Lebih Jauh Dengan: “Antua” Kasim Arifin

  • Kompas: Minggu, 9 Mei 2004, halaman 16  

Dia di Waimital jadi petani/ Dia menyemai benih padi/ Orang-orang menyemai benih padi/ Dia membenamkan pupuk di bumi/ Orang-orang membenamkan pupuk di bumi/ Dia menggariskan strategi irigasi/ Orang-orang menggali tali air irigasi/ Dia menakar klimatologi hujan/ Orang-orang menampung curah hujan/ Dia membesarkan anak cengkeh/ Orang kampung panen raya kebun cengkeh//

Kasim Arifin (Kompas/lam)

PENGGALAN puisi di atas ditulis Taufiq Ismail pada tahun 1979, menggambarkan sosok Moehd Kasim Arifin, mahasiswa tingkat terakhir Fakultas Pertanian, yang membenamkan diri selama 15 tahun bersama warga transmigran di Pulau Seram, Maluku. Sebagai peserta program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) untuk menyosialisasikan Panca Usaha Tani, Kasim dengan gigih dan tanpa pamrih mengajarkan cara bercocok tanam kepada warga Desa Waimital.

Kasim membangkitkan swadaya masyarakat membangun Waimital, membuka jalan desa, mencetak sawah, membuat irigasi, tanpa sepeser pun dana dari pemerintah. Kebersahajaan, kedermawanan, dan kelembutan tutur katanya membangkitkan rasa hormat penduduk setempat kepadanya. Ia pun disapa sebagai Antua (sapaan untuk orang yang dihormati di Maluku).

Ia baru tergerak untuk kembali ke almamaternya setelah tiga kali Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Andi Hakim Nasution mengirim utusan menjemputnya ke Waimital. Pada hari wisuda, 22 September 1979, Kasim menerima gelar insinyur istimewa.

Kisah perjalanan hidup Kasim selama di Waimital hingga kembali ke Kampus Darmaga kemudian ditulis oleh jurnalis Hanna Rambe dalam sebuah buku berjudul Seorang Lelaki di Waimital (Penerbit Sinar Harapan: 1983).

Ketika kemudian pulang ke kampung halamannya, Aceh, ia diterima sebagai staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Di samping mengajar, ia aktif mengelola Pusat Studi Lingkungan yang ia dirikan bersama beberapa rekannya. “Saya diminta jadi dosen, padahal saya ingin terus bertani,” ujarnya. Ia pensiun dengan golongan III-C pada tahun 1994.

Setelah lepas dari kesibukan kampus, penerima penghargaan Kalpataru tahun 1982 itu bergabung dalam Unit Manajemen Leuser (UML) sebagai tenaga lapangan. Tugasnya antara lain memberikan penyuluhan kepada masyarakat di Kawasan Ekosistem Leuser agar ikut menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Apa yang mendorong Anda tetap konsisten dalam kegiatan konservasi?

Saya melihat sumber daya alam yang tersedia tidak pernah bertambah, malah semakin berkurang. Populasi manusia yang semakin besar dengan ketergantungan yang amat besar pula terhadap sumber daya alam untuk kelangsungan hidupnya mengakibatkan terjadinya tekanan terhadap sumber daya alam itu.

(Kasim lalu memperlihatkan catatan berisi angka-angka laju kerusakan hutan di Indonesia, yang mencapai rata-rata tiga juta hektar per tahun. Lebih detail lagi, Kasim menghitung laju kerusakan hutan per detik, yang menunjukkan angka 965 meter persegi. Khusus di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam saja, laju kerusakan hutannya rata- rata 200.000 hektar per tahun atau 62,23 meter persegi per detik).

Dengan laju kerusakan hutan yang begitu besar, ternyata rehabilitasi hutan hanya rata-rata 70.000 hektar per tahun. Sementara pertambahan penduduk yang rata-rata tiga juta jiwa per tahun pada kenyataannya justru mempercepat laju kerusakan hutan, bukan memperbesar rehabilitasi hutan.

Mengapa rehabilitasi hutan tidak mampu mengimbangi laju kerusakan hutan?

Ya, karena itu tadi. Manusia hanya mengeksploitasi hutan, tetapi tidak punya kepedulian untuk merehabilitasi.

Memang banyak program rehabilitasi yang dicanangkan pemerintah. Akan tetapi, apakah itu efektif dalam pelaksanaannya di lapangan? Kalau hanya fiktif? Kalaupun (rehabilitasi hutan) itu benar-benar dikerjakan, itu pun belum mampu menutupi kerusakan hutan yang terus berlangsung setiap hari.

Pekerjaan menanam pohon di hutan memerlukan suatu strategi yang mantap, dan itu belum terlaksana hingga saat ini.

Maksud Anda?

Kegiatan rehabilitasi hutan memerlukan orang-orang yang mau bekerja di hutan dan rela tinggal jauh dari jangkauan komunikasi. Dan itu jumlahnya sangat sedikit. Maka yang terjadi, bibit pohon ditanam lalu ditinggalkan. Itu pun tidak sampai ke kawasan hutan yang jauh, hanya yang dekat-dekat saja.

Bibit pohon yang ditanam harus dirawat minimal hingga usia lima tahun, baru bisa ditinggalkan. Tetapi yang terjadi adalah rehabilitasi dimulai dengan seremoni yang meriah, lalu diserahkan kepada alam untuk memeliharanya.

Apakah itu berarti Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang dicanangkan Presiden Megawati Soekarnoputri di Yogyakarta, Januari 2004, akan bernasib sama?

Saya rasa kalau dibilang iya, iya…, kalau dibilang tidak, ya… tahu sama tahulah. Sebab, kalau (penanaman pohon) itu tidak dikerjakan bisa saja. Buktinya bisa kita lihat di lapangan, yang ditanami hanya tempat-tempat tertentu yang mudah dijangkau untuk ditinjau pejabat.

Bayangkan kalau misalnya yang harus ditanami luasnya 70.000 hektar, lokasinya jauh dan sulit ditempuh karena kondisi jalan rusak parah. Untuk menembus ke sana orang-orang pasti enggan, maka dianggap saja sudah dikerjakan.

Bagaimana seharusnya menebus satu pohon yang ditebang agar keseimbangan alam tetap terjaga?

Kalau bisa menebang, semestinya bisa menanam juga. Tetapi yang terjadi adalah hutan pasti ditebangi, tetapi tidak ada kepastian penanaman kembali.

Perlu diketahui bahwa penanaman kembali tidak akan mengembalikan alam pada kondisi semula. Hutan yang kita lihat sekarang adalah ciptaan Tuhan yang usianya di atas ratusan tahun, bahkan jutaan tahun. Ketika pohon-pohonnya kita tebangi, ekosistem pasti terganggu. Lahan yang tadinya tertutup kanopi pepohonan menjadi terbuka sehingga akan terjadi proses macam-macam, seperti erosi dan kemusnahan flora dan fauna yang tadinya hidup di areal tersebut. Untuk memulihkannya, butuh waktu ratusan tahun dan tidak mungkin lagi kembali menjadi hutan perawan.

Pemerintah sudah bikin pola tebang pilih hutan Indonesia. Artinya, menebang yang sudah cukup umur dengan ukuran diameter tertentu dan setelah itu menanam kembali. Akan tetapi itu tidak terjadi karena lemahnya penegakan hukum di negara kita ini.

Apa akibat dari penggundulan hutan itu?

(Ingatan Kasim lalu menerawang pada masa ia kuliah, tahun 1957, di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia -bakal Institut Pertanian Bogor. Ia teringat pada dosennya, Prof Lundquist, warga Swedia yang ahli tanaman tropika).

Suatu hari Prof Lundquist menjelaskan kepada saya. Sim, katanya, daerah Anda ini daerah tropika yang sangat kaya flora dan fauna. Tetapi daerah Anda ini macam begini… (Kasim menunjukkan puncak kepalan tangannya) bergunung-gunung dengan lembah dan jurang. Ini berarti sedikitnya 30 persen permukaan Bumi di Indonesia harus ditutupi tumbuhan agar tidak terjadi erosi.

Jika kurang dari 30 persen, apalagi bila kawasan di hulu sungai sudah gundul, akan mengakibatkan musnahnya lapisan tanah untuk penyerapan air. Dengan begitu, tidak semua air terserap oleh tanah dan akhirnya mengalir deras ke bawah. Hutan tropika yang gundul akan menghancurkan serasah atau karpet tanah dan kehidupan mikroba.

Pada tanah terdapat serasah seumpama hamparan permadani yang berfungsi menyerap air. Cacing-cacing dan berbagai mikroba hidup dalam tanah dan membuat lubang ke permukaan tanah untuk mencari makanan. Berjuta-juta lubang membantu peresapan air ke dalam tanah. Proses peresapan alami itu tidak terjadi lagi di hutan gundul, sebab lapisan serasahnya tidak ada lagi. Rusaknya serasah mematikan cacing dan mikroba sekaligus membuat pori-pori tanah tertutup. Daya ikat tanah menurun mengakibatkan longsor.

***

PERTENGAHAN Maret lalu Kasim menelusuri ruas jalan Ladia Galaska, antara Pinding dan Lokop, yang pembangunannya memicu kontroversi. Ia salah seorang anggota tim terpadu yang ditugaskan pemerintah untuk mengkaji ruas jalan yang masih bermasalah itu.

Meski harus berjalan kaki berkilo-kilo meter keluar-masuk hutan dan perkampungan, Kasim yang memasuki usia 66 tahun (lahir di Langsa, Aceh Timur, 18 April 1938) tidak tampak kelelahan. “Pekerjaan saya memang seperti ini. Tahun 1960-an saya pernah melintasi jalur ini sampai ke Lokop,” ungkapnya kepada Kompas saat istirahat makan siang di tepi sebuah sungai kecil.

Kawasan itu memang tidak asing lagi bagi Kasim yang bertugas sebagai Manajer Perwakilan Lapangan UML di Langsa, dengan wilayah kerja meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.

Faktor apa yang paling menekan Kawasan Ekosistem Leuser?

Penebangan liar yang dibiayai pihak-pihak luar dengan memanfaatkan masyarakat lokal sebagai pekerja penebangan. Jadi praktik itu terencana oleh orang-orang berduit untuk meraup keuntungan lebih besar dari kayu-kayu itu tanpa mengeluarkan modal banyak. Sementara masyarakat sekitar yang butuh makan dipakai sebagai buruh saja.

Karena lemahnya penegakan hukum, yang sering kali menjadi tertuduh hanya orang kecil. Sementara cukong-cukong kayu itu tidak tersentuh.

Bagaimana dengan proyek jalan Ladia Galaska yang dituding sebagai ancaman terhadap Kawasan Ekosistem Leuser?

Belum ada data yang kuat untuk mengatakan seberapa besar dampak kerusakan lingkungan yang akan disebabkan oleh Ladia Galaska. Akan tetapi, dari pengalaman di berbagai tempat, dengan adanya jalan biasanya akan memacu orang untuk mengeluarkan sumber daya alam. Sebab satu ruas jalan yang dibuka akan diikuti dengan pembuatan cabang- cabang jalan. Itu akan mempermudah akses untuk mengambil kayu-kayu yang ada di hutan.

Mengapa sejumlah organisasi nonpemerintah menentang pembangunan jalan Ladia Galaska?

Kami tidak menentang pembangunan jalan yang tidak melewati kawasan konservasi. Jadi hanya ruas Ladia Galaska yang melewati hutan lindung yang kami minta supaya dikaji kembali.

Suatu daerah yang terdaftar sebagai hutan lindung, pemanfaatannya diatur oleh undang-undang. Tidak boleh sembarangan membikin jalan di situ. Dan harus ada dokumen amdal (analisis mengenai dampak lingkungan), yang menunjukkan apakah layak atau tidak layak suatu jalan dibangun di situ.

Bukankah sudah ada amdal untuk Ladia Galaska?

Betul ada. Tetapi ibaratnya masakan, cara memasaknya kurang pas sehingga masakannya kurang enak. Amdal itu harus “dimasak” oleh orang-orang yang profesional sehingga mampu memprediksi apa dampak lingkungannya pada masa yang akan datang. Jangan dibuat sekadar saja.

Analisis dalam amdal yang ada sekarang itu lucu-lucu. Misalnya ada jenis hewan yang dikatakan hidup di sana, padahal tidak ada. Itu kan aneh. Dari mana dia dapat data itu.

Berkaitan dengan proyek Ladia Galaska, kaum konservasionis dianggap hanya peduli dengan flora dan fauna, tetapi mengabaikan manusianya. Apa tanggapan Anda?

Orang yang mengatakan seperti itu tidak mengerti konservasi. Pejabat-pejabat itu kalau diundang kursus tentang konservasi, yang dikirim hanya stafnya yang kroco-kroco. Si Kroco ini, setelah ikut kursus, tidak berani menyampaikan laporan hasil kursusnya kepada atasannya. Akhirnya Si Pejabat, karena tidak mengerti konservasi, omongannya terbalik-balik begitu.

Konservasi itu pada dasarnya memang untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup yang berisi flora dan fauna. Akan tetapi intinya untuk menyelamatkan manusia juga. Sebab kehancuran lingkungan akan berdampak pada kesengsaraan manusia.

Kenapa pemerintah membuat aturan soal hutan lindung? (Kali ini nada suara Kasim meninggi). Kenapa tidak marah kepada Pemerintah Indonesia yang mengeluarkan peraturan itu?

Tanpa aturan hukum, rakyat kita akan dibodohi terus tujuh turunan. Lihat saja, ketika ada bantuan pangan untuk pengungsi di Aceh, banyak yang tidak pernah kebagian. Malah bantuan pangan itu bisa dibeli di pasar.

Bagaimana memperkenalkan pengetahuan konservasi sejak dini?

Dengan memasukkan pengetahuan konservasi dalam materi pengajaran, paling tidak sejak sekolah dasar. Misalnya dengan membuat buku ajar untuk melengkapi buku pelajaran yang sudah ada. Kalau selama ini guru Biologi hanya menerangkan hewan dari fisiknya, maka sekarang diharapkan sekaligus memperkenalkan bahwa satwa tertentu itu masuk dalam kategori dilindungi.

Pengetahuan konservasi ini bisa disisipkan bukan hanya pada pelajaran biologi, tetapi juga dalam pelajaran Geografi, Agama, dan yang lain.

***

HARI-hari Kasim beberapa tahun belakangan lebih banyak dihabiskan di Kota Langsa (wilayah ini lepas dari Kabupaten Aceh Timur pada tahun 2001), tempat ia berkantor. Bila tidak ada kesibukan, Kasim menyempatkan berbagi waktu dengan istri serta tiga anaknya di Banda Aceh pada akhir pekan.

Istrinya, Syamsiah Ali, seorang guru Bahasa Indonesia salah satu SMA di Banda Aceh. Anak sulungnya yang kuliah di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala baru berusia 19 tahun. “Saya telat menikah. Makanya di usia yang sudah tua begini, anak saya masih kecil-kecil,” ujarnya.

Usia tidak menjadi kendala bagi Kasim untuk melakukan berbagai kegiatan bagi kemaslahatan orang banyak. Kasim bertekad akan bergelut dengan urusan konservasi, selama masih sehat dan mampu berbuat yang terbaik bagi sesama. Itu tidak lepas dari prinsip hidup yang ia pegang sejak dahulu: “Ilmu dan keterampilan yang Anda miliki saat ini, amalkanlah secara ikhlas berdasarkan niat yang baik”.

Sahabat seangkatannya di IPB, penyair Taufiq Ismail, merasa perlu menyembunyikan wajahnya di Kali Ciliwung yang keruh karena malu kepada Kasim yang telah berbuat banyak dengan kerja nyata.

Dan kemarin di tepi Kali Ciliwung aku berkaca/ Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi/ Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku/ Ketika aku mengingatmu, Sim/ Di Waimital engkau mencetak harapan/ Di kota, kami…//

Pewawancara: Nasru Alam Aziz

Advertisements

“Mirah dari Banda” Terbit Kembali

  • Kompas: Selasa, 3 Februari 2004, halaman 9 

JAKARTA, KOMPAS – Novel Mirah dari Banda karya Hanna Rambe, yang pernah diterbitkan UI Press pada tahun 1986, diterbitkan kembali oleh Indonesia Tera.

Novel sosio-drama, yang juga akan diterbitkan dalam versi bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation (Yayasan Lontar), diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, Sabtu (31/1).

Mirah dari Banda mengambil latar cerita di Pulau Banda, dan memaparkan sisi gelap tragedi kemanusiaan pada masa penjajahan. Banda sengaja dipilih oleh Hanna karena pulau elok itu menyimpan fakta sejarah tentang perkebunan pala terbaik pada masa lalu, sekaligus tempat perbudakan pada zaman penjajahan Belanda hingga Jepang.

Dalam novel ini digambarkan tentang fenomena kebiadaban penjajah yang menyisakan luka mendalam bagi generasi yang mengalami masa penjajahan tersebut. Ia mengingatkan betapa kuli kontrak oleh Belanda, kuli kerja paksa oleh Jepang (romusha), banyaknya perempuan Indonesia yang secara paksa dijadikan penghibur bagi tentara Jepang (jugun ianfu), atau simpanan Tuan Belanda (nyai) menjadi kenyataan pahit yang terpaksa dialami bangsa ini.

Banda sengaja dipilih oleh Hanna karena pulau elok itu menyimpan fakta sejarah tentang perkebunan pala terbaik pada masa lalu, sekaligus tempat perbudakan pada zaman penjajahan Belanda hingga Jepang.

“Saya memang bermaksud mengungkapkan kepada dunia tentang perbudakan, tentang jugun ianfu. Memang jugun ianfu banyak di Indonesia, tetapi kok enggak ada yang memperhatikan, enggak ada yang membela. Sebagai seorang penulis, saya hanya mampu melakukannya lewat novel,” papar Hanna.

Gambaran tentang situasi masa lalu Pulau Banda diperoleh Hanna bukan hanya dengan beberapa kali mengunjungi pulau itu. Hanna juga melakukan riset pada sejumlah perpustakaan di Belanda.

Pengarang Gerson Poyk mengategorikan Mirah dari Banda sebagai novel sejarah. “Cerita ini berlangsung dalam satu semangat ekses absolut penjajahan. Ini bukan novel akhirat, juga bukan novel aurat yang imajinasinya menjadi bagian dari libido,” kata Gerson Poyk.

Berikutnya: cengkeh

Hanna Rambe, yang lahir di Jakarta pada 23 November 1940, menghasilkan berbagai karya yang telah diterbitkan. Di antaranya, Terhempas Prahara ke Pasifik, Seorang Lelaki di Waimital, Mencari Makna Hidupku (Biografi Ibu Suyatin Kartowijono, Tokoh Emansipasi Hak Perempuan dari 1928), Pelayaran Cadik Nusantara, dan sebuah novel ekologi tentang kehidupan gajah di hutan-hutan Sumatera, Pertarungan.

Mantan jurnalis Sinar Harapan ini sedang menyiapkan sebuah novel tentang fenomena di perkebunan cengkeh. “Kita suka membangga- banggakan betapa subur dan kayanya alam Indonesia. Akan tetapi, kita tidak pernah merenungkan tentang pala, cengkeh, dan rempah-rempah lainnya, sekian ratus tahun diperdagangkan oleh orang-orang Belanda, Arab, dan Cina,” tuturnya. “Saya ingin mengajak untuk mencintai negeri yang kaya ini. Jangan jadi maling.” (LAM)