharapkan penghasilan dari orang-orang datang meminta berkah. Sesuai ketentuan adat, para tamu yang datang membawa beberapa lembar daun sirih yang disisipi lembaran uang kertas. Lipatan daun sirih itu menjadi pengantar untuk menghadapkan sang tamu ke arajang (pusaka yang disakralkan).

“Seperti terjadi di mana-mana, lambat laun upacara ritual bissu diarahkan untuk kepentingan atraksi pariwisata. Bahkan, bisa diadakan untuk kepentingan penggalangan massa oleh partai tertentu saat kampanye pemilu. Ritual yang dipertahankan keasliannya oleh orang-orang Bugis selama beberapa dekade itu pun mulai disisipi unsur-unsur baru,” kata Halilintar.

Tidak sedikit anak muda dan calabai (waria yang belum/tidak sampai pada tingkatan bissu) menggunakan kesempatan upacara mappalili sebagai ajang main-main. Lebih memprihatinkan lagi, beberapa kabupaten telah mengebiri fungsi dan peran komunitas bissu menjadi sekadar sebuah sanggar seni tari saja.

Pada akhirnya waktu yang akan menentukan hingga kapan komunitas bissu bisa bertahan di tengah arus deras peradaban yang berubah.

Mereka Bukan Sembarang Waria

  • Kompas: Rabu, 13 Juli 2005, halaman 14
Puang Upe melakukan tari spiritual yang disebut maggiri’ , diiringi tabuhan gendang. Ia menusukkan keris ke leher, pelipis, atau telapak tangan tanpa luka gores sedikit pun. Biasanya, inilah atraksi yang ditunggu-tunggu dalam setiap upacara bissu. (Kompas/lam)

Wa’ Matang (60-an), menghentak-hentakkan kakinya di lantai papan rumah panggung itu sambil menusuk-nusukkan keris ke telapak tangannya. Tabuhan gendang terus menderu ritmis, mempercepat detak jantung setiap yang menyaksikan aksi Matang.

Sejurus kemudian ia berputar dengan gemulai, lalu menusukkan kembali kerisnya. Kali ini lehernya yang kurus itu menjadi sasaran. Tak ada luka gores sedikit pun, apalagi tetesan darah dari tubuhnya.

Itulah maggiri’ (menusuk), tari spiritual kaum bissu yang sudah berusia ratusan tahun. Maggiri’ merupakan rangkaian dari prosesi upacara dalam tradisi Bugis kuno yang dilaksanakan para bissu, dan sampai hari ini masih bertahan meski jumlah bissu tinggal sehitungan jari di setiap kabupaten di tanah Bugis, Sulawesi Selatan.

Pada masa pra-Islam, di Kerajaan Segeri (Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Pangkep) saja jumlah bissunya 40 orang, sehingga disebut sebagai Bissu PatappuloE (Bissu Empat Puluh). Jumlah yang sama pada masa itu juga dikenal di Kerajaan Bone (sekarang Kabupaten Bone). Di antara Bissu PatappuloE terdapat bissu perempuan.

Kesaktian para waria Bugis itu bukan hanya terlihat saat maggiri’, melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap waria yang telah menjadi bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa ke depan. Dengan bahasa tersendiri atau basa to rilangi, bissu mampu berkomunikasi dengan para leluhurnya dari zaman baheula.

Dalam bahasa Bugis, waria disebut calabai. Kata ini berasal dari sala baine, yang artinya “bukan perempuan”. Mereka adalah lelaki dengan kondisi jasmaniah yang abnormal. Senang berpenampilan feminin dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini juga merupakan kebiasaan para wandu, yakni laki-laki dengan keadaan jasmaniah serupa tetapi belum menjadi bissu,” jelas Halilintar Lathief, antropolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM).

Para waria, termasuk bissu, mengaku lebih tertarik kepada laki-laki serta menganggap dan memosisikan dirinya sebagai perempuan. Namun demikian, dalam dokumen-dokumen resmi, seperti ijazah maupun KTP, mereka menuliskan jenis kelaminnya sebagai laki-laki.

Puang Upe punya pengalaman menarik ketika mengurus KTP dan menempelkan pas fotonya dalam pose berpakaian kebaya, dan tentu saja bersanggul.

“Pak Camat menolak menandatangani KTP saya karena fotonya perempuan, tapi jenis kelaminnya laki-laki,” katanya sambil tersipu- sipu.

Beberapa bissu memiliki arajang (pusaka yang dikeramatkan), yang menjadi media untuk berhubungan dengan leluhur. Puang Upe, bissu yang sangat terkenal di Segeri saat ini, menyimpan arajang di rakkeang (loteng rumah panggung). Setiap tamu yang datang ia hadapkan (mappangolo) ke arajang-nya.

Bissu perempuan yang terkenal di Desa Kanaungan -masih di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep)- Puang Temmi (60-an) atau Mak Temmi memiliki arajang yang “dirawat” secara turun-temurun. Arajang ditempatkan di sebuah kamar antara ruang tamu dan dapur.

“Saya keturunan ketujuh yang menerima wangsit untuk meneruskan arajang ini,” ungkapnya.

Puang Temmi sedang berkomunikasi dengan arwah leluhur di arajang yang ditempatkan dalam sebuah kamar. (Kompas/lam)

Arajang diletakkan di dalam palakka yang ditutupi kelambu. Pusaka itu berwujud sebilah keris dan batu-batuan. “Batu-batu ini bukan dibuat-buat tapi muncul dengan sendirinya. Ada yang muncul di sini, ada juga yang di tempat lain lalu saya mendapat wangsit melalui mimpi sehingga tahu lokasinya,” kata Mak Temmi sembari menunjukkan sebutir batu berbentuk telur.

Selama satu jam lebih Kompas di rumah Mak Temmi, perempaun yang dikenal sebagai sanro (dukun) itu kedatangan tiga tamu lainnya. Dua minta disiapkan upacara mappano (persembahan) sesajian karena tambaknya mendapatkan hasil yang baik. Satu lagi sekadar menyampaikan terima kasih, setelah saudaranya sembuh dari sakit yang diobati oleh Mak Temmi.

“Saya sudah tahu kalau akan kedatangan tamu dari jauh. Karena itulah tadi saya buru-buru pulang dari pasar,” katanya menyongsong kedatangan Kompas di kolong rumahnya. “Ada beberapa orang yang akan datang menemui saya hari ini, dan saya tahu ada satu yang datang dari jauh,” tambahnya.

Batu-batu pusaka Puang Upe (54) -yang juga di tunjukkan kepada Kompas– lebih unik lagi. Tidak kurang dari 10 butir batu seluruhnya berbentuk sesuatu benda, seperti kemiri, kerang, atau bentuk lainnya. Batu-batuan itu tersimpan dalam kopor besi bersama beberapa buku berisi naskah Bugis kuno. “Kalau tamu yang datang rezekinya kurang baik, kopor ini tidak akan mau terbuka,” kata Puang Upe.

Ia juga menunjukkan selembar kertas bergambar dua ular saling berpilin disertai penjelasan dalam aksara Bugis. “Ini namanya jimat naga sikoi. Kalau mau disenangi orang, terutama lawan jenis, pakai ini. Tapi tentu ada syaratnya,” tutur Puang Upe.

Setiap bissu punya kekuatan magis untuk memikat orang lain atau dalam khazanah Bugis dikenal sebagai cenning rara. Inilah yang digunakan para bissu ketika merias pengantin sehingga mempelai tampak anggun dan memesona.

Menjadi bissu

Bissu memperoleh kesaktian dengan berbagai jalan. Puang Upe misalnya, mendapatkan tuntunan untuk menjadi bissu sejak berusia 13 tahun.

“Sejak berusia belasan tahun saya sudah menyadari kelainan yang saya alami, dan saya mencoba untuk masuk seutuhnya ke wilayah itu. Maka saya datang berguru kepada bissu-bissu senior ketika itu, salah satunya Puang Matoa Sanro Seke’. Saya dinyatakan lulus sebagai bissu pada usia 21 tahun,” kata Puang Upe. Kini di Segeri ia duduk sebagai Puang Lolo (wakil dari Puang Matoa, pemimpin tertinggi bissu di suatu wilayah kerajaan).

Keberadaan bissu memang sangat erat kaitannya dengan keberadaan kerajaan pada masa lampau. Kedudukan seorang datu (raja) tidaklah sempurna tanpa kehadiran bissu. Bissu diibaratkan sebagai uang receh, yang jadi pembanding bagi uang yang lebih besar pecahannya.

Para bissu berperan sebagai penasihat raja. Pada masa pra-Islam mereka bisa dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno. Sebagai pelaksana dalam ritual kerajaan, bissulah yang menentukan hari baik untuk memulai sesuatu, seperti turun ke sawah atau membangun rumah. Sebelum pasukan berangkat perang misalnya, raja senantiasa berkonsultasi dengan para bissu.

Lain lagi cerita Khahar Eka, waria yang ditahbiskan menjadi bissu tahun 2003, setelah menjalani masa magang selama empat tahun pada bissu senior di Bola Arajang, rumah tempat penyimpanan pusaka yang dikeramatkan. Perjalanan spiritual Eka berawal dari beberapa mimpi saat masih duduk di bangku SMP.

“Tiga kali saya bermimpi bertemu lelaki tua berbusana serba putih yang menyuruh saya datang ke arajang. Saya tak berani ke sana. Melihat bissu-bissu itu saja sudah takut, karena cara berpakaiannya seperti perempuan tetapi wajahnya kekar-kekar. Setelah mimpi ketiga baru saya memberanikan diri,” kenang Eka, yang ditemui di rumahnya, di depan Pasar Segeri.

Pengalaman spiritual yang hampir sama juga dialami Syamsul Bahri, yang sehari-hari dikenal sebagai Angel. Ia mulai mendalami kehidupan bissu setelah tamat SMA hingga akhirnya ditahbiskan sebagai bissu pada tahun 2003. Puang Lolo Bone itu menceritakan, “Pada mulanya saya mencari bissu-bissu tua. Lalu saya mempelajari berbagai hal tentang bissu dan ritual-ritual bissu.”

Seorang waria baru dikategorikan layak menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian Puang Matoa atau Puang Lolo. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai bissu, ia harus menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan pada Arajang.

Waria yang akan dilantik menjadi bissu diwajibkan berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Setelah itu, bernazar (mattinja’) untuk menjalani irebba selama beberapa hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air.

Selama disemayamkan sesuai nazarnya, calon bissu dianggap dan diperlakukan sebagai orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang irebba. Setelah melewati upacara sakral itu, seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan.

“Kami beda dengan waria kebanyakan. Kami harus menjaga sikap, perilaku, dan tutur kata,” ucap Eka.

Ya, bissu memang bukan sembarang waria….