Bertahan di Arus Deras Peradaban

  • Kompas: Kamis, 14 Juli 2005, halaman 14
Para bissu dengan segala atribut yang melekat pada mereka masih tetap bertahan dan mendapat tempat di tengah arus deras peradaban. Hanya saja, posisi dan peran para bissu itu kini tidaklah sepenting pada masa puncak kejayaan komunitas ini saat kerajaan-kerajaan Bugis pra-Islam berkuasa. Kini, para bissu seperti (searah jarum jam) Khahar Eka (kiri atas), Puang Upe, Daeng Tawero, Mak Temi, dan Angel harus berjuang agar bisa mempertahankan hidup sehari-hari. (Kompas/lam)

Masa kerajaan pra-Islam di tanah Bugis adalah masa kejayaan para bissu. Kaum transvestite Bugis ini memegang peranan yang begitu penting dalam kerajaan (addatuang), sehingga nyaris tidak ada kegiatan upacara ritual tanpa kehadiran bissu sebagai pelaksana sekaligus pemimpin prosesi upacara.

Kala itu, setiap ranreng atau semacam wilayah adat memiliki komunitas bissu. Maka di Kerajaan Segeri dan Kerajaan Bone dikenal komunitas bissu dengan sebutan Bissu PatappuloE (40 orang bissu). Pada setiap upacara ritual, ke-40 bissu itu harus hadir.

Dalam buku La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, Dr Gilbert Albert Hamonic, ahli naskah Bugis kuno dari Perancis, menyimpulkan bahwa bissu adalah segolongan kecil dalam masyarakat tapi posisinya cukup penting untuk jadi patokan dalam suatu wilayah yang cukup luas. Ia menyebut tradisi bissu sebagai tradisi agama dalam masyarakat Bugis kuno.

“Agama bissu rupanya mula-mula lahir dari upacara dan kepercayaan rakyat yang sangat kuno. Dalam perjalanan masa, kepercayaan orang biasa itu diubah oleh beberapa pengaruh tradisi lainnya- termasuk tradisi Hindu, Buddha, dan Islam- lalu diterima oleh kalangan bangsawan. Perkembangannya kemudian, agama itu dikembalikan lagi kepada masyarakat tempat ia lahir, tetapi telah mengalami perubahan dan seolah-olah merupakan agama eksklusif para bangsawan masa itu,” paparnya.

Sebagai “orang suci” atau pendeta agama Bugis kuno, bissu mendapat perlakuan yang sangat istimewa oleh istana kerajaan. Puang Matoa (pimpinan tertua bissu) diberi berhektar-hektar sawah yang pengerjaannya dilakukan secara bergotong-royong, dan hasilnya digunakan untuk membiayai upacara-upacara ritual dan kebutuhan hidup komunitas bissu selama setahun ke depan. Sawah yang disebut galung arajang itu sekaligus menjadi tempat upacara mappalili (pesta atau upacara ritual menandai dimulainya penanaman padi) atau acara ritual lainnya. Di samping itu, kaum saudagar, petani, atau bangsawan, secara pribadi senantiasa memberi sedekah kepada para bissu.

Setelah agama Islam masuk ke kerajaan-kerajaan Bugis, peranan bissu sebagai pendeta nyaris hilang karena upacara-upacara ritual tidak dibenarkan lagi. Peranan bissu semakin pupus ketika pemerintahan kerajaan beralih ke pemerintahan republik, seiring memudarnya peran lembaga-lembaga adat.

Dr Halilintar Lathief, antropolog yang mendalami kehidupan bissu, komunitas bissu sempat mengalami prahara yang memorak-porandakan seluruh pranata kebissuannya. Pada masa perjuangan DI/TII, gerombolan pimpinan Kahar Muzakkar melancarkan operasi penumpasan bissu. Ribuan perlengkapan upacara ritual bissu dibakar atau ditenggelamkan ke laut. Tidak sedikit bissu maupun sanro (dukun) dibunuh. Yang dibiarkan hidup digunduli lalu dipaksa menjadi laki-laki tulen.

“Sisa-sisa mereka yang selamat itulah bissu-bissu tua yang masih ada sekarang. Boleh dikatakan bissu mereka adalah generasi terakhir yang mewarisi kejayaan tradisi Bugis klasik,” kata Halilintar.

Menurut Halilintar, bissu bisa bertahan hingga saat ini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis kuno hingga sekarang ini masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasratnya.

Akan tetapi, tidak ada lagi perhatian dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup mereka. Tidak ada lagi galung arajang yang menjadi sumber kehidupan sepanjang tahun. Di Segeri, misalnya, sawah pusaka itu sudah beralih kepemilikan dan dijadikan tambak oleh mereka yang mengklaimnya sebagai tanah warisan.

Kini para bissu terpaksa membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan. Mereka menggantungkan hidup pada panggilan orang-orang yang menggelar upacara adat. Sebagian besar di antara mereka menjadi perias pengantin dan penyedia perlengkapan pesta-pesta perkawinan.

Bissu Khahar Eka (29) di Segeri memiliki usaha penyewaan perlengkapan pesta dan sekaligus berprofesi sebagai perias pengantin. Di sela kesibukannya melayani perkawinan yang terkadang menerima lebih dari lima panggilan dalam sehari, Eka menjahit dan membuat pernak-pernik kelengkapan pesta untuk dijual atau disewakan.

Pekerjaan yang sama ditekuni Angel (39), yang kini berkedudukan sebagai puang lolo atau wakil dari puang matoa (pemimpin bissu). Bissu bernama asli Syamsul Bahri ini termasuk salah satu perias pengantin yang laris di Bone.

Puang Matoa Bone, Daeng Tawero (H Maruddin Daeng Tawero) yang kini berusia lebih dari 60 tahun, kondisinya tidak lebih baik. Saat ditemui di rumahnya di Desa Galung, Kecamatan Ulaweng, sekitar 15 kilometer dari Watampone (ibu kota Kabupaten Bone), ia sedang terbaring lemah akibat sakit.

Perhiasan pengantin dan tumpukan pakaian tradisional Bugis di dalam empat lemari milik Tawero sudah terbalut debu karena sekian lama tidak pernah tersentuh. “Sudah banyak sekali perias pengantin. Mereka bukan bissu, tapi menguasai rias kecantikan modern,” kata Tawero dengan suara lirih.

Sementara itu, Puang Upe (54) yang kini sebagai Puang Lolo Segeri, dan bissu perempuan Puang Temmi (60-an) di Desa Kanaungan, Pangkep, hanya mengharapkan penghasilan dari orang-orang datang meminta berkah. Sesuai ketentuan adat, para tamu yang datang membawa beberapa lembar daun sirih yang disisipi lembaran uang kertas. Lipatan daun sirih itu menjadi pengantar untuk menghadapkan sang tamu ke arajang (pusaka yang disakralkan).

“Seperti terjadi di mana-mana, lambat laun upacara ritual bissu diarahkan untuk kepentingan atraksi pariwisata. Bahkan, bisa diadakan untuk kepentingan penggalangan massa oleh partai tertentu saat kampanye pemilu. Ritual yang dipertahankan keasliannya oleh orang-orang Bugis selama beberapa dekade itu pun mulai disisipi unsur-unsur baru,” kata Halilintar.

Tidak sedikit anak muda dan calabai (waria yang belum/tidak sampai pada tingkatan bissu) menggunakan kesempatan upacara mappalili sebagai ajang main-main. Lebih memprihatinkan lagi, beberapa kabupaten telah mengebiri fungsi dan peran komunitas bissu menjadi sekadar sebuah sanggar seni tari saja.

Pada akhirnya waktu yang akan menentukan hingga kapan komunitas bissu bisa bertahan di tengah arus deras peradaban yang berubah.

Mereka Bukan Sembarang Waria

  • Kompas: Rabu, 13 Juli 2005, halaman 14
Puang Upe melakukan tari spiritual yang disebut maggiri’ , diiringi tabuhan gendang. Ia menusukkan keris ke leher, pelipis, atau telapak tangan tanpa luka gores sedikit pun. Biasanya, inilah atraksi yang ditunggu-tunggu dalam setiap upacara bissu. (Kompas/lam)

Wa’ Matang (60-an), menghentak-hentakkan kakinya di lantai papan rumah panggung itu sambil menusuk-nusukkan keris ke telapak tangannya. Tabuhan gendang terus menderu ritmis, mempercepat detak jantung setiap yang menyaksikan aksi Matang.

Sejurus kemudian ia berputar dengan gemulai, lalu menusukkan kembali kerisnya. Kali ini lehernya yang kurus itu menjadi sasaran. Tak ada luka gores sedikit pun, apalagi tetesan darah dari tubuhnya.

Itulah maggiri’ (menusuk), tari spiritual kaum bissu yang sudah berusia ratusan tahun. Maggiri’ merupakan rangkaian dari prosesi upacara dalam tradisi Bugis kuno yang dilaksanakan para bissu, dan sampai hari ini masih bertahan meski jumlah bissu tinggal sehitungan jari di setiap kabupaten di tanah Bugis, Sulawesi Selatan.

Pada masa pra-Islam, di Kerajaan Segeri (Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Pangkep) saja jumlah bissunya 40 orang, sehingga disebut sebagai Bissu PatappuloE (Bissu Empat Puluh). Jumlah yang sama pada masa itu juga dikenal di Kerajaan Bone (sekarang Kabupaten Bone). Di antara Bissu PatappuloE terdapat bissu perempuan.

Kesaktian para waria Bugis itu bukan hanya terlihat saat maggiri’, melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap waria yang telah menjadi bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa ke depan. Dengan bahasa tersendiri atau basa to rilangi, bissu mampu berkomunikasi dengan para leluhurnya dari zaman baheula.

Dalam bahasa Bugis, waria disebut calabai. Kata ini berasal dari sala baine, yang artinya “bukan perempuan”. Mereka adalah lelaki dengan kondisi jasmaniah yang abnormal. Senang berpenampilan feminin dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini juga merupakan kebiasaan para wandu, yakni laki-laki dengan keadaan jasmaniah serupa tetapi belum menjadi bissu,” jelas Halilintar Lathief, antropolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM).

Para waria, termasuk bissu, mengaku lebih tertarik kepada laki-laki serta menganggap dan memosisikan dirinya sebagai perempuan. Namun demikian, dalam dokumen-dokumen resmi, seperti ijazah maupun KTP, mereka menuliskan jenis kelaminnya sebagai laki-laki.

Puang Upe punya pengalaman menarik ketika mengurus KTP dan menempelkan pas fotonya dalam pose berpakaian kebaya, dan tentu saja bersanggul.

“Pak Camat menolak menandatangani KTP saya karena fotonya perempuan, tapi jenis kelaminnya laki-laki,” katanya sambil tersipu- sipu.

Beberapa bissu memiliki arajang (pusaka yang dikeramatkan), yang menjadi media untuk berhubungan dengan leluhur. Puang Upe, bissu yang sangat terkenal di Segeri saat ini, menyimpan arajang di rakkeang (loteng rumah panggung). Setiap tamu yang datang ia hadapkan (mappangolo) ke arajang-nya.

Bissu perempuan yang terkenal di Desa Kanaungan -masih di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep)- Puang Temmi (60-an) atau Mak Temmi memiliki arajang yang “dirawat” secara turun-temurun. Arajang ditempatkan di sebuah kamar antara ruang tamu dan dapur.

“Saya keturunan ketujuh yang menerima wangsit untuk meneruskan arajang ini,” ungkapnya.

Puang Temmi sedang berkomunikasi dengan arwah leluhur di arajang yang ditempatkan dalam sebuah kamar. (Kompas/lam)

Arajang diletakkan di dalam palakka yang ditutupi kelambu. Pusaka itu berwujud sebilah keris dan batu-batuan. “Batu-batu ini bukan dibuat-buat tapi muncul dengan sendirinya. Ada yang muncul di sini, ada juga yang di tempat lain lalu saya mendapat wangsit melalui mimpi sehingga tahu lokasinya,” kata Mak Temmi sembari menunjukkan sebutir batu berbentuk telur.

Selama satu jam lebih Kompas di rumah Mak Temmi, perempaun yang dikenal sebagai sanro (dukun) itu kedatangan tiga tamu lainnya. Dua minta disiapkan upacara mappano (persembahan) sesajian karena tambaknya mendapatkan hasil yang baik. Satu lagi sekadar menyampaikan terima kasih, setelah saudaranya sembuh dari sakit yang diobati oleh Mak Temmi.

“Saya sudah tahu kalau akan kedatangan tamu dari jauh. Karena itulah tadi saya buru-buru pulang dari pasar,” katanya menyongsong kedatangan Kompas di kolong rumahnya. “Ada beberapa orang yang akan datang menemui saya hari ini, dan saya tahu ada satu yang datang dari jauh,” tambahnya.

Batu-batu pusaka Puang Upe (54) -yang juga di tunjukkan kepada Kompas– lebih unik lagi. Tidak kurang dari 10 butir batu seluruhnya berbentuk sesuatu benda, seperti kemiri, kerang, atau bentuk lainnya. Batu-batuan itu tersimpan dalam kopor besi bersama beberapa buku berisi naskah Bugis kuno. “Kalau tamu yang datang rezekinya kurang baik, kopor ini tidak akan mau terbuka,” kata Puang Upe.

Ia juga menunjukkan selembar kertas bergambar dua ular saling berpilin disertai penjelasan dalam aksara Bugis. “Ini namanya jimat naga sikoi. Kalau mau disenangi orang, terutama lawan jenis, pakai ini. Tapi tentu ada syaratnya,” tutur Puang Upe.

Setiap bissu punya kekuatan magis untuk memikat orang lain atau dalam khazanah Bugis dikenal sebagai cenning rara. Inilah yang digunakan para bissu ketika merias pengantin sehingga mempelai tampak anggun dan memesona.

Menjadi bissu

Bissu memperoleh kesaktian dengan berbagai jalan. Puang Upe misalnya, mendapatkan tuntunan untuk menjadi bissu sejak berusia 13 tahun.

“Sejak berusia belasan tahun saya sudah menyadari kelainan yang saya alami, dan saya mencoba untuk masuk seutuhnya ke wilayah itu. Maka saya datang berguru kepada bissu-bissu senior ketika itu, salah satunya Puang Matoa Sanro Seke’. Saya dinyatakan lulus sebagai bissu pada usia 21 tahun,” kata Puang Upe. Kini di Segeri ia duduk sebagai Puang Lolo (wakil dari Puang Matoa, pemimpin tertinggi bissu di suatu wilayah kerajaan).

Keberadaan bissu memang sangat erat kaitannya dengan keberadaan kerajaan pada masa lampau. Kedudukan seorang datu (raja) tidaklah sempurna tanpa kehadiran bissu. Bissu diibaratkan sebagai uang receh, yang jadi pembanding bagi uang yang lebih besar pecahannya.

Para bissu berperan sebagai penasihat raja. Pada masa pra-Islam mereka bisa dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno. Sebagai pelaksana dalam ritual kerajaan, bissulah yang menentukan hari baik untuk memulai sesuatu, seperti turun ke sawah atau membangun rumah. Sebelum pasukan berangkat perang misalnya, raja senantiasa berkonsultasi dengan para bissu.

Lain lagi cerita Khahar Eka, waria yang ditahbiskan menjadi bissu tahun 2003, setelah menjalani masa magang selama empat tahun pada bissu senior di Bola Arajang, rumah tempat penyimpanan pusaka yang dikeramatkan. Perjalanan spiritual Eka berawal dari beberapa mimpi saat masih duduk di bangku SMP.

“Tiga kali saya bermimpi bertemu lelaki tua berbusana serba putih yang menyuruh saya datang ke arajang. Saya tak berani ke sana. Melihat bissu-bissu itu saja sudah takut, karena cara berpakaiannya seperti perempuan tetapi wajahnya kekar-kekar. Setelah mimpi ketiga baru saya memberanikan diri,” kenang Eka, yang ditemui di rumahnya, di depan Pasar Segeri.

Pengalaman spiritual yang hampir sama juga dialami Syamsul Bahri, yang sehari-hari dikenal sebagai Angel. Ia mulai mendalami kehidupan bissu setelah tamat SMA hingga akhirnya ditahbiskan sebagai bissu pada tahun 2003. Puang Lolo Bone itu menceritakan, “Pada mulanya saya mencari bissu-bissu tua. Lalu saya mempelajari berbagai hal tentang bissu dan ritual-ritual bissu.”

Seorang waria baru dikategorikan layak menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian Puang Matoa atau Puang Lolo. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai bissu, ia harus menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan pada Arajang.

Waria yang akan dilantik menjadi bissu diwajibkan berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Setelah itu, bernazar (mattinja’) untuk menjalani irebba selama beberapa hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air.

Selama disemayamkan sesuai nazarnya, calon bissu dianggap dan diperlakukan sebagai orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang irebba. Setelah melewati upacara sakral itu, seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan.

“Kami beda dengan waria kebanyakan. Kami harus menjaga sikap, perilaku, dan tutur kata,” ucap Eka.

Ya, bissu memang bukan sembarang waria….

Yang Tersisa dari Peradaban Bugis Kuno

  • Kompas: Selasa, 12 Juli 2005, halaman 14
Sesajian dilabuh dalam sebuah upacara mattemmu taun di Desa Assuranjang, Pangkep, Sulawesi Selatan, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi yang diperoleh masyarakat setempat. (Kompas/lam)

Melintasi jalur Trans Sulawesi, sekitar 80 kilometer dari Makassar ke arah selatan, terlihat pemandangan dengan nuansa Bugis yang sangat pekat. Rumah-rumah panggung dengan bubungan atap mirip sirip-sirip ikan, dengan hamparan tambak di depannya. Di sana-sini tampak pohon-pohon lontar yang malas menyahuti godaan angin.

“Beberapa kilometer lagi kita akan sampai di Segeri,” kata salah seorang penumpang pete-pete (angkutan kota) yang ditumpangi Kompas dari Makassar. Segeri adalah salah satu kota kecamatan di Kabupaten Pangkep (Pangkajene Kepulauan), yang terletak di pesisir barat Provinsi Sulawesi Selatan.

Di tengah hiruk-pikuk kampanye pemilihan kepala daerah langsung pada suatu siang, dua pekan lalu, Kompas dipandu seorang bissu muda, Khahar Eka, menelusuri jalan pertanian yang seolah tak berujung. Kira-kira 20 menit perjalanan dengan sepeda motor, kami akhirnya tiba di sebuah desa berpenduduk sekitar 300 keluarga. Di Desa Assaurajang kami bertemu dengan Puang Lolo Segeri yang disapa sebagai Puang Upe, yang sedang menyiapkan penyelenggaraan upacara bissu (mabbissu) tahunan atau mattemmu taung.

Eka dan Puang Upe merupakan dua dari segelintir bissu yang masih berperan dalam setiap upacara bissu di Segeri. Padahal, pada masa lampau, ketika kerajaan masih memerintah, pernah hidup 40 bissu, yang dikenal sebagai bissu patappuloE.

Pada umumnya bissu adalah wadam (wanita-Adam) atau perempuan dari kalangan putri bangsawan tinggi. Bissu perempuan satu-satunya yang masih tersisa ialah Puang Temmi atau akrab disapa Mak Temmi. Sehari- harinya ia dikenal sebagai sanro (dukun) yang tinggal di Desa Kanaungan, Pangkep.

Setiap hari, Mak Temmi sibuk menerima warga yang datang dengan berbagai keperluan atau yang ingin melunasi nazar (tinjak). Saat Kompas bertandang, perempuan berusia lebih dari 60 tahun yang nyaris tidak pernah melepas rokok kereteknya itu kedatangan tiga orang “pasien”.

Puang Temmi sedang berkomunikasi dengan arwah leluhur di arajang yang ditempatkan dalam sebuah kamar. (Kompas/lam)

“Sureq Galigo”

Halilintar Lathief, antropolog dan dosen pada Universitas Negeri Makassar (UNM), menggambarkan bissu sebagai figur feminin dengan wajah licin seperti seorang kasim. Mereka adalah lelaki dengan kondisi jasmaniah yang abnormal. Senang berpenampilan feminin dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini juga merupakan kebiasaan para wandu, yakni laki-laki dengan keadaan jasmaniah serupa tetapi belum menjadi bissu,” jelas Halilintar, yang mendalami kehidupan para bissu.

Bissu diyakini berasal dari kata Bugis “mabessi” , yang berarti bersih. Tradisi transvestites itu sudah ada sejak ratusan tahun silam di tanah Bugis. Dalam naskah kuno (lontarak) Bugis, Sureq Galigo, disebutkan bahwa bissu pertama yang ada di bumi bernama Lae Lae. Sureq Galigo mengisahkan, Lae Lae diturunkan dari langit (manurung) ke Luwu bersama dengan Raja Luwu, Batara Guru, putra sulung Maharaja Agung dari Kayangan.

Menurut mitos dalam Sureq Galigo itu, Batara Guru turun dan keluar dari sebatang bambu. Keterasingan Batara Guru yang berasal dari boting langi’ (dunia atas) terobati dengan pertemuannya dengan We’ Nyelli’ Timo dari bori’ liung (dunia bawah). Keduanya bertemu dan hidup secara turun-temurun di ale kawa (dunia tengah).

Dari sinilah diyakini tradisi bissu berawal dan menyebar ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Selain di Luwu dan Segeri, beberapa bissu masih dapat dijumpai di Bone, Wajo, Soppeng, Pinrang, Sidenreng Rappang, Parepare, dan Makassar.

Sebagai to manurung, bissu dihargai oleh masyarakat Bugis karena memiliki banyak kelebihan dan pengetahuan, serta menguasai seluk-beluk adat-istiadat, silsilah keluarga. Masyarakat, terutama kalangan kerajaan, meminta berbagai petunjuk, pertolongan, ataupun berobat dan berguru kepada kaum bissu.

Saat berkomunikasi dengan para dewata atau di antara mereka, bissu menggunakan bahasa sendiri yang disebut basa torilangi atau bahasa orang langit. Para bissu meyakini bahasa tersebut diturunkan dari langit melalui dewata. Bahasanya memiliki kesamaan dengan bahasa yang digunakan dalam syiar-syair klasik bugis, La Galigo, yang mengetengahkan kehidupan Batara Guru beserta keturunannya di muka bumi ini.

“Bahasa suci” itu memungkinkan para bissu hingga kini masih dapat berhubungan dengan Batara Guru beserta para dewa dan roh-roh leluhurnya. Bissu menggunakan bahasa yang sama saat menghubungkan masyarakat dengan dewata, dalam upacara-upacara mabbissu.

Diberantas

Sistem kepercayaan masyarakat Bugis di masa silam itu dijalankan sesuai konsep dewa tertinggi atau To PalanroE. Sistem kepercayaan ini disebut juga attroirolong, yang secara harfiah berarti “mengikuti tata cara leluhur”. Melalui attoriolong, petunjuk-petunjuk normatif dalam kehidupan bermasyarakat diwariskan. Sampai saat ini, kepercayaan itu tidak benar-benar punah, meskipun masyarakat telah bersentuhan dengan agama Islam.

Halilintar mengungkapkan, kenyataan itu menjadi bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan para penganut agama-agama wahyu. Pada masa perjuangan DI/TII, tahun 1950-an, pasukan Kahar Muzakkar memberantas para bissu karena dianggap penyembah berhala dan tidak sejalan dengan syariat Islam. Ribuan perlengkapan upacara dibakar atau ditenggelamkan ke laut. Banyak dukun (sanro) dan bissu dibunuh, atau digunduli lalu dipaksa menjadi laki-laki normal.

Gelombang berikutnya datang pada 1965-1967. Melalui suatu operasi dengan sandi “Operasi Toba”, masyarakat menjadi anti terhadap praktik bissu. Para bissu dan mereka yang percaya akan kesaktian para arajang (pusaka) dicap sebagai komunis.

“Barang siapa yang menganggap arajang sebagai barang keramat berarti musyrik, dan bissu yang tertangkap harus memilih mati dibunuh atau menjadi penganut agama tertentu. Para bissu pun harus bersikap sebagai laki-laki normal, bukan waria,” jelas Halilintar.

Ia memperkirakan, para bissu yang masih tersisa hingga saat ini adalah generasi terakhir pewaris tradisi Bugis klasik.

“Komunitas bissu sudah tercerai-berai. Jumlah dan kualitasnya pun semakin menyusut dari hari ke hari,” kata Halilintar.

Di antara lembaran catatan sejarah peradaban Bugis kuno yang tersisa, bissu adalah salah satu bukti yang benar-benar hidup. Bissu mampu mengantar imajinasi ke belasan abad yang lampau, ketika Nusantara belum tersentuh pengaruh Islam. (Nasru Alam Aziz)

Segelas Air dan Seekor Ayam dari Leluhur

  • Kompas: Selasa, 12 Juli 2005, halaman 1
Ungkapan syukur atas hasil panen yang diperoleh keluarga Caco diwujudkan dalam upacara mattemu taung. Upacara ini hampir setiap tahun dilaksanakan warga Desa Assaurajang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Kompas/lam)

Hari masih sangat pagi di Desa Assaurajang yang dikelilingi hamparan sawah yang siap ditanami kembali. Namun, di rumah pasangan keluarga Caco-Rahmatiah warga mulai berdatangan.

Mereka mempersiapkan upacara yang dilakukan setiap tahun (mattemu taung) di desa itu sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan panen padi.

Tidak ada kesan meriah menyambut upacara itu. Padahal, prosesinya berlangsung sejak pagi hingga dini hari. “Ini hanya acara keluarga, tetapi seluruh warga ikut membantu. Warga datang dan menyumbangkan sesuatu, berupa bahan makanan atau tenaga,” kata Khahar Eka, salah seorang bissu penyelenggara upacara, di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Dalam tradisi Bugis kuno, setiap penyelenggaraan upacara dipimpin oleh bissu. Biasanya oleh bissu yang paling tua atau yang paling tinggi ilmu kebissuannya. Tiga orang bissu yang terlibat dalam upacara kali ini, selain bissu muda Eka, adalah Puang Upe yang juga menjabat sebagai Puang Lolo Segeri (wakil Puang Matoa Segeri) serta bissu Matang.

Rangkaian prosesi upacara diawali dengan mattedu arajang (membangunkan pusaka yang dikeramatkan). Puang Upe sebagai pemimpin upacara di depan arajang mengucapkan mantra dalam gemuruh tabuhan perkusi (genrang), mencoba berkomunikasi dengan dewata atau arwah leluhurnya.

Komunikasi dengan arwah leluhur untuk mendapatkan restu terus-menerus dilakukan sepanjang upacara pada saat-saat tertentu, yakni pada tengah hari (mattangasso), petang (mallabukesso), tengah malam (mattengngabenni), dan dini hari (maddenniari). “Setiap waktu tertentu selama upacara kami harus berkomunikasi dengan arajang,” ungkap Puang Upe (54).

Menjelang sore, lilin-lilin yang dibuat dari kemiri yang ditumbuk halus, pesse pelleng, mulai dinyalakan. Walasoji, semacam usungan terbuat dari bilah bambu, diisi penuh dengan berbagai penganan yang telah disiapkan sejak pagi oleh kaum perempuan. Isi paling penting dari walasoji adalah nasi ketan empat warna, merah, kuning, hitam, dan putih, yang menggambarkan empat unsur alam: api, udara, tanah, dan air. Kemudian ada ayam, buah-buahan, dan kue-kue tradisional Bugis. “Sesajian itu menjadi persembahan untuk leluhur sebagai ungkapan syukur,” kata Puang Upe.

Sesajian dilabuh dalam sebuah upacara mattemmu taun di Desa Assuranjang, Pangkep, Sulawesi Selatan, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi yang diperoleh masyarakat setempat. (Kompas/lam)

Saat senja mulai mengintip, walasoji diusung ke tengah sawah yang menghampar di belakang jajaran rumah penduduk. Melihat kedatangan iring-iringan, warga yang sedang menyiapkan penanaman padi berdatangan menyambut. Diiringi mantra-mantra, Puang Upe melepas sesajian itu ke sawah. Sisanya ditaruh di wadah yang dilapisi daun pisang, digantung pada pohon-pohon yang dianggap keramat (makerre’).

Setelah makan malam bersama, prosesi dilanjutkan dengan massanro. Terlebih dahulu bissu Matang, Eka, dan Puang Upe berganti pakaian di dalam kelambu yang digantung di tengah ruangan. Cukup lama, sekitar 45 menit, warga yang sudah berdatangan ke rumah Caco menunggu para bissu berdandan di balik kain tembus pandang.

Para bissu kemudian muncul dengan busana yang sangat feminin dengan warna-warna yang kontras. Alis menjadi lebih hitam, bibir bergincu, dan wajah berlapis bedak.

Warga berdatangan menemui para bissu untuk mengetahui peruntungan, kesehatan, atau berbagai hal yang dihasratkannya. Nasib seseorang akan terbaca pada lembaran daun sirih yang ia serahkan kepada sang bissu. (Kompas/lam)

Tiga bissu mengambil posisi duduk, lalu setiap tamu datang menghadap (mappangolo). Setiap tamu tampak menyodorkan beberapa lembar daun sirih yang disisipi selembar uang kertas Rp 1.000. Dari lembaran daun sirih yang telah dikibas-kibaskan di asap dupa, Puang Upe membaca nasib seseorang. Sebagian datang karena merasa sakit dan mohon kesembuhan.

Prosesi massanro itu berlangsung hingga sekitar pukul 21.00, lalu ketiga bissu kembali menghadap ke arajang yang ditempatkan pada sebuah bilik di ruang belakang dekat dapur. Setelah beristirahat sejenak dan memberi kesempatan kepada dua penabuh gendang untuk mempersiapkan diri, mereka menari dengan iringan gendang.

Makin lama ritme tarian makin cepat, kemudian para bissu menyelipkan kipas dan tiba-tiba mencabut kerisnya. Mereka berputar-putar, mengentak-entakkan kakinya di lantai papan, lalu menusukkan keris ke telapak tangan, pelipis, dan leher masing-masing. Atraksi yang dinanti-nantikan pada setiap upacara bissu ini disebut maggiri’ (menusuk).

Dalam keadaan bawah sadar, Puang Upe yang dikendarai oleh arwah leluhurnya itu terus mengoceh dalam bahasa Bugis. Ia mengingatkan kepada setiap orang agar terus memerhatikan dan memelihara tradisi itu.

“Jika kalian tidak menjagaku, maka kehidupan ini akan menjadi tidak seimbang,” begitu kira-kira ucapan sang leluhur.

Puang Upe memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit. Bissu memperoleh kemampuan itu biasanya melalui mimpi ataupun dengan mempelajarinya dari para bissu pendahulunya. (Kompas/lam)

Mulailah setiap orang dipersilakan satu per satu masuk ke bilik. Mereka masing-masing masuk dengan keyakinan sedang berhadapan dengan leluhur yang dapat mengabulkan segala hasratnya. Mereka tidak sekadar menggenggam tangan Puang Upe dan membisikkan sesuatu, tetapi beberapa orang juga datang dengan segelas air atau sesisir pisang untuk diberkahi. Bahkan ada yang menyodorkan ayam untuk dielus-elus agar membawa berkah.

Begitulah, hingga setiap warga berangsur pulang setelah lewat tengah malam. Keesokan harinya warga Desa Assaurajang kembali mengarungi kehidupan dengan spirit baru. Tradisi Bugis kuno itu masih berlanjut. (Nasru Alam Aziz)