Desy Ratnasari

  • Kompas: Rabu, 24 Juli 1996, halaman 24

Advertisements

Phoe Nam, Benar-benar Warung Kopi Khas di Ujungpandang

  • Kompas: Minggu, 14 Juli 1996, halaman 19

HARI masih sangat pagi, baru sekitar pukul 05.15. Tiga orang lelaki setengah baya berpakaian olahraga sudah berdiri di depan sebuah warung kopi yang terletak di tengah-tengah jajaran ruko. Warung kopi itu memang belum buka, tetapi mereka bertiga yakin beberapa menit lagi pintu harmonika selebar 4,5 meter di hadapannya akan terbuka lebar.

NIKMATNYA KOPI – Sesuai namanya warung kopi, Phoe Nam memang pas buat menikmati kopi. Mereka yang pernah mampir ke tempat ini mengakui nikmatnya duduk di warung ini, apalagi ditambah dengan rasa kopinya yang membuat ketagihan. (Kompas/zz)

Phoe Nam, memang warung kopi paling top di Ujungpandang. Warung yang terletak di jalan sempit ini berlokasi di Jalan Jampea nomor 5 E Ujungpandang, berdampingan dengan sebuah hotel berbintang tiga, Yasmin. Phoe Nam buka pukul 05.30 – 19.00.

“Hari Minggu seperti ini memang sangat ramai pengunjung, sehingga banyak yang terpaksa antre di luar,” ungkap Hengky (43) pemilik Warung Kopi Phoe Nam.

Meskipun bukan Minggu atau hari raya, Phoe Nam tidak pernah sepi dan lengang dari pengunjung. Dari yang berkaos oblong hingga yang mengenakan kemeja safari atau pakaian dinas instansi, datang berkunjung ke warung sederhana ini. Pada hari kerja, sekitar pukul 10.00 Phoe Nam dijejali pelanggan dari pegawai negeri maupun swasta di kota ini. Jadi Phoe Nam, sebenarnya dapat menjadi barometer mengukur sejauh mana gerakan disiplin nasional membudaya di Ujungpandang: jam kantor di warung kopi.

Namun demikian, masih ada fungsi-fungsi lain dari kedai ini. Mau mendengar obrolan warung kopi? Phoe Nam inilah tempatnya, sebab warung ini adalah the real warung kopi. Untuk ngerumpi, tiada lokasi mana pun di seluruh wilayah Ujungpandang seluas yang 175 km persegi ini yang lebih baik dari Phoe Nam.

Di sini bisa terdengar perbincangan sepak bola sampai Thomas Cup, atau persoalan RT sampai masalah internasional. Ketika Ujungpandang meraih piala Adipura yang kedua kalinya tahun ini, ada terekam dialog rakyat semacam ini.

Katanya Ujungpandang meriah Adipura karena menyuap tim penilai.

Wah, belum tentu. Buktinya, Anda bisa rasakan sendiri. Tahun ini Ujungpandang memang lebih bersih dari tahun lalu ketika kita meraih Adipura pertama kali.

***

WARUNG ini pun tampaknya sering menjadi “Bursa efek Ujungpandang” karena tidak sedikit usahawan yang nongol di sini. “Warung ini sering digunakan orang sebagai tempat transaksi bisnis,” ujar Ishak Tibe, seorang pengusaha rumput laut yang mengaku sudah ketagihan kopi susu Phoe Nam.

Phoe Nam menyediakan berbagai jenis roti dan minuman. Rotinya saja ada 13 jenis. Sementara minumannya tampaknya sama saja dengan hidangan warung kopi pada umumnya. Roti yang tersedia adalah roti selai, roti mentega, roti keju, roti keju telur, roti susu, roti sardencis, roti daging sapi cincang (corned beef), roti corned beef telur, roti telur rebus, roti telur mata sapi, roti telur dadar, roti telur goreng, hingga roti madu.

Harganya pun bervariasi dari Rp 750, Rp 1.000, Rp 1.500, hingga Rp 1.750. Mengenai berapa omzetnya setiap hari, Hengky hanya tersenyum. “Relatiflah, namanya saja cuma warung kopi.” Tahun 1994, Warung Kopi Phoe Nam membuka cabang di Food Bazaar Matahari di Makassar Mall. Phoe Nam Makassar Mall buka pukul 08.30 hingga pukul 21.00.

Menurut kalangan pengunjung, “obat pelaris” Phoe Nam adalah kopinya. Ia memang tidak mengunakan instant, bahkan kopi cap tertentu yang terkenal. Warung Phoe Nam menggunakan campuran kopi sendiri yang menurut hasil pemantauan Kompas, adalah campuran antara kopi robusta dan kopi arabika.

Selain itu, kopi hanya diseduh jika ada yang memesan, sehingga aroma kopinya tetap terjaga dan kental. “Aroma kopi akan berubah bila sudah dingin,” kata pemilik Phoe Nam.

Satu hal yang selalu diperhatikan pengelola warung Phoe Nam adalah faktor kebersihan dan kesehatan, yang menurut Hengky adalah salah satu daya tarik bagi pengunjung. Setiap hari, setelah toko tutup, semua peralatan makan-minum disterilkan kembali. Caranya: peralatan itu direndam beberapa menit dalam gentong porselen berisi air panas yang diberi kaporit, kemudian dibilas dengan bersih. “Orangtua kami telah melakukan hal seperti ini sejak dahulu,” kata Hengky.

***

MESKI terletak di sekitar kawasan pelabuhan, namun para pelanggannya bukan buruh pelabuhan atau tukang becak yang mangkal di sekitar sana. Tetapi kaum pelajar, pegawai, bahkan pejabat daerah, yang menjadi pelanggannya. “Padahal kami tidak pernah menyeleksi konsumen yang akan masuk ke warung,” ujar Hengky.

Banyak bekas pelanggan Phoe Nam sekarang sudah menjadi orang besar, dan sekarang masih banyak orang besar yang menjadi pelanggannya. Bahkan, beberapa hotel di Ujungpandang memesan minuman kopi buatan Phoe Nam untuk tamunya.

Sejak tahun 1949 sampai sekarang belum banyak yang berubah pada warung kopi ini. Teko kuningan yang digunakan menyeduh kopi sejak warung kopi ini dibuka masih dipakai sampai sekarang. Meja pualam yang sudah dipakai turun temurun masih dipasang di sana.

Sistem pelayanannya pun masih tradisional. Tidak ada spesialisasi tugas bagi pekerjanya. Lima orang yang bekerja di Phoe Nam memiliki tugas dan keahlian yang sama. Semua bisa membuat minuman kopi dengan rasa dan aroma yang sama. Semua bisa menjerang air, merebus telur, menyiapkan air minum di meja, membersihkan meja, dan seterusnya. Semua berjalan seadanya.

“Karena segala sesuatunya berjalan sebagaimana adanya, kami merasa nyaman di sini. Tercipta semacam suasana kekeluargaan di warung ini. Anda bisa saja duduk di sini seharian. Suasana seperti ini sulit ditemukan di warung modern,” ungkap Iwan Azis, salah seorang pelanggan Phoe Nam.

Sesekali masuk anak umur belasan meletakkan koran di atas Anda. Tentu saja tidak gratis. Beberapa saat kemudian baru ia kembali lagi, “Om, mau beli korannya?”

Phoe Nam sudah menjadi trade mark warung kopi di Ujungpandang. Anda bisa menikmati kopi atau teh susu dengan santai sambil membaca koran pagi di Phoe Nam. (zz)

Masjid Al-Markaz Al-Islami Juga untuk Dhuafa

  • Kompas: Sabtu, 3 Feb 1996, halaman 14

BERBUKA puasa di mesjid bukan hanya “monopoli” musafir (pejalan) atau kaum fakir miskin. Di Mesjid Al Markaz Al Islami Ujungpandang, yang diresmikan Jenderal (Purn) M Yusuf, 12 Januari lalu, ratusan muslimin sengaja datang ke mesjid untuk berbuka puasa. Banyaknya jemaah yang berbuka puasa di mesjid itu terlihat dari 20 deret jemaah yang duduk menunggu buka puasa, atau dari ratusan motor dan mobil yang berjejer rapi setiap menjelang bedug Maghrib di pelataran parkir seluas 2.460 meter persegi.

“Saya sengaja datang berbuka di sini bersama keluarga, karena ini kesempatan pertama masuk di mesjid ini, sekaligus mendapatkan tempat untuk shalat tarawih,” ujar Rabinah (45), ibu yang datang bersama dua putrinya.

Lain lagi Pippy (24), mahasiswa tingkat akhir Universitas Hasanuddin. “Saya memilih waktu konsultasi penyelesaian tugas akhir sore hari, selesai konsultasi saya langsung bisa mampir buka puasa di sini. Kebetulan rumah dosen saya dekat dengan mesjid ini,” katanya.

Untuk melayani jemaah yang berbuka puasa Panitia Ramadhan Mesjid Al Markaz Al Islami setiap hari mengerahkan 60 remaja. “Di hari-hari pertama Ramadhan kami kewalahan melayani 1.500 jemaah yang berbuka puasa di sini,” kata Jafri Usman, Wakil Ketua Panitia Ramadhan.

Panitia mengeluarkan dana Rp 300.000 sampai Rp 500.000 per hari untuk membeli hidangan buka puasa, belum termasuk sumbangan dari masyarakat. “Setiap hari rata-rata tujuh instansi atau perorangan membawa kue untuk buka puasa,” ungkap Jafri.

Satu jam sebelum tiba adzan Maghrib panitia telah menyiapkan makanan untuk para jemaah, mulai dari membersihkan piring dan gelas, menghitung kue, mengaturnya di piring-piring kecil, mengisi gelas dengan teh manis, hingga mengaturnya di tempat buka puasa di lantai satu.

“Kami tidak dibayar, tapi diberi makan selama bertugas. Juga hadiah lebaran,” ucap Ridwan (15) yang membantu panitia di bagian penitipan sepatu/sandal. Dari uang penitipan sandal Rp 100 per pasang, setiap hari rata-rata diperoleh pemasukan sebesar Rp 300.000. Sementara dari 50 kotak amal setiap hari terkumpul rata- rata Rp 1,5 juta.

***

KEELOKAN Mesjid Al Markaz Al Islami yang seluruh dindingnya berlapis granit, dihias lampu kristal buatan Chekoslowakia, dilengkapi tangga berjalan (eskalator), ternyata menghadirkan rasa segan fakir miskin untuk menginjakkan kaki di sana.

“Rata-rata yang berbuka puasa di sini kaum terpelajar atau mahasiswa, yang datang dengan pakaian rapi dan necis,” ujar Drs Darwis MA DPS, Sekretaris Badan Pengelola Harian Bidang Pendidikan, Yayasan Islami Centre, pengelola Mesjid Al Markaz Al Islami.

“Tukang becak atau pedagang-pedagang kecil gampang ditebak dari pakaiannya. Saya belum pernah melihat mereka berbuka puasa di sini. Barangkali mereka masih segan menginjakkan kaki di sini,” ungkap Darwis. Padahal, justru kaum dhuafa (lemah) lah yang seharusnya mendapat perlakuan (khusus) di bulan Ramadhan.

Kalau para penarik becak masih segan datang ke mesjid ini bisa dimaklumi. Jalan Mesjid Raya –tempat mesjid ini berdiri– merupakan daerah bebas becak.

“Kami akan memasyarakatkan mesjid ini, khususnya bagi kaum dhuafa. Kami ingin kaum dhuafa dan anak yatim tidak segan masuk ke dalam mesjid. Ini milik kita bersama, milik semua golongan. Seperti juga di mesjid-mesjid lain, mereka jangan segan berbuka puasa di sini,” tandas Darwis.

Kehadiran Al Markaz Al Islami sebuah fenomena baru bagi masyarakat Sulsel, khususnya penduduk Ujungpandang. Selain menjadi landmark Islam, sejak peresmiannya tiga minggu lalu, mesjid ini setiap harinya dikunjungi sekitar 1.000 jemaah. Mereka menunaikan shalat lima waktu di sana. Jumlah jemaah meningkat saat shalat maghrib dan subuh. Mereka tidak hanya dari Ujungpandang, tapi juga dari daerah sekitarnya, seperti Kabupaten Maros dan Gowa.

Pada tarawih hari pertama lalu hadir sekitar 35.000 jemaah. Yang tidak tertampung di dalam mesjid meluber hingga ke koridor, lapangan rumput, dan pelataran parkir. (tt/zz)

Harga Telur Naik, Sidrap Tumpuannya

  • Kompas: Senin, 5 Feb 1996, halaman 15

MEMASUKI minggu kedua bulan puasa, harga bahan pangan di Ujungpandang mulai merambat naik. Di antara yang mengalami kenaikan harga adalah telur ayam ras yang naik hingga 75 persen. Menjelang lebaran mendatang, kenaikan diperkirakan 100 persen dari harga sebelum puasa. Akhir Januari lalu telur ayam ras dijual di pasaran dengan harga Rp 2.000-2.500 per kg. Harga sekarang Rp 3.400 per kg. Di Makassar Mall hari Jumat (2/2), bahkan Rp 3.500 per kg.

Ahmad, salah seorang pedagang mengakui, terpaksa menaikkan harga telur ayam ras, karena harga pengecer pun meningkat tajam.

“Menurut pengecer telur langganan saya, permintaan selama bulan puasa meningkat terus, sehingga persediaan menjadi terbatas. Biasanya saya mendapat jatah sampai 2.000 rak per minggu, sekarang hanya diberi 100 rak,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengecer langganannya yang berasal dari Kabupaten Sidrap (Sidenreng Rapang) –188 km utara Ujungpandang– mengatakan, permintaan yang meningkat drastis itu karena adanya permintaan dari luar Sulsel. “Banyak pedagang antarpulau yang langsung membeli telur di Sidrap. Akibatnya, jatah untuk pedagang telur di Ujungpandang terbatas,” tutur Ahmad.

***

SIDRAP memang dikenal sebagai produsen telur untuk Sulsel. Begitu memasuki Desa Tanete, Anda akan disambut bau menyengat dari kandang-kandang ayam yang berbaur dengan bau lumpur sawah yang baru saja dibajak.

Desa yang terletak sekitar lima kilometer arah selatan Pangkajene, ibu kota Sidrap, merupakan daerah peternakan ayam ras terbesar di Sulsel, malah dengan ayam yang jutaan ekor, kemungkinan besar terbesar di seluruh kawasan timur Indonesia.

Peternakan ayam ras di Sidrap sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak tahun 1977, tetapi masih dilakukan sebagai pekerjaan sambilan. Uniknya, usaha peternakan ayam ini sangat diminati masyarakat meski mengalami pasang surut.

Sebutlah, misalnya, tahun 1982 wabah penyakit ayam melanda Sidrap, yang membuat ratusan peternak surut. Tiga tahun kemudian mereka bangkit lagi, dan kembali mengalami kelesuan pada tahun 1987.

Memasuki tahun 1990-1995 Sidrap booming ternak ayam. Tahun 1991 misalnya, populasi ternak ayam sudah mencapai 1.135.000 ekor. Pada akhir tahun 1995 sekitar 1.500 orang memilih pekerjaan sebagai peternak ayam. Populasinya sudah di atas dua juta ekor, dengan total produksi 800.000 butir telur per hari.

“Menurut hitungan di atas kertas, bisnis peternakan ayam memang menggiurkan. Itulah sebabnya banyak orang yang tertarik beternak ayam. Tetapi mereka jadi lupa bahwa risikonya juga cukup tinggi,” kata H Mallawi (61), yang mulai beternak ayam sejak tahun 1985.

Ia memiliki sekitar 60.000 ekor ayam, belum termasuk yang dipelihara belasan anggotanya. Tiap anggota diberi 1.000 hingga 3.000 ekor ayam. Ia mempekerjakan 40 orang tenaga yang mengurusi segala tetek bengek ayam, mulai dari pemberian makan sampai pengumpulan telur dan perawatan kandang. Setiap pekerja diberi gaji Rp 100.000 per bulan ditambah 20 kilogram beras.

Beternak ayam merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Ia mencontohkan harga pakan dan harga telur yang bisa berubah tiap hari bergantung pada permintaan pasar.

Kendala yang dihadapi peternak selain harga telur yang tidak menentu adalah pasokan pakan yang sangat terbatas. Konsentrat sebagai bahan baku utama pakan ayam, masih didatangkan dari Jawa. Begitu pula dengan jagung dan dedak yang masih didatangkan dari daerah penghasil beras lainnya, seperti Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, dan Pinrang. Harga dedak dan jagung juga berfluktuasi. (tt/zz)

Sidrap dan Beras Tak Boleh Dipisah

  • Kompas: Kamis, 1 Februari 1996, halaman 15

MENDENGAR nama Sidenreng Rappang (Sidrap) –188 kilometer arah utara Ujungpandang, ibu kota Sulawesi Selatan– orang langsung teringat pada sebuah kabupaten sentra produksi beras terbesar di Sulsel. Dan, karena Sulsel tahun ini menjadi pemasok kebutuhan pangan terbesar di Tanah Air (akibat daerah lain merosot), maka tentu saja Sidrap saat ini adalah kabupaten terbesar pasokan pangannya di nusantara.

Tahun 1995, produksi beras Sidrap mencapai 435.213,64 ton. Maka jangan heran kalau daerah-daerah lain ada yang bermottokan kota Beriman atau kota Bersinar (Ujungpandang), maka Sidrap tembak langsung dengan motto “Beras”, akronim dari bersih, elok, rapi, aman, dan sopan.

Penduduk Sidrap berpegang pada etos kerja resopa temmangingngi malomo naletei pammase dewata (hanya dengan kerja keras rahmat Tuhan akan tercurah). Hampir 60 persen dari 235.000 penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Selebihnya pada sektor perdagangan, pemerintahan, industri, dan sebagainya.

Kabupaten Sidrap –terdiri tujuh kecamatan meliputi 116 desa– termasuk salah satu kabupaten yang dijadikan sentara pengembangan pangan dalam wilayah Bosowasipilu (Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, dan Luwu). Dan, hingga saat ini Sidrap masih memimpin dalam kelompok Bosowasipilu tersebut.

Amanah dan predikat yang melekat pada Sidrap sebagai lumbung pangan nasional mewarnai berbagai sektor kehidupan masyarakatnya. Pada sektor perindustrian, tumbuh subur industri-industri kecil yang mendukung pertanian, seperti perbengkelan yang memproduksi suku-suku cadang traktor tangan (hydro tiller), perontok padi (tresher), gerobak dorong, dan pemipil jagung.

Seluruh suku cadang peralatan pertanian tersebut, kecuali mesin, dibuat di perbengkelan yang banyak tersebar sampai ke pelosok desa. Selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri, peralatan tersebut dipasarkan ke daerah-daerah pertanian sekitar Sidrap.

Tekad untuk mempertahankan Sidrap sebagai lumbung pangan tidak bisa ditawar lagi. Pemda terus berbenah di sektor ini. “Saya optimis posisi Sidrap sebagai lumbung pangan akan terus bertahan,” kata Kepala Bagian Humas Pemda Sidrap Andi Sappewali SH.

Ia mengungkapkan bagaimana besarnya kepedulian pemda membangun dan mengembangkan sebanyak 13 proyek-proyek irigasi. Dari proyek Irigasi Tellang yang hanya mengairi 351 hektar areal persawahan, hingga Irigasi Saddang yang mengairi 14.398 hektar sawah.

“Sekarang sudah dibangun jalan inspeksi dan farmroad (jalan sawah) yang memungkinkan kendaraan roda empat sampai ke tengah persawahan,” kata Sappewali. Panjang total jalan inspeksi yang tersedia, sekitar 65 kilometer, dan farmroad sekitar 174 kilometer.

***

UNTUK meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian, Kanwil Departemen  Perindustrian (Deperin) Sulsel telah memprogramkan pengembangan industri mesin dan peralatan pertanian. Program ini mendapat bantuan melalui kerja sama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jerman dalam proyek Atiami (Assistance to the Indonesian Agriculture Machinery of Industry), suatu bentuk konsultasi alih teknologi pada pengembangan industri-industri kecil pembuat mesin dan peralatan pertanian.

Proyek Atiami telah berhasil memberi konsultasi teknis pada industri kecil bengkel yang membuat alat dan mesin pertanian. Dari sini diharapkan kebutuhan alat dan mesin pertanian bisa terpenuhi tanpa perlu mengimpor dari luar negeri.

“Pengembangan industri kecil diprioritaskan pada industri pendukung sektor pertanian dan industri yang dapat mengolah hasil-hasil pertanian,” jelas Andi Kadondong, seorang staf Dinas Perindustrian Sidrap.

Salah satu peralatan yang telah dibuat oleh perbengkelan industri kecil di bawah pembinaan Deperin adalah hydro tiller (traktor kura-kura), yang dibuat di Bengkel Karya Bersama.

Keunggulan mesin ini dibanding mesin yang beredar sebelumnya terletak pada kemampuan olahnya. Pada pengolahan pertama bisa menyelesaikan lahan seluas satu hektar dalam delapan jam, dan pada pengolahan berikutnya bisa mencapai 1,8 hektar. Di samping itu mampu membalik tanah sawah setebal 40 cm, dan dengan mudah dapat bergerak hingga ke tepi pematang. Traktor jenis ini dilengkapi sepasang pelampung pada bagian belakang untuk memudahkan pengoperasiannya pada sawah yang berlumpur dalam dan berair. (zz)

Pajero, Mobil Dinas Bupati di Sulsel

  • Kompas: Rabu, 15 Nov 1995, halaman 1

UJUNGPANDANG, KOMPAS – Surat edaran Gubernur Sulsel kepada 23 bupati/wali kota setempat agar menggunakan kendaraan dinas “seragam” Mitsubishi Pajero, ditanyakan 15 mahasiswa Universitas Hasanuddin Ujungpandang kepada Gubernur Sulsel H ZB Palaguna, saat keduanya bertemu di ruang rapat kantor gubernur setempat, hari Selasa (14/11).

Dari sudut pandang mahasiswa, demikian dikemukakan pada pertemuan itu, surat edaran tadi tidak sejalan anjuran menjalankan pola hidup sederhana yang selalu dikemukakan kepala negara.

Tetapi, kata Isradi Zaenal, salah seorang mahasiswa, surat edaran itu mengesankan sebaliknya, yakni hidup mewah. “Bagaimana bupati dan wali kota harus mempertanggungjawabkan APBD (anggaran pendapatan belanja daerah) pembeli Pajero, sementara masih banyak rakyat yang terpaksa hidup di bawah garis kemiskinan,” tambahnya.

Sebelumnya Gubernur Sulsel mengakui mengeluarkan surat edaran kepada para bupati/wali kota se-Sulsel pada bulan April lalu. Ini untuk menindaklanjuti surat penawaran PT BBM (Bosowa Berlian Motor) Ujungpandang. “Jangan diartikan instruksi atau wajib, demikian pula bukan paksaan…..”, tutur ZB Palaguna tentang surat edarannya.

Menurut dia lebih lanjut, yang bersedia membeli, memperoleh beberapa keuntungan. Antara lain harga pembelian bisa diangsur beberapa kali sesuai kemampuan daerah bersangkutan, dan pemeliharaan kendaraan bisa terpusat. “Pembelian Pajero telah melalui prosedur dan disetujui masing-masing DPRD,” jawab Palaguna.

Kemampuan Pajero

Alasan lain, jenis kendaraan dinas tadi sangat membantu tugas operasional di lapangan. Ini dilihat dari spesifikasinya yang bisa digunakan di berbagai medan. “Dengan Pajero tidak ada lagi alasan bagi mereka (bupati/wali kota Red) untuk tidak menjalankan tugas operasional. Jangan dilihat dari mahalnya, tetapi dari kemampuannya,” kata Gubernur Sulsel.

Setelah menguraikan alasan tersebut, para mahasiswa menimpali, gubernur jangan hanya memperhatikan kesejahteraan bupati/wali kota, tanpa mempedulikan kesenjangan sosial. “Seharusnya sarana umum seperti jalan dan jembatan yang menjadi prioritas utama, bukan jenis mobil mewah,” kata mahasiswa lain.

Meski surat edaran tadi disebutkan “bukan instruksi atau wajib”, tetapi kenyataannya seluruh bupati/wali kota se-Sulsel telah menggunakan kendaraan dinas yang harga on the road di Ujungpandang Rp 165 juta per unit. Ini bisa dilihat saat para bupati/wali kota setempat diundang hadir pada pembukaan Pekan Kebudayaan Sulsel di Ujungpandang tanggal 19 Oktober lalu. Pajero warna hijau metalik berjejer rapi di lapangan parkir. Sejak saat itulah masyarakat umum mengetahui adanya kendaraan dinas yang seragam.

Tidur di tengah sawah

Bupati Kepala Daerah Tingkat II Soppeng, Drs A Paeruddin Saesal ketika dihubungi hari Selasa malam menyatakan, tidak ada unsur paksaan dalam pembelian Pajero.

“Gubernur hanya menganjurkan. Kebetulan Soppeng membutuhkan mobil operasional yang baru, karena mobil operasional yang lama (Hardtop Landcruiser) sudah berumur 24 tahun. Wajar saja bila membeli mobil operasional yang baru. Apalagi banyak desa di Soppeng yang masih sulit dijangkau kendaraan jenis biasa,” ungkap Saesal.

Ia baru menjabat bupati selama dua bulan. Dan ketika datang, Pajero sudah ada di garasi. Keputusan memberi Pajero, katanya, di tangan bupati yang lama.

“Bila bupati membeli mobil (mewah) jenis sedan, malah patut dipertanyakan. Tetapi bila yang dibeli mobil operasional jenis jip dengan alasan demi kepentingan kerja di lapangan, masyarakat harus melihatnya dari asas kemanfaatan,” tuturnya.

“Presiden ‘kan menginstruksikan setiap bupati kalau perlu tidur di tengah sawah bila mengadakan peninjauan lapangan,” kata Saesal. Hal senada diungkapkan Bupati Maros, Drs Nasrun Amrullah. (zz/tt)

Melawan Maut di Teluk Bone

  • Kompas: Minggu, 17 Desember 1995, halaman 1

WAJAH wanita muda itu masih tampak pucat. Matanya sembab dan tubuhnya lunglai. Ia terpuruk di RSU Sawerigading Palopo setelah berjuang melawan maut, terombang-ambing 45 jam di tengah laut lepas. Suryani (16), demikian nama wanita muda itu, seperti tak percaya dirinya bisa selamat.

Tak jauh dari tempat Suryani berbaring, seorang wanita muda yang lain, Nana (18), menatap dengan mata menerawang. Tubuhnya memar-memar dan luka-luka di berbagai bagian tubuhnya belum sembuh. Seperti Nani, panggilan Suryani, Nana juga baru melawan maut di tengah samudera. Sekitar 48 jam ia diempas kesana-kemari.

Kedua wanita itu adalah sebagian dari korban yang selamat dalam musibah tenggelamnya KM Bunga Coklat 01 dan KM Belibis 02 di perairan Teluk Bone, Senin (11/12). Mereka adalah penumpang KM Coklat 01 yang berangkat dari Pelabuhan Wotu Nohu, Kolaka Utara, Kabupaten Kolaka (Sulawesi Tenggara) menuju Siwa, Kabupaten Wajo (Sulawesi Selatan) – 272 km timur laut Ujungpandang.

***

KEPADA Kompas Suryani berkisah, ia menyelamatkan diri hanya dengan sepotong papan pecahan kapal. Dua hari dua malam ia dibawa ombak di lautan yang luas. Ia ditemukan regu penolong sedang terapung di perairan Munte, sekitar 30 mil dari lokasi tenggelamnya kapal yang ia tumpangi.

Peristiwa naas itu berawal dari kerusakan mesin pada KM Bunga Coklat 01 yang ditumpanginya. Ketika itu Suryani bersama anaknya yang masih berumur satu tahun hendak pulang ke Siwa. Suryani bingung dan takut, ia tidak cukup hanya menyelamatkan dirinya, tapi yang utama harus bisa menyelamatkan anaknya. Si kecil tak lepas dari gendongannya, ia mendekapnya erat-erat seperti akan berpisah.

Belum hilang rasa takutnya kapal tiba-tiba bocor. Penumpang panik dan kapal yang sudah lumpuh total itu hanya bisa terombang- ambing dibawa ombak yang bergulung-gulung sampai setinggi tiga meter. Angin yang begitu kencang tak menghentikan kapal yang terus menerus oleng. Jeritan penumpang khususnya para wanita melengking- lengking. Para awak kapal sudah tak berdaya mengendalikan kapalnya. Satu-satunya jalan hanya mengurangi beban muatan. “Saya melihat, para ABK mulai membuang sebagian kakao dari lambung kapal, sampai akhirnya semua barang yang dimuat kapal tersebut dibuang ke laut,” paparnya.

Semua itu sia-sia. Angin bertambah kencang dan ombak samudera semakin ganas.

Setelah dua jam terombang-ambing, muncullah KM Belibis 02 yang menerima sinyal SOS dari KM Bunga Coklat 01. KM Belibis 02 berangkat dari pelabuhan yang sama dan tujuannya pun sama dengan KM Bunga Coklat 01, namun berangkat belakangan. Kapal ini segera mendekat untuk memberi pertolongan.

Ketika KM Belibis 02 merapat ke KM Bunga Coklat 01, penumpang berhamburan ke lambung kiri kapal dan berebut untuk menyeberang ke kapal penolong itu, termasuk Suryani dan anaknya. Karena beban tidak seimbang, KM Bunga Coklat 01 miring. Kapal pun akhirnya pecah.

Suryani dan anaknya belum sempat pindah kapal. Ia pasrah. Dalam kepasrahannya itu ia mengambil keputusan yang sangat memilukan. Ia serahkan anak satu-satunya itu kepada seorang ABK untuk diselamatkan karena ia tak sanggup melakukannya. Setelah itu perlahan-lahan Suryani tenggelam bersama kapalnya. Ia tidak pernah meninggalkan kapal sampai menemukan kayu pecahan kapal untuk menyelamatkan diri. Penumpang lain yang belum sempat pindah ke KM Belibis 02 juga berusaha mencari selamat sendiri-sendiri.

KM Belibis 02 tak bisa lagi menolong, ia bergerak menjauhi kapal yang tenggelam. Tapi karena beban terlalu besar dibanding kemampuannya, satu jam kemudian KM Belibis 02 pun ikut tenggelam.

Kamis (14/12) Suryani dijenguk oleh keluarganya di RS. Betapa gembiranya, anak satu-satunya yang dititipkan ABK ternyata selamat dan ikut menjenguk ibunya di RS.

Suryani dan anaknya saat itu baru dalam perjalanan pulang ke Siwa, setelah mengunjungi keluarganya di Kolaka yang telah berkebun kakao hampir sepuluh tahun.

***

LAIN lagi kisah yang dialami Nana (18), juga salah seorang korban. Ketika KM Bunga Coklat I mulai tenggelam, ia bersama penumpang lainnya naik ke buritan. Ia sempat melihat KM Belibis 02 masih berusaha menarik kapal yang mereka tumpangi.

Ketika sebagian penumpang menggelepar di dalam air untuk menggapai apa saja, Nana berhasil meraih sebuah papan untuk dijadikan pelampung. Sejak itu ia mulai terapung siang malam, hingga diselamatkan oleh sebuah kapal kecil.

Malam pertama (11/12), Nanna terapung bersama seorang lelaki yang ia perkirakan berusia 50 tahun. Namun memasuki hari kedua temannya itu menemui ajal karena kondisi yang semakin melemah. Kayu yang dipegangnya terlepas dan jasadnya ditelan ombak.

“Sampai malam kedua saya tidak pernah lagi melihat manusia, hanya benda-benda dari kapal yang mengapung-apung. Karena takut, saya berteriak terus minta pertolongan. Tak disangka ada yang menjawab, ternyata saudara sepupu saya yang menemani pelayaran ke Siwa. Ia juga terselamatkan oleh sepotong papan,” paparnya.

Keduanya ditemukan oleh KM Gaya Baru, sekitar pukul 14.00 pada hari Rabu (13/12) di sekitar perairan Munte.

Bangkai KM Belibis 02 ditemukan sekitar 28 mil dari lokasi tenggelamnya, sedang bangkai KM Bunga Coklat I tidak ditemukan. Tim SAR yang melakukan pencarian korban Jumat (15/12), menemukan lagi satu mayat wanita. Sementara itu dari 15 mayat yang dikabarkan ditemukan tim SAR, yang benar hanya 10 orang. Jumlah korban meninggal yang semula membengkak ternyata hanya karena salah hitung. Dengan demikian sampai Sabtu korban meninggal hanya 11 orang. Yang selamat 136 orang, sedang jumlah yang belum ditemukan belum jelas karena tidak diketahui pasti berapa penumpang yang ikut kapal-kapal tersebut. Syahbandar Kolaka, La Pido Tola menjelaskan, seluruh penumpang KM Belibis yang jumlahnya 33 orang berikut ABK nya, selamat. (bb/nn/tt/zz/yas)