Merestorasi Istana Bantimurung

  • Kompas: Sabtu, 30 Juli 2005, halaman 47

Sekerumunan kupu-kupu Tachyris zarinda memamerkan warna kemerah-merahan dan jingga terang sayapnya. Di antara mereka sesekali melintas Papilio sambil mengipas-ngipaskan sayap lebarnya yang berwarna hitam dengan ornamen hijau-biru.

Pada dahan-dahan berdaun rimbun di seberang sana, saya berharap dapat mengamati Ornithoptera dari dekat. Dan di semak belukar saya berhasil menangkap sejumlah kupu-kupu Amblypodia, serta beberapa kumbang dari famili Hispidae dan Chrysomelidae.

Kutipan pengalaman Alfred Russel Wallace (1823-1913) saat berada di Bantimurung (Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan) itu, ditulisnya dalam buku The Malay Archipelago. Begitu eksotik dan beragamnya kupu-kupu yang ia jumpai di Bantimurung sehingga naturalis Inggris itu menyebut kawasan yang kini menjadi obyek wisata air terjun sebagai The Kingdom of Butterfly (Kerajaan Kupu-kupu).

Tentu saja surga kupu-kupu yang dikunjungi Wallace tahun 1857 itu sudah berbeda dengan kondisi sekarang. Kini perburuan liar menjadi ancaman kepunahan serangga gemulai itu, di samping kerusakan habitat dan penggunaan pestisida di sekitar “istana” kupu-kupu.

Kini, hampir tak mungkin menemukan kupu-kupu bersayap lebar, macam Graphium, Papilio, Pachliopta, di sekitar air terjun yang ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan. Apalagi jenis-jenis yang sudah jarang ditemukan di Bantimurung, seperti Troides haliphron, Troides helena, Troides hypolitus, dan Cethosia myrina.

Anehnya, beberapa jenis kupu-kupu langka itu dengan mudah ditemukan pada penjaja kupu-kupu awetan. Bahkan, jenis yang dilindungi atau tak boleh diambil dari alam, seperti Cethosia myrina, juga ditawarkan. Mereka berkilah kupu-kupu yang mereka jual adalah hasil penangkaran atau ditangkap di luar kawasan taman wisata alam dan cagar alam Bantimurung.

Kupu-kupu bersayap lebar sebetulnya masih bisa dijumpai -meskipun jarang- sekitar lima kilometer menyusuri arah hulu sungai Bantimurung. Itu pun hanya pada pagi hari ketika matahari mulai menembus sungai bening di sela bukit karst. Selama empat jam di tempat itu pada suatu hari yang cerah akhir Juni lalu, Kompas hanya menjumpai seekor Hebomoia glaucippe. Selebihnya, kupu-kupu berukuran lebih kecil, Catapsilia pamona flava, Anartia sp, Calastrina sp, Danis sp, dan Vindula arsinoe.

Kepala Seksi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan I Baharuddin mengemukakan pentingnya bukit-bukit karst di sekitar kawasan itu sebagai habitat kupu-kupu. Sayangnya, kata dia, kawasan karst Maros dan Pangkajene Kepulauan juga mengalami ancaman kerusakan akibat eksploitasi perusahaan pertambangan marmer. “Setelah ditambang, karst tak mungkin dikembalikan lagi. Berbeda dengan kerusakan hutan yang masih bisa diatasi dengan reboisasi,” katanya.

SALAH SATU celah bukit karst di Cagar Alam Bantimung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang sedang mengalami restorasi habitat kupu-kupu. Restorasi dimaksudkan untuk mengembalikan habitat kupu-kupu Bantimurung agar terhindar dari ancaman kepunahan. (Kompas/lam)

Habitat dan populasi

Menurut Kepala Laboratorium Serangga Berguna Universitas Hasanuddin Makassar Prof Dr Mappatoba Sila, ketika habitatnya belum terganggu diperkirakan terdapat sekitar 250 jenis kupu-kupu di Bantimurung. Kini hanya tersisa kurang dari separuhnya.

“Perburuan liar sulit dihentikan karena besarnya permintaan ekspor kupu-kupu,” kata dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin, yang banyak meneliti kupu-kupu di Bantimurung. “Kalaupun ada usaha penangkaran untuk perdagangan, hasilnya tak seberapa dibandingkan dengan berburu di alam,” ujarnya.

Seorang penjaja kupu-kupu kepada Kompas mengakui jika sebagian besar kupu-kupu yang dijual di Bantimurung maupun diekspor bukan dari hasil penangkaran, melainkan ditangkap di alam. “Kami menangkapnya di luar areal yang dilindungi,” katanya.

Bukan tak ada upaya untuk mengembalikan kedaulatan wilayah Kerajaan Kupu-kupu. Setahun terakhir, kata Mappatoba, telah dimulai restorasi habitat dan restorasi populasi kupu-kupu di kawasan itu.

Restorasi habitat dilakukan terutama di daerah hulu tadi, dengan menanam kembali berbagai tanaman yang menjadi pakan kupu-kupu. Itu untuk mengembalikan kenyamanan habitat kupu-kupu. Berbarengan dengan itu, diupayakan pencegahan terhadap faktor-faktor yang mengancam kehidupan kupu-kupu, seperti perburuan liar dan penggunaan pestisida di sekitar kawasan.

Mengacu kepada berbagai penelitian yang pernah dilakukan, kata Mappatoba, dapat diketahui jenis tumbuhan apa saja yang terdapat di kawasan itu pada masa-masa kejayaan kupu-kupu. Tumbuh-tumbuhan pakan kupu-kupu mulai ditanam kembali di sana menggantikan yang sudah hilang, seperti Aristolachia sp untuk jenis kupu-kupu Troides), Citrus sp dan Rutaceae untuk Papilio, Ficus sp untuk Euploea sp, Annona muricata dan Annona squoma untuk Graphium, Cassia sp untuk Eurema sp, serta Passiflora sp untuk Cethosia myrina.

Salah satu upaya restorasi habitat adalah menutup kawasan tertentu yang menjadi tempat berkembang biak kupu-kupu pada musim tertentu ketika kupu-kupu mulai bertelur. Musim dan tempat dimaksud bergantung pada jenis kupu-kupu dan pakannya.

Mengacu kepada berbagai penelitian yang pernah dilakukan, kata Mappatoba, dapat diketahui jenis tumbuhan apa saja yang terdapat di kawasan itu pada masa-masa kejayaan kupu-kupu.

Di daerah hilir sedang dimarakkan penangkaran kupu-kupu sebagai upaya restorasi populasi. Tidak jauh dari pintu masuk kawasan wisata Bantimurung, dua bulan lalu, BKSDA Sulsel I mendirikan sebuah penangkaran kupu-kupu. Meskipun ukuran penangkarannya sangat mini untuk sebuah balai konservasi, upaya itu patut dihargai di tengah berbagai ancaman kepunahan kupu- kupu.

Beberapa warga yang difasilitasi oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat, Institusi Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (IPPM), juga telah membuat tiga tempat penangkaran sederhana. “Kami ingin mengembangkan ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan aspek konservasi kupu-kupu. Karena itu, kami membantu mereka membuat penangkaran,” ungkap Direktur IPPM Hidayat Palaloi.

Penangkaran kupu-kupu milik BKSDA maupun yang dikelola masyarakat baru bisa menghasilkan beberapa jenis saja, terutama Papilio polyphontes, Troides helena, dan Graphium androcles. “Imago yang dihasilkan dari penangkaran hanya sebagian yang diawetkan untuk dijual, sisanya dilepas kembali ke alam agar menjadi induk,” kata Alimutahar, salah seorang penangkar yang juga setiap hari menjajakan kupu-kupu awetan di Bantimurung.

Upaya restorasi habitat dan restorasi populasi yang sedang berlangsung bisa menjadi secercah harapan bagi bangkitnya kembali Kerajaan Kupu-kupu Bantimurung. (Nasru Alam Aziz)

Advertisements

Kupu-kupu Endemik Sulteng Hampir Punah

  • Kompas: Kamis, 28 Januari 1999, halaman 7

PALU, KOMPAS – Salah satu jenis kupu-kupu endemik Sulawesi Tengah (Sulteng) diperkirakan nyaris punah. Spesies Atrophaneura (Losaria) palu dari subfamili Papilionidae yang hanya terdapat di sekitar Palu, kini sangat sulit ditemukan. Ini akibat habitat mereka yang rusak karena pembukaan besar-besaran lahan perkebunan, terutama untuk kakao.

Demikian diungkapkan manajer proyek The Nature Conservancy (TNC) Palu, Duncan Neville, dalam percakapan dengan Kompas di Palu, Selasa (26/1).

Ia menjelaskan, meski serangga bersayap lebar itu bisa mendapatkan nektar dari berbagai jenis tumbuhan yang masih ada, tetapi ulatnya hanya memakan daun dari jenis tumbuhan tertentu. Sehingga, habisnya jenis tumbuhan yang menjadi pakan ulat itu membuat ulat sebagai bakal kupu-kupu tidak bisa bertahan hidup.

Neville sangat menyayangkan semakin langkanya Atrophaneura palu, mengingat spesies ini merupakan salah satu dari jenis kupu-kupu ekor walet (swallowtail) yang menjadi aset fauna indah Indonesia.

Dalam buku Threatened Swallowtail Butterflies of the World: The IUCN Red Data (1985), disebutkan Indonesia adalah negara paling kaya kupu-kupu ekor walet, dengan 121 spesies, menyusul Cina (104), India (77), dan Brasil (74). Di antara jenis kupu-kupu ekor walet yang terdapat di Indonesia, 53 spesies tergolong endemik.

 

Habisnya jenis tumbuhan yang menjadi pakan ulat itu membuat ulat sebagai bakal kupu-kupu tidak bisa bertahan hidup.

 

Dalam penyebarannya di Indonesia, Pulau Sulawesi berada pada posisi endemisitas kupu-kupu ekor walet tertinggi, dengan 11 spesies dari 38 spesies yang terdapat di pulau itu. Di Jawa bagian barat, ada 10 spesies kupu-kupu ekor walet endemik dari 30 spesies yang ada di sana; di Maluku ada sembilan jenis endemik dari 37 spesies; di Sumatera ada empat jenis endemik dari 49 spesies; di Jawa dan Bali ada dua jenis endemik dari 35 spesies; di Irian Jaya juga ditemukan dua jenis endemik dari 26 spesies; sedang di Kalimantan terdapat 36 spesies namun tidak ditemukan jenis yang endemik.

Melestarikan habitat

Beberapa jenis kupu-kupu ekor walet endemik Sulawesi, seperti Atrophaneura polyphontes, Papilio polytes, Papilio gigon, Papilio ascalaphus, Papilio sataspes, Papilio blumei, dan Papilio parenthus, kini ditangkarkan penduduk di Desa Kamarora, Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, di bawah binaan TNC Palu.

Setiap minggu, CV Sinar Kupu-Kupu mengirim sedikitnya 250 butir kepompong dari 19 jenis kupu-kupu yang ditangkarkan, ke taman kupu-kupu di Bali, kemudian dikirim ke Singapura dan beberapa negara lainnya.

“Penangkaran membantu penduduk secara ekonomis, sekaligus untuk konservasi alam. Dengan menangkarkan kupu-kupu, penduduk tentu menjaga jenis-jenis tumbuhan yang ada di sana, agar pakan yang dibutuhkan kupu-kupu tetap tersedia,” kata Neville. (lam)