Mencoba Bertahan di Tanah Kelahirannya

  • Kompas: Rabu, 10 Agustus 2005, halaman 14
Andre J Michiels (38) sedang menikmati permainan biola anak sulungnya, Arend Stevanus Michiels (9). Demi keberlanjutan seni musik keroncong di Kampung Tugu, sejak dini Andre sudah mempersiapkan generasi penerus. (Kompas/lam)

Tampil dengan baju putih lengan panjang tanpa kerah dipadu dengan celana batik. Di kepala bertengger topi pet dan syal tebal melilit di leher. Itulah penampilan khas pemain musik keroncong tugu, khazanah kesenian yang sudah ada di Kampung Tugu sejak berabad lampau.

Kekhasan orkes keroncong tugu terkait dengan sejarahnya. Keroncong tugu dibawa oleh keturunan bekas tentara ekspedisi Portugis yang induk angkatan perangnya dipukul mundur oleh tentara Belanda pada akhir abad ke-16. Mereka adalah tawanan perang dari daerah yang diduduki Portugis pada masa itu, seperti Goa, Malabar, Coromandel, Bengal, Arakan, dan Malaka.

Orang-orang Portugis membawa musik keroncong ke Kampung Tugu sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Cikal-bakal musik keroncong itu kemudian dimainkan secara turun-temurun dan menyebar ke tempat- tempat lain di luar Kampung Tugu.

Keroncong Tugu menjadi inspirasi lahirnya Keroncong Kemayoran menjelang abad ke-20. Sinyo-sinyo Belanda pada masa itu mencoba memasukkan unsur jazz, yang menghasilkan keroncong dengan bunyi crong-crong yang lebih mendayu-dayu.

Kemudian, pada sekitar tahun 1950-an, berkembang pula langgam Jawa, yang dipopulerkan oleh kelompok Keroncong Irama Langgam pimpinan Sutedjo dan Orkes Keroncong Bintang Surakarta pimpinan Waldjinah.

Keroncong tetap terjaga dan bertahan karena kebutuhan masyarakat akan hiburan. Ketika itu belum ada gramafon, radio transistor, apalagi radio tape dan televisi. Sebelum memiliki alat musik organ, kebaktian di gereja juga diiringi musik keroncong.

Namun, sejak sekitar 14 tahun terakhir, keroncong tugu yang lahir dari masyarakat asli Kampung Tugu tidak lagi tampil dalam ibadat di gereja. Selain itu, ada lagu-lagu gereja yang agak sulit dimainkan dengan alat musik keroncong.

Menurut pemimpin Orkes Krontjong Toegoe, Andre J Michiels (38), warga muda Kampung Tugu memiliki tradisi bermain keroncong keliling sambil mengunjungi rumah-rumah warga pada malam Natal.

Biasanya pemilik rumah baru mau membuka pintu jika pimpinan rombongan telah mengucapkan salam berbahasa Portugis. Kebiasaan itu dimaksudkan untuk menghargai peristiwa keagamaan sekaligus untuk menurunkan tradisi berbahasa Portugis di kalangan anak muda.

Salam itu seperti berikut: Pisingku dia di Desember, nasedu di nos Sior jamundu Libra nos pekader unga ananti dikinta ferra asi klar kuma di dia unga anju di Sior asi grandi diallergria. Asi mow boso tar. Dies lobu Sua da bida cumpredae lampang kria so podeer, Santu Justru.

Terjemahannya kira-kira bahwa pada tanggal 25 Desember, Tuhan telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Juru Selamat, agar barang siapa yang percaya kepada Dia tidak binasa, melainkan mendapat hidup yang kekal, dan hendaklah kita dapat menaruh harapan kepada-Nya.

Sayangnya, tradisi yang bertahan lebih dari tiga setengah abad tidak lagi dilakukan sejak tahun 1996. Kebiasaan itu memudar karena sudah banyak orang Kampung Tugu asli yang pindah ke daerah-daerah lain, dan juga anak-anak mudanya nyaris tidak tertarik lagi dengan musik keroncong.

“Selain itu, keroncong keliling tidak lagi dilakukan demi menghormati warga lain,” ujar Andre, yang juga Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT).

Di kediamannya yang juga berfungsi sebagai kantor, Andre berusaha melestarikan keberadaan musik keroncong warisan leluhurnya dengan cara meneruskan pengelolaan grup musik Krontjong Toegoe. (Kompas/jpe)

Tantangan

Andre memandang, kurangnya kepedulian di kalangan anak muda Kampung Tugu terhadap musik keroncong merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi. Karena itu, ia masih tetap berupaya mengumpulkan beberapa orang untuk bergabung dalam Krontjong Toegoe, kelompok orkes yang pengelolaanya ia teruskan dari ayahnya.

“Saya mencoba mengumpulkan orang-orang Tugu agar kelompok ini tetap hidup dan bertahan di tempat kelahirannya. Yang sulit sekarang ini adalah mencari pemain biola dari kalangan orang Tugu,” ungkap Andre, yang meyakini bahwa kelestarian keroncong tugu sangat bergantung pada kepedulian orang Tugu sendiri.

Upaya ini Andre jalankan karena mengemban amanat orangtuanya agar tetap menjaga dan melestarikan keroncong tugu. Ia sendiri saat kecil tidak berminat dengan musik keroncong. Akan tetapi, berkat bimbingan ayahnya-yang juga pemain keroncong-akhirnya Andre kecil tertarik juga dan kemudian mahir menyanyi dan memainkan alat musik keroncong.

Andre, yang sehari-hari menjalankan usaha transportasi truk kontainer, sedang menyiapkan anak sulungnya, Arend Stevanus Michiels, untuk meneruskan Krontjong Toegoe. Setahun terakhir, Arend yang baru berusia sembilan tahun dengan tekun mengikuti kursus biola. “Kelak ia yang akan meneruskan kesenian kebanggaan orang Tugu ini,” kata Andre bangga.

Di kalangan generasi yang lebih tua, pelestarian musik keroncong dimotori oleh Samuel Quiko (67). Ia mengelola kelompok Cafrinho Tugu, yang sebelumnya dijalankan oleh kakaknya, Yakobus Quiko. Kelompok Cafrinho Tugu maupun Krontjong Toegoe telah beberapa kali mewakili delegasi kesenian Betawi dari DKI Jakarta pada Tong Tong Fair di Den Haag, Belanda.

Dibanding Krontjong Toegoe yang mengutamakan pemain dari kalangan orang Kampung Tugu keturunan Portugis, Cafrinho Tugu lebih terbuka bagi orang luar sehingga anggotanya pun jauh lebih banyak. Anggota dan pengurusnya sekitar 40 orang.

“Cafrinho punya beberapa kelompok sehingga kalau ada yang mengundang bermain pada saat bersamaan masih bisa dilayani,” kata Samuel, yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya pada musik keroncong.

Mengandalkan hidup dari berkesenian memang tidak selamanya mudah. Apalagi, kata Andre, sering kali harus bermain untuk amal, bukan komersial. “Kalau main secara profesional, bayarannya harus realistis, karena persiapan untuk tampil tentu membutuhkan biaya,” tambah Andre.

Waktu terus berjalan, seiring dengan perubahan zaman yang terus berlangsung. Kampung Tugu adalah tempat lahir keroncong, dan di tempat itu pula nasib keroncong tugu ditentukan.

Masihkah akan terdengar nyanyian merdu di malam terang bulan? O, bi aki mienja amada. Mienja noiba. O, moleer bonito. Jo espara con esparansa. E canta cantigo Moresco (Oh, datanglah kekasihku. Calon istriku. Oh, juwita. Kumenanti penuh harap. Sambil bernyanyi lagu Moresco). (Nasru Alam Aziz, Johnny TG)

Terserak dalam Deru Truk Kontainer

  • Kompas: Selasa, 9 Agustus 2005, halaman 14
Jalan Tugu Raya kini menjadi jalur lalu lintas truk kontainer. (Kompas/lam)

Sekitar tiga kilometer dari Cilincing, dekat Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengikuti jalan yang terbentang lurus, Anda akan sampai pada sebuah jembatan tinggi. Sekitar dua kilometer kemudian, Anda akan menemui persimpangan jalan di sebelah kanan.

Mengikuti jalan yang agak sempit dan tak beraspal, di sebelah kiri akan tampak sebuah gereja kecil, dengan pekarangan luas ditumbuhi pepohonan. Di samping gereja, terdapat beberapa kuburan bercat putih dengan nisan berbentuk salib.

Catatan yang disadur dalam dokumen milik Fernando Quiko (58) itu menggambarkan bagaimana mencapai Gereja Tugu pada tahun 1950-an. Fernando adalah salah seorang warga Kampung Tugu keturunan Portugis generasi kesembilan, yang disapa sebagai Om Nyonyo oleh warga setempat.

Kini jalan yang terbentang luas itu telah menjadi semakin lebar dan berjalur dua arah, dikenal sebagai Jalan Cacing atau Jalan Cakung Cilincing Raya. Adapun jalan sempit yang tak beraspal tadi, sekarang adalah Jalan Tugu Raya, yang membentang hingga persimpangan Semper. Jalan ini menjadi jalur lalu lintas truk-truk kontainer yang sangat sibuk.

Menurut Fernando, hingga tahun 1960-an Kali Cakung yang mengalir membelah Kampung Tugu masih dimanfaatkan untuk mandi. Perahu-perahu yang ditumpangi dari Marunda dan Pasar Ikan masih ditambatkan di tepi sungai. Sekarang, sungai itu sudah mendangkal dan berlumpur.

Bahkan pada tahun 1940-an, kata Fernando mengenang, orang-orang dari luar Kampung Tugu banyak yang datang menikah di Gereja Tugu. Perahu yang ditumpangi rombongan pengantin diparkir di sungai, persis depan gereja.

“Posisi gereja yang menghadap ke Kali Cakung, bukan ke Jalan Tugu Raya, menunjukkankalau kali itu adalah lalu lintas yang ramai pada masa itu,” kata Samuel Quiko (67), juga warga Kampung Tugu keturunan Portugis, menambahkan.

Bagaimana dengan Gereja Tugu? Bangunan yang didirikan tahun 1744 dan ditahbiskan pada 29 Juli 1744 oleh Pendeta Mohr itu masih menjadi saksi sejarah kehadiran warga keturunan Portugis di sana. Gereja yang sekarang adalah bangunan ketiga, setelah dua sebelumnya -didirikan tahun 1678 dan 1737- yang dibangun dengan konstruksi kayu hancur. Di lokasi gereja terdahulu sekarang berdiri Gereja Katolik Salib Suci.

Kawasan Kampung Tugu sekarang adalah permukiman padat yang dikepung berbagai tempat usaha. “Dulu rumah-rumah ‘Orang Tugu’ berjarak sampai empat kilometer dan dipisahkan oleh tanah kosong atau kebun,” ungkap Samuel.

Lahan-lahan perkebunan telah berganti bangunan-bangunan semen, bengkel, dan tempat parkir truk kontainer. Keasrian lingkungan di masa lalu menyerah oleh kepulan debu dan sengatan matahari di siang hari.

Pada masa Gubernur Ali Sadikin, Kampung Tugu ditetapkan sebagai daerah yang dilindungi undang-undang. Monumen dan Gereja Tugu dijadikan cagar budaya. Namun demikian, radius 600 meter dari Gereja Tugu sebagai cagar budaya yang seharusnya terjaga kini nyaris terabaikan.

Asal-usul nama Tugu sendiri ada beberapa versi. Ada yang menyebutkan nama itu diambil dari tanda batas, dan ada yang berpendapat bahwa nama Tugu berasal dari kata Por Tugu Esa (Portugis). Versi yang banyak ditulis adalah berkaitan dengan ditemukannya sebuah prasasti (tugu) batu bertuliskan huruf Pallawa dari masa kekuasaan Raja Purnawarman.

Komunitas Kampung Tugu yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) secara rutin setiap bulan mengadakan pertemuan untuk mempererat tali persaudaraan. Pertemuan di rumah keluarga Martinus Cornelis, Minggu (7/8), diawali kebaktian. (Kompas/lam)

Keturunan Portugis

Kampung Tugu adalah sebuah sejarah yang panjang. Menurut Fernando, yang menyimpan penggalan-penggalan catatan warisan orangtuanya, pada mulanya Kampung Tugu dihuni sisa tentara ekspedisi Portugis yang tertinggal Jakarta ketika induk angkatan perangnya dipukul mundur oleh tentara kompeni Belanda pada akhir abad ke-16. Mereka berasal dari tawanan-tawanan perang dari daerah yang diduduki Portugis pada masa itu, seperti Goa, Malabar, Coromandel, Bengal, Arakan, dan Malaka.

Pada masa itu, mereka hidup terpencil di rawa-rawa bernyamuk ganas, dan hidup dari perburuan, pertanian, dan perikanan. Hingga generasi kesepuluh sekarang ini, tradisi berburu masih berlangsung.

“Kami masih sering berburu di pinggiran Jakarta. Di sekitar Kampung Tugu tidak ada tempat berburu yang tersisa,” kata Arthur James Michiels (36), yang baru pulang berburu musang di Karawang bersama adiknya, Milton Augustino Michiels, saat ditemui Kompas, Minggu (7/8).

Pada masa-masa awal, orang-orang Tugu melakukan perkawinan antarkalangan sendiri yang berbeda fam (nama keluarga), bahkan diwajibkan hingga akhir abad ke-19. Seiring dengan makin terbukanya lingkungan sosial mereka, perkawinan campuran pun dibolehkan. Mereka yang tadinya menjadi inti masyarakat, umumnya kawin dengan orang Sulawesi Utara, Maluku, Timor, Jawa, dan keturunan Tionghoa.

“Karena perkawinan campuran itu, secara fisik agak sulit mengenali seseorang itu keturunan Tugu atau bukan. Kecuali jika disebutkan famnya,” kata Samuel, yang beristrikan orang Jawa.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Batavia, tahun 1661, terdapat belasan fam yang hidup di Kampung Tugu. Kini hanya tersisa enam, yakni Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis. Tidak ada lagi Seimons, Salomons, Mayo, Da Costa, Kantil, atau lainnya.

Sebelum Perang Dunia II, di Kampung Tugu terdapat sekitar 60 keluarga, dan mulai bercerai-berai setelah perang kemerdekaan Indonesia. Mereka banyak yang pindah ke luar Kampung Tugu dan menetap di tempat lain di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Irian Barat alias Papua, dan Negeri Belanda.

Warga keturunan Portugis yang masih tinggal di sekitar Gereja Tugu diperkirakan kurang dari 100 keluarga. Menurut Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), Andre J Michiels, jumlah anggotanya yang terdata, termasuk yang tinggal di luar Kampung Tugu atau daerah lainnya, masih sekitar 230 keluarga. Jumlah itu sebetulnya sangat kecil dibanding kemampuan mereka bertahan yang hampir empat abad.

“Kami dalam wadah IKBT setiap hari Minggu pertama setiap bulan mengadakan pertemuan untuk mempererat kekerabatan,” kata Andre, yang mendapat tiga putra dari perkawinannya dengan Rosalia Liliek Dewanti. “Mereka yang tinggal di luar pun masih tetap menganggap Kampung Tugu sebagai kampung halamannya,” tambahnya.

Kampung Tugu sekarang adalah masyarakat heterogen, dan warga keturunan Portugis menjadi bagian di dalamnya. Seperti pada masa awal, mereka tinggal pada jarak berjauhan. Bedanya, mereka sekarang berada di tengah-tengah permukiman penduduk yang berasal dari berbagai suku dan agama. Tak terelakkan, mereka menjadi warga minoritas di kampung sendiri. (Johnny TG, Nasru Alam Aziz)