Anugerah “Kompas” untuk Ratna Indraswari Ibrahim

  • Kompas: Rabu, 29 Juni 2005, halaman 12
Cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim menerima ucapan selamat dari Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo pada Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005, Selasa (28/6) di Bentara Budaya Jakarta. Ratna (duduk di kursi roda) menerima Anugerah Kesetiaan Berkarya dari Kompas atas kesetiaannya dalam menulis cerpen. (Kompas/pri)

JAKARTA, KOMPAS – Harian Kompas memberi Anugerah Kesetiaan Berkarya kepada penulis Ratna Indraswari Ibrahim. Saat yang sama, Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005 diberikan kepada Kuntowijoyo (alm) sebagai penulis cerpen Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana”.

Trofi untuk Ratna diserahkan oleh Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-40 Harian Kompas, Selasa (28/6) malam, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Adapun trofi penghargaan cerpen terbaik diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo kepada Susilaningsih, istri almarhum Kuntowijoyo. Penghargaan kali ini merupakan yang keempat bagi Kuntowijoyo, setelah menerima penghargaan serupa pada tahun 1995, 1996, dan 1997.

Di samping karya Kuntowijoyo, sembilan cerpen lainnya yang dimuat dalam tahun 2004 menjadi cerpen pilihan yang dibukukan dalam Jl. “Asmaradana”: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005. Cerpen tersebut adalah Kupu-kupu Seribu Peluru (Agus Noor), Senja Buram, Daging di Mulutnya (Radhar Panca Dahana), Belatung (Gus tf Sakai), Dari Mana Datangnya Mata (Veven Sp Wardhana), Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura (Sunaryono Basuki Ks), Bulan Terbingkai Jendela (Indra Tranggono), Baju (Ratna Indraswari Ibrahim), Daun-daun Waru di Samirono (Nh Dini), dan Roti Tawar (Kurnia Effendi).

Kesetiaan berkarya Ratna ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen, novelet, dan novel yang dihasilkannya sejak usia remaja hingga saat ini. Sejumlah cerpen karya perempuan kelahiran Malang, 24 April 1949, terpilih masuk dalam kumpulan cerpen Kompas.

“Menulis adalah proses belajar yang tak berkesudahan di tengah berbagai informasi yang berdengung di mana-mana. Di tengah budaya ‘autis’ yang membuat kita asyik dengan diri sendiri, cerpen tetap diperlukan,” kata Ratna di atas kursi rodanya.

Menurut Jakob, cerpen merupakan bagian yang esensial dari eksistensi surat kabar seperti Kompas, yang falsafahnya adalah kemanusiaan yang beriman, kemanusiaan yang serba dimensi, dan kemanusiaan yang peduli.

“Kalau surat kabar melaporkan kenyataan yang hidup di masyarakat lewat berita dan komentar, lewat cerpen sukma dari kenyataan itulah yang coba digambarkan,” ujarnya. (LAM)

Advertisements

Diluncurkan, “National Geographic Indonesia”

  • Kompas: Selasa, 29 Maret 2005, halaman 1

JAKARTA, KOMPAS – Majalah ilmu pengetahuan berbasis geografi, National Geographic edisi bahasa Indonesia secara resmi diluncurkan, Senin (28/3) malam di Gedung Arsip Nasional Jakarta. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggoreskan tanda tangan pada sampul edisi perdana National Geographic Indonesia bergambar Homo floresiensis dalam bingkai berwarna kuning.

Yudhoyono menabuh gong lalu menandatangani sampul edisi perdana National Geographic Indonesia dengan didampingi Executive Vice President National Geographic Society Terrence B Adamson, Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia Jakob Oetama, dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

Jakob Oetama sebagai penerbit National Geographic Indonesia menyerahkan nomor anggota National Geographic Society kepada Presiden, sedangkan Presiden Yudhoyono menyerahkan donasi dari National Geographic Society kepada sejumlah siswa berprestasi dari 50 sekolah di Indonesia.

Presiden berharap hadirnya National Geographic Indonesia akan semakin memajukan pengembangan ilmu pengetahuan. Di samping itu, juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap Tanah Air yang majemuk dan khas.

“Saya berkomitmen untuk turut serta mengembangkan majalah ini demi kemajuan bangsa Indonesia. Saya menyampaikan penghargaan kepada National Geographic Society yang memberi kepercayaan kepada Kelompok Kompas Gramedia untuk menerbitkannya dalam edisi Indonesia,” kata Yudhoyono.

Selama ini, lanjut Yudhoyono, pandangan geografis dalam interaksi antarbangsa selalu dilihat dari sudut geopolitik. Padahal, yang juga penting diperhatikan adalah dimensi geografis dalam sudut pandang sosial dan budaya. “Apresiasi terhadap kemajemukan dan kekhasan Tanah Air kita perlu diberi tempat,” kata Presiden.

Yudhoyono mengingatkan bahwa pada hakikatnya kehidupan itu menuju kepada suatu konsep keseimbangan. Ia menggambarkan konsep keseimbangan hidup dalam bentuk segitiga, yang masing-masing sisinya adalah Pencipta, alam semesta, dan manusia. “Hubungan ini sangat penting untuk membangun kehidupan dengan nilai-nilai yang seimbang. Mari warnai kehidupan ini dengan keseimbangan,” kata Presiden.

Lebih jauh ia menjelaskan, dalam berinteraksi tidak tepat apabila hanya masuk dalam wilayah logika dan etika. Menurut Yudhoyono, dalam berinteraksi dibutuhkan sesuatu yang meneduhkan sanubari, yaitu estetika.

Interaksi dan kebersamaan

Jakob Oetama dalam sambutannya menekankan pentingnya mengenal Indonesia dari bawah, yaitu melalui interaksi dan kebersamaan. Menurut Jakob, kehadiran National Geographic Indonesia dapat menjadi salah satu sarana untuk mengenal atau menemukan kembali Indonesia.

“Interaksi dengan kebersamaan dan pemikiran kita tentang Indonesia akan memengaruhi dan memberi warna bagi kehidupan ini. Sebab, ketika kita berbicara politik-ekonomi, senantiasa dikemukakan dimensi sosial-budaya. Jangan lupa bahwa sosial-budayalah yang memiliki akar sejarah, dihormati, dan disegani bangsa-bangsa lain di dunia. Apa yang bisa didialogkan dengan dunia adalah dimensi sosial-budaya itu,” tutur Jakob.

Pada kesempatan itu Adamson mengemukakan tekadnya untuk tidak mengecewakan masyarakat Indonesia dan akan berupaya semaksimal mungkin menghasilkan produk yang memberi kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

“Melalui National Geographic, kami menelusuri dan menyajikan hubungan manusia dengan alam semesta, lingkungan, sosial, budaya, dan hubungan dengan sesama manusia,” katanya.

Terbit di 27 negara

Majalah National Geographic yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1888 semula hanya berupa jurnal terbatas untuk anggota National Geographic Society di Amerika Serikat. Banyaknya peminat membuat jurnal itu kemudian dijual kepada umum. Dalam perkembangannya National Geographic menjadi pelopor penggunaan foto dalam penerbitan majalah di dunia.

Sejak diterbitkan dalam bahasa Jepang tahun 1995 hingga tahun 2005 National Geographic telah terbit di 27 negara dalam 25 bahasa dan dialek. Di Asia, selain edisi Indonesia majalah tertua ini terbit dalam edisi China, Jepang, Korea, dan Thailand. Di seluruh dunia oplahnya mencapai lebih dari 12 juta eksemplar per bulan, dengan kisaran pembaca lima sampai enam orang per eksemplar.

Peluncuran National Geographic Indonesia disertai pameran kompilasi foto-foto dasar laut karya Emory Kristof dan beberapa foto spektakuler yang dihasilkan para fotografer majalah National Geographic, serta pameran fosil Homo floresiensis dan Homo erectus.

Pameran foto akan berlangsung hingga 3 April 2005 di Gedung Arsip Nasional, Jalan Gajah Mada No 111, Jakarta Pusat. (LAM)