Mengalahkan Letusan Bedil dengan Alunan Musik

  • Kompas: Kamis, 28 Juli 2005, halaman 12
Simfoni Aceh Damaiyang digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Selasa (26/7) malam, juga menampilkan penyanyi Iga Mawarni. Ia membawakan lagu daerah Nanggroe Aceh Darussalam dengan iringan orkestra pimpinan M Jafar Puteh. Acara musik bertajuk “Simfoni Aceh Damai” yang menampilkan sejumlah artis Ibu Kota itu diadakan untuk menyambut ulang tahun ke-2 majalah Acehkita. (Kompas/tok)

Satu lagi malam untuk Aceh. Dan ratusan orang yang hadir di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (26/7) malam, beku dalam larik-larik puisi Salam Damai: Sebab begitu lama kita dalam duka cita/ Oleh amuk serakah kaum pendurhaka/ Takluk di hadapan pembidik/ Dalam kokang senjata tak berjiwa//

Suara serak Fikar W Eda membacakan puisinya itu terasa menggetarkan dan begitu menyentuh. Penyair asal Aceh itu menyela Konser Aceh Damai yang menampilkan sejumlah penyanyi asal Aceh dan Jakarta. Syair Aceh yang biasanya diiringi rapa’i (perkusi) dan serune kale (seruling), malam itu tampil beda dalam simfoni orkestra. Konduktor sekaligus penata musiknya juga berasal dari Aceh, Muhammad Jafar Ali Puteh.

Jafar jelas bukan orang baru dalam permusikan di Indonesia. Ia pernah bermain pada beberapa orkestra, di antaranya Orkes Simfoni Jakarta.

Seperti biasa dalam pergelaran musik Aceh, pertunjukan dibuka dengan Peumulia, syair yang dinyanyikan untuk memuliakan setiap yang hadir. “Jangan sampai duduk di luar tikar yang sudah digelar,” begitu kira-kira terjemahan satu baris syair yang dinyanyikan dengan riang gembira oleh Yusdedi, penyanyi asal Aceh pesisir.

Sederetan penyanyi asal Aceh, seperti Falara Simeulu Gruop (Simeulu Ate Fulawan/Simeulu yang Kusayang), Kabri Wali dan Jassin Burhan (Aman/Damai), Adi Alfaisal yang dikenal sebagai Adi KDI (Aneuk Yatim/Anak Yatim), dan Fajar Sidiq (Ingat/Ingat).

Kemudian disusul penyanyi kawakan yang bukan orang Aceh tetapi membawakan lagu dari Aceh: Trie Utami (Dododaidi/Ninabobo), Franky Sahilatua (Sibijeh Mata/buah hati), Iga Mawarni (Tawar Sedenge/Tanah Leluhur), Iwan Zein (Trok Bak Watee/Hingga Tiba Saatnya), dan Lita Zein (Tuak Kukur/Kicau Burung).

Pesan damai

Majalah Acehkita menggelar Konser Aceh Damai tidak sekadar sebagai rangkaian peringatan ulang tahunnya yang ke-2. Majalah alternatif yang terbit sejak 19 Juli 2003 -tiga bulan setelah wilayah Aceh diberi status darurat militer- berpretensi menyuarakan pesan damai menyongsong penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 15 Agustus nanti.

Acehkita mula-mula muncul melalui situs acehkita.com (http://www.acehkita.com). Sebulan kemudian, terbit dalam bentuk majalah berita. Media ini sering dituding pro-GAM karena memaparkan fakta tentang Aceh secara blak-blakan. Kelahiran Acehkita dibidani oleh sejumlah jurnalis di Aceh dan Jakarta. Mereka gerah pada pemberitaan media umum tentang Aceh yang hanya bermain di permukaan.

Mula-mula reporternya hanya 10 orang dan terus bertambah menjadi lebih dari 20 orang ketika status darurat militer diperpanjang, November 2003. Menapaki tahun ketiga, kontributor Acehkita sudah mencapai 40 orang, umumnya adalah para jurnalis dari berbagai media yang bertugas di Aceh maupun di Jakarta.

Menurut Jauhari Samalanga dari bagian sirkulasi Acehkita, majalah itu dicetak sebanyak 8.000 eksemplar, belum termasuk 1.000 eksemplar edisi bahasa Inggris. Acehkita beredar di Aceh, Medan, dan Jakarta.

“Semoga Acehkita bisa berkontribusi mewujudkan perdamaian di Tanah Rencong,” ujar T Mulya Lubis, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Acehkita.

Melalui apresiasi seni, kata Mulya Lubis, Yayasan Acehkita ingin menarik dukungan khalayak yang lebih luas terhadap perdamaian di Aceh.

Sebagai puncaknya, akan digelar Rapa’i Pase (parade rebana) Uroh Taloe Rod di Nanggroe Aceh Darussalam, 7-8 Agustus 2005. Acara ini menampilkan 144 rapa’i yang ditabuh oleh 288 orang tanpa jeda, menempuh perjalanan sekitar 400 kilometer selama 24 jam. Rute yang dilalui mulai dari Banda Aceh ke Pidie, Bireuen, Lhok Seumawe, Panton Labu, Paya Deman, Idi, hingga Peureulak, kemudian kembali dan berakhir di Panton Labu.

Tabuhan rapa’i menyusuri pesisir utara itu agaknya menjadi simbol untuk mengalahkan suara bedil, yang belum juga berhenti menyalak di Aceh. (Nasru Alam Aziz)

Penataan Ruang Pascatsunami Harus Lebih Ketat

  • Kompas: Kamis, 24 Februari 2005, halaman 9
UNEP TENTANG TSUNAMI – Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Selasa (22/2), mengeluarkan laporan penilaian awal bencana tsunami berjudul After the Tsunami di Kantor Pusat UNEP di Nairobi, Kenya. Hadir memberi keterangan pers (dari kiri ke kanan) Ketua Gugus Tugas Tsunami Asia UNEP Pasi Rinne, Direktur Eksekutif UNEP Klaus Toepfer, Presiden Dewan Pemerintahan UNEP Rachmat Witoelar, dan Direktur Regional UNEP untuk Asia Pasifik Surendra Shrestha. (Kompas/lam)

NAIROBI, KOMPAS – Penataan ruang untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami di kawasan yang terkena dampak tsunami harus dilakukan secara ketat. Bangunan atau infrastruktur lainnya harus dibangun pada kawasan yang rentan terhadap tsunami sehingga kawasan tersebut dapat terlindungi dari bencana serupa yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

“Penataan ruang secara ketat itu bukan hanya terkait dengan antisipasi ancaman tsunami, tetapi terkait dengan bencana lainnya, seperti badai, banjir, atau bencana akibat cuaca ekstrem lainnya,” ungkap Direktur Eksekutif Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) Klaus Toepfer dalam keterangan pers di sela sidang ke-23 Governing Council/Global Ministerial Environment Forum (GC/GMEF) di Nairobi, Kenya, Selasa (22/2).

Ia berbicara di dampingi Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar dalam kapasitas sebagai Presiden GC UNEP, Ketua Gugus Tugas Tsunami Asia UNEP Pasi Rinne, dan Direktur Regional UNEP untuk Asia Pasifik Surendra Shrestha.

Wartawan Kompas Nasru Alam Aziz melaporkan dari Nairobi, semalam, bahwa pada kesempatan tersebut UNEP mengeluarkan laporan penilaian awal lingkungan hidup pascatsunami berjudul After the Tsunami. Penilaian awal dalam buku itu mencakup seluruh negara yang terkena tsunami, yakni Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Maladewa, Seychelles, Yaman, dan Somalia.

Rachmat mengungkapkan, selama beberapa dekade terakhir dapat disaksikan betapa tsunami dan bencana alam lain telah mengakibatkan kerugian sangat besar, baik terhadap kehidupan ekonomi maupun kerusakan lingkungan lokal.

“Terkait dengan itu, dibutuhkan perencanaan pemulihan lingkungan hidup yang tidak hanya terkait dengan peningkatan kualitas kehidupan bagi korban tsunami yang selamat, tetapi juga meningkatkan pemberdayaan bagi komunitas lokal secara luas untuk mengantisipasi bencana yang datangnya tidak terduga,” katanya memaparkan.

Zona bebas bangunan

Toepfer mengemukakan bahwa Sri Lanka, salah satu negara yang diterjang gelombang raksasa pada 26 Desember 2004, telah memutuskan untuk menetapkan zona bebas bangunan (no build zone) sejauh 200 meter dari garis pantai saat pasang. Dapat juga dipetik pelajaran dari Pasifik, tempat yang sering dilanda tsunami.

Dalam laporan After the Tsunami, diambil contoh Hilo, Hawaii, yang akhirnya memindahkan infrastrukturnya ke kawasan yang tingkat risikonya rendah, dan mengubah kawasan pantai menjadi tempat bermain, taman, atau infrastruktur yang tidak esensial. Laporan itu mengimbau kepada pengusaha industri pariwisata -yang menjadi primadona bagi sebagian besar wilayah yang terkena dampak ekonomi akibat tsunami- seyogianya memelopori relokasi hotel dan restoran ke tempat yang aman.

Banglades telah menanam ribuan pohon di sepanjang garis pantai sehingga banyak warga yang selamat dari terjangan tsunami karena menggelayut pada pohon-pohon kelapa. Hal tersebut membuktikan bahwa pepohonan bukan hanya meredam gelombang, tetapi juga menjadi tempat perlindungan bagi manusia dari hantaman tsunami.

Di samping penetapan zona bebas bangunan pada kawasan pesisir, pemerintah dan masyarakat setempat sebaiknya merehabilitasi hutan bakau dan kembali kepada pola pertambakan tradisional. Laporan tersebut mengingatkan bahwa sistem budidaya perikanan tambak intensif yang menguntungkan secara ekonomi dan menjadi populer beberapa tahun terakhir agaknya sebuah kesalahan.

Rachmat mengungkapkan kesedihannya melihat kawasan pesisir wilayah Aceh, yang sebagian besar sudah kehilangan hutan bakaunya. “Hutan-hutan bakau, terutama di sekitar Banda Aceh, habis karena dikonversi menjadi tambak atau permukiman. Kawasan yang seharusnya menjadi benteng tsunami menjadi permukiman padat, yang tak ayal memakan korban sangat besar ketika datang tsunami,” tuturnya.

Optimisme di “Belahan Jantung” Rakyat Aceh

  • Kompas: Senin, 14 Februari 2005, halaman 1

“Tekad bulat melahirkan perbuatan jang njata. ‘Darussalam’ menudju kepada pelaksanaan tjita?”

DI bawah terik matahari, 2 September 1959, Presiden Soekarno meresmikan kawasan Darussalam -sekitar delapan kilometer arah timur Kota Banda Aceh- sebagai Kota Pelajar/Mahasiswa (Kopelma). Sesaat setelah menyampaikan pidato yang memukau ribuan orang yang memadati lapangan, Soekarno mengguratkan kalimat tadi pada kepingan batu pualam.

Boleh jadi tulisan tangan dan tanda tangan Soekarno yang dilekatkan pada sebuah tugu tidak menarik perhatian banyak orang. Tidak lebih dari sekadar tengara penghias alun-alun. Akan tetapi, sejarah membuktikan bahwa Darussalam tetap identik dengan dua perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry.

Kedua perguruan tinggi tersebut telah menorehkan sejarah panjang. Unsyiah didirikan secara resmi pada 21 Juni 1961 dan kini dilengkapi dengan Fakultas Ekonomi (1959), Kedokteran Hewan dan Ilmu Peternakan (1960), Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (1961), Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1961), Teknik (1963), Pertanian (1964), Kedokteran (1982), Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (1993), serta Program Pascasarjana (1995).

Tetangga sebelahnya, IAIN Ar-Raniry, diresmikan pada 5 Oktober 1963 sebagai IAIN ketiga setelah IAIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta. Kini di perguruan tinggi itu terdapat lima fakultas, yakni Syariah (1960), Tarbiyah (1962), Ushuluddin (1963), Dakwah (1968), dan Adab (1983), serta Program Pascasarjana (1988).

***

DARUSSALAM terletak di dataran rendah sekitar tiga meter di atas permukaan laut, kira-kira 2,5 kilometer dari bibir pantai Selat Sumatera. Jadi, bisa dibayangkan kalau kawasan yang dikelilingi permukiman penduduk itu tidak luput dari sapuan tsunami yang dipicu gempa bumi berkekuatan 8,5 pada skala Richter, 26 Desember 2004 silam.

RUSAK – Gedung Safwan Idris di salah satu sudut Kampus IAIN Ar- Raniry. Kampus IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala di kawasan Darussalam, Banda Aceh, mengalami kerusakan fisik dan kehilangan sumber daya manusia akibat bencana gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004. (Kompas/lam)

Bekas batas genangan air di atas satu meter masih terlihat jelas pada dinding-dinding gedung kampus IAIN Ar-Raniry. Beberapa gedung rusak akibat guncangan gempa bumi, di antaranya adalah Gedung Safwan Idris yang tidak mungkin digunakan lagi.

Secara fisik kerusakan yang dialami IAIN Ar-Raniry jauh lebih berat dibandingkan dengan Unsyiah. Namun, yang lebih parah, kedua perguruan tinggi itu kehilangan sumber daya manusia yang cukup besar jumlahnya.

Menurut informasi yang beredar, sedikitnya 89 pengajar dan 76 pegawai administrasi Unsyiah dinyatakan meninggal atau hilang dalam peristiwa itu. Namun, data IAIN Ar-Raniry sendiri menyebutkan, 23 pengajar dan 16 pegawai administrasi meninggal atau hilang. Jumlah mahasiswa yang menjadi korban bencana masih terus didata.

“Kerusakan fisik bisa segera diperbaiki. Gedung-gedung bisa dibangun kembali. Akan tetapi, kehilangan sumber daya manusia membutuhkan waktu sedikitnya lima tahun untuk mendapatkan yang setara,” ungkap Dr Amirul Hadi, Direktur Pascasarjana IAIN Ar-Raniry.

Amirul sendiri kehilangan istri -Nazlyh Hanum Lubis, master alumnus McGill University, Kanada- serta dua anaknya yang berusia 9 dan 4,5 tahun.

Di antara korban yang meninggal atau hilang terdapat sejumlah guru besar, doktor, master, dan tenaga-tenaga muda potensial. Beberapa di antara mereka baru kembali dari menempuh pendidikan di luar negeri atau perguruan tinggi di Pulau Jawa.

***

BAGI para dosen, pegawai, dan mahasiswa yang menjadi korban langsung tentu bukan suatu hal yang mudah untuk bangkit dari bencana tsunami. “Yang perlu segera dibangun adalah kepercayaan diri dan rasa kebersamaan. Jangan merasa sendiri,” kata Amirul.

Itu diterapkan oleh pimpinan IAIN Ar-Raniry dengan menginstruksikan kepada pengajar dan pegawai administrasi untuk hadir di kampus sejak tanggal 26 Januari 2005, persis sebulan setelah tsunami merenggut lebih dari 100.000 jiwa rakyat Aceh. Lalu pada Senin, 31 Januari 2005, IAIN Ar-Raniry mengadakan apel untuk mengukur keberadaan dosen dan karyawannya, dan yang hadir sekitar 60 persen.

“Dengan mendorong dosen dan karyawan hadir di kampus, kami mencoba menggerakkan semangat hidup mereka, semangat untuk menatap kembali ke depan. Harus tetap terjalin komunikasi antara dosen dan mahasiswa. Cobaan yang menjadi ujian bagi hamba Allah ini harus dijadikan momentum bagi masyarakat Aceh untuk bangkit,” tutur Rektor IAIN Ar-Raniry Prof Dr H Rusjdi Ali Muhammad.

Kesadaran yang sama merebak di Kampus Unsyiah. Agar tidak larut dalam kesedihan, di Unsyiah telah berlangsung kegiatan akademik sejak 1 Februari lalu.

Kegiatan akademik IAIN Ar-Raniry baru dimulai hari Senin ini.

Di samping dosen dan karyawan diharapkan sudah hadir di kampus, mahasiswa diimbau agar datang melaporkan keberadaannya dengan mengisi data diri pada fakultas masing-masing.

“Setelah membangun kepercayaan diri, harus ada semacam komitmen untuk bangkit bersama menatap masa depan. Saatnya melupakan perbedaan- perbedaan yang terjadi di masyarakat, dan menghimpun kekuatan,” ujar Pembantu Rektor Bidang Akademik Unsyiah Dr Darni M Daud.

Ia menambahkan, “Tantangannya adalah apakah kita mau menjadikan momentum untuk bangkit atau malah terlena meratapi kepedihan tanpa berbuat apa-apa. Mereka yang meninggal adalah satu hal yang niscaya. Akan tetapi, mereka yang masih hidup akan menjadi orang-orang yang sebenarnya sudah meninggal jika tidak diberdayakan.”

Semangat untuk memulai kegiatan akademik di kedua kampus yang secara metaforis dikenal sebagai “jantung hati rakyat Aceh” memancarkan optimisme. Pimpinan kedua kampus itu sepakat menjadikan bencana tsunami sebagai momentum untuk bangkit lebih baik dari sebelumnya.

Sebagai belahan jantung, masing-masing pihak saling mengisi. Unsyiah menyiapkan teknokrat dan perencana pembangunan, sementara IAIN Ar-Raniry menanamkan nilai-nilai keagamaan yang berakar pada jati diri keislaman masyarakat Aceh.

***

SEBAGAI lembaga pendidikan tinggi yang mengemban tridarma perguruan tinggi -pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat- Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry harus lebih dulu pulih dibandingkan dengan lembaga-lembaga lain. Peran perguruan tinggi dibutuhkan untuk ikut menentukan pemulihan dan rekonstruksi Aceh pascatsunami.

“Kampus harus mengobati dirinya agar sembuh lebih cepat karena punya tanggung jawab untuk menyembuhkan yang lain,” kata Amirul.

Menurut Darni, Unsyiah telah membentuk gugus tugas yang memikirkan bagaimana rekonstruksi Aceh sesuai dengan konteks sosial budaya dan keadaan alamnya. Penerapannya, kata Darni, pada saat yang sama tidak mengisolasi masyarakat Aceh secara keseluruhan hingga tercerabut dari integritas kebangsaannya.

Tekad telah dipancang di Darussalam, dan jalan masih membentang luas menuju cita-cita. (Nasru Alam Aziz)

Menengok Makam Teungku Syiah Kuala

  • Kompas: Senin, 7 Februari 2005, halaman 9
MAKAM SYIAH KUALA – Kompleks makam Syiah Kuala setelah dihantam gelombang tsunami. Foto diambil Kamis (3/2) (Kompas/lam), sedangkan inset adalah makam Syiah Kuala sebelum dihantam tsunami (Kementerian Budpar).

BANYAK cerita mistis bermunculan setelah Serambi Mekkah diguncang gempa dan diterjang tsunami, 26 Desember 2004. Makam Syiah Kuala, mufti besar Kerajaan Aceh pada abad XVI, tidak luput dari kisah berbau mistis.

Beredar cerita di masyarakat bahwa dari kompleks makam di Deah Raya itulah berawal bencana yang menelan lebih dari seratus ribu jiwa tersebut. Malam sebelum tsunami datang, kompleks makam dijadikan arena pesta.

Di tengah ingar-bingar organ tunggal serta aroma minuman beralkohol, tiba-tiba muncul seorang berjubah putih. Dia lalu mengingatkan bahwa tempat itu adalah tempat suci yang tidak boleh diusik dengan kegiatan yang tidak sepantasnya. Pria tua tersebut malah diusir dengan todongan senjata.

Seberapa kadar kebenaran cerita itu, tidak ada yang bisa memastikan. Akan tetapi, kabar itulah yang beredar dan diyakini sebagian orang sebagai penyebab bencana.

Tidak cukup sampai di situ. Beberapa warga yang ditemui Kompas di Banda Aceh menggambarkan bahwa makam yang dikeramatkan itu tidak tersentuh tsunami meski letaknya dari bibir laut hanya berjarak sekitar 100 meter. Ketika ombak raksasa menggulung hingga beberapa kilometer jauhnya ke daratan dan melumatkan apa saja, makam itu tetap utuh.

Mengapa bisa selamat dari terjangan tsunami yang dahsyat, tak ada yang bisa menjelaskan kecuali kata “keramat” tadi. Menurut cerita yang beredar luas di masyarakat, saat tsunami menghantam, makam tersebut naik mengikuti ketinggian gelombang. Lalu, kembali seperti semula setelah air laut surut. Tentu cerita itu sulit diterima akal sehat.

***

NAMA besar Syiah Kuala dan rasa penasaran setelah mendengar kisah mistis tadi membawa Kompas ke kompleks makam yang terletak di muara Sungai Krueng Aceh. Tidak mudah mencapai lokasi yang jaraknya sekitar lima kilometer dari pusat aktivitas Banda Aceh. Lumpur hitam dan tumpukan puing menghadang kendaraan sebelum melintasi jembatan kecil dekat muara sungai.

Begitu menyaksikan kompleks makan yang porak poranda, kisah mistis tentang makam yang tidak tersentuh tsunami sirna seketika. Tidak ada lagi bangunan kubah berukuran 5 x 7 meter yang menutupi makam, batu-batu nisan dari sedikitnya 30 makam di kompleks seluas 1,6 hektar itu berserakan bersama potongan pilar-pilar kubah. Di antara makam itu terdapat makam anggota keluarga Kesultanan Aceh.

Pepohonan rindang tempat berteduh peziarah turut tertelan keganasan tsunami. Pagar besi setinggi satu meter yang mengitari makam Syiah Kuala ringsek diterpa pilar-pilar beton. Satu-satunya yang masih berdiri utuh hanya anak tangga pada bangunan di sisi makam.

MAKAM SYIAH KUALA – Makam Teungku Syiah Kuala (Syaikh Abdurrauf bin Ali Aljawi Al-Singkili) hancur akibat terjangan tsunami, 26 Desember 2004. Kompleks makam yang ramai dikunjungi peziarah ini terletak sekitar 100 meter dari bibir pantai di Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis (3/2). Syiah Kuala adalah mufti besar (pemberi fatwa) di Kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin (1641-1675). (Kompas/lam)
Kompas, Minggu, 6 Februari 2005, halaman 2

***

TEUNGKU Syiah Kuala adalah gelar Syeikh Abdurrauf bin Ali Al-Jawi Al-Singkili, seorang ulama terkemuka, pujangga, dan pembina hukum syarak di Kerajaan Aceh.

Makamnya di Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, adalah salah satu cagar budaya dan sekaligus menjadi obyek wisata spiritual. Untuk mengenang kecendekiawanannya, namanya diambil untuk perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Aceh, Universitas Syiah Kuala, yang didirikan pada tahun 1961.

Syiah Kuala adalah putra Syeikh Ali, pendiri Dayah Suro di Lipat Kajang, Simpang Kanan, Singkil. Setelah belajar di Dayah Suro, ia sempat mengecap pendidikan agama di Dayah Oboh, Simpang Kiri, Singkil, dan pada beberapa dayah lainnya di daerah itu.

Pada tahun 1642, Syiah Kuala memperdalam ilmu ke Asia Barat dan kembali ke Aceh pada tahun 1661. Ia kemudian mendirikan sekolah agama di Kuala, dekat sungai Krueng Aceh.

Upaya Syiah Kuala memajukan pendidikan agama mendapat dukungan penuh dari Ratu Safiatuddin (1641-1675), yang kemudian mengangkatnya menjadi mufti besar menggantikan Nuruddin Ar-Raniry. Ia meninggal tahun 1690 dan dimakamkan di Deah Raya.

Kini makam Syiah Kuala porak poranda. Namun, kebesaran dan kemuliaan namanya tidak rontok oleh gempa bumi dan tidak tergerus oleh gelombang tsunami. Pepatah Aceh mengatakan, “Adat bak po teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala”: adat dipegang oleh raja, hukum harus mengikuti fatwa Syiah Kuala. (Nasru Alam Aziz)

John Howard di Aceh

  • Kompas: Kamis, 3 Februari 2005, halaman 2

HOWARD DI ACEH – Perdana Menteri Australia John Howard merangkul Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab, yang menyambutnya bersama Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda (kiri). Howard tiba dengan pesawat militer Australia di Pangkalan Udara TNI AU Blang Bintang, Banda Aceh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Rabu (2/2).

Jemur Komik

  • Kompas: Rabu, 2 Februari 2005, halaman 1

JEMUR KOMIK — Nazir (34), pemilik Toko Buku Desperado di Jalan Daud Beureueh, Banda Aceh, Selasa (1/2), menjemur sekitar 500 buku komik yang terendam akibat tsunami. Toko buku miliknya yang lain di Jalan Prof A Madjid Ibrahim habis tersapu tsunami beserta sekitar 1.700 bukunya. (Kompas/Nasru Alam Aziz)