Ketika Si Kancil Naik Panggung

  • Kompas: Selasa, 26 Juli 2005, halaman 12
Sejumlah pendongeng dari berbagai negara menabuh gendang sebagai tanda dimulainya Festival Mendongeng di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (23/7). Festival yang diadakan dalam rangka Hari Anak Nasional 2005 itu, antara lain, dimaksudkan untuk memberi peluang bagi anak mengembangkan keterampilan berbahasa. (Kompas/tok)

Bagaimana seekor kancil dapat menyeberangi sungai yang penuh dengan buaya? Tentu yang terbayang adalah cerita Petualangan Si Kancil. Benar, binatang cerdik itu meminta para buaya berjajar hingga ke sisi seberang sungai, kemudian menghitungnya sambil meloncat-loncat di atas punggung-punggung buaya itu.

Petualangan Si Kancil menjadi berbeda ketika diceritakan pada Festival Mendongeng Ke-6 di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (23/7). Ohanashi Caravan Center dari Jepang menampilkan cerita rakyat asal Indonesia itu di atas panggung melalui teater boneka, yang di Jepang dikenal sebagai bunraku. Festival Mendongeng yang diselenggarakan Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) dan Yayasan Murti Bunanta itu berlangsung hingga hari ini, Selasa.

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan kali ini menghadirkan sejumlah pendongeng dari negeri sendiri dan dari luar negeri dengan berbagai latar belakang dan keunikan masing-masing. Selain Ohanashi Caravan Center dengan bunraku-nya, ada Dr Anne Pellowski -pendongeng kawakan dan ahli sastra anak dari Amerika Serikat- yang menampilkan cerita rakyat dari Kalimantan Tengah, Mengapa Udang Bengkok, melalui wayang beber.

Hari pertama, tampil pula dalang Slamet Gundono dengan kelompok wayang rumputnya membawakan cerita rakyat Jawa, Senggutru, serta Sanggar Mayang Sari dari Bengkulu memainkan sandiwara cerita rakyat Bengkulu, Putri Kemang. Sementara Rifki, bocah berusia 12 tahun dari Pondok Yatim asuhan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Aceh, membawakan cerita rakyat Aceh, Si Nyamuk.

Di antara deretan nama asing, masih ada Dr Margaret Read MacDonald (Amerika Serikat) yang tahun lalu juga tampil dalam acara yang sama, kemudian Sylvia Mihira dan Akiko Sueyoshi (Jepang), Ms Kiran Shah (Singapura), Ms Panna (Singapura). Sejumlah teater anak dan sekolah juga tidak ketinggalan ambil bagian, seperti SD Santa Ursula, TK Barunawati, SD TBB Hanaeka, TK IKKT Jakarta, TK Regina Pacis, TK Rukun Ibu, Teater Lensa, Grup Ina Kreativa, Panti Nugraha, dan Teater Kidschat. Penampil lain adalah Sujiwo Tejo (Eksotika Karmawibhangga Indonesia) dan Kak Agus DS (Puppet Theatre).

Dramatisasi

Festival mendongeng tahun ini memang memfokuskan pada dramatisasi atau pementasan teater. Alasannya tak lain karena sampai saat ini kurangnya ruang bagi anak-anak untuk berekspresi dan bersentuhan dengan kebudayaan, berkaitan dengan cerita rakyat.

“KPBA memang menaruh perhatian dalam hal dramatisasi atau teater. Selain merupakan salah satu cara meningkatkan kegiatan membaca, juga memberi peluang bagi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa, melakukan kerja sama dengan teman, melakukan kerja sama dengan guru dan pelatih seni, serta berdiskusi dengan mereka dan membicarakan buku,” kata Murti Bunanta, Ketua KPBA.

Pellowski dan MacDonald sepakat bahwa melalui dongeng kemampuan berbahasa anak akan terasah dengan baik, sekaligus memberi kesempatan kepada anak untuk memahami bahasa tutur. “Dongeng juga memberi pemahaman mengenai budaya negeri sendiri dan negara lain secara baik,” kata Pellowski yang telah menulis tidak kurang dari 20 buku panduan tentang mendongeng dengan menggunakan berbagai media.”Di samping menghibur, dongeng membuka ruang imajinasi bagi anak,” tambah MacDonald, pustakawan anak dan pendongeng yang telah menulis lebih dari 30 buku mengenai mendongeng dan berbagai topik cerita rakyat.

Drs Suyadi, pemeran Pak Raden dalam film boneka Si Unyil, menambahkan bahwa dongeng sebaiknya mengandung pesan moral. Namun yang lebih penting adalah membuat senang anak. “Sedapat mungkin pendongeng dapat melibatkan anak yang menjadi pendengarnya, sehingga mereka akan betah berjam-jam mendengar dongeng yang diceritakan,” katanya.

Festival Mendongeng Ke-6 tidak sekadar membuat anak bergeming di tempat duduknya mendengar dongengan, lebih dari itu berhasil menggalang solidaritas internasional. KPBA menerima sumbangan sekitar Rp 500 juta dari International Board on Books for Young People, United States Board on Book for Young People, Japanese Board on Book for Young People, Ohanashi Caravan Center, dan masyarakat Winona, AS.

Dana itu akan digunakan untuk menerbitkan buku-buku bermutu, mendirikan perpustakaan, melatih guru-guru dalam bercerita dan penggunaan buku yang efektif, antara lain di Nanggroe Aceh Darussalam, Nabire, Alor, Nias, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. (LAM)

Advertisements

Anugerah “Kompas” untuk Ratna Indraswari Ibrahim

  • Kompas: Rabu, 29 Juni 2005, halaman 12
Cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim menerima ucapan selamat dari Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo pada Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005, Selasa (28/6) di Bentara Budaya Jakarta. Ratna (duduk di kursi roda) menerima Anugerah Kesetiaan Berkarya dari Kompas atas kesetiaannya dalam menulis cerpen. (Kompas/pri)

JAKARTA, KOMPAS – Harian Kompas memberi Anugerah Kesetiaan Berkarya kepada penulis Ratna Indraswari Ibrahim. Saat yang sama, Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005 diberikan kepada Kuntowijoyo (alm) sebagai penulis cerpen Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana”.

Trofi untuk Ratna diserahkan oleh Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-40 Harian Kompas, Selasa (28/6) malam, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Adapun trofi penghargaan cerpen terbaik diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo kepada Susilaningsih, istri almarhum Kuntowijoyo. Penghargaan kali ini merupakan yang keempat bagi Kuntowijoyo, setelah menerima penghargaan serupa pada tahun 1995, 1996, dan 1997.

Di samping karya Kuntowijoyo, sembilan cerpen lainnya yang dimuat dalam tahun 2004 menjadi cerpen pilihan yang dibukukan dalam Jl. “Asmaradana”: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005. Cerpen tersebut adalah Kupu-kupu Seribu Peluru (Agus Noor), Senja Buram, Daging di Mulutnya (Radhar Panca Dahana), Belatung (Gus tf Sakai), Dari Mana Datangnya Mata (Veven Sp Wardhana), Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura (Sunaryono Basuki Ks), Bulan Terbingkai Jendela (Indra Tranggono), Baju (Ratna Indraswari Ibrahim), Daun-daun Waru di Samirono (Nh Dini), dan Roti Tawar (Kurnia Effendi).

Kesetiaan berkarya Ratna ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen, novelet, dan novel yang dihasilkannya sejak usia remaja hingga saat ini. Sejumlah cerpen karya perempuan kelahiran Malang, 24 April 1949, terpilih masuk dalam kumpulan cerpen Kompas.

“Menulis adalah proses belajar yang tak berkesudahan di tengah berbagai informasi yang berdengung di mana-mana. Di tengah budaya ‘autis’ yang membuat kita asyik dengan diri sendiri, cerpen tetap diperlukan,” kata Ratna di atas kursi rodanya.

Menurut Jakob, cerpen merupakan bagian yang esensial dari eksistensi surat kabar seperti Kompas, yang falsafahnya adalah kemanusiaan yang beriman, kemanusiaan yang serba dimensi, dan kemanusiaan yang peduli.

“Kalau surat kabar melaporkan kenyataan yang hidup di masyarakat lewat berita dan komentar, lewat cerpen sukma dari kenyataan itulah yang coba digambarkan,” ujarnya. (LAM)

Aceh dan Banten dalam Saman

  • Kompas: Selasa, 28 Juni 2005, halaman 12
Sarka Afandi (65) dan Sukma (45) melantunkan syair-syair saman Banten dengan iringan perkusi (rapa’i) dari Aceh, saat latihan akhir pekan lalu. Selasa (28/6) malam ini, Komunitas Nyawoung Aceh tampil berkolaborasi dengan kelompok zikir saman dari Banten di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). (Kompas/lam)

Salam alaikum warahmatullah. Jaroe dua blah ateuh jeumala.

Komunitas Nyawoung Aceh menyapa dengan salam khas Aceh. Salam yang mengawali lagu Meubri Salem itu sekaligus menjadi pembuka acara peluncuran buku Jl. “Asmaradana”: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005, Selasa (28/6) malam ini di Bentara Budaya Jakarta.

Peluncuran buku kumpulan cerpen yang diadakan Kompas sejak tahun 1992, kali ini terbilang unik. Komunitas Nyawoung Aceh yang mencoba memadukan nuansa musik tradisional Aceh pesisir yang vulgar dengan Aceh pedalaman yang lebih verbal. Perpaduan itu kemudian dikolaborasikan dengan zikir saman dari Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kelompok yang berdomisili di Desa Ciandur (sekitar 40 kilometer dari Serang, ibu kota Provinsi Banten) itu masih bertahan hingga saat ini dengan tradisi ritual saman.

Melalui kolaborasi ini mereka ingin menemukan benang merah antara saman Banten dan saman Aceh. “Aceh dan Banten punya marwah keislaman yang sama, dan itu bisa bertemu dalam saman,” kata Manajer Produksi Komunitas Nyawoung Aceh, Jauhari Samalanga.

Sementara bagi Dadan Sujana, Ko-Direktur Banten Heritage, kolaborasi itu merupakan pertemuan dua saudara kembar. Banten dan Aceh, menurut Dadan, sama-sama berangkat dari kesenian tarekat. Tradisi kesenian Banten dipengaruhi oleh tarekat Sammaniyah, sedangkan seni musik tradisional Aceh yang didominasi tabuhan rapa’i adalah pengaruh tarekat Rifa’iyyah.

Pertemuan Komunitas Nyawoung Aceh dan lembaga kajian kebudayaan Banten Heritage merupakan yang kedua. Mereka pernah membuat rekaman pada tahun 2003 untuk keperluan pendokumentasian musik tradisional Banten.

Kolaborasi Aceh-Banten

Setelah membukanya dengan Meubri Salem, Kandar SA sebagai representasi Aceh pedalaman dan Yusdedi dari Aceh pesisir secara bergantian menyanyikan Urang Uten (orang hutan), Nyawoung Geutanyo (nyawa kita ini), dan Nyang Na (apa adanya). Dibanding musik dari Aceh pedalaman, musik pesisir lebih kencang, beat-nya cepat, biasanya bertema patriotik, dengan cengkok vokal yang lebih kuat. Musik Aceh pedalaman lebih lembut dan melankolis.

Musik pesisir mengentak-entak bagai ombak pantai utara Aceh. Tabuhan rapa’i (perkusi) dan lengkingan serune kale (seruling) lebih dominan dalam musik pesisir. Adapun musik Aceh pedalaman mendayu-dayu mengikuti semilir angin Pegunungan Gayo.

Urang Uten karya To’et (meninggal tahun 2004) dibawakan dengan sangat energik oleh Kandar SA. To’et yang bernama asli Abdul Kadir adalah penyair tiga zaman yang menciptakan banyak puisi-puisi tradisional Gayo yang disebut didong. Urang Uten adalah semacam fabel yang bercerita tentang perebutan kekuasaan yang mengorbankan rakyat kecil. “Moral ceritanya, kalau seseorang tak becus sebagai pemimpin lebih baik mundur saja. Karena hanya akan menyengsarakan rakyatnya,” kata Kandar.

Komunitas Nyawoung Aceh tidak lupa mengenang mereka yang tersapu tsunami di Aceh enam bulan lalu, melalui lagu Nyawoung Geutanyo. “Lagu ini sebetulnya syair lama, akan tetapi sangat relevan untuk mengenang rekan-rekan seniman yang pergi bersama tsunami,” kata Jauhari yang akrab dengan sapaan Joe.

Berikutnya, melalui Nyang Na, Yusdedi mengajak untuk bersatu padu, tidak tercerai-berai. Dua nomor terakhir adalah hasil kolaborasi, yakni Wamolee dan Shalawat Banten serta Sikrak dan Saman Tolap Nabak.

Saman yang dikenal di Banten berangkat dari tarekat Sammaniyah, sebuah aliran modifikasi tarekat Khalwatiyah yang dibawa seorang ulama asal Madina bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman (wafat tahun 1771). Melalui tarekat ini, muncul keyakinan bahwa Syekh Samman dapat mentransfer kekuatan-kekuatan intervensi spiritual kepada para pengikutnya. Di Aceh, saman dapat ditelusuri dari Aceh Tenggara.

Secara empirik, kekuatan spiritual ini dipresentasikan melalui tarian rakyat yang kemudian dikenal sebagai saman. Namun demikian, sesungguhnya gerak-gerik magis itu hanya merupakan tampilan fisik dari kekuatan sesungguhnya yang bersumber pada zikir dan rateb Sammaniyah, yang dilantunkan dalam vokal melengking. Di Aceh, rateb saman dapat ditelusuri dari Aceh Tenggara.

Saman Banten yang dibawakan malam ini oleh Sarka Afandi (65), Sukma (45), dan Radi (31) hanya versi singkat. Mereka melantunkan shalawat nabi dan syair-syair saman dalam iringan syair dan melodi top daboh (debus) dari Aceh. (Nasru Alam Aziz)

Pameran Kebudayaan Sulawesi Selatan di BBJ

  • Kompas: Sabtu, 6 Maret 2004, halaman 10
PAMERAN SULSEL  — Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika, mengamati koleksi foto, seusai membuka Pameran Budaya Sulawesi Selatan di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (5/3). Pameran yang berlangsung 6-13 Maret 2004, menampilkan berbagai hasil daya cipta kultural masyarakat Sulsel. (Kompas/lam)

JAKARTA, KOMPAS – Kedua kalinya Provinsi Sulawesi Selatan menggelar pameran di Bentara Budaya Jakarta. Setelah sukses dengan Pameran 45 Perupa Sulsel pada pertengahan Agustus 2003, mulai hari Sabtu (6/3) ini hingga 13 Maret 2004 (pukul 10.00-18.00 WIB), digelar Pameran Budaya Sulsel. Pameran dibuka Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika, semalam.

Pameran kali ini mencoba menunjukkan hasil daya cipta dan pencapaian kultural Sulawesi Selatan (Sulsel) yang beraneka ragam. Menurut Shaifuddin Bahrum dari Yayasan Baruga Nusantara, pameran ini mempertemukan dua sisi kebudayaan Sulsel, yang tertutup dan terbuka. Kebudayaan terbuka meliputi wilayah pesisir, yang ditandai dengan interaksi yang cukup luas sejak masa lampau dengan kebudayaan luar. Sedang kebudayaan tertutup mendiami dataran tinggi, seperti Toraja dan Mamasa.

Pengunjung dibawa berkelana dari zaman prasejarah hingga kehidupan modern Sulsel. Bisa dilihat koleksi alat serpih mesolitik berupa maros point, kapak batu dari masa neolitik, atau gelang dan manik-manik zaman logam. Kemudian menyusuri masa kejayaan bahari, antara lain melalui displai foto tradisi pelayaran pelaut Sulsel ke Australia Utara sejak abad Ke-17.

Sejumlah miniatur perahu rakyat, dari jenis jarangka somang seqreq dari Pulau Laelae, sandeq (Mandar), pinisiq (Tanaberu), lambo (Bonerate), hingga perahu layar bermotor (Sunda Kelapa), juga dipamerkan, di samping pembuatan miniatur oleh Sulaemana, perajin Bugis dari Sunda Kelapa.

Melalui layar monitor yang terbuat dari layar perahu, diputar film-film dokumenter upacara-upacara kaum bissu yang menempati peran penting dalam kosmologi La Galigo, upacara pemakaman di tebing-tebing batu Tana Toraja, serta upacara-upacara adat lain yang kini masih hidup di tengah masyarakat Sulsel.

“Pameran semacam ini sangat penting untuk mengukuhkan kekayaan khazanah budaya yang ada di Sulsel adalah property right masyarakat Sulsel,” kata Salahuddin Alam, koordinator panitia penyelenggara pameran. (LAM)