Masjid Al-Markaz Al-Islami Juga untuk Dhuafa

  • Kompas: Sabtu, 3 Feb 1996, halaman 14

BERBUKA puasa di mesjid bukan hanya “monopoli” musafir (pejalan) atau kaum fakir miskin. Di Mesjid Al Markaz Al Islami Ujungpandang, yang diresmikan Jenderal (Purn) M Yusuf, 12 Januari lalu, ratusan muslimin sengaja datang ke mesjid untuk berbuka puasa. Banyaknya jemaah yang berbuka puasa di mesjid itu terlihat dari 20 deret jemaah yang duduk menunggu buka puasa, atau dari ratusan motor dan mobil yang berjejer rapi setiap menjelang bedug Maghrib di pelataran parkir seluas 2.460 meter persegi.

“Saya sengaja datang berbuka di sini bersama keluarga, karena ini kesempatan pertama masuk di mesjid ini, sekaligus mendapatkan tempat untuk shalat tarawih,” ujar Rabinah (45), ibu yang datang bersama dua putrinya.

Lain lagi Pippy (24), mahasiswa tingkat akhir Universitas Hasanuddin. “Saya memilih waktu konsultasi penyelesaian tugas akhir sore hari, selesai konsultasi saya langsung bisa mampir buka puasa di sini. Kebetulan rumah dosen saya dekat dengan mesjid ini,” katanya.

Untuk melayani jemaah yang berbuka puasa Panitia Ramadhan Mesjid Al Markaz Al Islami setiap hari mengerahkan 60 remaja. “Di hari-hari pertama Ramadhan kami kewalahan melayani 1.500 jemaah yang berbuka puasa di sini,” kata Jafri Usman, Wakil Ketua Panitia Ramadhan.

Panitia mengeluarkan dana Rp 300.000 sampai Rp 500.000 per hari untuk membeli hidangan buka puasa, belum termasuk sumbangan dari masyarakat. “Setiap hari rata-rata tujuh instansi atau perorangan membawa kue untuk buka puasa,” ungkap Jafri.

Satu jam sebelum tiba adzan Maghrib panitia telah menyiapkan makanan untuk para jemaah, mulai dari membersihkan piring dan gelas, menghitung kue, mengaturnya di piring-piring kecil, mengisi gelas dengan teh manis, hingga mengaturnya di tempat buka puasa di lantai satu.

“Kami tidak dibayar, tapi diberi makan selama bertugas. Juga hadiah lebaran,” ucap Ridwan (15) yang membantu panitia di bagian penitipan sepatu/sandal. Dari uang penitipan sandal Rp 100 per pasang, setiap hari rata-rata diperoleh pemasukan sebesar Rp 300.000. Sementara dari 50 kotak amal setiap hari terkumpul rata- rata Rp 1,5 juta.

***

KEELOKAN Mesjid Al Markaz Al Islami yang seluruh dindingnya berlapis granit, dihias lampu kristal buatan Chekoslowakia, dilengkapi tangga berjalan (eskalator), ternyata menghadirkan rasa segan fakir miskin untuk menginjakkan kaki di sana.

“Rata-rata yang berbuka puasa di sini kaum terpelajar atau mahasiswa, yang datang dengan pakaian rapi dan necis,” ujar Drs Darwis MA DPS, Sekretaris Badan Pengelola Harian Bidang Pendidikan, Yayasan Islami Centre, pengelola Mesjid Al Markaz Al Islami.

“Tukang becak atau pedagang-pedagang kecil gampang ditebak dari pakaiannya. Saya belum pernah melihat mereka berbuka puasa di sini. Barangkali mereka masih segan menginjakkan kaki di sini,” ungkap Darwis. Padahal, justru kaum dhuafa (lemah) lah yang seharusnya mendapat perlakuan (khusus) di bulan Ramadhan.

Kalau para penarik becak masih segan datang ke mesjid ini bisa dimaklumi. Jalan Mesjid Raya –tempat mesjid ini berdiri– merupakan daerah bebas becak.

“Kami akan memasyarakatkan mesjid ini, khususnya bagi kaum dhuafa. Kami ingin kaum dhuafa dan anak yatim tidak segan masuk ke dalam mesjid. Ini milik kita bersama, milik semua golongan. Seperti juga di mesjid-mesjid lain, mereka jangan segan berbuka puasa di sini,” tandas Darwis.

Kehadiran Al Markaz Al Islami sebuah fenomena baru bagi masyarakat Sulsel, khususnya penduduk Ujungpandang. Selain menjadi landmark Islam, sejak peresmiannya tiga minggu lalu, mesjid ini setiap harinya dikunjungi sekitar 1.000 jemaah. Mereka menunaikan shalat lima waktu di sana. Jumlah jemaah meningkat saat shalat maghrib dan subuh. Mereka tidak hanya dari Ujungpandang, tapi juga dari daerah sekitarnya, seperti Kabupaten Maros dan Gowa.

Pada tarawih hari pertama lalu hadir sekitar 35.000 jemaah. Yang tidak tertampung di dalam mesjid meluber hingga ke koridor, lapangan rumput, dan pelataran parkir. (tt/zz)

Harga Telur Naik, Sidrap Tumpuannya

  • Kompas: Senin, 5 Feb 1996, halaman 15

MEMASUKI minggu kedua bulan puasa, harga bahan pangan di Ujungpandang mulai merambat naik. Di antara yang mengalami kenaikan harga adalah telur ayam ras yang naik hingga 75 persen. Menjelang lebaran mendatang, kenaikan diperkirakan 100 persen dari harga sebelum puasa. Akhir Januari lalu telur ayam ras dijual di pasaran dengan harga Rp 2.000-2.500 per kg. Harga sekarang Rp 3.400 per kg. Di Makassar Mall hari Jumat (2/2), bahkan Rp 3.500 per kg.

Ahmad, salah seorang pedagang mengakui, terpaksa menaikkan harga telur ayam ras, karena harga pengecer pun meningkat tajam.

“Menurut pengecer telur langganan saya, permintaan selama bulan puasa meningkat terus, sehingga persediaan menjadi terbatas. Biasanya saya mendapat jatah sampai 2.000 rak per minggu, sekarang hanya diberi 100 rak,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengecer langganannya yang berasal dari Kabupaten Sidrap (Sidenreng Rapang) –188 km utara Ujungpandang– mengatakan, permintaan yang meningkat drastis itu karena adanya permintaan dari luar Sulsel. “Banyak pedagang antarpulau yang langsung membeli telur di Sidrap. Akibatnya, jatah untuk pedagang telur di Ujungpandang terbatas,” tutur Ahmad.

***

SIDRAP memang dikenal sebagai produsen telur untuk Sulsel. Begitu memasuki Desa Tanete, Anda akan disambut bau menyengat dari kandang-kandang ayam yang berbaur dengan bau lumpur sawah yang baru saja dibajak.

Desa yang terletak sekitar lima kilometer arah selatan Pangkajene, ibu kota Sidrap, merupakan daerah peternakan ayam ras terbesar di Sulsel, malah dengan ayam yang jutaan ekor, kemungkinan besar terbesar di seluruh kawasan timur Indonesia.

Peternakan ayam ras di Sidrap sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak tahun 1977, tetapi masih dilakukan sebagai pekerjaan sambilan. Uniknya, usaha peternakan ayam ini sangat diminati masyarakat meski mengalami pasang surut.

Sebutlah, misalnya, tahun 1982 wabah penyakit ayam melanda Sidrap, yang membuat ratusan peternak surut. Tiga tahun kemudian mereka bangkit lagi, dan kembali mengalami kelesuan pada tahun 1987.

Memasuki tahun 1990-1995 Sidrap booming ternak ayam. Tahun 1991 misalnya, populasi ternak ayam sudah mencapai 1.135.000 ekor. Pada akhir tahun 1995 sekitar 1.500 orang memilih pekerjaan sebagai peternak ayam. Populasinya sudah di atas dua juta ekor, dengan total produksi 800.000 butir telur per hari.

“Menurut hitungan di atas kertas, bisnis peternakan ayam memang menggiurkan. Itulah sebabnya banyak orang yang tertarik beternak ayam. Tetapi mereka jadi lupa bahwa risikonya juga cukup tinggi,” kata H Mallawi (61), yang mulai beternak ayam sejak tahun 1985.

Ia memiliki sekitar 60.000 ekor ayam, belum termasuk yang dipelihara belasan anggotanya. Tiap anggota diberi 1.000 hingga 3.000 ekor ayam. Ia mempekerjakan 40 orang tenaga yang mengurusi segala tetek bengek ayam, mulai dari pemberian makan sampai pengumpulan telur dan perawatan kandang. Setiap pekerja diberi gaji Rp 100.000 per bulan ditambah 20 kilogram beras.

Beternak ayam merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Ia mencontohkan harga pakan dan harga telur yang bisa berubah tiap hari bergantung pada permintaan pasar.

Kendala yang dihadapi peternak selain harga telur yang tidak menentu adalah pasokan pakan yang sangat terbatas. Konsentrat sebagai bahan baku utama pakan ayam, masih didatangkan dari Jawa. Begitu pula dengan jagung dan dedak yang masih didatangkan dari daerah penghasil beras lainnya, seperti Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, dan Pinrang. Harga dedak dan jagung juga berfluktuasi. (tt/zz)

Sidrap dan Beras Tak Boleh Dipisah

  • Kompas: Kamis, 1 Februari 1996, halaman 15

MENDENGAR nama Sidenreng Rappang (Sidrap) –188 kilometer arah utara Ujungpandang, ibu kota Sulawesi Selatan– orang langsung teringat pada sebuah kabupaten sentra produksi beras terbesar di Sulsel. Dan, karena Sulsel tahun ini menjadi pemasok kebutuhan pangan terbesar di Tanah Air (akibat daerah lain merosot), maka tentu saja Sidrap saat ini adalah kabupaten terbesar pasokan pangannya di nusantara.

Tahun 1995, produksi beras Sidrap mencapai 435.213,64 ton. Maka jangan heran kalau daerah-daerah lain ada yang bermottokan kota Beriman atau kota Bersinar (Ujungpandang), maka Sidrap tembak langsung dengan motto “Beras”, akronim dari bersih, elok, rapi, aman, dan sopan.

Penduduk Sidrap berpegang pada etos kerja resopa temmangingngi malomo naletei pammase dewata (hanya dengan kerja keras rahmat Tuhan akan tercurah). Hampir 60 persen dari 235.000 penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Selebihnya pada sektor perdagangan, pemerintahan, industri, dan sebagainya.

Kabupaten Sidrap –terdiri tujuh kecamatan meliputi 116 desa– termasuk salah satu kabupaten yang dijadikan sentara pengembangan pangan dalam wilayah Bosowasipilu (Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, dan Luwu). Dan, hingga saat ini Sidrap masih memimpin dalam kelompok Bosowasipilu tersebut.

Amanah dan predikat yang melekat pada Sidrap sebagai lumbung pangan nasional mewarnai berbagai sektor kehidupan masyarakatnya. Pada sektor perindustrian, tumbuh subur industri-industri kecil yang mendukung pertanian, seperti perbengkelan yang memproduksi suku-suku cadang traktor tangan (hydro tiller), perontok padi (tresher), gerobak dorong, dan pemipil jagung.

Seluruh suku cadang peralatan pertanian tersebut, kecuali mesin, dibuat di perbengkelan yang banyak tersebar sampai ke pelosok desa. Selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri, peralatan tersebut dipasarkan ke daerah-daerah pertanian sekitar Sidrap.

Tekad untuk mempertahankan Sidrap sebagai lumbung pangan tidak bisa ditawar lagi. Pemda terus berbenah di sektor ini. “Saya optimis posisi Sidrap sebagai lumbung pangan akan terus bertahan,” kata Kepala Bagian Humas Pemda Sidrap Andi Sappewali SH.

Ia mengungkapkan bagaimana besarnya kepedulian pemda membangun dan mengembangkan sebanyak 13 proyek-proyek irigasi. Dari proyek Irigasi Tellang yang hanya mengairi 351 hektar areal persawahan, hingga Irigasi Saddang yang mengairi 14.398 hektar sawah.

“Sekarang sudah dibangun jalan inspeksi dan farmroad (jalan sawah) yang memungkinkan kendaraan roda empat sampai ke tengah persawahan,” kata Sappewali. Panjang total jalan inspeksi yang tersedia, sekitar 65 kilometer, dan farmroad sekitar 174 kilometer.

***

UNTUK meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian, Kanwil Departemen  Perindustrian (Deperin) Sulsel telah memprogramkan pengembangan industri mesin dan peralatan pertanian. Program ini mendapat bantuan melalui kerja sama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jerman dalam proyek Atiami (Assistance to the Indonesian Agriculture Machinery of Industry), suatu bentuk konsultasi alih teknologi pada pengembangan industri-industri kecil pembuat mesin dan peralatan pertanian.

Proyek Atiami telah berhasil memberi konsultasi teknis pada industri kecil bengkel yang membuat alat dan mesin pertanian. Dari sini diharapkan kebutuhan alat dan mesin pertanian bisa terpenuhi tanpa perlu mengimpor dari luar negeri.

“Pengembangan industri kecil diprioritaskan pada industri pendukung sektor pertanian dan industri yang dapat mengolah hasil-hasil pertanian,” jelas Andi Kadondong, seorang staf Dinas Perindustrian Sidrap.

Salah satu peralatan yang telah dibuat oleh perbengkelan industri kecil di bawah pembinaan Deperin adalah hydro tiller (traktor kura-kura), yang dibuat di Bengkel Karya Bersama.

Keunggulan mesin ini dibanding mesin yang beredar sebelumnya terletak pada kemampuan olahnya. Pada pengolahan pertama bisa menyelesaikan lahan seluas satu hektar dalam delapan jam, dan pada pengolahan berikutnya bisa mencapai 1,8 hektar. Di samping itu mampu membalik tanah sawah setebal 40 cm, dan dengan mudah dapat bergerak hingga ke tepi pematang. Traktor jenis ini dilengkapi sepasang pelampung pada bagian belakang untuk memudahkan pengoperasiannya pada sawah yang berlumpur dalam dan berair. (zz)

Pajero, Mobil Dinas Bupati di Sulsel

  • Kompas: Rabu, 15 Nov 1995, halaman 1

UJUNGPANDANG, KOMPAS – Surat edaran Gubernur Sulsel kepada 23 bupati/wali kota setempat agar menggunakan kendaraan dinas “seragam” Mitsubishi Pajero, ditanyakan 15 mahasiswa Universitas Hasanuddin Ujungpandang kepada Gubernur Sulsel H ZB Palaguna, saat keduanya bertemu di ruang rapat kantor gubernur setempat, hari Selasa (14/11).

Dari sudut pandang mahasiswa, demikian dikemukakan pada pertemuan itu, surat edaran tadi tidak sejalan anjuran menjalankan pola hidup sederhana yang selalu dikemukakan kepala negara.

Tetapi, kata Isradi Zaenal, salah seorang mahasiswa, surat edaran itu mengesankan sebaliknya, yakni hidup mewah. “Bagaimana bupati dan wali kota harus mempertanggungjawabkan APBD (anggaran pendapatan belanja daerah) pembeli Pajero, sementara masih banyak rakyat yang terpaksa hidup di bawah garis kemiskinan,” tambahnya.

Sebelumnya Gubernur Sulsel mengakui mengeluarkan surat edaran kepada para bupati/wali kota se-Sulsel pada bulan April lalu. Ini untuk menindaklanjuti surat penawaran PT BBM (Bosowa Berlian Motor) Ujungpandang. “Jangan diartikan instruksi atau wajib, demikian pula bukan paksaan…..”, tutur ZB Palaguna tentang surat edarannya.

Menurut dia lebih lanjut, yang bersedia membeli, memperoleh beberapa keuntungan. Antara lain harga pembelian bisa diangsur beberapa kali sesuai kemampuan daerah bersangkutan, dan pemeliharaan kendaraan bisa terpusat. “Pembelian Pajero telah melalui prosedur dan disetujui masing-masing DPRD,” jawab Palaguna.

Kemampuan Pajero

Alasan lain, jenis kendaraan dinas tadi sangat membantu tugas operasional di lapangan. Ini dilihat dari spesifikasinya yang bisa digunakan di berbagai medan. “Dengan Pajero tidak ada lagi alasan bagi mereka (bupati/wali kota Red) untuk tidak menjalankan tugas operasional. Jangan dilihat dari mahalnya, tetapi dari kemampuannya,” kata Gubernur Sulsel.

Setelah menguraikan alasan tersebut, para mahasiswa menimpali, gubernur jangan hanya memperhatikan kesejahteraan bupati/wali kota, tanpa mempedulikan kesenjangan sosial. “Seharusnya sarana umum seperti jalan dan jembatan yang menjadi prioritas utama, bukan jenis mobil mewah,” kata mahasiswa lain.

Meski surat edaran tadi disebutkan “bukan instruksi atau wajib”, tetapi kenyataannya seluruh bupati/wali kota se-Sulsel telah menggunakan kendaraan dinas yang harga on the road di Ujungpandang Rp 165 juta per unit. Ini bisa dilihat saat para bupati/wali kota setempat diundang hadir pada pembukaan Pekan Kebudayaan Sulsel di Ujungpandang tanggal 19 Oktober lalu. Pajero warna hijau metalik berjejer rapi di lapangan parkir. Sejak saat itulah masyarakat umum mengetahui adanya kendaraan dinas yang seragam.

Tidur di tengah sawah

Bupati Kepala Daerah Tingkat II Soppeng, Drs A Paeruddin Saesal ketika dihubungi hari Selasa malam menyatakan, tidak ada unsur paksaan dalam pembelian Pajero.

“Gubernur hanya menganjurkan. Kebetulan Soppeng membutuhkan mobil operasional yang baru, karena mobil operasional yang lama (Hardtop Landcruiser) sudah berumur 24 tahun. Wajar saja bila membeli mobil operasional yang baru. Apalagi banyak desa di Soppeng yang masih sulit dijangkau kendaraan jenis biasa,” ungkap Saesal.

Ia baru menjabat bupati selama dua bulan. Dan ketika datang, Pajero sudah ada di garasi. Keputusan memberi Pajero, katanya, di tangan bupati yang lama.

“Bila bupati membeli mobil (mewah) jenis sedan, malah patut dipertanyakan. Tetapi bila yang dibeli mobil operasional jenis jip dengan alasan demi kepentingan kerja di lapangan, masyarakat harus melihatnya dari asas kemanfaatan,” tuturnya.

“Presiden ‘kan menginstruksikan setiap bupati kalau perlu tidur di tengah sawah bila mengadakan peninjauan lapangan,” kata Saesal. Hal senada diungkapkan Bupati Maros, Drs Nasrun Amrullah. (zz/tt)

Melawan Maut di Teluk Bone

  • Kompas: Minggu, 17 Desember 1995, halaman 1

WAJAH wanita muda itu masih tampak pucat. Matanya sembab dan tubuhnya lunglai. Ia terpuruk di RSU Sawerigading Palopo setelah berjuang melawan maut, terombang-ambing 45 jam di tengah laut lepas. Suryani (16), demikian nama wanita muda itu, seperti tak percaya dirinya bisa selamat.

Tak jauh dari tempat Suryani berbaring, seorang wanita muda yang lain, Nana (18), menatap dengan mata menerawang. Tubuhnya memar-memar dan luka-luka di berbagai bagian tubuhnya belum sembuh. Seperti Nani, panggilan Suryani, Nana juga baru melawan maut di tengah samudera. Sekitar 48 jam ia diempas kesana-kemari.

Kedua wanita itu adalah sebagian dari korban yang selamat dalam musibah tenggelamnya KM Bunga Coklat 01 dan KM Belibis 02 di perairan Teluk Bone, Senin (11/12). Mereka adalah penumpang KM Coklat 01 yang berangkat dari Pelabuhan Wotu Nohu, Kolaka Utara, Kabupaten Kolaka (Sulawesi Tenggara) menuju Siwa, Kabupaten Wajo (Sulawesi Selatan) – 272 km timur laut Ujungpandang.

***

KEPADA Kompas Suryani berkisah, ia menyelamatkan diri hanya dengan sepotong papan pecahan kapal. Dua hari dua malam ia dibawa ombak di lautan yang luas. Ia ditemukan regu penolong sedang terapung di perairan Munte, sekitar 30 mil dari lokasi tenggelamnya kapal yang ia tumpangi.

Peristiwa naas itu berawal dari kerusakan mesin pada KM Bunga Coklat 01 yang ditumpanginya. Ketika itu Suryani bersama anaknya yang masih berumur satu tahun hendak pulang ke Siwa. Suryani bingung dan takut, ia tidak cukup hanya menyelamatkan dirinya, tapi yang utama harus bisa menyelamatkan anaknya. Si kecil tak lepas dari gendongannya, ia mendekapnya erat-erat seperti akan berpisah.

Belum hilang rasa takutnya kapal tiba-tiba bocor. Penumpang panik dan kapal yang sudah lumpuh total itu hanya bisa terombang- ambing dibawa ombak yang bergulung-gulung sampai setinggi tiga meter. Angin yang begitu kencang tak menghentikan kapal yang terus menerus oleng. Jeritan penumpang khususnya para wanita melengking- lengking. Para awak kapal sudah tak berdaya mengendalikan kapalnya. Satu-satunya jalan hanya mengurangi beban muatan. “Saya melihat, para ABK mulai membuang sebagian kakao dari lambung kapal, sampai akhirnya semua barang yang dimuat kapal tersebut dibuang ke laut,” paparnya.

Semua itu sia-sia. Angin bertambah kencang dan ombak samudera semakin ganas.

Setelah dua jam terombang-ambing, muncullah KM Belibis 02 yang menerima sinyal SOS dari KM Bunga Coklat 01. KM Belibis 02 berangkat dari pelabuhan yang sama dan tujuannya pun sama dengan KM Bunga Coklat 01, namun berangkat belakangan. Kapal ini segera mendekat untuk memberi pertolongan.

Ketika KM Belibis 02 merapat ke KM Bunga Coklat 01, penumpang berhamburan ke lambung kiri kapal dan berebut untuk menyeberang ke kapal penolong itu, termasuk Suryani dan anaknya. Karena beban tidak seimbang, KM Bunga Coklat 01 miring. Kapal pun akhirnya pecah.

Suryani dan anaknya belum sempat pindah kapal. Ia pasrah. Dalam kepasrahannya itu ia mengambil keputusan yang sangat memilukan. Ia serahkan anak satu-satunya itu kepada seorang ABK untuk diselamatkan karena ia tak sanggup melakukannya. Setelah itu perlahan-lahan Suryani tenggelam bersama kapalnya. Ia tidak pernah meninggalkan kapal sampai menemukan kayu pecahan kapal untuk menyelamatkan diri. Penumpang lain yang belum sempat pindah ke KM Belibis 02 juga berusaha mencari selamat sendiri-sendiri.

KM Belibis 02 tak bisa lagi menolong, ia bergerak menjauhi kapal yang tenggelam. Tapi karena beban terlalu besar dibanding kemampuannya, satu jam kemudian KM Belibis 02 pun ikut tenggelam.

Kamis (14/12) Suryani dijenguk oleh keluarganya di RS. Betapa gembiranya, anak satu-satunya yang dititipkan ABK ternyata selamat dan ikut menjenguk ibunya di RS.

Suryani dan anaknya saat itu baru dalam perjalanan pulang ke Siwa, setelah mengunjungi keluarganya di Kolaka yang telah berkebun kakao hampir sepuluh tahun.

***

LAIN lagi kisah yang dialami Nana (18), juga salah seorang korban. Ketika KM Bunga Coklat I mulai tenggelam, ia bersama penumpang lainnya naik ke buritan. Ia sempat melihat KM Belibis 02 masih berusaha menarik kapal yang mereka tumpangi.

Ketika sebagian penumpang menggelepar di dalam air untuk menggapai apa saja, Nana berhasil meraih sebuah papan untuk dijadikan pelampung. Sejak itu ia mulai terapung siang malam, hingga diselamatkan oleh sebuah kapal kecil.

Malam pertama (11/12), Nanna terapung bersama seorang lelaki yang ia perkirakan berusia 50 tahun. Namun memasuki hari kedua temannya itu menemui ajal karena kondisi yang semakin melemah. Kayu yang dipegangnya terlepas dan jasadnya ditelan ombak.

“Sampai malam kedua saya tidak pernah lagi melihat manusia, hanya benda-benda dari kapal yang mengapung-apung. Karena takut, saya berteriak terus minta pertolongan. Tak disangka ada yang menjawab, ternyata saudara sepupu saya yang menemani pelayaran ke Siwa. Ia juga terselamatkan oleh sepotong papan,” paparnya.

Keduanya ditemukan oleh KM Gaya Baru, sekitar pukul 14.00 pada hari Rabu (13/12) di sekitar perairan Munte.

Bangkai KM Belibis 02 ditemukan sekitar 28 mil dari lokasi tenggelamnya, sedang bangkai KM Bunga Coklat I tidak ditemukan. Tim SAR yang melakukan pencarian korban Jumat (15/12), menemukan lagi satu mayat wanita. Sementara itu dari 15 mayat yang dikabarkan ditemukan tim SAR, yang benar hanya 10 orang. Jumlah korban meninggal yang semula membengkak ternyata hanya karena salah hitung. Dengan demikian sampai Sabtu korban meninggal hanya 11 orang. Yang selamat 136 orang, sedang jumlah yang belum ditemukan belum jelas karena tidak diketahui pasti berapa penumpang yang ikut kapal-kapal tersebut. Syahbandar Kolaka, La Pido Tola menjelaskan, seluruh penumpang KM Belibis yang jumlahnya 33 orang berikut ABK nya, selamat. (bb/nn/tt/zz/yas)

PT Industri Kapal Indonesia, Antara Harapan dan Kenyataan

  • Kompas: Sabtu, 21 Oktober 1995, halaman 13

“ANGKAT… Tarik… Stop…,” teriak salah seorang koordinator pekerja lapangan PT Industri Kapal Indonesia (IKI) Ujungpandang di antara suara palu yang beradu dengan pelat besi. Pelan-pelan, derek pengangkat besi pun menjulurkan belalainya ke geladak sebuah kapal motor penyeberangan (feri) yang sedang dikerjakan. Dengan sigap, lima pekerja di atas kapal menjemput tumpukan pelat dari derek.

Satu demi satu pelat disodorkan ke tukang las. Maka terbentuklah dinding KM (kapal motor) Ileape dan KM Inelika yang sedang dikeroyok sekitar 100 pekerja di galangan kapal IKI. Melihat fisiknya, dua kapal motor ini hampir rampung. Semua kerangkanya sudah terakit. Kegiatan pekerja hanya terfokus pada pekerjaan las dan mencat bagian-bagian tertentu.

KM Inelika yang berkapasitas 500 GRT (Gross Register Tonage) dipersiapkan untuk melayani kebutuhan penyeberangan di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sedang KM Ileape berkapasitas 300 GRT, direncanakan meluncur ke Sulawesi Tenggara.

“Paling lambat akhir 1995 kedua kapal ini sudah rampung,” ujar Udin, seorang pekerja yang ditemui Kompas, Senin (16/10). Ia bermandi keringat saat rehat di bawah rimbunnya pohon Waru, tidak jauh dari kapal feri yang dikerjakan.

Kesibukan di dua kapal feri itu mewarnai kegiatan PT IKI sebagai sebuah industri kapal andalan Indonesia. Kompleks seluas 320.000 m2 itu lebih banyak diwarnai kegiatan docking dibanding pembuatan kapal baru. Saat ini, kapal yang terpasang di galangan sekitar 10 buah.

Hasil pemantauan Senin (16/10) siang menunjukkan, hanya ada tujuh kapal yang terpasang di galangan. Hanya kedua kapal feri itulah yang sedang dikerjakan sebagai kapal baru. Lima lainnnya kapal bekas yang sedang direparasi. Di antara lima yang didok, ada dua tongkang, dua kapal kayu dan satu kapal penumpang nonferi terbuat dari besi.

***

PT IKI rupanya sedang bersiap-siap menghadapi Program Mina Jaya yang direncanakan bergulir 1996. Menurut Akhyaruddin, staf Divisi Umum PT IKI, setelah Program Mina Jaya diluncurkan 1996, PT IKI akan memproduksi kapal ikan berkapasitas 300 GRT dilengkapi fasilitas pendingin minus 60 derajat Celsius.

“Fasilitas pendingin yang melengkapi kapal-kapal ikan selama ini hanya menghasilkan suhu minus 40 derajat,” ujarnya. Direncanakan, Program Mina Jaya, pada tahap awal akan memproduksi kapal jenis ini sebanyak 31 unit.

Menurut data, kapasitas produksi IKI untuk kapal baru rata-rata hanya 5-10 unit per tahun. Sedang untuk reparasi rata-rata 200-300 unit. Kapasitas PT IKI ini, hanya seujung jari saja jika dibandingkan kebutuhan kapal ikan untuk memenuhi kebutuhan di perairan Indonesia yang sangat luas ini. Terlebih lagi untuk menjawab kebutuhan kapal ikan Nusantara, yang setiap tahunnya memerlukan 2.000 unit (Kompas, 12/10).

Diperoleh keterangan, sejak berdiri 1977, BUMN naungan Departemen Perindustrian itu baru memproduksi dan mereparasi sedikitnya 164 unit kapal. Hanya 30 persen di antaranya berupa kapal ikan dengan produksi rata-rata 5-10 unit per tahun. Selebihnya, berupa kapal angkutan penyeberangan, termasuk jenis feri dan tongkang.

***

MENGANTISIPASI peningkatan kebutuhan jasa docking, IKI secara bertahap membangun graving dock 120 x 28 m2 yang dapat menampung kapal 6.000 DWT dan bisa melayani tongkang 10.000 DWT.

Kesiapan IKI didukung fasilitas utama, seperti shipter sepanjang 45 meter dengan daya angkat 500 ton ditambah slipway horizontal dengan empat site track. Seluruh fasilitas berada dalam satu kawasan terpadu. Perusahaan ini melibatkan sedikitnya 500 tenaga kerja, termasuk dua staf ahli kualifikasi doktor, dan empat konsultan dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

Sulit membandingkan biaya produksi kapal baru dengan biaya dok untuk sebuah kapal ikan berukuran 40 Gross Ton (GT). Tapi melihat data pesanan, ditaksir biaya produksi untuk sebuah kapal ikan tidak kurang dari Rp 14 milyar. Ini berdasarkan asumsi bahwa bantuan kapal ikan Spanyol untuk Indonesia sebanyak 31 unit di IKI, disiapkan dana Rp 450 milyar.

Melihat potensinya, IKI agaknya kesulitan memenuhi harapan sebagai salah satu pusat pembuatan kapal ikan di Kawasan Timur Indonesia. Harga kapal impor yang jauh lebih murah, membuat pengusaha perikanan tetap “mengerling” kapal produksi luar negeri. Perbedaan harga itu bahkan sangat mencolok, mencapai enam-tujuh kali lipat dibanding buatan dalam negeri.

Menurut catatan Kompas (12/10), untuk kapal berukuran 50-60 GRT, buatan Cina, Korsel atau Jepang misalnya, harganya sekitar Rp 400 juta. Sedang kapal produk galangan kapal dalam negeri berkisar Rp 3 milyar. Mampukah industri kapal Indonesia, khususnya PT IKI bersaing dengan produk luar negeri? (nn/zz)

Mau Baronang atau Cumi-cumi, Pesan Saja…

  • Kompas: Sabtu, 21 Oktober 1995, halaman 2

HADI (36) seorang pengusaha makanan hasil laut (seafood) kaki lima yang mangkal di depan Benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam) kewalahan melayani pembeli yang setiap malam menjejali warungnya. “Setiap malam bisa sampai 150 orang yang makan di sini,” ungkapnya saat merakit warung kaki limanya, Rabu (18/10).

Hadi dan keluarganya mulai membuka usaha seafood sejak tiga tahun lalu. Ketika itu seafood baru mulai dijual di kaki lima, yang sebelumnya hanya bisa dinikmati di rumah makan. Ketika itu, baru satu-dua kaki lima yang menghidangkan masakan sari laut.

Bagi kalangan kaki lima, istilah seafood lebih lazim untuk sari laut. Di depan Benteng Ujungpandang terdapat belasan warung kaki lima sari laut, yang lainnya tersebar di beberapa tempat di pusat kota.

Kaki lima sari laut yang berlokasi di depan Benteng Ujungpandang mulai buka sekitar pukul 17.00 hingga 24.00, bahkan ada yang buka hingga dinihari. Hidangannya bervariasi, mulai dari kerang, kepiting, cumi-cumi, udang, sampai baronang dan berbagai jenis ikan laut lainnya. Dengan omzet Rp 500.000-Rp 1 juta per malam, Hadi bisa meraup keuntungan sekitar 40 persen.

Pedagang kaki lima mendapat suplai ikan dari nelayan melalui perantara. Dari perantara, penjual kaki lima sepakat mematok harga ikan antara Rp 3.000-4.000 per ekor baronang ukuran besar. “Saya sudah punya langganan tetap yang tiap hari mengantar ikan ke sini,” ujar Hadi sambil memperlihatkan ikan-ikannya yang sudah siap hidang.

***

KALAU mau menikmati masakan laut yang lebih bergengsi, carilah restoran. Di Ujungpandang, menurut keterangan yang diperoleh Kompas dari Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Kotamadya Ujungpandang, terdapat 20-an restoran yang menghidangkan masakan laut. Sembilan di antaranya masuk kategori besar, yakni Aroma Labbakkang, Ujungpandang, Surya, Himalaya, Ratu Muda, Pualam, Asia, Losari Beach, dan Topaz Food Court.

Dari restoran tersebut, pengunjung dapat menikmati berbagai jenis ikan seperti baronang, titang, papakulu, udang, kepiting, cumi-cumi dan kerang. Umumnya dihidangkan dengan dua jenis adonan: digoreng atau dibakar.

Selain itu, mereka juga menyajikan hidangan non-seafood. Hidangan ikan di restoran seharga Rp 6.000 sampai Rp 8.000. Kepiting rata-rata Rp 10.000 per porsi.

Seorang pemilik rumah makan yang letaknya tidak jauh dari Pantai Losari mengakui, omzetnya setiap hari antara Rp 4-7,5 juta. “Rata-rata yang berkunjung ke sini orang-orang dari luar Sulsel. Kalau mereka berombongan, biasanya menempati beberapa meja,” katanya. Ia mengungkapkan, jumlah pengunjung setiap harinya bisa mencapai 300-an orang.

Kebutuhan rumah makan dan restoran seafood di Ujungpandang dipasok dari Kepulauan Selayar (pulau sebelah selatan Sulawesi), dan pulau-pulau lain di Selat Makassar. Umumnya restoran dihubungkan dengan nelayan oleh seorang perantara, dengan ketentuan harga yang disepakati sebelumnya. Nelayan tidak pernah berhubungan langsung dengan rumah makan.

Ada dua macam kesepakatan antara pemilik rumah makan dan perantara. Pertama, perantara menjualnya sesuai dengan fluktuasi harga dari nelayan. Pada musim ikan, sekitar Oktober-Desember dan Mei-Juli, biasanya harga ikan lebih murah dibanding bulan-bulan lainnya. Namun pengusaha rumah makan menjual hidangannya dengan harga yang konstan. Jadi adakalanya pengusaha memperoleh keuntungan sedikit, dan adakalanya keuntungan melimpah.

Kedua, pengusaha restoran tidak boleh membeli ikan ke tempat lain, dan perantara harus siap memenuhi berapa pun permintaan pengusaha. Lazimnya, pengusaha rumah makan memesan 75 hingga seratus ekor ikan per hari untuk setiap jenis ikan.

***

MENJAMURNYA kaki lima seafood, tidak membuat pengusaha rumah makan menjadi gentar. Mereka punya pangsa pasar masing-masing. Rumah makan umumnya dipadati pengunjung bermobil, sementara kaki lima lebih banyak diminati pengendara motor yang rata-rata anak muda. “Restoran seafood belum terancam dengan banyaknya pengusaha kaki lima yang menyajikan masakan laut,” tutur seorang pemilik restoran terkenal di Ujungpandang.

Rudy (32), salah satu pemilik rumah makan di pusat kota Ujungpandang melihat prospek cerah dari bisnis yang digelutinya. Mengalirnya ikan hasil laut ke Ujungpandang, setidaknya menjadi salah satu alasan optimismenya. “Ujungpandang seolah tidak mengenal krisis ikan, tidak ada resesi, ikan mengalir sepanjang tahun. Ini yang membuat Ujungpandang dikenal sebagai kota pusat makanan hasil laut,” tutur Rudy.

Data Dipenda Ujungpandang menunjukkan, terjadi peningkatan jumlah rumah makan seafood dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 1993, misalnya, jumlahnya baru 11. Angka itu membengkak jadi 17 pada 1994. Dan hingga Oktober ini, sudah menjadi 21 buah.

Setiap pendatang di Ujungpandang, boleh jadi belum pas, puas jika belum menicicipi hidangan ikan laut. Pandangan itulah yang membuat rumah makan dan kaki lima seafood menjamur di kota ini. Selaku tuan rumah, penduduk Ujungpandang yang kedatangan tamu istimewa dari luar daerah, biasanya mengantar tamunya ke rumah makan seafood untuk makan siang atau makan malam, atau keduanya sekaligus.

Ikan baronang (Siganus sp) dan cumi-cumi, menjadi hidangan primadona, dan khas bagi tamu-tamu istimewa. Tak heran jika di rumah makan biasanya terdengar ucapan dalam dialek Makassar: “Mau baronang atau cumi-cumi, pesan-mi (Mau baronang atau cumi-cumi, pesan sajalah…).” (Nasrullah Nara, Nasru Alam Aziz)